Bab 20: Kehilangan Jejak
Pelayan itu memandangi kepergian Tuan Muda, berpikir bahwa ia tampaknya cukup memperhatikan Lin Ning, hanya saja cara mereka berdua berinteraksi memang agak aneh. Biasanya, tidak pernah terlihat mereka saling tersenyum. Terlebih lagi, kalau sudah bersama di dalam kamar, mereka bisa bertahan berjam-jam hingga menjelang waktu makan, barulah Tuan Muda keluar dari ruang kerjanya.
Pintu kamar Lin Ning masih terkunci rapat. Sepanjang sore itu, ia tidak henti-hentinya menelepon K.
“Aku benar-benar tidak bisa melacaknya. Bukan cuma dia tidak meninggalkan jejak apa pun, tapi sebagian besar informasinya juga sudah diblokir. Selain orang yang benar-benar mengenalnya, hampir mustahil mencari tahu apa pun tentangnya.”
Mendengar itu, Lin Ning memejamkan mata. Setelah membukanya kembali, ia bangkit dari tempat tidur, mengambil barang-barangnya, lalu keluar kamar.
Tuan Muda yang duduk di meja makan, melihat Lin Ning berjalan begitu saja keluar rumah, setengah menyipitkan matanya.
“Tidak makan?”
Lin Ning bahkan tidak meliriknya sedikit pun, langsung pergi begitu saja.
Pelayan mengira mereka sedang bertengkar, buru-buru meletakkan piring di tangannya dan hendak mengejar. “Nona Lin...”
“Biarkan saja,” kata Tuan Muda.
Mendengar perintah itu, si pelayan hanya bisa berhenti dan kembali ke dalam.
Tuan Muda sendiri tidak mengerti mengapa sikap Lin Ning padanya tiba-tiba jadi lebih dingin dari sebelumnya. Ia pun menyingkirkan segala pikirannya dan mulai makan.
Lin Ning menyetir sendirian di jalan. Mobil yang tiba-tiba muncul di belakang membuatnya waspada. Ia menambah kecepatan dan mulai berputar mencari jalan.
Ia menekan pedal gas dan berbelok tajam masuk ke jalan kecil. Saat mobil di belakang hendak mengejar, ia sudah menghilang tanpa jejak.
Seorang pria keluar dari mobil, memandang sekitar, lalu mengeluarkan ponsel. Setelah beberapa nada sambung, telepon akhirnya diangkat.
Suara rendah pria itu terdengar di gang.
“Bos, dia terlalu waspada. Baru sebentar lengah saja, sudah kehilangan jejaknya.”
Entah apa yang dikatakan orang di seberang, tidak lama kemudian terdengar langkah kaki, lalu suara mesin mobil perlahan menjauh.
Hanya setelah gang benar-benar sunyi, Lin Ning keluar dari persembunyiannya dengan wajah penuh kewaspadaan di bawah sinar rembulan.
Ponselnya bergetar.
Lin Ning menunduk melihat pesan yang masuk.
[Pulanglah lebih awal.]
Lin Ning mengabaikan pesan itu, melanjutkan perjalanan menuju universitas milik Rong Yin.
Kampusnya terletak di pinggiran kota. Biasanya, bahkan jika ingin naik kereta bawah tanah harus naik bus kampus dulu, letaknya yang tidak di pusat kota seringkali membuat orang lupa. Saat Lin Ning tiba, gerbang kampus memang masih terang, tapi lampu-lampu jalan di dalamnya padam, menciptakan suasana yang mengerikan.
Satpam di pos penjagaan tertidur setengah sadar. Lin Ning memarkir mobil dan melangkah ke gerbang, memilih masuk lewat sisi pengenal wajah yang sudah rusak.
Di dalam kampus, cukup banyak pasangan muda yang memanfaatkan gelap malam untuk berjalan-jalan. Sepanjang jalan, Lin Ning berpapasan dengan beberapa orang.
Lampu-lampu sekitar perpustakaan masih menyala. Ia berjalan sambil menelusuri ponsel, mencari tahu lokasi asrama Rong Yin. Baru saja memastikan tempatnya, seseorang sudah menghadang di depannya.
Suara orang itu terdengar penuh keheranan, “Rong Yin? Benar-benar kamu?”
Lin Ning menatap orang di depannya.
Seorang gadis berkacamata dengan rambut hitam panjang dan buku di tangan, sepertinya baru keluar dari perpustakaan.
Lin Ning tidak ingin berurusan dengan mereka. Ia menebak gadis itu sebaya dengan Ji Lian, segera melepaskan tangan yang digenggam.
“Kamu salah orang.”
Sikap dingin Lin Ning membuat lawannya ciut, tangan yang terjulur pun berhenti di udara.
