Bab Empat Belas: Alangkah Baiknya Jika Tak Ada Akhir Zaman
Halaman (1/3)
Seruan merdu terdengar bersamaan dengan kilatan biru dan ungu yang melesat ke arah dua pihak yang tengah bertarung sengit. Wuyung, yang sedang menahan kedua lengan zombi dengan tombaknya, seolah memiliki mata di belakang kepala. Pada detik yang genting, ia melepaskan pegangan lalu memiringkan tubuh.
Berbeda dari Wuyung yang tanggap, zombi itu tidak sempat menghindar. Tubuhnya terkena sambaran petir dan embun beku, lalu menjadi kaku tak bisa bergerak.
Wuyung memanfaatkan kesempatan itu. Tombak besar yang jatuh setelah kehilangan penyangga disentil dengan punggung kakinya dan kembali ke tangannya. Mata tombak langsung menembus tengkorak zombi, menghantam kristal inti di dalamnya.
Zombi tingkat tinggi dengan dua jenis kemampuan yang sulit dihadapi itu akhirnya tumbang. Hal tersebut sangat membangkitkan semangat orang-orang yang sedang bertarung melawan gerombolan zombi. Setelah bersorak merayakan kemenangan, mereka bertarung dengan semakin gigih.
-----------------
Tanpa dorongan dan perintah dari zombi tingkat tinggi, para zombi itu tidak lagi menjadi ancaman berarti bagi pasukan besar markas. Mereka tak lebih dari makanan ringan.
Ketika tiba waktunya mencari persediaan, Wuyung—yang sebelumnya bergerak paling cepat dan menyapu bersih apa pun yang dilewatinya—berbalik memasuki perpustakaan umum di sisi timur alun-alun.
Tak seorang pun memahami tindakannya. Semua orang jelas melihat bahwa Wuyung adalah pahlawan utama yang menumbangkan zombi tingkat tinggi. Dalam keadaan seperti ini, ia berhak memilih lebih dahulu. Apa pun yang dipilihnya, sebanyak apa pun yang diambilnya, tak seorang pun akan keberatan. (Kecuali dua bersaudara dari keluarga Zhou yang masih merencanakan tipu muslihat.)
Namun, tak ada yang menyangka bahwa pilihan pertama Wuyung justru perpustakaan. Di dalamnya tidak ada makanan maupun minuman—hanya buku, buku, dan buku.
Melihat sosok Wuyung menghilang di balik pintu, orang-orang yang tersisa nyaris ingin menggigit saputangan kecil sambil menangis. Guihai Wuyung benar-benar orang baik! Mereka telah memperlakukannya seperti itu, tetapi dia masih rela meninggalkan lebih banyak persediaan untuk mereka! Mata mereka melirik tiga tokoh terkuat markas. Sebelumnya, ketika terjadi masalah dengan Kapten Liu, mereka malah bersikap dingin dan tidak maju membantu. Sungguh tak seharusnya mereka berbuat begitu! Mereka benar-benar penjahat besar...
Wuyung tidak tahu bahwa orang-orang lain telah memuliakan sosoknya dalam hati. Ia sedang menyusuri tangga, mencari tempat untuk belajar sendiri, ketika beberapa suara langkah terdengar dari belakang. Regu Zhao Xing, yang tidak memahami apa pun tetapi memercayainya dan selalu memegang prinsip bahwa mengikuti Wuyung berarti akan mendapat bagian, masuk sambil saling menopang.
“Bos, kau hebat sekali! Seranganmu tadi benar-benar mengalir seperti air dan begitu mudah dikendalikan!”
Qian Liang berkepribadian lincah. Tak peduli tubuhnya masih terasa tidak nyaman, ia berlari menghampiri Wuyung sambil terus berceloteh mengungkapkan kekagumannya. Anggota regu Zhao Xing lainnya tersenyum melihat anggota termuda mereka bertingkah lucu. Suasana seketika menjadi ringan dan hidup.
Sebaliknya, Wuyung justru berdiri di depan sebuah meja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Para anggota regu tersentak dan buru-buru mendekat untuk mencari rasa aman.
