Bab Empat Puluh Empat: Aduh, Sungguh Kesal
Chen An bukanlah orang yang mendua. Jika dia baru saja terlahir kembali dan menyadari bahwa Tang Jiang dan Han Yao sama-sama menyukainya, mungkin pilihan itu akan terasa lebih sulit. Namun, hatinya pasti akan lebih condong kepada Tang Jiang. Sekarang, dia telah melewati banyak hal bersama Tang Jiang; selain batasan terakhir yang belum sempat dilangkahi, segala sesuatu yang bisa dilakukan telah mereka lakukan.
Membuang Tang Jiang begitu saja sekarang dan memilih bersama Han Yao?
Tentu saja itu tidak mungkin.
Adapun pilihan orang dewasa—untuk mengambil keduanya—Chen An tidak pernah memikirkan hal itu sama sekali.
Oleh karena itu, dia hanya bisa menolak Han Yao.
Untungnya, Han Yao pada akhirnya memilih untuk mengalah. Jika perempuan itu tetap mengungkapkan perasaannya, pilihan Chen An mungkin akan tetap sama, hanya saja waktu pertimbangannya akan sedikit lebih lama.
Sekarang semuanya baik-baik saja, hubungan mereka tetap sebatas teman.
"Temanmu banyak sekali."
Yang Huan melontarkan komentar bernada sindiran kepada Chen An setelah mendengar cerita itu, entah apakah itu merupakan isyarat agar dia tidak terus bergaul dengan Han Yao.
Sebagai seseorang yang mendalami bidang sastra, Chen An mengartikan perkataan Yang Huan itu seperti soal pemahaman bacaan, dan menyadari bahwa makna di baliknya sangat luas.
Namun, jika Yang Huan benar-benar berpikir seperti itu, Chen An pun tidak akan menuruti kemauannya.
Mereka telah berteman selama bertahun-tahun, persahabatan tidak bisa dibuang begitu saja hanya karena alasan sepele.
"Punya banyak teman bukanlah hal yang buruk."
Chen An mengalihkan pembicaraan.
Yang Huan tidak membahasnya lebih lanjut, melainkan meninggalkan satu kalimat sebelum beranjak pergi.
"Pergilah keluar untuk bersenang-senang, atau pergilah ke rumah Tangjiang sekalian, jangan hanya meringkuk di kamar seperti ayam yang sedang mengerami telur."
Perempuan itu pasti hendak pergi bermain mahjong.
Chen An tidak bisa menahan diri untuk tidak merenung dalam hati. Profesi sebagai guru memang cukup menyenangkan. Pekerjaan lain tidak memiliki libur musim dingin dan musim panas. Selain itu, selama seseorang tidak terlalu memikirkan murid-muridnya secara berlebihan atau bersikap tidak terlalu bertanggung jawab, hidupnya bisa berjalan dengan sangat santai.
Jika merasa gajinya kurang, mereka juga bisa memberikan les tambahan di luar sekolah dengan bayaran setidaknya seratus hingga dua ratus yuan per jam. Satu jam saja sudah setara dengan pendapatan pekerjaan lain dalam sehari, yang bisa dikatakan sangat luar biasa. (Pernyataan di atas hanyalah fakta objektif, mohon jangan memaknai secara berlebihan sebagai sudut pandang pribadi penulis.)
Lagipula, selain guru, pekerjaan apa lagi yang memiliki libur musim dingin dan musim panas?
Maka dari itu, Guru Yang yang merasa bosan selama libur musim panas pun pergi bermain mahjong. Sebelum keluar rumah, dia tidak lupa menyuruh Chen An untuk berjalan-jalan di luar.
Namun, Chen An tidak suka berjalan-jalan. Pertama, dia takut kepanasan; kedua, pergi keluar pun tidak ada hal yang menarik untuk dilakukan.
Dia merasa pergi ke warung internet untuk berselancar di dunia maya masih sedikit menarik, tetapi itu pun rasanya lebih baik di rumah saja.
