Bab Empat Puluh: Batu Kebangkitan
Tepat ketika Tang San bersiap untuk berbalik dan pergi, Tang Qingwei menarik ujung bajunya.
Tang San memandang adiknya dengan bingung. Tang Qingwei tidak memberikan penjelasan, melainkan melangkah ke depan Matheo Nuo dan dengan wajah penasaran menunjuk ke batu hitam di dinding, sambil memiringkan kepala kecilnya bertanya, "Kakek Matheo Nuo, batu-batu hitam di dinding itu, apakah untuk membangkitkan Roh Bela Diri kita?"
Matheo Nuo mengikuti arah telunjuknya dan mengangguk, "Memang benar, itu batu untuk membangkitkan Roh Bela Diri, kenapa?"
Tang Qingwei menghitung dengan jarinya, lalu agak malu-malu menggeliat dan berkata, "Itu... bolehkah aku membelinya? Pakai uang... subsidi emasku."
Matheo Nuo tertegun mendengarnya, lalu segera tersenyum, "Batu itu sangat murah, selain untuk membangkitkan Roh Bela Diri tak ada kegunaan lain. Satu keping emas saja cukup untuk membeli semua batu di ruangan ini. Kalau kamu mau, Kakek kasih saja beberapa untuk kamu mainkan."
Saat itu hati Tang Qingwei sudah dipenuhi kegembiraan yang luar biasa.
Tak disangka, dugaannya ternyata benar!
Sebelumnya ia memang sempat menebak, meski tak berani memastikan, dan kini terbukti kenyataannya. Benda itu memang sangat mudah didapat!
Melihat gadis kecil itu matanya berbinar bahagia, Matheo Nuo pun menggoda sambil tersenyum, "Suka sekali rupanya? Nanti kakek ambilkan beberapa yang besar buat kamu, selama kamu kuat membawanya."
Tang Qingwei tak memperdulikan hal lain, saat ini ia benar-benar bahagia, akhirnya bisa membantu Xiao Lian.
Meskipun Lotus Tujuh Warna tidak bersuara, Tang Qingwei tetap bisa merasakan perasaannya kini sama bahagianya.
Mungkin ini satu-satunya kabar baik yang diperoleh Lotus Tujuh Warna sejak tiba di daratan ini.
"Terima kasih, Kakek Matheo Nuo!" seru Tang Qingwei sambil membungkuk penuh syukur.
Tang San memang belum tahu untuk apa adiknya menginginkan batu itu, tapi ia tetap mencatat hal ini!
Apa pun yang diinginkan adiknya, ia akan berusaha memenuhinya sepenuh hati.
Ketika Tang San dan Tang Qingwei meninggalkan Aula Roh Bela Diri, selain masing-masing menggenggam sebuah lencana khusus buatan Aula Roh Bela Diri, sisanya hanyalah batu-batu hitam untuk membangkitkan Roh Bela Diri.
Tang Qingwei sangat gembira, bersama Tang San ia berlari cepat menuju Akademi Notting. Berkat petunjuk Matheo Nuo, kali ini mereka menempuh jalan pintas yang memangkas setidaknya setengah waktu perjalanan.
Setibanya di akademi, mereka langsung membawa batu-batu itu menuju asrama Ketujuh.
"Heh, dua orang di sana yang memeluk batu, tampang miskin sekali, pasti pekerja paruh waktu di asrama Ketujuh kalian, ya?"
Yang berkata itu mengenakan seragam Akademi Guru Jiwa Pemula Notting, tubuhnya tinggi tegap, meski wajahnya masih kekanakan, namun sosoknya sudah mulai dewasa.
Wajahnya cukup tampan, tapi kini dipenuhi rasa hina dan angkuh.
Awalnya Tang Qingwei berniat mengabaikan saja dan langsung kembali ke asrama.
Namun salah satu pengikut pemuda itu merasa tak dihargai karena mereka tak dihiraukan.
Tanpa banyak bicara, ia langsung mengayunkan tongkatnya ke bahu Tang Qingwei!
"Hati-hati!"
Wang Sheng yang melihat Liu Long tiba-tiba menyerang Tang Qingwei dengan tongkat, langsung marah besar.
Biadab!
Anak perempuan sekecil itu, tega dipukul begitu saja.
Tak menyangka lawannya menyerang tanpa peringatan, Tang Qingwei spontan mengangkat batu di pelukannya untuk menahan.
"Krakk!"
Suara retakan yang nyaring terdengar, batu hitam di tangan Tang Qingwei pun pecah menjadi beberapa bagian.
Tang Qingwei merasa seolah bukan batu yang pecah, melainkan juga suasana hatinya saat baru mendapatkan batu itu.
Orang itu agak terkejut karena Tang Qingwei mampu menahan serangannya, namun segera mengangkat tongkat panjangnya sekali lagi dan kembali mengayunkannya ke arah Tang Qingwei.