Bab 73 Apakah Mesin Gesek Kartunya Rusak?

Menantu Luar Biasa Setegar anjing. 2929kata 2026-02-08 02:06:45

“Tunggu!!” seru Chen Yang dengan dingin, menghentikan pegawai toko itu. “Karena hanya ada satu pasang, dan kami yang lebih dulu melihatnya. Atas dasar apa kamu harus menjualnya kepada mereka?”

Pegawai toko itu mulai kesal, langsung berkata, “Pak, tolong jangan ganggu kami berjualan, bisa? Anting ini harganya delapan puluh lima juta, Anda sanggup membelinya?”

Melihat penampilan dan usia mereka, dia langsung menilai mereka hanya golongan pekerja biasa. Sedangkan pria paruh baya di depannya lebih berwibawa bak seorang bos besar. Dia khawatir jika terus berdebat, nanti wanita pelanggan itu batal membeli, maka komisinya pun melayang. Masa iya ia berharap Chen Yang yang membelinya? Dalam matanya, itu jelas mustahil.

Melihat barang belanjaan yang hanya bernilai ratusan ribu, sungguh tak tampak seperti orang yang bisa mengeluarkan delapan puluh lima juta untuk sepasang anting.

“Benar, kamu ini ada-ada saja. Tak sanggup beli, kok banyak bicara,” wanita itu ikut-ikutan mengejek Chen Yang.

“Anak muda, aku tahu kamu ingin berbuat baik untuk pacarmu,” kata pria paruh baya itu, “tapi lihat-lihat tempat juga, ini bukan tempat untuk sekadar menjaga gengsi, di sini butuh uang. Lihat dirimu, bisa keluarkan sepuluh juta saja?”

Chen Yang baru hendak bicara saat Lin Yuexi menarik tangannya dengan wajah tak enak, “Sudahlah, kita tak usah beli, ayo pergi.”

Sebenarnya apa yang mereka katakan memang masuk akal. Saat mendengar harganya tadi, Lin Yuexi pun sudah mulai ragu. Dengan gajinya setiap bulan, setelah kebutuhan sehari-hari, tak banyak yang bisa disisihkan. Menghabiskan lebih dari delapan puluh juta hanya untuk sepasang anting, ia memang tak punya nyali sebesar itu, apalagi kehidupan masih panjang.

“Kenapa? Bukankah kamu sangat suka? Kenapa tak jadi beli?” tanya Chen Yang heran.

Wajahnya memerah, ia menjawab lirih, “Memang terlalu mahal, aku tak sanggup beli.”

Walau suara itu pelan, mereka tetap mendengarnya. Wanita itu langsung tertawa mengejek, “Nona, kamu ini kenapa? Tak mampu beli, kok masuk toko ini? Kamu tahu merek Chanel itu apa?”

“Cepat pergi saja, jangan buang waktu kami. Kalian lebih cocok belanja di toko aksesori sepuluh ribuan.”

“Betul,” tambah pegawai toko itu, yakin penilaiannya tak salah—dua orang ini memang cuma datang untuk melihat-lihat.

“Masih bengong juga? Cepat bungkuskan, jangan buang waktuku!” wanita itu mendesak pegawai toko.

“Baik.”

“Tunggu!!” Chen Yang berseru lagi.

“Pak, tolong jangan ganggu kami berjualan, bisa?” Pegawai toko itu benar-benar marah. Pria ini kenapa tak selesai-selesai, tak sanggup beli ya pergi saja.

“Kamu ini tak tahu diri, ya?” wanita itu tambah marah, menatap Chen Yang dengan jijik, “Kalau tak sanggup beli, jangan banyak bacot, bisa?”

“Siapa bilang aku tak sanggup beli?” Chen Yang menatapnya datar.

“Pfft—” wanita itu tak tahan menahan tawa, merangkul pria paruh baya di sampingnya, “Sayang, waktu mudamu juga setolol ini, demi gengsi?”

“Jangan sembarangan bicara. Waktu muda aku tak sebodoh itu, pura-pura kaya padahal tidak. Lagi pula, waktu muda aku memang mampu beli, tak seperti bocah miskin ini—bawa pacar jalan-jalan, satu perhiasan pun tak mampu dibeli, sungguh memalukan.”

Pria paruh baya itu menatap Chen Yang dengan penuh kesombongan, “Nak, pamer itu butuh modal, bukan cuma omong kosong. Jangan mempermalukan diri sendiri. Mending cepat pergi, jangan bikin malu kaum pria.”

“Chen Yang, kita pergi saja. Tak perlu berdebat dengan mereka.”

Lin Yuexi menarik tangan Chen Yang. Meski ia sangat menyukai anting itu, harganya jelas terlalu tinggi. Tak perlu menghamburkan uang sebanyak itu demi gengsi, orang bijak tahu diri.

“Yuexi, aku belum pernah memberimu hadiah. Kalau kamu suka, akan kubelikan untukmu.” Chen Yang menatapnya dengan sungguh-sungguh.

Tatapan itu membuat Lin Yuexi tertegun, matanya terasa hangat, entah mengapa ia hampir menangis.

“Chen Yang, ucapanmu benar-benar menyentuhku, tapi... jangan dibeli, ya. Meski kamu punya uangnya, lebih baik untuk adik-adikmu. Nanti saat kuliah, mereka pasti butuh banyak biaya.”

Hati Chen Yang terasa hangat. Gadis ini sungguh pengertian.

Sementara pria paruh baya itu membatin, sungguh rugi gadis secantik ini mudah saja ditipu, baru dua kalimat sudah terharu.

