Bab 47: Dibawa Pergi oleh Kucing
Meskipun tidak terlalu banyak kendaraan di jalan pada malam hari, kediaman kuno Chaishan terletak di pinggiran kota. Lokasi geografis, lingkungan, bahkan feng shui di sana adalah yang terbaik di Kota Jing.
Empat puluh menit kemudian, mobil berhenti di kediaman kuno.
Mobil itu terparkir di paviliun samping kediaman kuno. Eh? Su Nanxi merasa heran, mengapa berhenti di sini? Kamar tidurnya seharusnya bersama Nenek. Semasa kecil, Nenek sangat menyayangi cucunya, sehingga sang cucu harus selalu berada di depan matanya.
Di pintu masuk paviliun samping, berdiri dua pengawal berpakaian hitam. Jika matanya tidak salah lihat, di sekitar bangunan itu juga tampak ada pengawal setiap beberapa meter.
Dafu membukakan pintu mobil untuknya, dan para pengawal di pintu membukakan pintu vila baginya. "Nyonya, silakan masuk."
Dengan penuh kebingungan di benaknya, Su Nanxi memasuki vila. Para pengawal menunjukkinya arah: lantai dua, kamar tidur ketiga. Saat ia naik, di area tangga juga terdapat pengawal yang membukakan pintu kamar untuknya.
Kamar tidurnya sangat luas. Lampu di dalam kamar tidak dinyalakan, hanya cahaya samar dari lorong yang menyinari ruangan. Ia berdiri di ambang pintu dan bertanya dengan lembut, "Zhou Jingyi?"
Tidak ada jawaban dari dalam kamar, suasana di dalam sangat sunyi. Su Nanxi berdiri di pintu masuk dan tidak berani melangkah lebih jauh. Suaranya terdengar seperti anak kucing, "Zhou Jingyi, apakah kamu di sini? Aku takut."
Begitu kata-kata itu selesai diucapkan, sesosok bayangan hitam muncul entah dari mana.
"Ah..."
Su Nanxi berteriak karena terkejut. Sesaat kemudian, rongga hidungnya menangkap aroma yang sangat akrab, lalu ia berkata dengan nada merajuk, "Kenapa kamu tidak bersuara? Memanggilku datang tengah malam hanya untuk menakut-nakutiku."
Di dalam kegelapan, terdengar tawa rendah dari sang pria, "Gadis manja, apa yang kamu takutkan di sini?"
Su Nanxi mengerucutkan bibirnya. "Aku belum pernah datang ke sini. Kenapa kamu ada di sini? Dan kenapa ada begitu banyak pengawal di lantai bawah?"
Zhou Jingyi menjawab dengan tenang, "Untuk mengawasi."
"Mengawasi siapa? Mengawasi dirimu?"
Zhou Jingyi tersenyum, mengulurkan tangan, dan mencubit hidung kecilnya. "Mengawasi dirimu, takut kamu dibawa kabur oleh kucing."
Su Nanxi mengerutkan kening dan menepis tangan pria itu. "Menyebalkan."
"Tidur."
Pria itu menggandeng tangannya ke tempat tidur, memeluknya, dan menyembunyikan wajah di ceruk lehernya. Ini sama sekali bukan sekadar memeluknya, pria itu bahkan menindih seluruh tubuhnya. Kedua kakinya dikunci oleh pria itu, tidak ada ruang sama sekali untuk berbalik badan. Ia merasa sangat tidak nyaman.
Suara rendah sang pria terdengar, "Jangan bergerak sembarangan."
Su Nanxi memprotes, "Tidak nyaman, pelukanmu terlalu erat."
"Masih ada yang lebih erat lagi, mau coba?"
Sambil berkata demikian, pria itu bangkit dan menubruk tubuhnya, berniat mengggodanya. Tepat saat bibirnya menempel pada bibir lembut Su Nanxi, gadis itu mengerahkan tenaga dan mendorongnya menjauh. Pria itu jatuh telentang ke belakang, disusul suara erangan tertahan yang sedikit kesakitan.
