Bab Delapan: Perjalanan
Selama hidupnya, Tang Hao belum pernah melihat benda seajaib ini.
“Boleh... boleh aku menyentuhnya?” tanya Tang San dengan mata berbinar.
“Tentu saja, kau bahkan bisa naik di atasnya.” Sambil berkata demikian, ia memanggil Awan Penakluk untuk membawa Tang San.
Saat itu, Tang San sama sekali tak tampak dewasa dan tenang seperti biasanya. Ia berubah menjadi anak kecil yang ceria dan penuh semangat. Awan Penakluk pun melesat di udara membawa Tang San, membuat tawa riangnya menggema tanpa henti. Setelah terbang cukup lama, barulah Tang San melompat turun dengan wajah puas namun masih ingin lagi.
Tang Hao, sejak melihat putranya terbang, sudah sangat ingin mencobanya juga. Mana mungkin seorang pria tak pernah bermimpi terbang di angkasa? Ketika akhirnya anaknya selesai bermain, ia berpikir, sekarang pasti gilirannya. Tapi ia menunggu lama, si gadis kecil tak juga mengundangnya. Tang Hao melirik ke arah Tang Qingwei, yang saat itu sedang asyik bercakap-cakap dengan kakaknya, seolah sudah melupakan dirinya.
Tang Hao mengepalkan tangan dan menutup mulutnya, berdeham pelan, berharap menarik perhatian Tang Qingwei. Namun gadis kecil itu sama sekali tak menggubris, bahkan berbicara makin semangat. Ia pun berdeham lebih keras beberapa kali hingga akhirnya mereka berdua memperhatikannya.
Tang San segera mendekat dengan wajah penuh kekhawatiran, “Ayah, apa kau kurang sehat?”
Tang Qingwei juga menatapnya cemas. Hal ini membuat wajah Tang Hao memerah, sedikit malu untuk bicara.
Namun keinginannya untuk terbang semakin kuat. Maka ia bertanya pura-pura santai, “Bagaimana rasanya naik awan tadi?”
Mendengar pertanyaan itu, Tang San semakin bersemangat. Ia menceritakan pengalamannya dengan heboh, tangan dan kaki bergerak-gerak penuh antusias.
Tapi siapa yang mau mendengar ceritamu? Tang Hao jadi semakin penasaran! Kenapa gadis kecil itu belum juga mengundangnya? Kalau saja ia diundang, ia pasti dengan senang hati, walau harus berpura-pura setuju. Ia diam-diam melirik gadis kecil itu, namun ternyata ia sudah asyik bermain sendiri.
Tak bisa dibiarkan, pikirnya. Ia harus bertindak lebih aktif. “Itu... awan yang tadi itu, bisa menahan beban seberat apa? Kalau orang dewasa sebesar aku, apa masih bisa?”
"Kali ini kodeku sudah cukup jelas, kan?" pikir Tang Hao sambil menatap Awan Penakluk tanpa berkedip.
Mendengar itu, Tang Qingwei menoleh, heran. Masa iya dia ingin menaiki juga? Tapi kemudian ia menggeleng keras—tak mungkin, Tang Hao bisa berdiri di udara, mana mungkin ia tertarik dengan barang kecilnya ini. Pasti cuma penasaran soal daya tahannya.
Maka ia pun memerintahkan Awan Penakluk untuk mengangkut sebuah batu besar di samping mereka, yang beratnya jelas dua kali Tang Hao.
Setelah selesai, Tang Qingwei menatap Tang Hao dengan bangga.
Tang Hao sampai putus asa dengan cara berpikir gadis kecil itu!
Bagaimana mungkin keturunan Sekte Langit Suci sepolos ini? Sudah begitu jelas ia memberi isyarat, masih juga tak mengerti. Masa iya ia, orang dewasa, harus terang-terangan bilang ingin naik? Tidak mungkin! Harga dirinya di mana? Tang Hao sampai ingin memukul sesuatu karena kesal—gadis kecil ini sungguh terlalu polos!
Untunglah, di saat genting, Tang San menangkap maksud ayahnya. Benar-benar pantas jadi ayah dan anak. Ia pun langsung mengusulkan, “Weiwei, izinkan juga Ayah mencoba.”
Tang Qingwei refleks ingin menolak, tapi kali ini Tang Hao lebih cepat berkata, “Ya, boleh juga aku coba.”
Tang Qingwei tertegun. Hah? Jangan-jangan dugaannya benar? Ternyata dia benar-benar ingin menaiki Awan Penakluk. Ia pun teringat berbagai tingkah Tang Hao barusan dan tak tahan untuk tertawa geli.