Bab 107: Kau Terlalu Naif
Chen Yang untuk sementara waktu juga tidak bisa menebak siapa pelakunya. Apakah tujuannya benar-benar ingin memanfaatkan kesempatan untuk menyingkirkan orang lain? Jika benar begitu, mengapa tidak langsung membunuh Xu Kun saja?
Setelah Lin Yuexi menenangkan diri, perasaan gelisah yang kuat muncul dalam hatinya. Ia berkata, “Chen Yang, ada satu hal yang membuatku tidak mengerti. Bagaimana mungkin pihak lawan tahu kita bertemu di restoran? Apakah kita sedang diikuti?”
Chen Yang menggeleng singkat. Dengan kemampuannya, apa pun cara yang dipakai untuk membuntuti mereka, ia pasti akan merasakannya. Berarti hanya ada satu kemungkinan. Ia menjawab, “Bukan, sepertinya ada mata-mata mereka di sekitar Xu Kun. Bisa menyusupkan mata-mata ke keluarga Xu menandakan mereka bukan kekuatan sembarangan.”
Sampai di sini, lambat laun ia mulai mendapat gambaran. Tiba-tiba ia teringat seseorang, lalu tersenyum tipis, “Menganggap aku pion? Terlalu naif!”
“Chen Yang, apa maksudmu?” tanya Lin Yuexi, bingung melihat ekspresinya.
“Tak ada apa-apa.” Ia tertawa ringan. “Tenang saja, aku sudah tahu harus berbuat apa, takkan terjadi apa-apa. Makan pun belum sempat, habis bertarung malah jadi lapar. Ayo, kita makan.”
“Kau sudah tahu caranya? Apa sebenarnya yang terjadi? Ceritakan padaku,” desak Lin Yuexi ketika mereka sampai di restoran lain.
“Tak perlu kau ikut campur, kau pun tak bisa membantu.” Chen Yang tersenyum. “Urus saja urusanmu. Urusan bank sudah kuatur, besok siang kau tinggal bertemu dengan direktur bank mereka.”
“Menjengkelkan, masih saja merahasiakan sesuatu!” Lin Yuexi cemberut, namun tak bisa berbuat apa-apa. Kekhawatirannya pada Chen Yang jauh lebih besar daripada kekesalannya.
Di rumah sakit, operasi Xu Kun baru selesai pukul dua belas malam. Seluruh keluarga Xu menunggu di luar ruang operasi, terutama ayah Xu Kun, Xu Yuanlei, yang tampak sangat muram.
Saat itu dokter keluar dari ruang operasi, melepaskan masker dan berkata, “Tenang saja, semua berjalan lancar. Pisau hampir saja mengenai jantung dari belakang, tapi operasinya berhasil, tak ada masalah serius. Setelah istirahat beberapa saat, ia akan pulih.”
Xu Yuanlei mengangguk dan menghela napas lega. Semua orang segera masuk ke ruang rawat untuk menjenguk Xu Kun.
Xu Kun terbaring di ranjang, wajahnya pucat. Ia masih sangat lemah setelah operasi.
“Kun, bagaimana perasaanmu?” tanya Xu Yuanlei, penuh perhatian.
“Ayah, aku baik-baik saja,” jawabnya lirih, menggeleng pelan.
“Bagus kalau begitu. Kau yakin benar Chen Yang yang melukaimu?” Xu Yuanlei sudah mendengar penjelasan Xu Yan di luar tadi, tapi tetap ingin memastikan pada Xu Kun.
“Saat itu sangat gelap, aku tak melihat jelas. Dia muncul tiba-tiba dari belakang, aku bahkan tak sempat bereaksi,” ujar Xu Kun, mengernyit. “Tapi seingatku, di tempat kejadian hanya ada dia.”
“Ayah, sudah pasti Chen Yang pelakunya. Kami berdua sudah dibuat masuk rumah sakit oleh dia. Kali ini kakak bahkan nyaris celaka. Kita tak boleh membiarkannya begitu saja,” Xu Yan menimpali dengan marah dari samping.