Meskipun suaranya tidak besar, di tengah malam yang sunyi, suara itu terdengar sangat jelas di telinganya. Padahal ia tidak mengerahkan banyak tenaga. Su Nanxi bangkit dan menelungkup di dada sang pria. "Kenapa kamu mengerang? Kamu pura-pura tersakiti, ya?"
Posisi wanita itu semakin memperparah rasa sakit di wajah sang pria, hanya saja tidak terlihat jelas di dalam kegelapan.
"Cepat bicara. Kalau tidak mau bicara, aku pergi."
Setelah sedikit mereda, pria itu merangkul pinggang wanita yang hendak pergi tersebut. "Jangan pergi."
"Lalu ada apa denganmu?"
Ia sepertinya merasa bahwa pria itu tidak sedang berpura-pura, melainkan benar-benar tampak sedikit kesakitan.
"Punggungku terluka."
Su Nanxi seketika bangkit. "Bagaimana bisa terluka? Parah tidak? Cepat bangun biar kulihat. Di mana lampunya?"
Kekhawatirannya begitu nyata. Sudut bibir Zhou Jingyi melengkung membentuk senyuman tipis yang sulit disadari. "Kamu bertanya begitu banyak pertanyaan sekaligus, bagaimana aku harus menjawabnya?"
"Di mana lampunya?" Ia meraba dinding di sekelilingnya, tetapi tidak menemukan apa pun. Di nakas sebelah tempat tidur juga tidak ada pengendali jarak jauh atau semacamnya, benar-benar tidak ada apa-apa.
Pria itu miring, menariknya hingga jatuh ke atas tempat tidur, lalu memeluknya erat di dalam dekapannya. "Sudah tidak apa-apa, tidur."
Meringkuk di dalam pelukan pria itu, Su Nanxi tidak berani bergerak sembarangan karena mengingat luka di tubuhnya. Dengan suara teredam ia bertanya, "Bagaimana kamu bisa terluka?"
"Dipukul tongkat oleh Ayah."
"Kenapa memukulmu? Karena urusan di Paris?"
"Hm, tidak patuh."
Su Nanxi berbalik dan memunggungi pria itu. "Syukurin, siapa suruh tidak patuh, dihubungi malah mematikan ponsel."
Pria itu menggoyangkan bahunya sambil tersenyum tanpa berkata apa-apa.
Sangat lama berlalu, begitu lama hingga mengira keduanya telah tertidur.
Di dalam kegelapan, Su Nanxi akhirnya tidak dapat menahan diri untuk kembali berbalik, berhadapan langsung dengan pria itu, lalu bertanya dengan suara pelan penuh rasa iba, "Sakit?"
Pria itu tidak menjawab. Ia semakin mengeratkan pelukan pada gadis itu, menggosokkan kepalanya ke puncak kepala Su Nanxi. Aroma sampo yang harum merangsang sarafnya.
"Biar kulihat?"
"Kasihan padaku?"
"Hih, takut kamu mati."
Zhou Jingyi tertawa kecil. "Begitu mengharapkanku mati? Kalau aku mati, aku juga akan menyeretmu bersamaku."
"Jangan bercanda terus. Sudah pakai obat belum? Biar kulihat sebentar, ya?"
Pria itu menunduk dan mencium puncak kepalanya, suaranya tanpa sadar menjadi jauh lebih lembut. "Sudah tidak sakit, tidur, ngantuk."
Lembur tadi malam, lalu tengah malam dibangkitkan secara paksa untuk datang ke area Chaishan ini, melelahkan sepanjang malam. Su Nanxi dengan cepat meringkuk di dalam dekapan hangat sang pria dan tertidur. Tidur ya tidur, ia bahkan masih sempat merosot masuk ke dalam pelukan pria itu, mencari posisi yang nyaman, persis seperti anak kucing.
