Bab 8: Batas Akhir Seorang Ibu

Douluo: Reinkarnasi Yu Hao, Mereka Semua Punya Niat Tersembunyi Nyonya Tua 2439kata 2026-01-30 07:20:57

Kediaman Adipati.

Sebuah sosok kecil dan kurus berjalan melewati kawasan para pelayan, membiarkan tatapan sinis dan penuh keheranan dari orang-orang di sekitarnya menancap di tubuhnya. Semakin dekat ke arah gudang kayu di belakang, jantung Huo Yuhao berdegup kencang tak terkendali, bahkan langkah kakinya pun tak sadar semakin cepat.

Tak lama kemudian, dari balik tembok rendah, terlihat sosok seorang wanita yang sedang duduk di bangku kecil, mencuci pakaian. Ia tampaknya mendengar suara langkah kaki dan secara refleks menoleh. Meski tampak agak letih, kecantikannya tetap terpancar, dan sepasang mata serta alisnya memancarkan kelembutan yang meresap hingga ke tulang. Namun, dalam sekejap, sorot matanya berubah menjadi ketakutan.

“Yuhao!”

Melihat Huo Yuhao yang tubuhnya penuh noda darah dan kotoran, wanita itu terkejut hingga menjerit, melupakan pakaian yang belum selesai dicuci, lalu berlari tergesa-gesa ke arahnya.

Melihat wajah yang begitu dikenalnya itu, tenggorokan Huo Yuhao tercekat. Ia mengeluarkan suara lirih, nyaris terisak.

“...Ibu.”

“Ada ibu di sini, Yuhao jangan takut, ibu di sini...”

Huo Yun'er mengangkat tangan, hendak memeriksa keadaan Huo Yuhao. Namun, begitu melihat darah dan luka yang mengerikan, ia menahan diri, takut perbuatannya yang tergesa-gesa justru menyakitinya.

“Yuhao jangan takut, di mana yang sakit? Biar ibu lihat...”

Tak tahu harus berbuat apa, Huo Yun'er hanya bisa terus menenangkan Yuhao, air matanya hampir jatuh karena cemas.

“Ibu, aku tidak apa-apa, sungguh, lihat sendiri.”

Huo Yuhao memaksakan senyum, mengangkat lengan bajunya, memperlihatkan tangannya yang sama sekali tak terluka. Ia lalu menarik ujung bajunya dan berputar satu kali seperti sedang memamerkan diri.

Huo Yun'er tertegun sejenak, kemudian buru-buru maju dan memeriksa tubuh Yuhao dari atas ke bawah. Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, ia baru menghela napas lega, pundaknya sedikit merosot. Saat Yuhao hendak berbicara, Huo Yun'er langsung memeluknya erat.

“Syukurlah... syukurlah... barusan ibu benar-benar hampir mati ketakutan...”

Mendengar suara tangis tertahan di telinganya, Yuhao tak kuasa menahan isak, matanya melembut dan ia berbisik menenangkan.

“Ibu, sudah kubilang aku baik-baik saja...”

Butuh waktu cukup lama hingga perasaan Huo Yun'er perlahan tenang. Ia menyeka air matanya, suaranya masih serak, menatap Yuhao dengan serius.

“Yuhao, ceritakan pada ibu, apa yang terjadi?”

“Aku juga tidak begitu mengerti...” Yuhao menggeleng pelan, lalu mulai menceritakan pengalamannya.

“Tadi saat aku membangkitkan Roh Bela Diri, hasilnya terdeteksi punya kekuatan roh bawaan. Aku ingin cepat-cepat pulang memberi tahu ibu, tapi di jalan aku bertemu seseorang aneh berjubah hitam. Begitu melihatku, orang itu langsung menangkapku, membawaku melewati pintu samping dan berlari ke hutan di luar kediaman Adipati.”

Mendengar itu, ekspresi Huo Yun'er langsung tegang dan bertanya, “Lalu, apa yang terjadi?”

Huo Yuhao mengeluarkan pisau harimau putih dari balik bajunya, yang masih berlumur darah, dan berkata lirih.

“Saat itu aku sangat takut. Ketika dia lengah, aku panik dan menusukkan pisau ini ke arah orang itu. Lehernya langsung mengucurkan banyak darah, genggamannya melemah, dan aku berhasil melepaskan diri. Dia seperti masih ingin menangkapku, tapi segera jatuh tak bergerak. Aku tidak berani diam lebih lama, jadi aku langsung lari pulang.”

Setelah mendengar penjelasan Yuhao, Huo Yun'er akhirnya sedikit tenang. Ia bersyukur telah membawakan pisau harimau putih itu kepada Yuhao untuk kebangkitan Roh Bela Diri. Namun, seolah menyadari sesuatu, ia kembali bertanya.

