Sepuluh Talas
Baru saja kata-kata itu terucap, sepasang mata *danfeng* yang menawan itu sedikit menyipit. Pria di hadapannya menatapnya dengan tajam tanpa berkata apa-apa, namun Yu Ni seolah bisa membaca tulisan “Kau ini sedang cari masalah, ya?” dari sorot matanya.
Seketika itu juga, ia sadar bahwa ucapannya tadi terdengar seperti provokasi. Suasana mendadak menjadi canggung, bahkan terasa sedikit tegang dan penuh permusuhan yang tersirat.
Tepat pada saat itu, pengumuman stasiun terdengar melalui pengeras suara. Mendengar nama stasiun yang familier, Yu Ni segera mundur beberapa langkah. Begitu pintu terbuka, ia pun melesat cepat keluar dari gerbong kereta bawah tanah.
Ia berlari kecil keluar dari stasiun tanpa menoleh ke belakang. Entah karena kesal atau malu, jantung Yu Ni masih berdegup kencang hingga ia berhasil menemukan Mi Lu.
Untungnya, Mi Lu tidak menyadarinya. Ia hanya bertanya dengan heran, “Kenapa kau cepat sekali datangnya? Apa kau berlari sepanjang jalan?”
Mendengar itu, Yu Ni segera mengangguk mantap.
Mi Lu pun merasa sangat tersentuh dan berkata dengan dramatis, “Aku sayang sekali padamu, Yu Ni! Bagaimana jadinya hidupku tanpamu!”
Yu Ni berusaha menahan ekspresinya agar tidak terlihat bersalah. Setelah selesai memesan makanan dan kembali, detak jantungnya yang tadinya terburu-buru kini sudah mulai tenang.
Semangkuk *malatang* di depan Mi Lu sudah habis dilahap. Sambil menemani Yu Ni menunggu pesanan, ia tiba-tiba bertanya, “Oh iya, Yu Ni, akhir pekan ini kau ada waktu luang tidak? Mau ikut aku ke pameran anime?”
Yu Ni menggelengkan kepala seperti boneka *bobblehead*, “Aku tidak bisa, akhir pekan ini aku ada urusan.”
Beberapa orang di asrama mereka memiliki minat yang sangat berbeda, namun hubungan mereka justru terjalin dengan sangat harmonis.
Tan Qiao hobi bermain *otome game* dan mengoleksi boneka kapas. Ia paling antusias membagikan foto kartu karakter suaminya di grup, lalu menambahkan kalimat, “Ketampanan suami, kebanggaan istri.” Mi Lu adalah seorang *otaku* senior yang sudah menonton tak terhitung banyaknya anime. Selama punya waktu luang, ia hampir selalu datang ke pameran anime luring. Hari ini ia datang ke sini karena ada janji untuk mencoba riasan *cosplay*.
Hanya Yu Ni yang merupakan seorang *normie* tulen; bahkan gim *Honor of Kings* pun baru ia kenali belakangan ini.
Mi Lu mengira Yu Ni menolak karena belum terbiasa, jadi ia menambahkan, “Bukankah kau baru saja main *Honor of Kings*? Di pameran nanti akan ada orang yang *cosplay* menjadi pahlawan di gim itu.”
Yu Ni menjelaskan, “Akhir pekan ini kakekku ulang tahun, aku harus pulang.”
“Begitu ya. Padahal aku ingin melihatmu *cosplay* jadi Yao. Aku sudah beli kostumnya dan tersimpan lama di kotak,” ujar Mi Lu dengan nada menyesal, namun ia segera memaklumi dan bertanya, “Lalu nanti kau pulang naik apa?”
Yu Ni berkedip, “Kakakku yang akan menjemputku dengan mobil.”
Baru saja ia bicara, sebuah pesan WeChat masuk ke ponselnya.
【Si Paling Tampan di Linjing】: Jam delapan aku sampai di kampusmu, jangan tidur siang.
Panggilan itu diubah sendiri oleh Yu Heng saat memegang ponsel adiknya. Agar Yu Ni setuju, saat itu ia berkata dengan nada “terserah kau saja”, “Orang-orang bilang kau mirip denganku. Kalau kau merasa dirimu bukan yang paling tampan, silakan saja ubah namanya.”