“Kau jangan banyak bicara, aku tak perlu diajari!” Xu Yuanlei menatapnya tajam, kecewa. “Bukankah semua ini gara-gara ulahmu? Tak bisakah kau sedikit lebih tenang?”
“Ayah...” Xu Yan membela diri, “Aku tak berbuat apa-apa, hanya makan di restoran, siapa sangka bisa bertemu dia.”
Xu Kun ikut membantu, “Ayah, ini bukan salah Xu Yan. Chen Yang memang terlalu sombong, tak menganggap keluarga Xu sama sekali. Ia memang harus diajari.”
“Kau fokus saja beristirahat, urusan ini aku yang akan selesaikan.” Xu Yuanlei mulai tenang. “Siapa pun yang berani menyakitimu, ayah takkan membiarkannya begitu saja.”
“Ayah, kenapa waktu aku masuk rumah sakit tak kau katakan juga begitu?” Xu Yan mengeluh.
“Kau tiap hari tak punya kegiatan jelas, apa bisa dibandingkan dengan kakakmu?” Xu Yuanlei pergi begitu saja, kesal.
Orang lain pun tak berani mengganggu Xu Kun beristirahat, mereka ikut keluar.
Keesokan harinya, kabar tentang Xu Kun yang terluka dan dirawat di rumah sakit segera menyebar di kalangan mereka, terutama di lingkaran anak-anak muda terpandang. Nama Chen Yang pun tidak asing lagi bagi mereka.
Beberapa waktu belakangan ini, Zhang Yuan sering membanggakan dirinya yang telah menampar Chen Yang, mengira Chen Yang sudah ciut dan bisa diinjak sesuka hati. Tak disangka, tak lama kemudian Chen Yang justru menusuk Xu Kun hingga masuk rumah sakit, bahkan nyaris kehilangan nyawa. Ini menjadi peringatan bahwa Chen Yang bukan orang yang bisa diremehkan.
Gaya orang ini memang sulit ditebak. Sepertinya hanya Yuan Ping yang mampu menghadapinya.
Siang itu, Lin Yuexi datang sendiri ke bank. Setelah memberitahu maksud kedatangannya pada petugas, ia langsung diarahkan ke ruang tamu VIP.
“Direktur, Lin Yuexi dari Grup Lin sudah datang dan menunggu di ruang VIP,” lapor manajer bank dengan hormat di ruang kerja direktur.
Lu Tiangui segera berdiri, mengambil berkas yang sudah disiapkan. “Saya akan ke sana sekarang.”
Ia sama sekali tidak berani menunda. Sebenarnya ia tidak mungkin memberikan pinjaman pada Grup Lin, karena beberapa perusahaan mitra besar menentangnya dan mereka sudah memberinya banyak keuntungan.
Namun tadi malam, ia tiba-tiba menerima telepon dari direktur utama bank di ibukota provinsi. Ia diperintahkan untuk memberikan pinjaman berapa pun jumlahnya pada Grup Lin. Jika direktur utama sendiri sudah berbicara, mana mungkin ia berani menolak?
“Tak kusangka, Grup Lin yang hanya perusahaan menengah ternyata punya latar belakang sekuat ini,” gumam Lu Tiangui dalam hati. Ia sadar kali ini ia pasti akan menyinggung banyak pihak.
“Nona Lin, salam kenal, saya Lu Tiangui, direktur bank,” ujarnya saat membuka pintu ruang VIP dan masuk. Ia langsung memasang senyum ramah namun penuh kepalsuan.
“Halo, Direktur Lu.” Lin Yuexi agak terkejut, tak menyangka direktur sendiri yang menyambutnya. ‘Bagaimana Chen Yang bisa melakukan ini?’
“Nona Lin, mari kita langsung pada inti saja. Saya sudah membaca data lengkap perusahaan Anda, tak ada masalah soal pinjaman. Berapa jumlah dana yang Anda butuhkan?” tanya Lu Tiangui setelah duduk.