Chen An memutuskan untuk menuruti perkataan ibunya dengan keluar untuk berjalan-jalan sebentar. Dia berjalan-jalan di ruang tamu, mengambil segelas air, dan bersiap untuk kembali ke kamar ketika dia tiba-tiba menyadari bahwa Guru Chen entah pergi ke mana.
Mungkinkah dia juga pergi bermain kartu?
Kedua paruh baya itu memang tidak bisa duduk tenang di rumah. Dengan begitu, apakah di rumah hanya ada dia seorang?
Hati Chen An tergerak, lalu dia menelepon Tang Jiang.
"Begitu dekat, kamu bahkan bisa mendengarnya jika berteriak, untuk apa menelepon? Aku baru saja tidur siang dan langsung kamu bangunkan."
Begitu panggilan tersambung, Chen An langsung disemprot dengan nada ketus.
Padahal Tang Jiang biasanya tidak memiliki kebiasaan marah setelah bangun tidur...
Chen An merenung, apakah Tang Jiang sedang dalam suasana hati yang buruk, lalu teleponnya justru datang di waktu yang tidak tepat?
"Aku hanya ingin bilang kalau di rumahku sedang tidak ada orang. Kamu kan tidak punya waktu untuk datang, rasanya tidak sopan kalau membuka jendela lalu berteriak kencang, kan?"
Rumah Chen An dan Tang Jiang memang sangat berdekatan. Jika berteriak kencang dari jendela—selama jendela rumah Tang Jiang tidak tertutup rapat—suaranya pasti terdengar. Perumahan tua ini memang tidak memiliki peredam suara yang begitu bagus.
Namun, tidak setiap saat adalah waktu yang tepat untuk berteriak, terutama dalam beberapa tahun terakhir. Banyak keluarga yang keadaannya lebih baik telah pindah dan membeli rumah di tempat lain, sementara rumah tua mereka disewakan kepada orang lain. Dengan begitu, hubungan antar tetangga tidak lagi begitu akrab, dan berteriak-teriak akan mengganggu kehidupan orang lain.
Lagipula, sekarang bukan lagi era di mana komunikasi pada dasarnya bergantung pada teriakan.
Hanya saja, itu bukanlah inti permasalahannya.
Perempuan yang sedang marah memang terkadang bersikap tidak masuk akal.
Chen An mengatakan bahwa tidak ada orang di rumah, dan Tang Jiang menganggap itu sebagai isyarat terselubung agar dirinya datang dan "menyerahkan diri" untuk digoda oleh pemuda itu.
"Kamu menganggapku sebagai perempuan apa? Perempuan yang memuaskanmu saat kamu memiliki hasrat?"
Tut, tut, tut...
Panggilan itu ditutup begitu saja, membuat Chen An tertegun kebingungan.
Apakah perlu bereaksi seheboh itu?
Dia memang tidak bisa menjamin bahwa jika Tang Jiang datang, dia tidak akan menggodanya, tetapi tujuan utamanya sebenarnya adalah mendiskusikan rencana mereka selanjutnya.
Dia telah menulis sebuah proposal tentang rencana membuka toko, dan modal yang dimilikinya memang tidak cukup. Dia berniat meminta dukungan dari Tang Jiang. Bagaimanapun, ini adalah jumlah uang yang sangat besar—bukan lagi lima ribu yuan seperti di awal, melainkan lima puluh ribu yuan—tentu saja hal ini harus dibicarakan baik-baik.
Hasilnya, Tang Jiang justru marah besar dan bahkan menutup teleponnya.
Hati Chen An perlahan-lahan ikut tersulut emosi. Mengatakan bahwa dirinya adalah perempuan yang memuaskan hasratnya—padahal dia sudah sangat menahan diri. Lagipula, mencium dan memeluk apakah sudah bisa disebut memuasakan diri? Mana mungkin semudah itu!
