Ao acordar, Su Tingyun se tornou uma velha de 70 anos. Difícilmente aceitou o destino, pretendendo ser uma velha da família abastada, a grande BOSS do mundo das intrigas no lar, mas o roteiro mudou de
Hari ini, Su Tingyun mengenakan jaket tebal berwarna merah terang, yang disulam benang emas dengan motif panjang umur dan uang logam, tampak sangat meriah sekaligus norak. Rambutnya yang memutih diikat rapi oleh pelayan utamanya dengan tusuk konde emas, digelung dengan model sanggul terpopuler di ibu kota saat ini, yakni Sanggul Peri, yang sangat digemari para gadis muda. Namun, saat dikenakan olehnya, kesannya justru agak aneh.
“Nyonya Besar, hari ini hari ulang tahun Anda yang ke tujuh puluh. Kudengar bahkan Sri Permaisuri akan datang ke rumah kita,” kata pelayan utama, Cui Jin, sambil memijiti pundak sang nyonya dengan kekuatan yang pas. Su Tingyun merasa cukup nyaman, sebab ia hampir tak tahan lagi dengan nyeri bahu yang menyiksanya hingga semalaman tidak bisa tidur nyenyak.
Padahal usianya baru dua puluh lima tahun, tapi begitu terbangun, ia malah menjadi seorang nenek tua yang akan merayakan ulang tahun ke tujuh puluh. Beberapa waktu lalu, ia masih merutuki kerutan di sudut matanya, kini, melihat wajah penuh keriput di cermin tembaga, Su Tingyun hanya bisa mengeluh nasib. Hidupnya seolah dipercepat, belum puas menikmati masa muda, belum sempat mengalami paruh baya, dirinya sudah langsung terjun ke usia senja yang setengah kakinya sudah di kuburan.
Yang paling membuatnya tak habis pikir, zaman tempat ia berada saat ini sama sekali tak pernah tercatat dalam sejarah. Tubuh yang ia tempati pun, yakni Nyonya Besar Su yang berusia tujuh puluh tahun, benar-benar punya kisah hidup yang legendaris.
Sebelum menikah, Nyonya Besar bermarga Wei, setelah