Bab 26: Pertengkaran Suami Istri
Entah sejak kapan, Lin Yuexi mulai menyadari bahwa dirinya semakin memikirkan Chen Yang. Dari awal yang hanya memilih untuk menerima keberadaan Chen Yang, lama-lama tumbuh rasa suka, dan kini sepertinya telah memasuki tahap yang berbeda.
Dengan langkah ringan, ia membuka pintu kamar Chen Yang, menyalakan lampu dan mendapati ruangan itu kosong. Ia tak kuasa menahan kesal, “Orang ini benar-benar tidak tahu diri, sudah jam berapa masih belum pulang? Lihat saja nanti bagaimana aku menghadapimu!”
Menghela napas, matanya menangkap kekacauan di kamar itu. Entah dorongan apa yang membuat Lin Yuexi mulai membereskan kamar itu, sambil bergumam pelan, “Benar-benar sudah berubah, sebelum jadi CEO rumah selalu rapi, sekarang bahkan kamar sendiri pun malas dibereskan.”
Meski kata-katanya menyiratkan keluhan, namun Lin Yuexi merapikan semuanya dengan cekatan. Di lubuk hatinya malah terselip rasa manis yang tak bisa dijelaskan; ini pertama kalinya ia melakukan sesuatu untuk Chen Yang, meski hanya hal kecil.
Saat hendak meletakkan buku ke dalam lemari, ia menemukan sebuah album foto. Ia mengangkatnya dengan bingung. Beberapa halaman pertama menampilkan foto Chen Yang bersama adik-adiknya, tampak sudah lama sekali, Chen Yang saat itu masih begitu muda.
Namun, ketika ia membalik beberapa halaman lagi, tubuhnya kaku dan matanya membesar, “Siapa ini?”
Itu adalah foto Chen Yang bersama seorang gadis cantik. Mereka berdua tersenyum bahagia, ada pula foto mereka berpelukan dan bergandengan tangan. Lin Yuexi panik membalik halaman demi halaman, semuanya penuh dengan kebersamaan mereka. Setidaknya ada puluhan foto.
Dan gadis itu, Lin Yuexi langsung mengenalinya, Xia Youran.
‘Chen Yang, kau menipuku, sejak awal sampai akhir kau menipuku!’
Lin Yuexi menggigit bibir, matanya panas dan asam, air mata membasahi pipinya tanpa bisa ditahan. Tangannya gemetar saat memandangi setiap foto itu berulang kali.
Setiap tawa Chen Yang dan gadis itu terasa seperti pisau tajam yang menusuk-nusuk hatinya, meninggalkan rasa sakit yang tak berkesudahan.
-------
Chen Yang meneguk alkohol, sembari menuntaskan kisahnya bersama Qin Su. Bahkan Xia Youran yang biasanya cuek, ikut terharu dan mengusap air mata bersama Chu Meng.
“Chen Yang, jangan-jangan kau cuma mengarang cerita sedih seperti ini untuk menipu kami?” tanya Chu Meng sambil menghapus air matanya.
Chen Yang hanya tersenyum pahit, matanya sedikit memerah. Setiap kali membicarakan masa lalu itu, rasanya seperti mengalaminya lagi—Qin Su meninggal di depan matanya, semuanya begitu nyata.
Xia Youran bisa merasakan kesedihannya. Ia melirik Chu Meng, tak menyangka pria semuda Chen Yang pernah melalui begitu banyak penderitaan, lalu menenangkan, “Kau sudah membayar mahal, meninggalkan kesatuan yang kau anggap segalanya, bahkan dipenjara tiga tahun demi dia. Itu sudah cukup. Kau masih muda, jalanmu masih panjang.”
“Benar, Kaka Yang, mulai sekarang kita berteman baik, jangan terlalu dipikirkan,” tambah Chu Meng, makin menganggapnya sebagai teman karena kisah hidupnya yang begitu menyentuh.
Chen Yang menarik napas, merasa aneh dirinya malah dinasihati dua mahasiswi, lalu mengalihkan pembicaraan, “Sudahlah, jangan bahas lagi, mari minum.”
Mereka kembali menenggak minuman. Chu Meng penasaran bertanya, “Kaka Yang, kau begitu mencintai Kak Su, bagaimana bisa menikah dengan si cerewet itu?”
“Secara teknis, kami hanya pasangan pura-pura.”
Chen Yang pun menceritakan hubungan sebenarnya dengan Lin Yuexi. Setelah mendengarnya, kedua gadis itu kompak berkata dengan nada kesal, “Benar kan, dia memang licik. Sampai warisan pun diperebutkan dengan cara seperti itu.”
“Sudahlah, kalian tidak tahu keadaan sebenarnya, makanya berprasangka buruk padanya.” Chen Yang tersenyum tak berdaya. Ia tahu benar Lin Yuexi wanita baik, juga paham kenapa ia berjuang demi warisan. Tak perlu lagi ia menjelaskan, toh Xia Youran dan Lin Yuexi tidak akan punya hubungan di masa depan.
“Jadi kalian benar-benar akan bercerai nanti?” tanya Xia Youran tiba-tiba, entah kenapa setelah tahu hubungan mereka yang sebenarnya, ia merasa sedikit senang.
“Mungkin saja.” Chen Yang melihat waktu sudah larut, lalu berkata, “Sudah hampir jam sebelas, cukup sampai di sini. Besok kalian masih harus kuliah. Pulanglah.”
“Ah, kau membosankan sekali. Padahal aku ingin minum sampai mabuk!” seru Chu Meng.
