Bab Enam: Palu Agung Langit

Dunia Roh: Aku Adik Perempuan Tang San Mengirimkan sebuah bintang kecil 1506kata 2026-03-04 05:42:02

“Kalian sudah pulang?” Suara Tang Hao terdengar dari dalam rumah. Tak lama kemudian, tirai pintu dalam diangkat dan ia berjalan keluar perlahan.

Tang Hao duduk di bangku, menuangkan segelas air untuk dirinya sendiri dan bertanya, “Roh bela diri kalian apa saja?”

“Adik perempuanku punya bunga kecil, aku punya rumput biru perak,” jawab Tang San sambil mengangkat Tang Qingwei ke bangku, lalu duduk di sebelahnya.

Ekspresi acuh tak acuh Tang Hao berubah seketika saat mendengar roh bela diri rumput biru perak. Tubuhnya bergetar, dan seberkas cahaya istimewa melintas di matanya.

Perubahan ekspresi Tang Hao begitu jelas, sulit untuk tidak memperhatikannya.

Tang Qingwei pun bisa menebak apa yang akan dikatakan Tang Hao setelah ini, maka ia lebih dulu berkata, “Ayah, aku masih punya satu roh bela diri lagi.”

Begitu kata-katanya terucap, ia langsung berhadapan dengan dua pasang mata, satu besar satu kecil.

Tang Qingwei tidak mempermasalahkannya. Ia mengulurkan tangan kanan, dan cahaya hitam pekat perlahan memancar dari telapak tangannya, lalu membentuk sebuah palu kecil yang mungil dan indah.

Itu adalah sebuah palu hitam legam, gagangnya sekitar setengah kaki, kepala palu berbentuk silinder, mirip palu tempa berukuran mini. Namun, di permukaan palu itu berkilau sinar istimewa, dan di kepala palu yang silinder melingkar garis-garis samar.

Keduanya tertegun, tak bisa berkata-kata.

“Itu... itu...” Tang Hao melangkah cepat ke hadapan Tang Qingwei, menggenggam tangan putrinya yang memegang palu itu, tangan tuanya bergetar karena terlalu bersemangat.

Hati Tang Hao benar-benar terguncang. Gadis kecil ini ternyata mewarisi darah keluarga, hanya saja ia tak tahu apakah ayah atau ibunya yang berasal dari Sekte Haotian, atau mungkin keduanya.

Tak disangka, keluarga mereka memiliki anak-anak yang begitu luar biasa, roh bela diri kembar!

Tang San juga sangat terkejut, tak menyangka adik perempuannya membangkitkan palu yang persis sama dengannya. Ia pun mengulurkan tangan kanan, berkata, “Ayah, aku juga punya dua roh bela diri.”

Tampak di telapak tangan kanan Tang San, muncul palu kecil yang sama persis dengan milik Tang Qingwei.

Kali ini, wajah Tang Hao berubah sangat serius. Tatapannya pada Tang San membara penuh emosi.

“Roh bela diri kembar! Lagi-lagi roh bela diri kembar...” gumamnya.

Tiba-tiba, Tang Hao merentangkan kedua lengannya yang kekar, merangkul erat Tang San dan Tang Qingwei ke dalam pelukannya.

Tanpa diduga, Tang Qingwei mendapat pelukan ayahnya. Setidaknya untuk sepuluh tahun ke depan, ia takkan iri pada ayah orang lain lagi.

Sial, hampir saja ia mati lemas karena pelukan ini, hidungnya penuh dengan bau keringat.

Ia melirik diam-diam ke arah Tang San, yang selain tampak canggung, lebih banyak menunjukkan kegembiraan yang sulit ditahan. Jelas sekali, ia sangat menyukai pelukan ayahnya.

Tidak heran, baik di kehidupan sebelumnya maupun sekarang, Tang San sangat jarang merasakan kasih sayang keluarga.

Yasudah, ia pun tak berontak. Demi kakaknya, ia rela menahan bau keringat ini.

Butuh waktu lama sampai Tang Hao menenangkan diri, melepaskan mereka, lalu menatap putranya dengan serius, “Ingat, di masa depan, gunakan palu di tangan kirimu untuk melindungi rumput di tangan kananmu, selamanya.”

Setelah itu, ia menatap mereka berdua dengan sungguh-sungguh, “Kuharap, bagaimanapun cara kalian berlatih kekuatan jiwa, kalian janji pada Ayah, jangan pernah menambahkan cincin jiwa pada roh palu itu, dan jangan pernah memperlihatkannya di luar! Yang paling penting, jangan biarkan orang lain tahu kalian punya roh bela diri kembar, mengerti?”

Tang San memang tak paham maksud ayahnya, tapi ia tahu ayahnya pasti ingin yang terbaik untuknya, jadi ia mengangguk setuju.

Melihat Tang San sudah mengangguk, Tang Hao menatap Tang Qingwei sampai ia juga mengiyakan, barulah ia kembali ke dalam rumah dengan wajah serius.

Tang Qingwei mengulurkan telunjuknya, mencolek pipi Tang San yang masih tercengang, “Sadar, dong. Aku lapar, cepat masak.”

Tang San mengacak rambut adiknya dengan penuh kasih, tersenyum, “Baiklah! Aku masak sekarang!”

Setelah Tang San pergi, ia mengangkat bunga tujuh warna di tangan kirinya, mengamati dengan saksama.

Bunga itu benar-benar mirip ilustrasi bunga tujuh warna di buku pelajaran SD-nya.

Ia terhanyut memperhatikan, lalu muncul dugaan berani. Diam-diam ia keluar rumah, memastikan tak ada siapa pun di sekitar.

Barulah ia hati-hati memetik satu kelopak merah dari bunga tujuh warna itu, dan berbisik, “Aku ingin menjadi dewa!”

“Tapi yang kau dapat malah kentut!” tiba-tiba terdengar suara anak kecil di benaknya.