Dengan wanita cantik di dalam pelukan, Zhou Jingyi pun segera tertidur.
-
Pagi hari, pukul tujuh di aula utama, Tuan Besar Zhou dan Nyonya Besar Zhou sedang menikmati sarapan setelah selesai berolahraga pagi. Nyonya Besar Zhou bertanya kepada kepala pelayan, "Anak nakal itu sudah pergi begitu pagi?"
Kepala pelayan tersenyum. "Belum, belum bangun."
Nyonya Besar Zhou yang sedang meminum bubur tertegun sejenak. "Belum bangun?"
Senyuman kepala pelayan semakin dalam. "Belum bangun, semalam ia menjemput Nyonya Muda ke sini."
Tuan Besar Zhou tersenyum tipis. "Memang benar-benar anak nakal."
Nyonya Besar Zhou berkata, "Entah mirip siapa."
Tuan Besar Zhou mendengus. "Hih, tanyakan saja pada putramu itu."
"Bertanya pada putra siapa? Ada apa, Pa?"
Shen Qiu dan Zhou Jingyuan turun tangga berurutan dan mendengar kedua orang tua itu sedang membicarakan sesuatu.
Setelah duduk, Zhou Jingyuan bertanya, "Membicarakan apa, Pa?"
Tuan Besar Zhou menjawab, "Membicarakan putramu."
Zhou Jingyuan mengerutkan kening. "Dia pergi semalam?"
"Tidak pergi, justru membawa pulang seseorang."
"Apa, dia berani membawa wanita lain ke sini? Benar-benar sudah di luar batas." Zhou Jingyuan bangkit dan hendak berjalan menuju paviliun samping.
Kepala pelayan buru-buru memanggilnya untuk berhenti. "Tuan, Anda tidak perlu terburu-buru. Semalam Nyonya Muda yang datang, mereka berdua belum bangun."
Zhou Jingyuan menghentikan langkahnya dan kembali ke meja makan. "Oh, Nanxi yang datang ya. Kalau begitu tidak apa-apa."
Shen Qiu yang sedari tadi tidak bersuara tersenyum. "Ternyata masih tahu untuk membawa istrinya sendiri ke sini. Paman Zhang, apakah luka di punggungnya sudah diberi obat semalam?"
Kepala Pelayan Paman Zhang menjawab, "Sebelum Nyonya Muda datang, lukanya sudah diberi obat, dan obatnya juga sudah diletakkan di atas meja."
Nyonya Besar Zhou berkata, "Tenang saja, ada gadis Nanxi di sana, dia pasti sangat kasihan, mana mungkin tidak mengoleskan obat."
Shen Qiu menimpali, "Benar juga."
"Kamu ini juga, semalam memukulnya terlalu kejam, cukup dimarahi dua patah kata saja sudah beres."
"Kamu ini, anak itu jadi begitu karena selalu kamu manjakan."
Tuan Besar Zhou berkata, "Sudahlah, makan saja. Dipukul juga sudah dipukul, dimarahi juga sudah dimarahi, biarkan saja masalah ini sampai di sini."
Zhou Jingyuan merenung dalam-dalam. "Yang kutakutkan adalah masalah kelanjutannya. Wanita itu selalu saja mengganggu A-Yi. Mereka berdua nantinya akan memiliki urusan bisnis bersama, bukan tidak mungkin akan bertemu di perusahaan."
Tuan Besar Zhou berkata, "Bukankah semalam dia juga sudah mengatakannya? Urusan selanjutnya akan ditangani oleh staf khusus perusahaan, dia tidak akan ikut campur lagi. Selagi Nanxi tidak tahu tentang masalah ini, untuk sementara jangan beritahu gadis itu."
Hal ini bagaikan sebuah bom waktu yang tertanam di dalam hati setiap anggota keluarga.