Saat itu Yu Ni masih kecil dan mudah dibohongi oleh kata-katanya, sehingga panggilan itu terus dipakai dari sekolah dasar hingga sekarang.
Namun, tiba-tiba sebuah wajah muncul di benaknya. Wajahnya langsung terlihat kaku, ia masuk ke profil dan mengubah nama Yu Heng menjadi 【Si Tampan Kedua di Linjing】.
Dia tidak mirip dengan Yu Heng sama sekali!
Yu Ni mengirim stiker, lalu dengan santai meminta, “Aku ingin ayam goreng dari toko di selatan kota, bawakan aku ya kalau kau lewat.”
【Si Tampan Kedua di Linjing】: Aku menjemputmu dari pinggiran timur ke lingkar dua barat, memangnya searah kalau lewat selatan kota?
【Yu Ni】: Setengah rasa keju, setengah bumbu plum.
【Si Tampan Kedua di Linjing】: Tidak sehat.
【Yu Ni】: Terima kasih Kakak! Kau yang paling tampan! (*≧▽≦)
—
Sabtu pagi, begitu keluar dari gerbang kampus, Yu Ni langsung melihat mobil Bentley berwarna hitam pekat terparkir di pinggir jalan. Mobil itu mungkin adalah kendaraan yang paling tidak mencolok di garasi Yu Heng, namun tetap saja menarik perhatian banyak pejalan kaki.
Yu Ni membuka pintu mobil. Pria muda di kursi pengemudi mengenakan setelan jas hitam berkancing emas dengan potongan yang pas, bahunya lebar dan kakinya jenjang. Ia mengenakan kacamata hitam dan bersandar dengan santai di kursi.
Yu Ni memasang sabuk pengaman, menatap langit mendung di luar, lalu bertanya dengan heran, “Tidak ada matahari, kenapa kau pakai kacamata hitam di dalam mobil?”
Yu Heng menegakkan tubuh, melepas kacamata hitam dari wajahnya, lalu melemparkannya ke arah Yu Ni, “Baru saja kubelikan untukmu saat perjalanan bisnis.”
Sebenarnya mereka tidak terlalu mirip. Yu Heng lima tahun lebih tua dan penampilannya tampak lebih dewasa. Namun, sifat dan aura mereka seperti dicetak dari cetakan yang sama; ada gurat ketegasan di alis mereka yang membuat orang lain langsung mengenali bahwa mereka adalah kakak beradik.
Satu-satunya perbedaan adalah Yu Ni narsis secara terang-terangan, sedangkan Yu Heng narsis secara diam-diam.
Logo merek mewah yang terukir di bingkai kacamata itu berasal dari negara tempat Yu Heng baru saja melakukan perjalanan bisnis. Harga kacamata itu tidak murah, namun di mulutnya, itu hanyalah barang yang dibeli secara asal.
Yu Ni sudah terbiasa dengan sikap itu. Ia memakainya, melihat cermin, lalu bergumam, “Kacamata ini jadi melar karena kau pakai.”
Setelah puas memuji diri sendiri, ia melepas kacamata itu. Saat menoleh, ia melihat kakaknya sedang menatapnya dengan tatapan aneh.
Yu Ni berkedip, bertanya dengan bingung, “Ada apa?”
“Siapa pun kau, cepat turun dari tubuh adikku,” Yu Heng mengerutkan kening dan berkata dengan serius, “Adikku seharusnya memujiku sejak naik ke mobil tadi.”
Yu Ni seolah tersadar, ia segera memasang senyum manis, “Kakak yang paling tampan sedunia, apakah kau membawakanku ayam goreng?”
Yu Heng baru merasa puas dan mengangkat alisnya. Ia mengambilkan ayam goreng dari kursi belakang, namun mulutnya tetap berkata, “Kurangi makan makanan tidak sehat.”
Yu Ni tidak memedulikannya. Detik berikutnya, ia mendengar pria di sampingnya berkata tiba-tiba, “Berikan aku satu potongan juga.”
Hari ini adalah ulang tahun kakek Yu Ni yang ke-70. Tamu yang datang sangat banyak, aula penuh dengan obrolan bisnis. Sepanjang jalan masuk bersama kakaknya, Yu Ni bertemu dengan banyak orang asing yang menyapa mereka.