Saat Lin Ning berjalan di antara gedung-gedung perkuliahan, nomor yang sudah dikenalnya mengirim pesan singkat.
Begitu melihat isi pesan, Lin Ning menyipitkan mata, lalu segera meninggalkan kampus.
Ketika Lin Ning tiba di rumah keluarga Lin, kebetulan Bibi Li tengah berdiri di depan kotak surat, memperkirakan sesuatu. Tidak lama kemudian, ia mengambil beberapa surat.
Bibi Li memandang surat-surat itu sambil bergumam, “Aneh, siapa yang tiba-tiba mengirim surat seperti ini?”
Ia mengamati surat itu lama sekali. Begitu melihat nama penerimanya adalah Lin Ning, matanya berubah tajam, “Perempuan jalang itu sudah pergi, masih saja berani mengirim barang ke rumah ini!”
Umpatan itu tidak keras, tapi terdengar sangat menusuk di malam hari.
Melihat Bibi Li membawa surat itu hendak masuk rumah, Lin Ning segera melangkah cepat menghadangnya.
“Kau ngapain datang ke sini?!”
Bibi Li melihat Lin Ning dengan wajah tak bersahabat, barang di tangannya reflek disembunyikan di belakang punggung.
Lin Ning tak memberinya kesempatan, langsung merebut barang itu dari tangan Bibi Li.
“Apa yang kau lakukan?!” teriak Bibi Li, suaranya membuat Lin Bingrong dan yang lain di ruang tamu keluar. Begitu melihat Lin Ning, wajah mereka langsung masam.
“Malam-malam begini, mau mengacau apa lagi kau di sini?”
Lin Bingrong membentak.
Melihat mereka keluar, Bibi Li jadi makin berani. Ia berjalan ke arah keluarga Lin, mendongak, mulai mengarang cerita.
“Tuan, barusan dia langsung merebut barang, semua surat di kotak surat diambil begitu saja.”
Alis Liu Yu mengerut. Jika sampai Lin Ning sampai rela datang malam-malam hanya demi mengambil surat, pasti itu bukan barang sepele. Kalau-kalau itu dokumen penting, bukankah bisa jadi bahan sandera baru di tangan Lin Ning?
Untuk mencegah hal seperti ini terulang, Liu Yu melangkah ke depan Lin Ning, mengangkat dagu dengan angkuh.
“Barang keluarga Lin, mana bisa kau ambil seenaknya? Cepat kembalikan!”
Mendengarnya, Lin Ning mendengus dingin. “Di sini jelas tertulis namaku.”
“Ngaco!” Lin Bingrong mengejek, “Barang yang dikirim ke rumah Lin, apa hubungannya denganmu?”
Lin Ning enggan meladeni mereka, langsung berbalik hendak pergi.
“Berhenti!”
Lin Bingrong membentak keras, “Kau kira tempat ini apa? Mau datang dan pergi semaumu? Kalau tidak mengembalikan barang itu hari ini, jangan harap bisa keluar dari rumah ini selangkah pun!”
Lin Ning menyunggingkan senyum dingin. “Tak takut Si Xingzhou akan cari masalah pada kalian?”
“Kau kurang ajar!”
Begitu nama Si Xingzhou disebut, emosi Lin Bingrong langsung memuncak.
“Nama tuan Si bukan untuk kau sebut sembarangan! Kau itu cuma pengganti untuk mengusir sial, benar-benar mengira diri sendiri sudah jadi nyonya keluarga Si? Lin Ning, orang sepertimu tak pantas menyandang status setinggi itu. Harusnya sadar diri dan berbakti pada keluarga Lin saja.”
Lin Bingrong sekeluarga berdiri di tangga menunjuk dan memaki Lin Ning, sementara dia tidak menanggapi sepatah kata pun, membiarkan semua kata-kata kotor itu menghujani dirinya.
Hingga mereka kelelahan, barulah Lin Ning menyalakan ponsel yang sedari tadi merekam suara mereka.
“Bagus, lain kali akan kuperdengarkan pada Si Xingzhou.”
Lin Ning merapikan surat lalu berbalik hendak pergi. Lin Bingrong yang marah melangkah cepat menghampirinya, namun baru saja mengangkat tangan, pergelangannya langsung dicengkeram.
Sebelum Lin Bingrong sempat bereaksi, sekejap kemudian ia sudah terpelanting keras ke lantai, sampai merasa dunia berputar.
Gerakan mendadak itu membuat Liu Yu dan Lin Xue belum sempat bereaksi. Mereka hanya melihat Lin Ning bergerak, dan tiba-tiba saja mereka semua dari berdiri sudah berubah posisi jadi berjongkok.