Bab 51 Permintaan Maaf
Kantor Polisi——
"Aku mau menelepon! Beri aku ponselku! Akanuruh ayahku membereskan kalian semua!"
Zhang Ji meraung dengan wajah muram. Petugas dengan profesionalisme kerja yang baik akhirnya membarikannya sambungan telepon.
"Ayah! Aku di-bully, sekarang aku di kantor polisi, cepatlah datang dan selamatkan aku!"
"Apa! Bagaimana bisa putra kesayanganku di-bully! Jangan khawatir, ada Ayah di sini, Ayah tidak akan pernah membiarkan orang lain menindasmu!"
"Bagus! Lebih baik jebloskan mereka semua ke dalam penjara!"
"Baik, baik, baik... Hal-hal semacam ini hanyalah masalah sepele, asalkan kamu senang, Ayah bisa memenuhi apa pun keinginanmu."
Zhang Shikun sangat mementingkan dan menyayangi putranya, bahkan ingin mempersembahkan segala hal di dunia ini ke hadapan sang putra.
Meskipun ia tahu anaknya sedikit angkuh dan tidak masuk akal, lalu kenapa? Itu adalah putranya sendiri, memanjakannya sedikit pun bukan masalah.
"Sekarang kamu ada di distrik mana? Ayah akan menelepon seseorang."
Setelah mengetahui informasi tentang putranya, ia mulai mencari koneksi.
Namun, semakin ia mencari, semakin urusan ini terasa aneh dan tidak beres.
"Hei, Kepala Biro Mu, sudah lama tidak jumpa... Ada urusan yang ingin kuminta tolong... Putraku..."
"Hahaha... Soal ini, aku sepertinya tidak bisa membantumu. Alasannya pun tidak bisa kukatakan, jangan tanyakan lagi, pikirkan saja siapa orang yang baru saja menyinggungmu."
Setelah berkata demikian, pria di ujung telepon langsung menutup panggilan.
Zhang Shikun dipenuhi tanda tanya. Tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, ia menelepon kepala distrik. Awalnya obrolan berjalan baik-baik saja, tetapi begitu membahas masalah ini, ekspresi sang kepala distrik langsung berubah drastis.
"Ehem... Tua Zhang, aku ini orang baik-baik, urusan semacam ini aku tidak bisa melakukannya, cari saja orang lain yang lebih mumpuni."
"???"
Tidak peduli seberapa besar koneksi yang ia cari, akhirnya tetap sama.
Tidak peduli seberapa besar keuntungan yang ia tawarkan, kelompok orang itu menolaknya tanpa ragu sedikit pun. Tepat saat ia merasa sangat kebingungan, sekretarisnya berlari tergopoh-gopoh keluar.
"Direktur Zhang, gawat!"
Karena sudah dibuat pusing setengah mati oleh urusan putranya, pria muda ini malah masuk tanpa mengetuk pintu dan berlari menghampiri. Dengan wajah gelap, Zhang Shikun melemparkan teko teh ke arahnya, seketika darah pun cipratan.
"Masuk sialan, apa tidak tahu cara mengetuk pintu?! Urusan apa yang membuatmu berteriak-teriak seperti ini, untuk apa aku membayarmu begitu banyak uang! Sedikit pun tidak punya etika! Kalau tidak mau kerja, cepat enyah sana!"
Sekretaris itu memegangi keningnya yang berdarah dengan tatapan mata yang kejam, namun saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membalikkan keadaan. "Aku ceroboh, tapi sungguh telah terjadi masalah besar! Kerjasama keluarga Ma dengan kita dibatalkan seluruhnya, bahkan uang penalti pelanggaran kontrak telah ditransfer ke rekening kita, tanpa meninggalkan sepatah kata pun!"
"Apa!!!"
Dalam sekejap, Zhang Shikun tidak lagi mengkhawatirkan urusan putranya; kini ia justru harus memikirkan keselamatan keluarganya sendiri.
"Sebenarnya situasi apa ini?! Apakah pihak mereka memberikan alasan?"
"Mereka bilang... Anda, Anda tidak becus mendidik anak... Jika Anda tidak bisa mendidik, tentu ada orang lain yang akan mendidikkan untuk Anda..."
"???!"
Pupil mata Zhang Shikun melebar seolah hendak pecah. Ternyata masalah ini disebabkan oleh anak durhaka itu!
Bagaimana bisa anak durhaka ini tiba-tiba menyinggung keluarga Ma!
Sebagian besar keuntungan perusahaan mereka berasal dari kerja sama dengan keluarga Ma. Jika kerja sama itu dihentikan, entah seberapa besar bahaya ekonomi yang harus mereka hadapi.
Sekarang, jangankan memikirkan cara menyelamatkan putranya, ia bahkan menyiapkan sekantong hadiah dan dengan tergesa-gesa pergi menuju kediaman keluarga Ma.
Sementara itu, Zhang Ji masih terus berkoar-koar di kantor polisi, bertingkah seperti seorang penguasa besar.
"Begitu ayahku datang, kalian baru akan tahu rasa bersalah kalian. Pada akhirnya kalian semua akan dipecat. Orang-orang kelas bawah yang hina sepertinya pasti akan sangat menderita kalau kehilangan pekerjaan ini, ck ck ck... Minta maaflah padaku, baru aku akan mempertimbangkan untuk memaafkan kalian."