Kepala pelayan, Paman Zhang, melihat mereka dan segera datang menghampiri sambil tersenyum ramah, “Datang sepagi ini? Kakek tadi bilang kalian baru akan sampai tengah hari.”
“Jalanan tidak macet,” Yu Heng melirik adiknya, lalu memberi isyarat, “Terutama karena kali ini dia tidak bangun kesiangan.”
“Jangan merusak citraku!” Yu Ni dengan kesal menendang tumit kakaknya, lalu dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya, tersenyum manis dan memanggil, “Paman Zhang, di mana Kakek?”
Paman Zhang tersenyum melihat kakak beradik itu bertengkar, lalu berkata, “Sedang mengenang masa lalu dengan seseorang di ruang kerja. Aku akan memberi tahu beliau kalian sudah datang. Kakek sudah menanyakanmu sejak pagi tadi.”
Mengingat istilah “mengenang masa lalu”, pastilah teman lama Kakek. Yu Ni segera mendorong Yu Heng untuk pergi, sambil menggeleng, “Tidak perlu, tidak perlu. Tunggu Kakek selesai bicara baru aku ke sana.”
Ia duduk di sofa ruang tunggu, menyuruh Yu Heng pergi mengambilkan hidangan penutup, sementara ia membuka gim *Honor of Kings*.
Ruang tamu agak berisik. Yu Ni tidak menyalakan mikrofon. Setelah masuk, ada orang yang ingin bermain di *mid lane*, jadi ia memilih *Yao* untuk mengikuti Zhu Yu.
Tak lama kemudian, Paman Zhang datang mencarinya untuk menyampaikan pesan Kakek agar ia segera ke sana.
Yu Ni melihat gimnya yang baru berjalan setengah, ia menoleh dengan cemas, dan akhirnya matanya tertuju pada Yu Heng yang sedang bersantai dan tidak mau bersosialisasi.
“Kakak!” Saat karakternya sedang dalam hitungan mundur untuk bangkit kembali, ia segera berlari dan menyodorkan ponselnya, “Bantu aku main sebentar, kalau tidak, nanti aku dianggap *AFK* dan poin reputasiku dikurangi.”
Yu Ni ingat kakaknya pernah memainkan gim ini. Apalagi ia menggunakan *Yao* yang mudah dimainkan, ditambah lagi ada Zhu Yu, jadi ia tidak takut Yu Heng akan kalah.
Di ruang kerja, begitu masuk, Yu Ni langsung memanggil “Kakek” dengan lantang, lalu membacakan ucapan selamat ulang tahun yang sudah ia hafal tanpa ada satu kata pun yang terlewat, membuat kakeknya tertawa hingga mulutnya tak bisa berhenti tersenyum.
Kakek menepuk tangan dan memuji, “Yu Ni kita memang cerdas dan pengertian.”
Yu Ni ikut tertawa kecil. Setelah mengobrol sebentar dengan Kakek di ruang kerja, ia turun ke bawah untuk mencari Yu Heng.
Ia tidak melihat sosok kakaknya di ruang tamu. Setelah bertanya pada Paman Zhang, barulah ia tahu kalau Yu Heng pergi ke halaman belakang untuk melihat anjing.
Kakek memelihara dua anjing *Samoyed* di rumah, dan namanya pun diberikan oleh Yu Ni. Ia sangat merindukan mereka, jadi begitu mendengar itu, ia segera berlari ke halaman belakang.
Saat Yu Ni sampai, kakaknya sedang berdiri di luar pagar. Di sampingnya ada seorang pria muda seusianya yang mengenakan setelan jas biru tua sedang berbicara dengannya.
Pria itu menunjuk ke arah anjing di atas rumput hijau dan bertanya, “Apa nama anjing ini?”
“Mixue.”
Pria itu tertegun sejenak, lalu bertanya, “Lalu yang satunya bernama Bingcheng?”
“Jangan sok tahu,” kata Yu Heng, “yang itu namanya Naixue.”
Pria itu tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya, “Siapa sih yang memberi nama sekampung itu?”
Yu Ni mengerutkan kening dengan kesal.
Apanya yang kampungan? Di mana letak kampungannya!
Waktu itu seluruh keluarga memilih dua nama tersebut dari sekian banyak pilihan, dan semuanya setuju kecuali Yu Heng!