Perempuan itu bahkan bertanya dirinya menganggap dia sebagai perempuan apa. Mendengar kalimat itu membuat kemarahan Chen An semakin membuncah; justru Tang Jiang lah yang menganggapnya dengan pikiran yang aneh!
Dengan perasaan kesal, Chen An membuka kulkas dan meneguk teh herbal dingin. Rasanya sangat pahit, tetapi langsung menyegarkan hingga ke lubuk hati.
Hal itu juga membuat Chen An sedikit lebih tenang.
Ada sebuah lagu yang benar-benar tepat: mencintai tidaklah semudah itu, setiap orang memiliki emosinya masing-masing.
Kekasih ideal yang mencintai seseorang dengan sepenuh hati, hanya bisa bermanja-manja, dan tidak pernah marah, hanya ada di dunia fiksi. Kekasih di dunia nyata mungkin adalah sosok seperti Tang Jiang—menggemaskan saat bermanja-manja, imut saat merasa malu, tetapi juga bisa membuat orang sangat jengkel saat sedang marah.
Namun, setelah kemarahannya mereda dan pikirannya kembali jernih, Chen An merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Seharusnya suasana hati Tang Jiang memang sedang tidak baik sejak awal; bagaimanapun, dia tidak melakukan kesalahan apa pun yang menyinggung perempuan itu sebelumnya.
Kepalanya terasa sedikit pusing. Namun, karena panggilan itu baru saja diputus, lebih baik dia menunggu sampai nanti malam untuk menemui Tang Jiang dan meluruskan semuanya.
Cari tahu dulu alasan di balik kemarahan Tang Jiang, baru kemudian menghitung kesalahan itu bersamanya.
Itulah cara Chen An dalam menghadapi dan bergaul dengan orang lain.
Kamu sedang bad mood dan melampiaskan kemarahan padaku? Baiklah, aku bisa menolelir dan bersabar, tetapi bukan berarti aku menerimanya begitu saja.
Chen An bisa menyelesaikan masalah terlebih dahulu, lalu meminta pertanggungjawaban atas kesalahan pihak lain dan membuat mereka mengakui kesalahannya.
Hal semacam ini wajar terjadi sekali atau dua kali. Sangat sulit bagi seseorang untuk mengendalikan emosi ketika sedang marah, dan interaksi antarmanusia pasti akan diwarnai oleh gesekan. Namun, tidak ada seorang pun yang boleh dijadikan tempat pelampiasan amarah bagi orang lain. Jika itu terjadi terus-menerus, siapapun tidak akan sanggup bertahan. Kendati demikian, Chen An tetap bersedia memberikan kesempatan bagi orang lain untuk berbuat salah.
Lebih baik tidur dulu, bangun tidur baru dipikirkan lagi.
Chen An berbaring di atas tempat tidurnya, namun sama sekali tidak merasa mengantuk.
Pikirannya masih melayang pada kejadian tadi.
Duh, kesal sekali rasanya.
Chen An bolak-balik di atas tempat tidur untuk waktu yang lama, hingga tiba-tiba mendengar suara ketukan pintu dari luar.
"Tok, tok, tok..."
Chen An buru-buru bangkit, mengenakan sandal jepit, dan berjalan cepat untuk membukakan pintu.
Dia khawatir seseorang datang mencari kedua orang tuanya untuk suatu keperluan. Kedua orang tuanya terkadang memang sangat sibuk, misalnya ketika ada orang yang menggunakan koneksi untuk meminta bantuan les tambahan dan sebagainya.
Meskipun peraturan melarang kegiatan bimbingan belajar, tetapi mau bagaimana lagi, orang-orang harus mencari nafkah!
Namun, ketika Chen An membuka pintu, yang berdiri di luar bukanlah orang lain, melainkan Tang Jiang dengan ekspresi memelas yang tampak begitu menyedihkan.
Kemarahan Chen An yang tadinya masih membara seketika langsung runtuh begitu melihat tatapan memelas dari Tang Jiang...