Bab 43: Maafkan Aku
Gu Jianghuai menghela napas panjang, lalu dengan gemas mencubit hidung Zhao Siyue sembari menariknya untuk berdiri. "Sudahlah, kenapa kau masih seperti saat kecil dulu? Mudah sekali menangis, persis seperti kelinci kecil."
Melihat Gu Jianghuai melunak, Zhao Siyue tahu masalah ini sudah hampir selesai. Ia menyandarkan kepalanya ke dada Gu Jianghuai sambil bergumam, "Mana ada, aku tidak menangis, jangan asal bicara."
Gu Jianghuai menepuk bahu Zhao Siyue dengan lembut. Ia kemudian menoleh ke arah Jin Mei dengan tatapan serius. "Kau adalah manajer Siyue, bertanggung jawab atas jadwal dan keselamatannya. Aku tidak ingin melihat kejadian hari ini terulang kembali. Jika ada lain kali, aku tidak akan membiarkanmu bertahan di industri ini."
"Baik, baik, Tuan Gu. Saya pasti akan lebih berhati-hati ke depannya, ini tidak akan terjadi lagi. Terima kasih, Tuan Gu."
Gu Jianghuai melambaikan tangan. Jin Mei segera bangkit dari lantai dan berdiri di samping dengan kepala tertunduk.
Gu Jianghuai tetap berada di rumah sakit hingga malam hari sebelum akhirnya beranjak pergi. Begitu masuk ke dalam mobil, ia meletakkan mantelnya di atas pangkuan, menyandarkan kepala di kursi belakang, dan memijat pelipisnya.
"Tuan Gu, saya antar Anda pulang?"
"Hm."
Mobil Maybach hitam itu melaju menuju kediaman Tian Shui Yuan. Pandangan Gu Jianghuai tertuju pada lampu-lampu jalan yang berkelebat di luar jendela. Pejalan kaki terlihat berlalu-lalang, meninggalkan bayangan panjang yang berpendar. Saat tatapannya tak sengaja menyapu sebuah apotek yang masih buka, Gu Jianghuai tiba-tiba bersuara, "Berhenti di pinggir jalan."
Suasana sunyi yang menyelimuti mobil seketika pecah.
"Ah? Oh, baik." Chen Hui, sang sopir, sedikit terkejut namun segera menepikan mobil di tempat yang aman.
Gu Jianghuai keluar dari mobil dan berjalan menuju apotek. "Selamat datang," sambut suara mekanis dari sensor pintu yang murah. Ia melangkah menuju meja kasir.
"Halo, saya ingin membeli salep untuk meredakan kemerahan dan bengkak, apakah ada?"
"Anda butuh untuk pemakaian luar atau obat minum?"
"Pemakaian luar."
"Baik, mohon tunggu sebentar." Pelayan toko itu dengan sigap mengambilkan salep yang dimaksud dan menyerahkannya kepada Gu Jianghuai. Setelah membayar, ia bergegas pergi dengan kantong plastik di tangannya.
Begitu pria itu pergi, pelayan toko itu melompat kegirangan dan segera mengeluarkan ponselnya untuk berbagi cerita dengan temannya.
"Ya Tuhan, kalian tidak akan percaya apa yang baru saja kualami! Ada pria yang sangat tampan datang ke toko untuk membeli sesuatu, dia benar-benar luar biasa! Saat dia menatapku, aku hanya ingin segera menelepon ibuku dan bilang kalau aku jatuh cinta. Sungguh, aku sampai mimisan rasanya!"
"Benarkah? Jangan bohong ya!"
Untuk membuktikan ucapannya, pelayan itu sengaja membuka rekaman CCTV, mengambil foto, dan mengirimkannya.
...
Saat Gu Jianghuai tiba di Tian Shui Yuan, rumah itu tampak gelap gulita tanpa secercah cahaya pun. Ia tidak ingin mengganggu siapa pun, jadi ia berjalan menaiki tangga dalam gelap dengan bantuan cahaya bulan.
Langkahnya terhenti tepat di depan kamar Tan Yu. Ia tahu wanita itu ada di dalam; hanya perlu mendorong pintu untuk melihatnya. Namun, ia merasa ragu. Setelah terdiam cukup lama, Gu Jianghuai yang menggenggam erat kantong plastik di tangannya akhirnya memutuskan untuk mendorong pintu kamar Tan Yu dengan lembut.
Sebuah lampu tidur redup masih menyala di meja. Rambut halus wanita itu tergerai di atas bantal, tubuhnya meringkuk dalam posisi memeluk diri sendiri. Sebagian wajahnya terbenam di balik selimut, sementara separuh wajah lainnya yang terlihat masih menyisakan bekas kemerahan yang belum pudar.
Gu Jianghuai menghela napas, hatinya terasa nyeri. Ia mengeluarkan salep, mengoleskan sedikit di ujung jarinya, lalu menyapukannya dengan lembut ke wajah Tan Yu. Ia sangat berhati-hati agar tidak membangunkannya.
