Jilid Pertama, Bab 50: Sudah bosan bermain secepat ini?
Halaman (1/3)
Tuan Zhou terus-menerus memaki sejak awal, hingga akhirnya membungkam diri ketika Gu Tingye mengancam akan menebas kakinya.
Setelah kedua tangannya ditebas, Tuan Zhou akhirnya tak sanggup bertahan dan langsung pingsan karena kehilangan terlalu banyak darah.
Keduanya dikirim ke rumah sakit untuk menjalani perawatan, dan barulah hukuman itu berakhir.
“Tuan Gu, tenangkan diri. Kedua orang itu baru beberapa hari masuk ke lingkaran kita, jadi mereka masih belum tahu aturan. Menghukum mereka boleh saja, tetapi jangan sampai kesehatan Anda terganggu.”
“Tuan Gu, kita lanjutkan?”
Pemandangan di hadapannya membuat hati Xie Xi terasa dingin.
Para bangsawan dari kalangan elite ibu kota ini saling terikat oleh kepentingan dan memperlakukan nyawa manusia tak lebih berharga daripada rumput.
Sesaat sebelumnya, ruangan itu masih menjadi panggung pertumpahan darah.
Namun sekarang, orang-orang ini seolah sudah terbiasa.
Yang membicarakan bisnis tetap membicarakan bisnis, sementara yang lain minum, mengobrol, bersulang, dan saling menuangkan arak.
Jika tidak menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, Xie Xi bahkan akan mengira kejadian tadi hanyalah mimpi.
Gu Tingye memutar-mutar manik-manik di telapak tangannya. Seharusnya ia sedang membicarakan bisnis, tetapi tiba-tiba pandangannya terkunci pada Xie Xi. Mata hitamnya dipenuhi ejekan.
“Masih kurang satu botol.”
Ternyata ia terlalu meremehkan perempuan itu. Hidungnya sudah ditunjuk-tunjuk dan dimaki orang, tetapi ia masih bisa dengan tenang menjalankan transaksi.
“Botol yang satunya, aku mau.” Dari sudut yang tak terlihat oleh Gu Tingye, Liang Wenwen menatap Xie Xi dengan penuh kebencian.
Alangkah baiknya jika Xie Xi segera menghilang dari sini.
“Baiklah. Akan kuberi—”
Xie Xi dengan bersemangat hendak mengambil arak, tetapi sebuah tatapan tajam dari Gu Tingye membuatnya terhenti. Ia menyipitkan mata dengan tidak senang, lalu melontarkan pandangan menusuk ke arahnya.
Maksudnya jelas: berani menjual arak kepada Liang Wenwen, tamatlah riwayatnya.
Xie Xi: “…”
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Boleh bertanya, adakah satu orang normal di sini?
Karena tak sanggup melawannya, ia memilih menghindar. Itu seharusnya tidak masalah, bukan?
Maka ia membawa ember es menuju sisi lain ruangan.
Ia berkeliling dari satu orang ke orang lain, tetapi tak seorang pun bersedia membeli araknya.
Alasannya sederhana. Menjadi simpanan Gu Tingye bukanlah masalah besar, tetapi menantang tunangannya di depan umum jelas merupakan tindakan yang keliru.
“Hei, gadis kecil, kemarilah. Habiskan ini, maka aku akan membeli arakmu.” Pria itu berkepala besar dan bertelinga tebal, dengan sikap genit serta sembrono.
Melihat arak itu, bulu kuduk Xie Xi meremang. Ia khawatir ada sesuatu yang tidak semestinya dicampurkan ke dalamnya.
Namun terus tinggal di sini juga bukan jalan keluar.
Xie Xi mengepalkan telapak tangannya. Yang penting, ia harus pergi dari sini terlebih dahulu.
Hari ini, suka atau tidak, ia memang harus meminum arak itu.
Ia menerima setengah gelas yang disodorkan seseorang, lalu menenggaknya hingga habis.
Biasanya ia sama sekali tidak menyentuh alkohol. Begitu minuman asing berkadar tinggi itu masuk ke perutnya—ditambah ini merupakan gelas keduanya malam ini—perutnya seketika terasa jungkir balik, terbakar seperti terkoyak.
“Hahaha, pantas saja kau biasa berkeliaran di tempat seperti ini. Nyali yang bagus!”
Biasa berkeliaran di tempat seperti ini?
Berkeliaran di rumah nenekmu!
Melihat betapa mudahnya ia dibujuk, orang-orang lain pun bergegas mendekat.
Ada yang mengancam, ada pula yang menggoda, semuanya maju untuk bersulang dengan Xie Xi. Xie Xi menenggak gelas demi gelas hingga kepalanya serasa sudah melayang ke awan.
Tak jauh dari sana, senyum di wajah Gu Tingye menghilang. Tatapannya menjadi sangat dalam, dengan cahaya suram yang memancarkan hawa dingin dan kelam.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Sosoknya yang tersembunyi di bawah cahaya lampu redup diselimuti kemuraman.
Tatapannya lurus mengarah pada Xie Xi.
Perempuan sialan…
Berani-beraninya ia menggoda pria lain di depan matanya. Apa ia tidak tahu bahwa sekarang, tepat pada saat ini, dialah pria Xie Xi?
Xie Xi, yang sama sekali tidak menyadari apa pun, terus minum hingga dadanya terasa sesak.
Ia baru hendak pergi ke kamar kecil untuk menenangkan diri ketika kabar dari rumah sakit tiba.
Tuan Zhou dan Tuan Zhang yang dikirim untuk menjalani perawatan kini telah melewati masa kritis. Setidaknya, nyawa mereka berhasil diselamatkan.
Kedua keluarga masing-masing mengutus orang untuk menemui Gu Tingye dan meminta tiga tangan yang telah terputus itu.
Jika dikirim tepat waktu, tangan-tangan tersebut masih mungkin disambungkan kembali.
Tentu saja, Gu Tingye bukan orang yang mau melakukan transaksi merugikan.
Utusan mereka menyampaikan maksud kedatangan sambil menawarkan imbalan yang sangat besar.
Gu Tingye akhirnya mengangkat kepala. Wajahnya yang rupawan dan sepasang mata yang membeku oleh hawa dingin muncul dalam pandangan Xie Xi.
Tiba-tiba ia berkata, “Kau. Antar sendiri ke sana.”
Mengantarkan tangan-tangan itu berarti menempuh jalan menuju kematian.
Seketika terdengar desahan dan bisik-bisik dari seluruh ruangan.
Bukankah dia simpanan Tuan Gu?
Secepat itu sudah bosan?