Bab 33: Air Mata Naga Hitam
Suara raungan Jiang Chen menggema seperti guntur yang tertahan di telinga Xiao Ruoran, membuat gendang telinganya bergetar dan pikirannya kacau. Saat ini, ia hanya bisa terus menangis, tak tahu bagaimana harus menjawab. Butuh waktu lama sebelum ia akhirnya tersadar, lalu dengan wajah penuh keputusasaan berkata, “Aku tidak tahu, sungguh aku tidak tahu. Lukisan itu... lukisan itu diambil oleh Xiao Zhan, sepertinya diberikan kepada seorang tokoh besar di Ibu Kota.”
“Cis!”
Jiang Chen memungut pisau pegas di atas ranjang, lalu menebaskannya ke pergelangan tangan Xiao Ruoran. Sekali ayun, tangan terputus. Darah muncrat ke mana-mana.
Xiao Ruoran membuka mulut lebar-lebar menahan sakit, tapi tak mampu berteriak, wajahnya meringis menakutkan, tubuhnya gemetar hebat. Jiang Chen lalu mengambil beberapa jarum perak dan menusukkannya ke tubuh Xiao Ruoran. Karena belum mendapat keterangan tentang Lukisan Hunian Bunga Bulan, Xiao Ruoran tidak boleh mati.
Setelah jarum ditancapkan, meski tangan Xiao Ruoran sudah terpotong, darahnya tak banyak mengalir. Namun rasa sakitnya tetap terasa. Siksaan ini sungguh tak mampu ditahan manusia biasa.
Pada saat itu, ia berharap bisa mati saja. Tapi Jiang Chen benar, sekarang ia tak bisa hidup, tak bisa pula mati. Jiang Chen kembali duduk, memandang Xiao Ruoran yang sudah seperti anjing kehilangan rumah, lalu berkata dingin, “Semua penderitaan yang kau alami sekarang belum cukup membayar dosa-dosamu. Aku tanya sekali lagi, di mana Lukisan Hunian Bunga Bulan?”
“Aku... aku... ti-tidak tahu,” gigi Xiao Ruoran gemeretuk, bahkan bicara pun tak lancar.
Jiang Chen mengerutkan kening. Orang biasa yang disiksa sedemikian rupa pasti akan mengatakan apa saja demi bertahan hidup. Namun sekarang Xiao Ruoran tetap mengatakan tidak tahu, mungkinkah ia benar-benar tak tahu di mana lukisan itu?
Lukisan Hunian Bunga Bulan adalah pusaka keluarga Jiang, diwariskan turun-temurun. Sebelum meninggal, kakeknya pernah berkata, keluarga Jiang boleh hancur, tapi lukisan itu tak boleh hilang.
“Aku mohon, lepaskan aku, sungguh aku tidak tahu,” tubuh Xiao Ruoran bergetar, suaranya bergetar hebat. Saat itu kepalanya terasa pusing, tapi ia tak bisa benar-benar pingsan. Seluruh wajah dan tangannya diliputi rasa sakit yang begitu hebat, seolah hidup dan mati silih berganti.
Jiang Chen adalah iblis, ia benar-benar ketakutan dan terus-menerus memohon ampun.
“Hari ini nyawamu masih aku simpan. Aku beri kau waktu, cari tahu keberadaan Lukisan Hunian Bunga Bulan. Aku akan datang lagi. Jika saat itu kau masih tidak tahu, aku akan membuatmu merasakan apa itu keputusasaan yang sesungguhnya.”
Jiang Chen berdiri, lalu berjalan ke tepi ranjang dan menarik Zhang Changtian yang berjongkok di sudut ruangan, tubuhnya gemetar hebat.
Zhang Changtian begitu ketakutan hingga pipis di celana, lantai di bawahnya basah. “Bu-bukan urusanku, a-aku tidak tahu apa-apa,” ia terus memohon ampun dengan suara bergetar.
“Anggap saja kau tak melihat apa-apa hari ini. Jika sampai ada yang bocor ke luar dan terjadi sesuatu, kau pasti tahu akibatnya.” Ekspresi Jiang Chen tetap dingin. Ia tahu jelas mana kawan, mana lawan. Zhang Changtian tidak ada urusan dengannya, ia pun tidak ingin membunuhnya.
Jiang Chen kembali menatap Xiao Ruoran yang tergeletak di ranjang seperti anjing sekarat. “Kau pasti sangat ingin tahu siapa aku sekarang. Tak apa, aku akan memberitahu. Aku adalah Naga Hitam dari Selatan, panglima tertinggi pasukan Naga Hitam, sejuta pasukan di bawahku. Bukan hanya Xiao Zhan, bahkan Raja Xiaoyao pun di hadapanku, kalau ingin kubunuh, maka akan kubunuh.”
Jiang Chen meninggalkan kata-kata itu, lalu berbalik dan pergi. Ia sengaja mengungkapkan identitasnya untuk memberi tekanan pada Xiao Ruoran agar secepatnya mencari keberadaan Lukisan Hunian Bunga Bulan.
Setelah ia pergi, ruangan itu hanya menyisakan tangis pilu Xiao Ruoran. Tubuhnya terus bergetar.
“Naga... Naga Hitam, Panglima Selatan, salah satu dari Lima Panglima Besar?” Ia tak bisa mempercayainya.
Bagaimana mungkin anak lelaki keluarga Jiang sepuluh tahun lalu, kini berubah menjadi Naga Hitam dari Selatan yang namanya mengguncang dunia?