“Yuhao, orang aneh itu selain berjubah hitam, apa ada ciri khusus lainnya?”

“Ada.” Yuhao langsung mengangguk, seolah sedang mengingat-ingat, dan berbicara perlahan. Ia juga merasa lega, tadinya ia memang ingin menceritakan hal ini. Kini, setelah ibunya bertanya, ia merasa jauh lebih baik.

“Aku lihat waktu dia berlari, di bawah jubahnya seperti ada baju zirah putih. Saat aku menusukkan pisau, jubah hitamnya robek, dan aku melihat di bagian bahunya ada lambang kepala harimau...”

Mendengar bahwa pelaku memakai baju zirah putih, hati Huo Yun'er langsung dipenuhi firasat buruk. Dan saat Yuhao menyebutkan lambang kepala harimau di bahu, ia seolah disambar petir, jantungnya seakan berhenti sesaat.

“Pengawal Harimau Putih...”

Ia semula mengira orang suruhan Nyonya Adipati yang mencoba mencelakai mereka, namun ternyata yang turun tangan adalah pengawal pribadi Adipati Harimau Putih, yang hanya setia pada sang Adipati!

Kini fakta sudah di depan mata, ia tak bisa tidak mempercayainya.

Terakhir kali pengawal Harimau Putih muncul di kediaman Adipati adalah sebelum Yuhao lahir. Deskripsi Yuhao tentang baju zirah mereka persis seperti yang pernah ia lihat. Kalau tidak menyaksikan sendiri, mustahil bisa menceritakan dengan begitu detail.

“Ibu, apa itu Pengawal Harimau Putih...”

Huo Yun'er menggigit bibir, mengelus kepala Yuhao dengan wajah sendu.

“Bukan apa-apa, ibu hanya salah bicara...”

Bagaimana bisa ia katakan bahwa itu adalah pengawal pribadi ayahnya? Bagaimana menjelaskan pada seorang anak bahwa orang yang baru saja menculik dan hampir membunuhnya adalah orang kepercayaan ayahnya sendiri?

Selama ini, ia selalu mengira Dai Hao telah dibutakan oleh Nyonya Adipati dan tidak tahu-menahu soal ini. Karena itu, walau mendapat tekanan dan penderitaan, ia tetap berharap sang Adipati suatu hari akan mengetahui kebenaran. Ia bertahan di sini bukan karena tamak kemewahan, melainkan berharap anaknya mendapat peluang hidup lebih baik. Dunia di luar sana pun tak lebih baik dari kediaman Adipati. Ia percaya, selama Dai Hao tahu ia masih punya seorang putra, setidaknya Yuhao bisa hidup berkecukupan, jauh lebih baik daripada harus berjuang sendiri di luar sana.

Namun kini, kenyataan bahwa pengawal Harimau Putih sendiri yang mengincar anaknya telah memupuskan harapan terakhirnya. Mungkin saja sejak awal Dai Hao sudah tahu keberadaan Yuhao, namun membiarkan Nyonya Adipati menindas mereka berdua. Bahkan setelah kebangkitan Roh Bela Diri, melihat bakat Yuhao yang dianggap rendah, ia memilih membunuhnya.

Memang ada kemungkinan Nyonya Adipati menyuruh orang menyamar sebagai pengawal Harimau Putih untuk membuatnya putus asa, tapi ia tak mau mempertaruhkan nyawa anaknya. Apalagi, mencuri atau membuat baju zirah pengawal Harimau Putih tanpa izin adalah kejahatan besar. Apakah Nyonya Adipati berani mengambil risiko kemarahan Dai Hao untuk melakukan itu?

Jika ini memang kehendak Dai Hao, maka yang menanti Yuhao ke depannya hanyalah bencana besar.

Demi kehidupan anaknya, ia rela menanggung penderitaan, bahkan mati sekalipun, ia tak peduli. Tapi jika kini anaknya yang jadi sasaran, sebagai seorang ibu ia takkan tinggal diam.

Huo Yun'er menarik napas panjang, tatapannya menjadi tegas. Ia memandang Yuhao dan memaksakan senyum di wajahnya.

“Yuhao, mari kita tinggalkan kediaman Adipati, ya? Kita tak perlu menunggu ayahmu pulang. Kita cari tempat baru dan mulai hidup yang baru.”

“Kemana pun ibu pergi, aku ikut.”

Suara jernih bocah itu terdengar. Ia mengangkat tangan, menggenggam lembut telapak tangan Huo Yun'er yang kurus. Wajah mudanya seolah mendadak menjadi dewasa, lalu ia berkata dengan sungguh-sungguh,

“Mulai hari ini, biar aku yang melindungi ibu.”