“Hah, dengar kan? Dengar saja kata pacarmu, cepat pergi! Tempat seperti ini bukan untuk orang miskin seperti kalian,” ejek wanita itu.

“Kamu itu cuma simpanan, kenapa merasa paling hebat?” Chen Yang menatapnya tajam.

“Kamu... kamu bilang siapa simpanan?”

Wanita itu murka, harga dirinya terasa diinjak. Walau memang begitu kenyataannya, orang seperti dirinya paling sensitif kalau aibnya diungkit, maka ia pun marah-marah pada pegawai toko, “Cepat usir dua sampah ini! Tak jelas siapa pelanggan sebenarnya? Kalau tak diusir, kami batal beli antingnya!”

Pegawai toko itu langsung panik. Komisi sebesar itu tak boleh lepas, ia tahu harus membela siapa. Ia pun memasang wajah masam ke arah Chen Yang, “Silakan keluar, jangan ganggu bisnis kami.”

“Apa? Belanja di sini malah diusir? Begitu aturannya?” Chen Yang menatapnya tajam.

“Kalau memang mau beli, silakan. Kalau tidak, jangan ganggu pelanggan lain,” jawab pegawai toko dingin. Ia yakin Chen Yang hanya gengsi, uangnya tak cukup.

“Panggil manajermu ke sini. Aku rasa kamu tak layak melayani kami,” balas Chen Yang.

“Haha—” wanita itu dan pria paruh baya itu kembali tertawa, “Sudah sampai begini, tak punya uang malah suruh manajer keluar? Seolah-olah kamu sanggup beli.”

“Ada apa ini? Dari tadi di belakang sudah terdengar ribut.”

Saat itu, seorang wanita paruh baya keluar dari belakang. Pegawai toko buru-buru berkata, “Bu Manajer, pelanggan ini bikin keributan, mengganggu pembeli lain.”

“Ada apa?” tanya manajer, berjalan mendekat.

Pegawai toko segera menjelaskan semuanya. Lin Yuexi berdiri di samping dengan wajah malu, merasa benar-benar dipermalukan. Sejak kapan Chen Yang jadi begitu keras kepala? Dulu tidak begini.

Sebenarnya ia ingin pergi, tapi Chen Yang tetap bersikeras. Ia pun tak tega meninggalkannya, terpaksa menunduk dan tak berani menatap siapa pun.

Setelah mendengar penjelasan, manajer bertanya, “Pak, Anda benar-benar ingin membeli anting ini?”

“Ya,” jawab Chen Yang sambil mengangguk.

“Hah, seolah-olah dia benar-benar mampu beli. Tak apa, Sayang, kita lihat saja nanti dia bayar pakai apa,” pria paruh baya itu tertawa mengejek sambil merangkul wanita itu.

“Baik, silakan ke kasir,” kata manajer, tak ingin buang waktu. Mau mampu beli atau tidak, di kasir nanti juga ketahuan.

“Boleh. Tapi aku ingin lihat kalung juga, tolong rekomendasikan satu untukku,” kata Chen Yang.

Manajer sempat tertegun, pegawai toko, pria paruh baya, dan wanita itu malah menahan tawa—masih mau beli barang lain? Anak muda ini memang nekat tak tahu malu.

“Miskin, yakin masih mau lanjut pura-pura?” wanita itu mengejek dingin.

Chen Yang tak menggubrisnya. Manajer pun sebenarnya ragu, orang ini tak tampak seperti orang kaya, jangan-jangan hanya main-main saja. Namun, demi profesionalisme, ia tetap sabar merekomendasikan beberapa kalung. Akhirnya Chen Yang memilih kalung batu permata biru tua berbentuk hati dan bertanya kepada Lin Yuexi yang masih menunduk, “Yuexi, suka tidak?”

“Ah...” Lin Yuexi menengadah, nyaris menangis, lalu berbisik, “Chen Yang, sudahlah, jangan bercanda, pasti mahal sekali.”

“Nona ini benar, kalung ini harganya delapan belas juta. Pak, tolong dipertimbangkan lagi,” kata manajer.

Pegawai toko, pria paruh baya, dan wanita itu di samping mereka menahan tawa, ingin melihat sejauh mana sandiwara anak muda ini.

“Tak perlu dipikirkan lagi, bungkus sekalian dengan anting itu. Aku beli dua-duanya,” jawab Chen Yang.

Manajer tertegun, tak menyangka ia begitu tegas. Benar atau cuma pura-pura?

“Baik... Silakan ikut saya ke kasir.”

Chen Yang mengangguk, mengajak Lin Yuexi ke kasir. Pegawai toko, pria paruh baya, dan wanita itu pun ikut, ingin melihat Chen Yang dipermalukan saat membayar.

“Pak, semua sudah dibungkus. Bayar tunai atau kartu?” tanya manajer.

“Kartu,” jawab Chen Yang sambil mengeluarkan kartu dari dompetnya.

“Sial, sok sekali seperti beneran,” pria paruh baya itu sudah tak tahan menahan tawa lebih dulu. Manajer menerima kartu itu, dalam hati juga ragu, apakah saldonya cukup? Setelah menggesek kartu, ia cek saldo terlebih dulu dan berkata, “Silakan masukkan pin.”

Chen Yang tanpa ragu memasukkan sandinya.

Semua orang menatap mesin EDC dengan tegang. Saat jumlah saldo muncul, tangan manajer bergetar, menatap layar dengan tak percaya—deretan angka satu dan nol yang tak terhitung banyaknya.

“Bu Manajer, mesin EDC-nya rusak, ya?” suara pegawai toko itu pun bergetar.