Bab 47: Kedatangan Raja Xiaoyao

Menantu Raja Naga Sang Tabib Xuan Mengamuk 2546kata 2026-02-08 02:15:28

Dentuman sirene polisi mulai terdengar oleh Jiang Chen.

Ia sadar, polisi telah datang.

Namun, ia tidak ingin perkara ini diketahui oleh semua orang.

Tang Chuchu hanyalah seorang wanita biasa yang sudah menanggung terlalu banyak hinaan. Jiang Chen tidak ingin kedatangan polisi membuat masalah ini tersebar luas dan menjadi bahan pembicaraan di seluruh kota. Meski Tang Chuchu tidak mengalami apa-apa kali ini, jika hal ini sampai tersebar, pasti akan menimbulkan berbagai macam gosip dan fitnah.

Tang Chuchu telah menanggung cukup banyak omongan miring. Jiang Chen tidak ingin semuanya itu semakin membebani Tang Chuchu.

Karena itu, ia segera menelpon Raja Xiaoyao.

Setelah menelpon, Jiang Chen kembali ke kantor dan duduk di sofa, menunggu.

Sementara itu, di depan pintu kantor, puluhan satpam telah berkumpul.

Mereka menggenggam tongkat listrik, keringat sebesar biji jagung menetes di wajah mereka, namun tak satu pun berani masuk ke dalam kantor.

Di dalam kantor, Zhou Hao tergeletak di lantai dalam genangan darah, sudah tidak bernyawa.

Raja Xiaoyao tengah memimpin rapat ketika menerima telepon dari Jiang Chen. Ia benar-benar khawatir Jiang Chen akan bertindak gegabah. Sifat Jiang Chen sudah sedikit banyak ia dengar.

Dengan segera, ia menghentikan rapat dan memberikan perintah, "Hubungi kepolisian, urusan Grup Aila tidak perlu diurus, biar pihak militer yang menangani. Siapkan mobil sekarang, kita berangkat ke Grup Aila."

Di Grup Aila, meskipun jam kerja telah usai, masih banyak karyawan yang lembur.

Di lantai satu gedung, ada lebih dari sepuluh satpam yang terkapar. Mereka tidak hanya mengalami patah tulang, namun benar-benar kehilangan tangan atau kaki, dipatahkan secara paksa oleh kekuatan yang menakutkan.

Orang-orang itu mengerang kesakitan di lantai, beberapa di antaranya bahkan pingsan karena kehilangan terlalu banyak darah. Keadaan di lokasi sangat kacau, beberapa karyawan yang ketakutan berjongkok di sudut, tubuh mereka gemetar hebat.

Saat itu, polisi sudah tiba di tempat kejadian, segera memasang garis polisi dan menutup area. Tak lama kemudian, ambulans berdatangan.

Tim polisi bersenjata lengkap yang melihat pemandangan berdarah itu langsung dalam keadaan siaga penuh, mulai mengumpulkan keterangan dan mengetahui bahwa pelaku masih berada di dalam gedung. Dengan cepat, mereka mengatur strategi pengamanan.

Namun, saat itu, komandan tim polisi mendapat telepon dari atasannya, memerintahkan agar urusan Grup Aila diserahkan pada militer.

Tak lama kemudian, kendaraan militer pun tiba di luar Grup Aila.

Puluhan jip datang, diikuti ribuan prajurit bersenjata lengkap. Mereka segera membubarkan kerumunan di luar gedung dan mengusir polisi.

Setelah Jiang Chen menunggu sekitar sepuluh menit di kantor, militer pun tiba. Seluruh satpam di pintu masuk langsung diamankan secara paksa.

Seorang pria paruh baya bertubuh kekar masuk ke kantor, melirik Zhou Hao yang sudah tidak bernyawa di lantai, lalu memandang Jiang Chen yang duduk di sofa sambil memeluk Tang Chuchu.

Ia mendekat, di wajahnya yang tegas tergurat ketidaksenangan. "Jiang Chen, ini adalah Jiangzhong, bukan Nanhuang. Bagaimana kau bisa bertindak sekejam itu?"

Jiang Chen berdiri sambil tetap memeluk Tang Chuchu, lalu berkata, "Aku akan keluar lewat pintu belakang. Siapkan satu mobil untukku, antarkan aku pulang dengan selamat. Dan soal kejadian di sini, aku tidak ingin ada setitik pun kabar keluar. Orang-orang yang melihatku, aku harap kau tahu harus berbuat apa."

Setelah berkata demikian, Jiang Chen berbalik dan melangkah pergi.

Raja Xiaoyao hanya bisa menghela napas.

Ia adalah panglima besar wilayah Barat, bahkan kini menjadi komandan lima angkatan, namun tetap saja harus menuruti keinginan Jiang Chen.

Tapi, memang ia tidak ingin Jiang Chen membuat keributan yang lebih besar.

"Tunggu..."

Jiang Chen yang sedang menggendong Tang Chuchu berhenti dan menoleh, menatap Raja Xiaoyao yang mengenakan seragam perang dengan lima bintang di pundak, lalu berkata datar, "Ada apa lagi?"

"Jiang Chen, tolong jangan buat masalah lagi. Ini wilayah kekuasaanku, jangan mempersulitku. Anggap saja aku memohon padamu."

"Aku tak akan mengganggu siapapun jika mereka tak menggangguku. Namun jika mereka berani, mereka harus siap menanggung akibatnya!"

Jiang Chen pun melangkah pergi.