“Dua ratus juta,” jawab Lin Yuexi, menahan kegembiraan karena tak menyangka prosesnya begitu mudah.
“Dua ratus juta?” Lu Tiangui sempat terkejut, “Tidakkah itu terlalu besar?”
Melihat reaksinya, Lin Yuexi mengira ia menakut-nakuti. Nilai Grup Lin hanya sekitar seratus juta lebih sedikit, mana ada bank yang mau meminjamkan dua ratus juta? Namun ia menyangka bank akan menawar, jadi ia langsung menyebut angka itu.
“Tidak, tidak... Tak masalah. Ini kontrak beserta bunga, Anda boleh menandatangani kapan saja. Setelah tanda tangan, dana akan segera cair,” ujar Lu Tiangui sambil tersenyum getir. Ia mengira Lin Yuexi akan meminta jauh lebih besar, sebab sampai direktur utama ikut turun tangan, tapi ternyata hanya dua ratus juta.
Lin Yuexi sampai ternganga. Prosesnya begitu mudah, bahkan saat melihat bunga pinjaman di kontrak, ia semakin terkejut. Sebelum ke bank, ia sudah mengecek bunga pinjaman, tapi ternyata yang tercantum di kontrak jauh lebih rendah dari yang ia temukan.
Tanpa ragu, ia pun langsung menandatangani kontrak. Setelah itu, pembicaraannya dengan Lu Tiangui pun berjalan lancar dan menyenangkan.
Begitu keluar dari bank, Lin Yuexi baru benar-benar sadar. Semuanya berjalan terlalu mulus, membuatnya sulit percaya. Ia pun paham, semua ini berkat Chen Yang.
‘Tanpa kusadari, kau jadi jauh lebih kuat dari yang kubayangkan.’
Pikiran itu membuatnya, yang seharusnya gembira, tiba-tiba merasa sedih. Kemampuan Chen Yang kini sudah melampaui orang kebanyakan dan membuatnya merasa tertekan. Dulu ia sempat menganggap Chen Yang sebagai pecundang yang tak berguna.
Namun sekarang, Chen Yang justru melangkah semakin tinggi. Lin Yuexi merasa, ia sendirilah yang menumpang pada keberhasilan Chen Yang.
“Haruskah aku bahagia, atau justru sedih?” Ia tersenyum pahit dan melajukan mobilnya.
Sesampainya di kantor, ia meletakkan kontrak di depan keluarga Lin, membuat wajah semua orang berubah sangat buruk.
“Bank sudah setuju mencairkan dana. Mulai hari ini, aku resmi mengambil alih departemen keuangan. Siapa pun yang ingin mengambil uang dari bagian keuangan, setiap rupiah harus mendapat persetujuan dan tanda tanganku,” ucap Lin Yuexi tegas.
“Tak seorang pun boleh mengambil uang sembarangan. Jika ada yang berani melanggar, jangan salahkan aku tak menghiraukan hubungan keluarga.”
Semua terdiam, wajah mereka berubah kelam. Bagaimanapun, nenek sebelumnya sudah menegaskan hal ini.
Keputusan Lin Yuexi ini jelas-jelas memutus aliran uang haram yang selama ini mereka harapkan. Mana mungkin mereka senang?
Melihat ekspresi mereka, Lin Yuexi merasa puas, seolah dendamnya terbalas. Ia melanjutkan, “Terkait krisis keuangan sebelumnya, banyak dana mengalir entah ke mana. Aku pasti akan menyelidiki sampai jelas.”
“Siapa pun yang mengambil uang itu, jika mau mengaku salah padaku, mungkin aku bisa memaafkan. Tapi jika aku yang menemukan, jangan salahkan aku tak memberi kesempatan.”
Setelah mendengar itu, tangan Lin Jiaqi bergetar di bawah meja. Namun di permukaan ia tetap tenang.
Sore harinya, setelah pulang kerja, Chen Yang tidak langsung pulang ke vila. Ia mengendarai mobil menuju Teluk Qianhai, waktunya memberi peringatan pada orang itu.