Walau ia bukan tentara, kakak keempatnya adalah seorang perwira dengan pangkat tinggi. Ia pun pernah mendengar Xiao Zhan membicarakan tentang Lima Panglima Besar.
Naga Hitam adalah panglima yang diangkat paling akhir, baru satu tahun. Namun ia adalah yang paling ditakuti di antara Lima Panglima Besar. Kekuatan dan kemampuannya di luar nalar. Selain itu, ia juga seorang tabib sakti.
Mengingat kembali identitas Jiang Chen, tubuhnya tak bisa berhenti bergetar. Tak pernah ia duga, Jiang Chen yang dulu kini berstatus begitu menakutkan. Pantas saja setelah membunuh Xiao Zhan, Raja Xiaoyao tak berani menuntut. Ternyata pembunuh Xiao Zhan adalah Naga Hitam yang bahkan ditakuti Raja Xiaoyao.
Melihat Jiang Chen pergi, barulah Zhang Changtian menghela napas lega. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat. Melihat Xiao Ruoran yang tergeletak di ranjang dengan wajah penuh luka dan tangan terpotong, ia kembali gemetar, lalu buru-buru hendak kabur.
“Ja-jangan pergi! T-tolong aku, bawa aku ke rumah sakit, a-aku punya uang, akan kuberi kau uang!”
Tadi, Xiao Ruoran ingin mati. Tapi saat Jiang Chen pergi, ia tak ingin mati, ia ingin hidup.
Mendengar kata “uang”, Zhang Changtian langsung berhenti. Dalam hati ia berpikir, Jiang Chen tadi berpesan agar Xiao Ruoran jangan sampai mati. Jika ia pergi lalu Xiao Ruoran mati, Jiang Chen marah, ia pun akan celaka. Lagi pula, ia bisa dapat uang jika menolong Xiao Ruoran.
Pikiran itu membuatnya langsung mengambil ponsel dan menelepon layanan gawat darurat.
Sementara itu, setelah meninggalkan vila Xiao Ruoran, Jiang Chen mengenakan topeng lagi. Ia pun mendatangi keluarga Wang, keluarga Zhao, dan keluarga Zhou.
Fajar baru saja merekah.
Di sungai, di makam keluarga Jiang.
Di depan makam Jiang Tian.
Kini di sana ada tiga kepala manusia yang berlumuran darah.
Jiang Chen berlutut di depan makam Jiang Tian.
“Kakek, Xiao Bihe sudah mati, Wang Yonggui sudah mati, Zhao Jingshan sudah mati, Zhou Deping sudah mati. Semua dalang utama yang dulu datang ke keluarga Jiang dan membakar keluarga kita kini sudah mati. Kakek, cucumu ini memang belum mampu menemukan keberadaan Lukisan Hunian Bunga Bulan.”
“Tapi, kakek jangan khawatir. Cucu pasti akan menemukan kembali lukisan itu.”
“Meski dalang utama dari Empat Keluarga Besar sudah mati, cucu tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja. Aku ingin mereka tahu apa itu keputusasaan, membuat mereka tak bisa hidup, tak bisa mati, menyiksa mereka sampai mati untuk menenangkan arwah keluarga Jiang.”
Jiang Chen berlutut di depan makam Jiang Tian, air matanya membanjiri wajah.
Ia adalah Naga Hitam dari Selatan, bahkan di medan perang menghadapi ribuan pasukan, ia tak pernah meneteskan air mata.
Karena laki-laki menumpahkan darah, bukan air mata.
Namun kali ini ia menangis, menangis hingga jadi lautan air mata.
Meski kini ia adalah Naga Hitam yang berjaya, tiada seorang pun tahu apa yang telah ia lalui selama sepuluh tahun terakhir.
Sepuluh tahun lalu, ia terbakar dalam kobaran api, menyaksikan sendiri keluarga tercintanya meraung kesakitan di dalam api, melihat air mata mereka, ekspresi putus asa dan tak berdaya.
Peristiwa itu tak akan pernah ia lupakan seumur hidup.
Di saat ia benar-benar putus asa, seorang gadis berambut kuncir kuda menerobos masuk, tanpa peduli bahaya melepaskan ikatan di tubuhnya, menyeretnya keluar dari lautan api.
Setelah berhasil keluar, ia melihat pakaian gadis itu pun terbakar. Namun ia lebih dulu menyelamatkan diri dengan melompat ke sungai, meninggalkan gadis itu.
Selama sepuluh tahun, ia terus merasa bersalah dan menyesal.
Ia memikul dendam, dari seorang prajurit kecil perlahan naik menjadi Naga Hitam, semua demi hari ini.
Membalas budi, membalas dendam.
Kini para musuh telah mati, tapi amarah dalam hatinya belum juga padam.
Empat Keluarga Besar telah berbuat dosa, mereka harus menerima hukuman.
Selain itu, dari penuturan Xiao Ruoran, ia bisa memperkirakan bahwa dalang sesungguhnya penghancur keluarga Jiang adalah orang dari Ibu Kota.
Orang ini mengincar Lukisan Hunian Bunga Bulan.
Ia mengepalkan tinjunya erat-erat.
“Kakek, siapa pun yang telah merebut Lukisan Hunian Bunga Bulan, suatu hari nanti cucu pasti akan membawa kepalanya ke makam ini untukmu.”
Semua derita dan siksaan selama sepuluh tahun terakhir, kini luruh menjadi air mata yang jatuh ke tanah.