Karena menurutnya nama “Bhatian” dan “Aotian” terdengar jauh lebih keren.
Tepat saat Yu Ni mengira kakaknya akan setuju dengan pria itu, Yu Heng tiba-tiba berkata dengan nada dingin, “Adikku yang memberi nama, kenapa? Ada masalah?”
Tawa pria itu terhenti seketika. Ia jelas mengenal Yu Heng dan tahu bahwa begitu Yu Heng mengeluarkan kata-kata “adikku”, situasinya sudah berbeda.
Benar saja, Yu Heng melanjutkan dengan serius, “Bunga salju melayang di malam kemarin, pagi terlihat pegunungan pinus kembali rapi. Kalau kau merasa kampungan, itu artinya kau kurang berbudaya. Kalau kurang berbudaya, perbanyaklah membaca buku.”
Pria itu tertawa kikuk, “Salahku, salahku. Nanti aku akan membacanya.”
Yu Ni melihat pria itu kena batunya dan merasa sangat senang. Ia berteriak, “Kakak!” lalu berlari menghampiri.
Kedua pria yang sedang bicara itu menoleh. Pria itu menggoda Yu Ni, “Yu Ni sudah besar sekali. Masih ingat Kakak tidak? Dulu waktu kecil kita pernah bertemu.”
Yu Heng mengerutkan kening, “Jangan sembarangan mengaku-ngaku sebagai kakak.”
Ia mengusir pria itu tanpa ampun, “Aku masih ada urusan dengannya.”
“Iya, iya,” pria itu mengerti, “tidak akan mengganggu waktu bicara kalian.”
Yu Ni menjinjitkan kaki dari balik punggung kakaknya, melihat pria itu pergi, lalu berkata dengan gembira, “Kakak, aku dengar apa yang kau katakan tadi. Itu artinya—”
“Artinya aku berbudaya, puisi sesulit itu pun bisa aku ingat.”
Yu Ni segera mengubah ekspresinya, memamerkan taringnya pada kakaknya, “Menyebalkan!”
Ia berbalik ingin pergi, namun Yu Heng tiba-tiba memanggilnya dari belakang.
Yu Ni memutar langkahnya, menoleh dengan bangga, “Kenapa? Kau mau bilang hal manis untuk membujukku?”
“Ponselmu ketinggalan.” Yu Heng bertanya dengan santai, “Siapa orang yang main gim bersamamu tadi?”
“Teman mabar gim,” jawabnya.
“Teman mabar?” nada suara Yu Heng terdengar penuh selidik, “Teman mabar akan memberimu *buff* biru, dan akan kembali ke *base* untuk menjemputmu?”
Yu Ni bingung, “Memangnya tidak boleh?”
Melihat ekspresi kakaknya yang seolah berkata “kau pikir aku percaya?”, Yu Ni mulai meragukan dirinya sendiri.
Zhu Yu tidak hanya memberikan *buff* biru padanya dan menjemputnya di *base*, dia juga sering menemaninya bermain dengan santai.
Belum lama ini, Zhao Boyi sepertinya juga menyindirnya agar tidak terlalu terbawa perasaan. Apakah hal-hal ini memang bukan tindakan yang dilakukan oleh teman mabar biasa?
Yu Ni mengerutkan kening dan berpikir, lalu bertanya dengan ragu, “Jadi maksudmu, dia menyukaiku?”
Yu Heng: ?
Kalau bicara ya bicara saja, kenapa wajahmu memerah?
Melihat itu, alarm bahaya di hati Yu Heng berbunyi. Ia segera memotong pemikiran adiknya, “Bukan!”
Ia mengoreksi ucapannya dengan yakin, “Itu adalah hal yang lumrah dilakukan oleh teman mabar biasa.”
Kata “biasa” ia tekankan dengan keras.
Yu Ni menatapnya dengan aneh, “Oh.”
Yu Heng masih merasa khawatir, ia berpesan, “Jangan sampai terjebak cinta daring, ya. Kalau sampai tertipu, jangan menangis padaku.”
“Iya, tahu.” Yu Ni menjawab asal, lalu pergi sambil membawa ponselnya.
Beberapa detik kemudian, suara “Timi” terdengar dari kejauhan.
Napas Yu Heng yang tadinya sudah lega kini kembali tertahan: !