Dalam tidurnya, Tan Yu tampak menanggalkan sikap konfrontatif dan duri-duri tajam yang ia tunjukkan di siang hari. Wajahnya yang damai memberikan kesan ketenangan yang mendalam bagi Gu Jianghuai. Ia terpaku menatap wajah wanita itu.
Tidur Tan Yu tidak nyenyak. Salah satu sisi wajahnya terasa panas membara, sehingga ia membiarkannya terbuka untuk mendinginkan suhu. Tiba-tiba, sesuatu yang dingin menyentuh wajahnya, meredakan rasa panas tersebut dan membuatnya merasa nyaman. Namun, sensasi itu terasa sedikit menggelitik. Ia ingin menyingkirkan benda itu agar tidak mengganggunya.
Tangan mungil Tan Yu menggenggam jari Gu Jianghuai, menjepitnya erat di telapak tangannya. Panas tubuh wanita itu menjalar melalui titik sentuh tersebut, mengalir lewat pembuluh darah hingga ke seluruh tubuh Gu Jianghuai, bahkan menyelimuti jantungnya. Gu Jianghuai merasa seolah dirinya pun ikut tertular demam itu; jika tidak, mengapa ia tiba-tiba merasa begitu gerah?
Ia merasa dasinya terlalu mencekik, membuatnya sulit bernapas. Dengan jari-jarinya yang panjang, ia menarik dasi itu sedikit lebih longgar.
Saat Gu Jianghuai menunduk menatap Tan Yu, ia mendapati bahwa mata yang tadinya terpejam itu kini sudah terbuka. Sepasang mata berwarna cokelat muda itu tampak jernih, tanpa sedikit pun rasa bingung. Gu Jianghuai dengan terburu-buru menarik tangannya.
Keduanya terdiam dalam posisi satu berbaring dan satu duduk. Keheningan merayap di setiap sudut ruangan, terasa semakin pekat di tengah malam.
Tan Yu: "Keluar."
Gu Jianghuai: "Maaf."
Sikap dingin dan asing dari Tan Yu menghantam hati Gu Jianghuai bagaikan palu godam. Benar saja, saat wanita itu terjaga, duri-durinya akan segera diarahkan kepadanya. Sejak kapan seseorang yang dulu penurut seperti kelinci kecil berubah menjadi landak yang melukai diri sendiri sekaligus orang lain?
Gu Jianghuai mengatupkan bibirnya. "Maaf, situasi saat itu sangat mendesak, aku terpaksa membawa Siyue ke rumah sakit terlebih dahulu. Dia seorang selebritas, dia harus terus bersinar di bawah lampu sorot, dia tidak boleh terluka."
Suara Tan Yu sedingin es, tanpa emosi sedikit pun. "Lalu?"
"Jadi aku hanya bisa membawanya ke rumah sakit lebih dulu." Gu Jianghuai membuka mulutnya, namun kata-kata itu tersangkut di tenggorokan.
"Aku sudah mencari tahu tentang kejadian hari ini. Siyue sebenarnya berniat baik, kau hanya salah paham. Soal Jin Mei, aku juga sudah memperingatkannya. Mereka akan berusaha menghindarimu ke depannya."
Tan Yu mencibir. Jadi pria ini datang sebagai penengah karena takut dia akan membalas dendam pada Zhao Siyue. Pantas saja pria yang biasanya angkuh ini sekarang rela merendah untuk berbicara baik-baik dengannya.
"Tuan Gu, pernah dengar pepatah ini? Jangan menasihati orang lain untuk berbuat baik jika kau tidak pernah merasakan penderitaan mereka."
Mendengar nada bicara Tan Yu yang terus menjauhkan diri, kening Gu Jianghuai berkerut tajam. Suaranya pun kini terdengar tidak senang. "Aku sudah meminta maaf padamu mewakili Siyue, apa itu belum cukup? Mengapa kau harus sekaku ini?"
'Mewakili'? Sejak dulu, seseorang yang bisa mengambil keputusan atas nama orang lain hanyalah mereka yang memiliki hubungan istimewa. Amarah yang membara di dada Tan Yu membuat jantungnya terasa sakit.
"Kau meminta maaf padaku mewakili Zhao Siyue? Atas dasar apa kau melakukan itu? Sebagai suamiku atau sebagai kekasihnya?"
Tan Yu melanjutkan, "Sebelum membersihkan kotoran orang lain, sebaiknya bersihkan dulu dirimu sendiri. Kau percaya atau tidak, dengan bukti-bukti yang ada di tanganku sekarang, aku bisa membuat reputasi Zhao Siyue hancur lebur. Dia tidak akan pernah bisa mengangkat wajahnya lagi di industri hiburan dan selamanya akan memikul label sebagai orang ketiga."
"Tan Yu! Kau sadar tidak apa yang sedang kau katakan?!"