Bab 43 Pindah Keluar
Lu Jianzhou tertegun sejenak karena dimarahi.
“Kakek, bukankah semalam Anda—”
“Bukan apa? Apa kamu ingin bilang kalau aku membujuk Jiaojiao agar tidak menceraikanmu?”
Kakek Lu berkata dengan nada kesal, “Jiaojiao adalah anak yang begitu baik. Setelah kau kecewakan sekali, apa kamu masih mau mengecewakannya dua kali?”
Kata “mengecewakan” membuat Lu Jianzhou merasa dirinya benar-benar seorang pria yang tidak tahu diuntung.
Namun, kenyataannya memang demikian.
Perasaan Mu Wanqiao bercampur aduk di dalam hatinya.
“Kakek, ini masih pagi. Semalam Kakek juga tidur sangat larut. Jangan terlalu memikirkan urusanku, cepatlah beristirahat.”
Sebenarnya, begitu mengetahui keduanya bercerai semalam, Kakek tidak tidur semalaman.
Beliau takut Mu Wanqiao dihentikan, makanya beliau buru-buru keluar.
“Kakek, Kakek, Kakek menyetujui perceraian kami?”
Lu Jianzhou merasa tidak percaya.
Kakek tidak memedulikannya, melainkan menoleh ke arah Mu Wanqiao dan tersenyum ramah.
“Sudah tua, mau tidur pun susah. Pergilah, hari ini kamu masih harus bekerja, kan? Soal mencarikan rumah, akan Kakek suruh orang untuk mencarikannya untukmu. Kamu begitu sibuk dengan pekerjaanmu, mana sempat?”
Dibandingkan dengan Lu Jianzhou, Mu Wanqiao justru tampak lebih seperti cucu Kakek Lu.
Mu Wanqiao menahan air mata keengganannya untuk berpisah, “Baiklah, terima kasih, Kakek.”
Dia tidak bisa menolak, dan tidak berani menolak.
Dia tidak boleh menyia-nyiakan niat baik orang tua itu.
“Kakek, aku akan sering kembali untuk menjengukmu.”
Mu Wanqiao pun pergi.
Wajah Lu Jianzhou sangat jelek. Ia mengambil jasnya dan hendak mengejarnya.
“Berdiri di situ!”
Kakek Lu membentaknya, “Muka apa lagi yang masih kamu miliki untuk mengejar Jiaojiao kembali? Apa luka yang kamu torehkan padanya selama ini masih kurang?”
Luka...
Lu Jianzhou ingin mengatakan bahwa dirinya tidak melukai wanita itu.
Namun, skandal-skandal di luar sana, kata-kata tajam yang diucapkannya, mana yang tidak menusuk hati wanita itu seperti jarum?
Duduk di atas sofa.
Penuh rasa sakit dan kekhawatiran di lubuk mata Kakek Lu.
“Sekarang kamu ingin mengejarnya pun sudah terlambat. Ada satu kalimat Jiaojiao yang benar: manusia baru akan mengerti arti menghargai setelah kehilangan.”
Lu Jianzhou tertegun, langsung mematung di tempat.
—
Begitu mengetahui kabar perceraian Mu Wanqiao, Yu Linlin bangkit berdiri dari kursinya karena sangat gembira.
Rekan kerja di sampingnya mengira ia baru saja memenangkan lotre.
Mereka memandangnya dengan tatapan heran.
Mendiskriminasikan tatapan aneh di sekitarnya, Yu Linlin berjalan ke pantry dan merendahkan suaranya.
“Beneran? Kakek Lu juga sudah tahu? Bukan cuma tidak melarang, tapi malah membantumu pindah dari kediaman utama?”
Ini adalah hasil yang tidak diduga oleh siapa pun.
Mu Wanqiao duduk di dalam mobil yang membawanya berangkat kerja.
Sopirnya tetaplah Paman Liang.
Namun, ia tidak sengaja merendahkan suaranya, “Iya, Kakek bisa mengahamiku. Aku juga tidak menyangka, beliau sangat baik padaku.”
Begitu baik hingga membuatku merasa enggan saat harus pergi.
Namun, bukankah hidup memang seperti ini?
Setiap persimpangan jalan pasti mengharuskan kita untuk berjalan semakin menjauh dari beberapa orang.
“Tidak apa-apa, bisa dipahami oleh seseorang adalah suatu kehormatan terbesar.”
Teringat sesuatu, Yu Linlin bertanya lagi, “Ngomong-ngomong, surat cerainya sudah diurus?”
Mu Wanqiao baru teringat, “Belum, belum sempat.”
Yu Linlin adalah seorang pengacara dan mengetahui seluk-beluk masalah ini.
Ia menghibur Mu Wanqiao, “Tidak apa-apa, asalkan surat perjanjian perceraian sudah ditandatangani dan telah berpisah selama setahun, itu secara otomatis dianggap sah bercerai.”
Mu Wanqiao akhirnya bebas.
Akhirnya tidak lagi terkekang oleh status.
“Kamu pasti belum mencari rumah, kan?”
Yu Linlin memikirkan segalanya dengan matang.
“Kebetulan ada orang yang pindah dari apartemen tepat di seberang rumahku, bagaimana kalau kamu pindah ke sana saja?”
Rumah berhasil ditemukan tanpa membuang tenaga, Mu Wanqiao merasa sangat senang.
Mobil tiba di depan Museum Kota.
Mu Wanqiao berpesan kepada Paman Liang, “Paman Liang, pulangnya sampaikan kepada Kakek bahwa Linlin sudah membantuku mencarikan rumah, jadi Kakek tidak perlu repot-repot.”
