Bab Lima Puluh Tujuh: Adu Argumen
Membeli alat jiwa yang konon sangat kuat seharga 2500 koin jiwa emas, alis Qian Mengyi sama sekali tak menunjukkan keraguan. Toh, kami ini anak orang kaya. Xiao Wu yang berdiri di sampingnya tampak agak kesal dan menepuk lengan Qian Mengyi, “Kamu pakai uang sebanyak itu buat beli barang ini, lalu bagaimana dengan wortelku?”
Qian Mengyi menepuk tangan Xiao Wu dengan lembut dan menenangkan, “Jangan khawatir, rumah lelang ini milik Kuil Jiwa, jadi kalaupun kita berhutang sekarang, tidak masalah.”
Xiao Wu pun akhirnya merasa lega. Itu adalah makanan lezat yang sudah bertahun-tahun tak pernah ia cicipi! Ia tidak akan melewatkannya begitu saja.
Harga fantastis 2500 koin jiwa emas sontak membakar semangat para bangsawan yang hadir di balai lelang. Satu per satu mereka mengangkat papan tawaran, namun tak satu pun yang melampaui harga itu.
“Baiklah, lelang kita malam ini hampir mencapai puncaknya. Selanjutnya adalah barang pamungkas yang menjadi andalan rumah lelang kami!”
Seorang gadis pembawa acara yang anggun berjalan ke atas panggung sambil mendorong sebuah troli. Semua mata tertuju pada troli yang ia bawa, bukan pada dirinya.
Sesuatu yang ditutupi kain sutra merah terang itu secara alami membangkitkan rasa ingin tahu para hadirin.
Tanpa banyak basa-basi, sang pelelang menghampiri troli, menggenggam kain penutup itu, lalu menariknya dengan cepat ke belakang.
Tampaklah lima buah wortel berkilau, sebening giok zamrud. Jernih seolah kristal, permukaannya halus dan mengilap, memancarkan pesona seperti batu giok paling indah.
Sang pelelang berkata dengan bangga, “Inilah barang pamungkas lelang kita, Wortel Kristal! Lima buah wortel kristal ini ditemukan oleh seorang Dewa Jiwa di kedalaman Hutan Bintang, dengan mempertaruhkan nyawanya. Kalian bisa melihat, lima wortel ini sebening kristal, permukaannya sehalus batu giok putih. Setiap buah di dalamnya dipenuhi kekuatan jiwa yang sebanding dengan binatang jiwa berusia ribuan tahun. Jika seorang Guru Jiwa memakannya dan menyerap kekuatan jiwa tak bertuan itu, ia akan segera menembus batas kekuatannya. Bagi mereka yang lama terhenti di satu tingkat, wortel ini bisa jadi kunci untuk menembus hambatan tersebut. Benda berharga ini amat langka, siapa tahu kapan lagi akan muncul! Mari kita mulai!”
Beberapa orang di bawah panggung yang mendengar bisa menerobos batasan bertahun-tahun, matanya memancarkan cahaya keemasan. Mereka menatap kelima wortel kristal itu seperti elang memangsa.
Banyak yang terhenti karena bakat yang terbatas, tak kunjung bisa naik tingkat. Mereka sangat mendambakan momen terobosan itu, meraih pencerahan, bahkan rela mengorbankan segalanya.
Inilah dunia para Guru Jiwa. Kekuatan adalah segalanya.
Xiao Wu yang duduk di bawah panggung mengangkat dagu, menggerakkan hidungnya, “Benar, ini aroma yang sangat kukenal! Luar biasa, setelah sekian lama akhirnya bertemu lagi!”
Di sudut lain, gadis berambut biru tampak tenang. Wortel kristal adalah salah satu targetnya hari ini. Dengan bantuan ramuan ini, ia yakin bisa menembus tingkat ke-40 dan membawa Kitab Harta Xuantian dalam tubuhnya ke tingkatan lebih tinggi.
Saat itu, ia bisa kembali ke Hutan Bintang untuk berburu cincin jiwa dan menjadi lebih kuat.
Sang pelelang melirik ke bawah. Meskipun ia tak bisa melihat ekspresi para hadirin, ia yakin telah berhasil menarik perhatian semua orang.
Menarik napas dalam-dalam, ia menyeru lagi, “Karena Dewa Jiwa yang menyediakan lima wortel kristal ini sangat membutuhkan uang, maka kelimanya akan dilelang sekaligus. Harga mulai 500 koin jiwa emas!”
Dengan semangat menggebu-gebu, wajahnya memerah, dadanya naik-turun, tubuhnya gemetar. Tapi ia mendapatkan apa yang diinginkannya.
Langsung saja seseorang berseru,
“Aku menawar 550 koin jiwa emas!”
“600 koin jiwa emas!”
“700 koin jiwa emas!”
Xiao Wu pun dengan semangat mengangkat papan tawarannya, “Aku! Aku menawar 1000 koin jiwa emas!”
Setelah jeda singkat, lelang pun makin memanas.