“Bos, ada yang tidak beres?”
“Aku sedang berpikir...” Wuyung menatap tanpa berkedip kartu identitas di tangannya. Nada suaranya berat. “Alangkah baiknya jika kiamat tidak pernah terjadi!”
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Kepala kecil Qian Liang mendekat ke kartu identitas itu, lalu membacakan tulisan di atasnya, “Chen Le’an, Kelas Tiga, Sekolah Menengah Pertama Kota Laut, tanggal lahir tahun 2007...”
Zhao Xing kembali gagal mendapatkan posisi terbaik. Ia hanya bisa berkeliling di bagian luar, mencari celah untuk melihat. Karena berdiri cukup jauh, hal pertama yang menarik perhatiannya justru foto ukuran satu inci itu.
“Orang ini sepertinya... zombi tingkat tinggi tadi!”
Sun Yanyan adalah seorang perempuan, sehingga cara berpikirnya lebih cermat dan peka. Ia memperhatikan kolom jenis kelamin.
“Dia laki-laki.”
Semua orang di tempat itu tertegun. Mereka yang lebih peka langsung mengernyit, memiliki firasat buruk. Sementara itu, mereka yang lamban menangkap maksudnya masih kebingungan.
“Bukankah dia gadis kecil yang cantik?”
Wuyung merapikan barang-barang milik Chen Le’an yang berada di atas meja. Ketika menutup buku catatan, sehelai pembatas buku terjatuh. Di atas kertas putih sederhana itu tergambar pola berwarna-warni. Bentuknya tampak sangat kasar, dan tepinya sudah sedikit menguning.
“Pengetahuan mengubah nasib.” Suasana hati Qian Liang merosot. Usianya dua tahun lebih muda daripada Chen Le’an. Pada tahun ketika kiamat pecah, ia duduk di kelas tiga sekolah menengah pertama. Setelah bersusah payah melarikan diri dari sekolah, ia tidak pernah kembali ke lingkungan pendidikan, tidak pernah lagi memegang pena ataupun membaca buku. “Bos, bolehkah pembatas buku ini diberikan kepadaku?”
Zhao Xing dengan lembut menepuk bagian belakang kepala Qian Liang. Anggota regu lainnya ikut menghibur si bungsu dengan penuh kasih.
Wuyung menyerahkan pembatas buku itu kepada Qian Liang, lalu mengambil keputusan.
“Aku akan menyediakan persediaan sebagai upah. Kalian ambillah lebih banyak buku.”
Sun Yanyan, direktur keuangan regu yang bertanggung jawab mengelola “uang”, mewakili seluruh anggota untuk menolak bayaran yang begitu menggiurkan itu.
Sejujurnya, mereka semua adalah orang biasa. Mereka tidak memiliki jiwa luhur yang berlebihan. Namun, mereka juga tahu bahwa buku adalah tangga kemajuan manusia. Sebuah bangsa dan negara tidak boleh kehilangan peradabannya. Yang mereka lakukan hanyalah sedikit hal yang mampu mereka kerjakan.
Setelah menyingkirkan zombi-zombi yang tersisa di perpustakaan, semua orang berpencar mencari buku yang mereka sukai. Wuyung baru pertama kali tahu bahwa perpustakaan ternyata juga memiliki buku-buku yang mengajarkan cara memasak.
Sejak kecil, ia memang tidak suka membaca. Ia lebih rela berlatih bela diri di tengah terpaan angin dan hujan daripada duduk tenang di kelas mengikuti pelajaran. Sewaktu kecil, ia hanya bisa belajar sedikit karena dipaksa gurunya dengan penggaris kayu.
Sun Yanyan tidak memiliki kesukaan khusus. Ia mengikuti Wuyung dari belakang, ingin berbicara dengannya. Wuyung tahu apa yang ingin diketahui Sun Yanyan, maka ia menjawab semuanya tanpa menyembunyikan apa pun.