Paman Liang mendengarkan seluruh percakapan itu di dalam mobil dan menganggukkan kepalanya menyetujui.
Semua orang di Museum Kota sangat berdedikasi.
Mereka datang bekerja lebih awal.
Baru saja memasuki area kantor, Mu Wanqiao berpapasan dengan Qiu Shaolin.
Namun sangat jelas, sikap pria itu tampaknya kembali seperti semula.
“Kakak Seperguruan Qiu, pagi.”
Pria itu sama sekali tidak memedulikannya.
Usaha ramahnya bertepuk sebelah tangan.
Mu Wanqiao tidak memasukkannya ke dalam hati, tetapi tepat saat ia berbalik hendak masuk ke ruang kerjanya, orang di belakang memanggilnya.
“Adik Seperguruan Mu, Kakak Seperguruan Sulung tetaplah Kakak Seperguruan Sulung. Kamu tidak boleh sembarangan memarahinya hanya karena kemampuan restorasi lukisanmu lebih baik darinya.”
Sembarangan memarahi?
Mu Wanqiao sedikit bingung, “Apakah Kakak Seperguruan Qiu salah paham? Aku tidak memarahi siapa pun.”
“Tidak memarahi?” Qiu Shaolin mencibir, “Kamu lupa kalau orangmu datang ke sini untuk memaki-maki Kakak Seperguruan Sulung semalam?”
Mu Wanqiao teringat.
Yang dimaksud pria itu adalah Lu Jianzhou.
Namun, Lu Jianzhou tidak seburuk itu hingga memarahi orang lain.
“Maaf, membuatmu salah paham. Aku memang berniat meminta maaf kepada Kakak Seperguruan Sulung.”
Qiu Shaolin memasang wajah kesal dan sama sekali tidak menerima permintaan maaf itu.
“Sok suci.”
“Shaolin, jangan bicara sembarangan.”
Gu Sheng kebetulan mendengar kata-kata itu dan maju untuk menghentikan.
Yang satu adalah adik seperguruan pria dan yang satu lagi wanita, ia tidak ingin keduanya bertengkar karena dirinya.
“Kakak Seperguruan, sampai sekarang pun Kakak masih membela wanita itu? Dia bahkan sudah menginjak-injak kepalamu.”
Qiu Shaolin merasa tidak terima atas ketidakadilan yang dialami Gu Sheng.
“Ini urusanku.”
“Baiklah, kalau begitu aku yang ikut campur!”
Kepergiannya yang penuh kemarahan membuat banyak orang menoleh karena bingung.
Setelah masuk ke ruang kerja.
Mu Wanqiao baru berkata, “Kakak Seperguruan, aku minta maaf. Pria semalam adalah mantan kekasihku, kami sudah putus. Dia masih datang ke sini untuk membuat keributan dan mempermalukanmu. Semua masalah ini bermula dariku, aku minta maaf kepadamu di sini.”
Harus diakui, perkataan Qiu Shaolin ada benarnya.
Gu Sheng ikut terseret dan menderita karenanya.
“Tidak apa-apa, Adik Seperguruan. Kamu sendiri tidak terluka, kan?”
“Aku baik-baik saja.”
Gu Sheng sebenarnya juga ingin bertanya tentang apa yang terjadi selanjutnya.
Namun, ia dan Mu Wanqiao hanya sebatas hubungan sesama rekan seperguruannya, ia tidak berhak untuk mencampuri urusan pribadi wanita itu.
“Kalian berdua berbisik-bisik membicarakan apa?”
Pak Tua Li melangkah masuk.
Mengenai kejadian semalam, semua orang sepakat untuk tidak membahasnya lagi.
“Oh ya, Gadis Jiaojiao, beberapa hari ini aku sibuk sampai lupa memberitahumu. Lusa adalah perjamuan ulang tahun Nyonya Tua Bai, bersiap-siaplah.”
Mu Wanqiao juga hampir melupakan hal ini.
Bai Jinshi sempat bilang beberapa hari lagi, tetapi yang dimaksud “beberapa hari” oleh pria tua itu ternyata selama ini.
Di dalam hati ia merasa geli sekaligus pasrah.
Namun di permukaan, ia mengangguk menyetujuinya.
Bai Jinshi kali ini hanya mengundang Pak Tua Li dan Mu Wanqiao.
Gu Sheng tahu bahwa dirinya tidak banyak membantu dalam urusan lukisan kuno tersebut, jadi ia memilih untuk tetap tinggal di museum secara wajar.
“Guru, mengenai perjamuan itu, aku ingin Kakak Seperguruan Sulung yang pergi.”
Mu Wanqiao ingin menebus kesalahan atas insiden semalam.
“Kenapa? Kamu tidak ingin melihat-lihat koleksi benda berharga milik Tuan Bai?”
Semua orang adalah orang yang paham, mereka kurang lebih tahu alasan di balik tindakan Mu Wanqiao ini.
Namun Gu Sheng tidak berkenan.
“Adik Seperguruan, aku mengerti maksudmu, tetapi ini adalah hakmu yang seharunya kamu dapatkan. Tuan Bai mengundangmu, aku tidak bisa menggantikan posisimu secara diam-diam.”
“Gadis Jiaojiao, sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Kakak Seperguruan Sulungmu itu adalah orang berhati lapang, dia tidak akan mempermasalahkan hal semacam ini.”
Gu Sheng ikut menimpali, “Benar, Adik Seperguruan, ini hanya hal sepele, jangan dimasukkan ke dalam hati.”
Mungkin teringat bahwa Mu Wanqiao terus memikirkan perkataan Qiu Shaolin.
Ia pun melanjutkan, “Shaolin memang orang yang suka asal bicara, jangan ambil pusing.”