Bab 50: Tuan Muda Si Sedang Bertingkah Manja?

Tuan Si, nyonya lagi-lagi memutuskan jalan penghasilanmu. Gadis gemuk yang suka makan daging 1232kata 2026-03-04 22:18:06

Leng Ning juga telah pergi saat mereka masih berbincang. Keduanya terus berdiskusi hingga larut malam sebelum akhirnya berpisah. Karena sudah terlalu malam, Lu Junyang memutuskan untuk menginap di kediaman keluarga Si. Lagipula, besok akan ada pertunjukan menarik yang menantinya. Mana mungkin ia mau melewatkannya begitu saja?

Keesokan paginya, saat fajar baru saja menyingsing, Leng Ning sudah membuka matanya. Tak bisa dimungkiri, susu yang diberikan Si Xingzhou kepadanya memang benar-benar bermanfaat. Setelah meminumnya, ia sempat berjalan-jalan sebentar lalu merasa mengantuk, dan ketika kembali, ia tidur pulas hingga pagi tanpa mimpi buruk.

Baiklah, ia harus mengakui, minuman itu memang cukup ampuh.

Dengan perasaan yang cukup baik, Leng Ning keluar dari kamar setelah berganti pakaian yang ia bawa sendiri. Meski warnanya sudah agak pudar karena sering dicuci, pakaian itu tetap tampak rapi tanpa satu pun kerutan.

Saat menuruni tangga, ia mendengar keributan dari lantai bawah. Ia pun mengintip ke bawah untuk melihat situasi. Tampak keluarga Si Xingzhou bertiga sedang berada di ruang utama, sementara di hadapan mereka berdiri beberapa orang, yang dipimpin oleh seorang pria seusia Si Xingzhou.

Tatapan pria itu mengandung sedikit ejekan yang sulit disadari.

Tanpa sadar, Leng Ning teringat pria yang disebut Lu Junyang semalam.

Si Xuancheng.

Dengan pikiran itu, Leng Ning langsung mengeluarkan ponselnya dan mulai mencari informasi tentang orang-orang yang berkaitan dengan keluarga Si. Tak butuh waktu lama hingga ia menemukan data tentang pria tersebut.

Saat ia tengah asyik membaca, ia menyadari ada seseorang yang mendekat. Begitu menoleh, ia langsung beradu pandang dengan Lu Junyang.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Lu Junyang dengan nada heran. Baru setelah melihat situasi di bawah, ia mengerti mengapa Leng Ning tidak langsung turun.

Sekilas saja, Lu Junyang sudah bisa melihat apa yang ada di layar ponsel Leng Ning. “Kau mencari informasi tentang Si Xuancheng?”

Karena Lu Junyang sudah tahu, Leng Ning mengangguk tanpa ragu.

“Biar aku ceritakan padamu,” kata Lu Junyang sambil menatap ke bawah. “Si Xuancheng sejak kecil memang tak pernah akur dengan Xingzhou, bisa dibilang mereka sering bertengkar dari kecil hingga dewasa. Karena ia dari cabang keluarga dan Xingzhou lebih unggul, Xuancheng selalu kalah tapi tak pernah menyerah. Sekarang, melihat Xingzhou sudah tak sekuat dulu, ia langsung berusaha mengumpulkan para pemegang saham untuk memberontak. Hari ini ia datang ke sini pun karena tahu Xingzhou sudah kembali. Lihat saja, ia benar-benar tak mau menunggu lebih lama.”

Semakin lama Lu Junyang bercerita, semakin jelas rasa tidak sukanya pada Si Xuancheng. Leng Ning bisa melihat hubungan kedua orang itu memang cukup dalam.

“Mau turun melihat sendiri?” Leng Ning memotong dan langsung melangkah ke bawah.

Lu Junyang segera mengikuti di belakangnya. Baru beberapa langkah, keberadaan mereka sudah diketahui oleh keluarga Si.

“Ning’er, kau sudah bangun?” ujar Zhao Yajing sambil menghampiri Leng Ning. “Kami sedang membicarakan sesuatu yang penting. Kalau merasa bosan, kau bisa sarapan dulu.”

Namun, Leng Ning menolak dengan tenang sambil menatap Si Xuancheng, “Tak apa, aku di sini saja.”

Zhao Yajing tak berkomentar lebih lanjut dan tak menutupi permasalahan ini dari Leng Ning. Bagaimanapun, cepat atau lambat ia akan menjadi menantu keluarga Si, semua ini pasti akan ia ketahui juga.

Tatapan menggoda Si Xuancheng tertuju pada Leng Ning. Si Xingzhou yang melihat itu langsung mengerutkan kening dan meraih tangan Leng Ning, melingkarkan jari kelingkingnya pada jemari gadis itu.

Sentuhan dingin di kelingkingnya membuat Leng Ning menunduk dan menatap ke arah Si Xingzhou, yang balas menatapnya. Entah ia berkhayal atau tidak, tapi ia merasa pria itu sempat mengedipkan mata padanya.

Leng Ning hanya bisa membatin, “Apa barusan Tuan Muda Si sedang berusaha bersikap manis padaku?”

Belum sempat ia memproses kejadian barusan, suara mengejek Si Xuancheng sudah terdengar.

“Perempuan ini pasti dipakai untuk menepis sial, ya? Sayang sekali, perempuan secantik ini mungkin malah akan jadi janda. Bagaimana kalau kau mempertimbangkan aku saja?”