Sikap Jiang Chen yang tak memandang aturan, bahkan meremehkan hukum, benar-benar membuat Raja Xiaoyao marah. Namun, ia memang tak bisa berbuat apa-apa terhadap Jiang Chen.

Sekalipun Jiang Chen melakukan kejahatan besar, ia tetap tidak memiliki wewenang untuk menangkapnya, kecuali ada perintah langsung dari pejabat tertinggi.

Ia menarik napas dalam-dalam dan memerintahkan, "Siapkan satu mobil di pintu belakang, antarkan dia pulang."

"Siap."

Anak buah Raja Xiaoyao segera melaksanakan perintah.

Kemudian, ia memberikan instruksi, "Bawa seluruh rekaman CCTV Grup Aila. Semua korban yang terluka parah akibat Jiang Chen, tenangkan keluarganya, berikan perawatan dan ganti rugi yang layak. Semua satpam yang melihat Jiang Chen, amankan dan suruh mereka menandatangani perjanjian kerahasiaan. Segala kejadian hari ini harus dikubur rapat-rapat. Jika ada bocoran sedikit saja, akan ditindak tegas."

"Dan, umumkan ke publik bahwa ini adalah latihan gabungan antara militer dan kepolisian."

Raja Xiaoyao segera mengatur semuanya dengan rapi.

Mengenai Zhou Hao yang meninggal, ia pun memerintahkan anak buahnya untuk menyelidiki identitasnya, dan ternyata ia adalah anggota keluarga Zhou, salah satu dari empat keluarga terpandang di Jiangzhong.

Raja Xiaoyao sendiri turun tangan ke keluarga Zhou, memberitahu mereka bahwa Zhou Hao telah direkrut untuk pelatihan rahasia dan menjadi agen khusus, sehingga dalam waktu dekat tidak akan kembali.

Sementara jenazah Zhou Hao diam-diam dibawa pergi dan dikremasi tanpa diketahui siapapun.

Raja Xiaoyao pun mengirim mobil untuk mengantar Jiang Chen pulang.

Rumah dalam keadaan kosong, semua orang sedang keluar.

Jiang Chen menggendong Tang Chuchu yang masih tertidur pulas, membaringkannya di atas ranjang. Melihat pakaian Tang Chuchu yang telah basah kuyup, Jiang Chen mengernyitkan dahi.

Setelah termenung sejenak, ia menuju lemari pakaian, mengambil gaun bersih.

Lalu, ia duduk di tepi ranjang dan membantu mengganti pakaian Tang Chuchu.

Sebagai Raja Naga Hitam dari Nanhuang, sejak kapan ia pernah mengganti pakaian seorang wanita?

Ia pun jadi kikuk, butuh hampir setengah jam hingga akhirnya berhasil menggantikan pakaian Tang Chuchu.

Jiang Chen juga menekan titik tidur di tubuh Tang Chuchu, sehingga ia bisa tidur dengan nyenyak.

Tang Chuchu tidur selama beberapa jam. Baru menjelang sore ia terbangun.

Setelah sadar, ia mengusap kepalanya. Ingatan tentang kejadian sebelumnya membuat tubuhnya tiba-tiba bergetar. Ia refleks menarik selimut dan meringkuk di pojok ranjang. Setelah menyadari bahwa ia sudah di rumah, barulah ia merasa lega.

"Chuchu, kau sudah bangun?"

Pintu kamar terbuka. Jiang Chen masuk dengan mengenakan celemek, berkata, "Aku sudah menyiapkan makan malam. Nanti kalau Ayah dan Ibu pulang, kita bisa langsung makan."

"Chen..." Tang Chuchu langsung menangis terisak, penuh rasa pilu.

Jiang Chen segera mendekat dan duduk di tepi ranjang.

Tang Chuchu langsung memeluknya erat, menangis tersedu-sedu dalam pelukannya.

"Tak apa, aku datang tepat waktu, jadi tak ada yang terjadi," hibur Jiang Chen. "Manajer HRD Grup Aila itu sudah dibawa polisi, mungkin akan dipenjara bertahun-tahun."

Mendengar itu, Tang Chuchu akhirnya bisa menghela napas lega.

Untung saja Jiang Chen datang tepat waktu, jika tidak, entah apa yang akan terjadi.

Meski demikian, bila mengingatnya lagi, hatinya masih berdebar takut.

"Chen, terima kasih..."

"Kau harus lebih hati-hati lain kali. Wajah secantik ini pasti membuat semua pria tergoda. Tidak bisa dibiarkan, mulai sekarang aku harus selalu berada di sampingmu."

Ucapan Jiang Chen membuat Tang Chuchu tersenyum.

"Pakainku... kau yang mengganti?" tanya Tang Chuchu sambil melirik gaun yang ia kenakan.

"Iya."

"Termasuk dalaman?"

"Eh..." Jiang Chen tampak canggung, menggaruk kepala. "Seluruh badanmu basah kuyup, aku khawatir kau masuk angin, jadi setelah membawa pulang, aku bantu ganti baju. Aku melakukannya dengan mata tertutup, aku tidak melihat apa-apa."

Tang Chuchu terbahak, "Bodoh, aku ini istrimu, kenapa harus menutup mata? Oh ya, aku hanya ingat kau mendobrak masuk, selebihnya aku tidak ingat apa-apa. Apa yang terjadi?"

Senyuman Tang Chuchu membuat Jiang Chen terpana.

Senyum itu seperti sekuntum bunga yang tiba-tiba merekah, begitu indah, begitu memesona.

Beginikah makna senyum yang mampu menaklukkan seisi kota?

Mungkin, memang senyuman seperti inilah yang dimaksud.