Bab 45 Kau Memang Pantas Dipukul
Saat kembali ke hotel, waktu setempat sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
Zhou Jingyi keluar dari mobil, melangkah perlahan keluar dari lift. Kamarnya berada di lantai paling atas. Tubuhnya menguar aroma kuat wiski tequila, tatapannya sedikit sayu, dan seluruh gesturnya tampak sangat malas.
Asisten Chen mengikuti di belakangnya dengan jarak yang tidak terlalu dekat maupun jauh.
Begitu tangan Zhou Jingyi menyentuh kenop pintu, sepasang tangan yang lembut melingkari pinggangnya dari belakang, dan pipi seseorang menempel di punggungnya.
An Xinyi telah menunggu sepanjang malam, dan akhirnya penantiannya membuahkan hasil. Ia tidak melihat pria itu di acara jamuan perayaan, sehingga ia buru-buru menyudahinya dan kembali ke hotel. Sekretaris mengatakan bahwa pria itu belum kembali dan menolak memberikan kartu kamar maupun memberitahu keberadaannya. Tidak ada cara lain, ia hanya bisa berjongkok di balkon kamar sambil mengawasi kendaraan yang berlalu-lalang di bawah.
Sekembalinya dari acara perayaan, ia langsung mandi dengan sabun yang harum, mengenakan masker wajah, merias diri dengan gaya yang tampak lembut, lalu mengenakan gaun tidur bertali tipis berwarna merah menyala. Gaun itu begitu pendek hingga nyaris mencapai pangkal paha, dengan seluruh bagian punggung yang terbuka. Berkat serangkaian perawatan itu, kulitnya tidak hanya menjadi lebih putih dan mulus, tetapi ia juga memancarkan kesan yang sangat lembut dan menggoda.
Setelah itu, ia menunggu pria itu di balkon. Penantian tersebut memakan waktu hingga lima jam. Usaha tidak mengkhianati hasil; tepat pukul dua pagi, pria yang ditunggunya akhirnya datang. Ia segera mengenakan sepasang sepatu hak tinggi hitam dan menyampirkan jubah mandi di bahunya tanpa mengancingkan atau mengikat talinya.
An Xinyi dengan penuh rasa mabuk kepayang menghirup aroma alkohol pada tubuh pria itu, yang berpadu dengan wangi cerutu kelas atas. Berbeda dengan pria lain yang setelah minum dan merokok meninggalkan bau yang tidak sedap, pria ini selalu wangi dalam situasi apa pun.
Namun, jika dicermati dengan seksama, masih ada sisa aroma parfum wanita di tubuhnya. Aromanya tidak pekat, yang berarti wanita itu tidak terlalu lama berada di sisinya. Tidak masalah, ia sama sekali tidak peduli. Wanita yang telah berada di sisi pria itu selama hampir dua tahun saja tidak mampu menaklukkannya.
"Dari mana saja semalaman?"
Pria itu menunduk, pandangannya jatuh pada tangan yang melingkari pinggang dan perutnya—sangat ramping dan putih. Tatapannya sempat terkesan gamang sesaat. Meskipun telah menenggak banyak alkohol dan tampak mabuk, kapasitas minumnya luar biasa tinggi sehingga pikirannya tetap jernih.
"Belajar menjadi anak baik rupanya, tidak menerobos masuk ke kamarku lagi."
Selesai berkata, ia meraih kedua tangan kecil itu dan menariknya langsung ke hadapannya, lalu menopang dinding dengan satu tangan. Wanita itu mendongak sambil tersenyum menatapnya. Aroma maskulin yang kuat dan liar menyelimuti sekitarnya, menciptakan atmosfer yang sarat akan godaan, semakin mempertajam posisi intim di antara keduanya.
An Xinyi mengerahkan seluruh kemampuannya untuk merapat ke dada pria itu. Dulu ia bisa merayunya, dan sekarang pun ia pasti bisa.
Namun, Zhou Jingyi dengan lembut mendorongnya menjauh, lalu bergeser ke samping untuk membuka pintu kamar dan masuk.
Ia telah menunggu sepanjang malam, mana mungkin membiarkan pria itu lolos begitu saja? Kedua