Saat bertarung jarak dekat dengan zombi tingkat tinggi, Wuyung menyadari bahwa anak itu memiliki ciri-ciri laki-laki yang sangat jelas pada tenggorokan dan dadanya. Saat itu ia tidak sempat memikirkannya lebih jauh. Namun, kini ia teringat bahwa ketika kepalanya ditusuk hingga tembus, sudut bibir anak itu justru terangkat.
Setelah itu, Wuyung meminta seorang pengguna kemampuan api untuk membakar jasad tersebut. Ketika pakaiannya habis terbakar, ia kembali melihat bekas-bekas biru dan ungu di tubuh anak itu. Saat itulah ia memahami bahwa sebelum kiamat pecah, anak tersebut sedang menghadapi kekerasan—kemungkinan besar perundungan di sekolah.
Jenis kelamin pada kartu pelajar, lembar ujian dengan nilai sempurna yang telah disobek lalu direkatkan kembali menggunakan selotip, serta potongan-potongan kertas berisi hinaan di dalam tas sekolah membuktikan dugaan Wuyung.
Hatinya terasa sangat berat. Ia yang selalu memegang prinsip bahwa setiap dendam harus dibalas dan setiap penindasan harus dilawan dengan pukulan balik, tidak pernah bersentuhan dengan hal semacam itu. Ia tidak mampu benar-benar memahami perasaan anak tersebut dan hanya bisa menghela napas sia-sia.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Ia tidak tahu mengapa zombi sekuat itu bersembunyi di perpustakaan selama dua tahun tanpa muncul. Ia juga tidak tahu apakah sebelum kematiannya, anak itu sempat mendapatkan kembali sifat manusianya. Namun, semua itu tidak lagi penting.
Anak yang tekun belajar dan berusaha sekuat tenaga untuk melarikan diri dari tempat ini akhirnya membeku selamanya pada usia tujuh belas tahun. Hari ini, dengan senyum di wajahnya, ia meninggalkan neraka.
“Alangkah baiknya jika kiamat tidak pernah terjadi!”
Wuyung dan Sun Yanyan menghela napas bersamaan. Mereka saling memandang, dengan senyum getir menghiasi wajah.
Wuyung mengangkat setumpuk buku resep. Kilatan keteguhan melintas di mata hitamnya. Ia harus melakukan sesuatu!
Sebelumnya, sebagian besar tindakannya dilakukan demi dirinya sendiri. Dari Chunming ke Wuliu, lalu membentuk regunya sendiri di Wuliu—semua itu ia lakukan demi mencari anggota keluarganya.
Meskipun ia telah menyaksikan begitu banyak kesedihan dan penderitaan di dunia pascakiamat, serta melakukan cukup banyak tindakan untuk menegakkan keadilan, menemukan keluarganya dan berkumpul kembali bersama mereka selalu menjadi prioritas utama.
Namun sekarang, ia berubah pikiran.
Ia ingin melakukan sesuatu untuk dunia yang telah kacau ini, meskipun hanya sekadar membantu semua orang mengisi perut. Jadi, orang-orang keluarga Guihai, kalian harus bekerja keras! Paman guru kecil kalian tidak bisa lagi mencurahkan seluruh tenaga untuk mencari kalian. Kalian juga harus berusaha!
Buku-buku dalam pelukannya terasa berat. Saat ia melangkahkan kaki keluar dari pintu utama, sinar matahari yang cemerlang menembus lapisan awan tebal dan membuat Wuyung menyipitkan mata.
Karena sudah memilih untuk tinggal, ia harus mempelajari keterampilan memasak dengan sungguh-sungguh dan mengelola Guihai dengan baik.
-----------------
Pasukan besar dari markas Wuliu pulang dengan menapaki cahaya senja. Wuyung mengemudikan mobil paling belakang. Selain kursi penumpang dan kursi pengemudi, setiap celah di dalam mobil dipenuhi buku-buku yang mengajarkan cara memasak.
Wuyung tidak menyangka bahwa kejadian berikutnya hampir merenggut nyawanya. Sebelum sempat memikul tanggung jawab menyelamatkan dunia pascakiamat, ia sudah hampir tewas lebih dahulu!
Halaman (3/3)