“Aku ini pria menikah, tak bisa ikut kalian bersenang-senang.” Chen Yang tersenyum, lalu bangkit, “Kalian juga cepat pulang.”
Melihat punggungnya yang menjauh, Xia Youran merasa perasaannya campur aduk, ‘Kenapa aku merasa seperti pacarnya?’
“Ah, tak kusangka Kaka Yang orang yang setia. Kalau Kak Su tidak meninggal, mereka pasti sangat bahagia,” kata Chu Meng dengan nada melankolis, menopang dagu dengan kedua tangan.
Xia Youran melirik aneh padanya, lalu berdiri, “Ayo pulang.”
Chen Yang tiba di rumah, takut mengganggu keluarga, ia melangkah pelan menuju kamarnya. Saat melihat lampu kamar menyala, ia tertegun.
Ia masuk dengan bingung, mendapati Lin Yuexi duduk di lantai mengenakan gaun tidur, di tangan ada sebotol anggur.
“Mengapa kau minum di kamarku? Duduk pula di lantai?” tanya Chen Yang.
Lin Yuexi mengangkat kepala, memandang Chen Yang, wajah cantiknya penuh dengan jejak air mata.
Chen Yang langsung cemas, bergegas berlutut di depannya, “Kenapa? Ada apa?”
“Jangan pura-pura baik!” Lin Yuexi tiba-tiba mendorongnya, menangis dan tertawa bersamaan, “Hebat, benar-benar hebat! Aku dipermainkan sepuasnya, masih saja tersenyum bodoh di depanmu.”
“Ada apa sebenarnya?” Chen Yang mengernyit, tak paham.
“Masih berpura-pura?” Ia mengambil album di samping ranjang, melemparnya ke Chen Yang, lalu membentak, “Kapan kau bersama Xia Youran?”
“Masih bilang cuma teman biasa. Dasarnya kau kelihatan polos, ternyata penipu. Benar, kau memang pria brengsek!”
Melihat album itu, Chen Yang langsung paham. Dengan nada dingin ia berkata, “Siapa suruh kau membongkar barang-barangku?”
“Marah karena rahasiamu terbongkar?” Lin Yuexi mengejek dengan mata basah, “Kalau tidak, mana mungkin aku tahu sudah dipermalukan sebegitu rupa.”
“Bagus, Chen Yang. Siapa yang dulu berkata, meski pura-pura menikah tetap harus punya batas? Lalu, mana batasmu?”
“Diam saja? Baik, besok aku juga akan mencarikanmu sepuluh tandingan!”
Chen Yang menaruh album itu, menjawab tanpa menoleh, “Terserah kau!”
“Bagus, Chen Yang, sekarang aku benar-benar mengerti siapa dirimu!”
Air matanya mengalir lagi, ia menenggak anggur lalu berjalan keluar dan membanting pintu dengan keras.
Suara benturan pintu membuat Chen Yang perlahan tenang. Ia duduk, menyalakan sebatang rokok, menatap album foto itu lama sekali dan mulai merasa bersalah. Baru kali ini ia melihat Lin Yuexi menangis begitu menyedihkan.
Xia Youran memang sangat mirip dengan Qin Su, wajar saja Lin Yuexi salah paham. Mengingat sikapnya barusan, ia makin menyesal, seharusnya ia menjelaskan semuanya.
“Sudahlah, biarkan dia tenang dulu, besok saja kubicarakan.”
Keesokan paginya, Chen Yang pergi membeli sarapan. Zhang Ping yang sudah bangun melihatnya, kini sikapnya berubah drastis, menyambutnya ramah, “Chen Yang, pagi-pagi sudah beli sarapan. Nanti kalau kau sudah kerja, biar ibu yang urus ini semua. Kau dan Yuexi fokus saja bekerja.”
Chen Yang tersenyum kikuk, “Yuexi belum bangun? Ibu dan ayah makan saja dulu, biar aku panggil dia.”
Ia membuka pintu kamar Lin Yuexi, gadis itu sudah duduk di depan cermin berdandan. Sebelum ia sempat bicara, Lin Yuexi berkata dingin, “Siapa suruh kau masuk? Sudah minta izin belum?”
Chen Yang maklum, pasti ia masih marah, jadi tak membantah.
“Ambil buku nikah dan kartu keluarga,” lanjutnya.
“Mau apa?” Chen Yang tertegun.
“Mau apa lagi?” ia berbalik, “Beberapa waktu lalu kau terus-terusan ingin bercerai, kan? Hari ini kita ke kantor catatan sipil. Tenang, aku tidak akan menahanmu, akan kuberikan tempat untuk Xia Youran kesayanganmu.”
“Pfftt…”
Melihat wajah Lin Yuexi yang kesal sekaligus cemburu, Chen Yang tak tahan untuk tertawa.
Ia langsung berdiri, mengepalkan tangan kecilnya, “Senang sekali, ya? Keluar sana dan tertawalah!”
“Yuexi, pertama-tama aku minta maaf padamu. Maaf, semalam aku salah, tak seharusnya marah apalagi tidak menjelaskan apa-apa. Sebenarnya ini cuma salah paham.”
Lin Yuexi tertegun, tak menyangka ia akan meminta maaf, lalu mendengus, “Chen Yang, kau masih ada malu? Foto-foto itu jelas kalian mesra, sekarang kau bilang cuma salah paham?”
“Itu benar-benar salah paham. Dia bukan Youran.”
“Chen Yang, jangan mempermainkanku! Aku tidak buta, kalau itu bukan Xia Youran, lalu siapa?! Kau kira aku bodoh?!”
“Itu mantan kekasihku, namanya Qin Su.”
Chen Yang melangkah mendekat.