“1200 koin jiwa emas!”
“1500 koin jiwa emas!”
“1800 koin emas!”
Xiao Wu kembali mengangkat papan, “2000 koin jiwa emas!”
Saat itu, ruangan mendadak hening. Semua menoleh ke arah suara itu. Masih pasangan pria wanita yang sama.
2000 koin jiwa emas, bagi banyak orang itu sudah harga maksimal. Bukan tak bisa membayar, tapi konsekuensinya adalah turunnya kualitas hidup untuk waktu yang lama.
Kalau benar-benar nekat, mereka bisa saja mengeluarkannya, tapi benda ini bukanlah jaminan seratus persen. Bagaimana kalau setelah digunakan, tetap gagal menembus batas? Lagi pula, jika berhasil, paling-paling hanya naik satu tingkat. Bisakah menembus tingkat berikutnya? Yang pasti, makin tinggi, makin sulit.
Jadi, di benak banyak orang di ruangan itu, 2000 koin jiwa emas sudah harga tertinggi yang layak.
Tepat ketika sang pelelang hendak mulai menghitung mundur, sebuah suara perempuan terdengar ringan, “2100 koin jiwa emas.”
Gemuruh pun pecah di seluruh ruangan.
“Serius ada yang menawar lagi? Menurutku 2000 koin jiwa emas saja sudah rugi!”
“Siapa bilang tidak? Sebenarnya waktu sudah sampai 1500 koin saja aku sudah menyesal. Soalnya barang ini tidak pasti, dan dengan kemampuanku, mungkin tidak akan ada pengaruhnya.”
“Hei, kalian berdua jangan ribut. Dunia orang kaya memang bukan urusan kita. Kita ini bangsawan kecil, mana tahu isi kepala para bangsawan besar, bukan?”
“Haha, benar juga, bro, kamu dari mana? Nanti kita minum bareng di luar.”
“Minum tidak usah, kan kita belum kenal. Aku penguasa Jalan Selatan Kota Kuil Jiwa. Main-mainlah ke tempatku, ada beberapa rumah hiburan, hahaha...”
“Sudah kuduga, kamu memang saudara sejati! Aku anak Jalan Barat. Di tempatku juga ada beberapa rumah hiburan, kapan-kapan kita tukar pengalaman, hahaha...”
“Siap, bro!... Kita semua sama-sama perantau...”
Namun Xiao Wu tak menggubris bisik-bisik di antara para hadirin. Ia sudah menantang lawan di seberangnya, dua gadis saling adu suara.
“2200 koin jiwa emas!”
“2300 koin jiwa emas!”
“Aku menawar 2400 koin jiwa emas!”
Tang Yin menggigit bibir, ragu sesaat, lalu dengan suara mantap menyebut, “2500 koin jiwa emas!”
Itu harga terakhirnya. Baru saja Qian Mengyi memenangkan barang dengan harga itu. Setelah dipotong komisi rumah lelang dan ditambah tabungannya, itulah seluruh hartanya.
Namun ia tetap tenang. Meski harus menghabiskan semua uang itu, ia takkan jatuh miskin. Besok ia masih akan melelang dua alat Jiwa Lian Nu miliknya. Saat itu ia akan untung lagi.
Ketika Xiao Wu hendak mengangkat papan, ia ragu. Ia baru teringat bahwa Qian Mengyi sudah menghabiskan 2500 koin jiwa emas sebelumnya. Bagaimana kalau mereka berdua tak cukup uang? Betapa malunya nanti, tak akan berani muncul di depan orang lagi!
Dengan ragu ia memandang Qian Mengyi.
Qian Mengyi: Aduh, kakak, akhirnya kamu ingat juga! Semua aksi barusan benar-benar di luar dugaanku! Apa kamu tidak pernah memikirkan dompet pasanganmu sebelum menghabiskan uang?
Namun Qian Mengyi tetap memberikan tatapan penuh semangat.
Pria tak boleh mundur di depan wanita. Itu tanda kelemahan dan akan meninggalkan kesan buruk di hatinya.
Mendapatkan isyarat itu, Xiao Wu menegakkan punggung, mengangkat dagu dengan bangga seperti seekor ayam jantan, lalu mengangkat papan tawaran, “2600 koin jiwa emas!” Suaranya jernih dan nyaring di tengah keheningan ruangan lelang.
Tubuh Tang Yin bergetar, tubuh yang tadinya tegang langsung mengendur, hati yang was-was akhirnya lega.
“Huft~”
Ia menghela napas panjang.
Jujur saja, dalam beberapa detik keheningan tadi, ia sempat menyesal. Apakah benar-benar sepadan menghabiskan uang sebanyak ini untuk lima buah wortel? 2500 koin jiwa emas! Sejak tiba di dunia ini, belum pernah melihat uang sebanyak itu.
Untungnya, orang lain sudah membuat keputusan untuknya.
Namun, perasaan tak rela tetap mengusik pikirannya.
Mengapa? Mengapa lima ramuan langka itu bukan miliknya?