Petugas yang melayaninya hampir gila karena jengkel mendengarkan ucapan bodoh pemuda itu.
"Sudah tiga jam berlalu, keluargamu juga tidak kunjung datang. Kuberi ponsel ini supaya kamu bisa menelepon lebih banyak lagi, jadi berhenti bermulut besar dan bicara omong kosong."
Segala omongannya sama sekali tidak ada artinya dibanding kalimat pedas dari petugas wanita tersebut.
Ucapannya sukses membuat pemuda itu kehilangan kendali, hingga ia memukuli meja besi dengan membabi buta.
"Rumahku di Kyoto ini sangat terpencil, perjalanan ke sini saja butuh waktu beberapa jam! Apa yang kalian tahu, keparat! Apakah seumur hidup kalian pernah naik pesawat pribadi?! Berhenti banyak cincong di sini! Orang pertama yang akan dibereskan oleh ayahku adalah kau!"
Namun, setelah menunggu lama, ia sama sekali tidak mendapati kabar dari ayahnya.
Yang datang justru sang kepala pelayan. Zhang Ji melihatnya seolah-olah melihat penyelamat hidup, lalu dengan sangat antusias memukul-mukul jeruji.
"Di mana Ayahku! Apakah Ayah datang untuk menyelamatkanku? Cepat jebloskan keparat-keparat ini ke..."
"Bukan begitu, Tuan Muda, Anda untuk sementara belum bisa keluar."
Seketika seluruh ilusinya hancur berkeping-keping. Zhang Ji membelalakkan matanya dengan tidak percaya, untuk pertama kalinya meragukan pendengarannya sendiri.
"Omong kosong apa yang kau bicarakan, Ayahku sudah bilang akan mengeluarkanku!"
"Kejadiannya terlalu mendadak, lagipula Tuan Muda telah menyinggung orang yang tidak seharusnya disinggung. Pimpinan Zhang sepertinya sedang kebingungan saat ini. Pimpinan Zhang menyuruhku datang untuk bertanya, bagaimana cara Anda menyinggung anggota keluarga Ma!"
"Bagaimana bisa aku menyinggung keluarga Ma?! Aku bukan orang bodoh! Aku bahkan tidak kenal mereka! Mana mungkin para penduduk desa terpencil itu adalah anggota keluarga Ma!"
Zhang Ji merasa bodoh total. Berita yang dibawa sang kepala pelayan bagaikan sambaran petir di siang bolong.
Ia memukul meja dengan marah. "Kalian sedang mempermainkanku, sialan! Telepon Ayahku! Aku ingin bicara dengan Ayah!"
Begitu sambungan telepon terhubung, makian bertubi-tubi langsung menghujam telinganya.
"Keparat, sebenarnya orang seperti apa dari keluarga Ma yang telah kau singgung! Gara-gara kamu, seluruh kelompok perusahaan kita sekarang mengalami masalah ekonomi! Kalau kamu bisa menebaknya, bagus. Kalau tidak bisa, paksa dirimu untuk mengingat siapa yang telah kau singgung! Segera pergi dan dapatkan maafnya! Kalau tidak, bahkan penguasa langit sekalipun tidak akan bisa menyelamatkanmu!"
Ayah yang selama ini memanjakan dan bersikap lembut padanya, tiba-tiba berubah seperti orang lain yang melihat musuh bebuyutan. Ucapannya dipenuhi dengan makian dan amarah yang kejam.
Wajah Zhang Ji memucat, tangan dan kakinya lemas, diliputi rasa dirundung pilu sekaligus ketakutan.
Ia hanya merundung beberapa orang penduduk desa, bagaimana bisa ia tiba-tiba mendatangkan bencana sebesar ini?
Mungkinkah para pelajar yang pernah ia perundung sebelumnya memiliki hubungan dengan keluarga Ma?
Tidak, tidak, tidak, ia sudah melakukan penyelidikan teliti sebelumnya. Mereka murni hanyalah mahasiswa pedesaan tanpa latar belakang, mustahil mereka memiliki latar belakang yang kuat.
Kalau begitu, pastinya adalah sekumpulan orang rendahan hari ini!
Tetapi, bagaimana mungkin orang-orang yang tinggal di desa terpencil memiliki hubungan dengan keluarga Ma?!
Pasti ada masalah lain di balik semua ini!
Zhang Ji merasa terkejut sekaligus ketakutan, dengan bingung ia menggertakkan giginya.
Menyuruhnya pergi meminta maaf kepada sekumpulan orang rendahan itu sama saja dengan membunuhnya secara langsung, jauh lebih menyiksa.
"Tuan Muda, situasi saat ini bukanlah sesuatu yang bisa diselesaikan dengan sifat egois Anda."
Kepala pelayan menembus isi hati kecilnya.
"Jika masalah ini sampai pada titik di mana semuanya tidak bisa diselamatkan lagi, kesulitan yang akan Anda hadapi tidak hanya sebatas ini saja."
Pada akhirnya Zhang Ji tetap dibebaskan dengan jaminan dari kepala pelayan, lalu dengan enggan kembali ke gerbang desa.
Saat itu, semua warga telah menutup rapat pintu rumah masing-masing, tidur atau mengobrol di dalam rumah, sama sekali tidak ada yang mempedulikan mereka.
Anjing-anjing di desa menatap mereka dengan tatapan waspada, berbaring di depan pintu setiap rumah, dengan sepasang mata hijau yang menatap tajam ke arah mereka.