14. Menangis karena Marah
Halaman (1/3)
“Semua gara-gara Bibi Kecil yang mulutnya seperti burung gagak.” Belakangan ini hubungan kedua bibi dan keponakan itu cukup baik. Songzi masih kecil dan belum bisa mengingat banyak hal, sehingga ia sudah hampir melupakan perangai buruk Liang Qingqing dahulu. Karena itu, sekarang ia bahkan sudah berani menggodanya.
Putranya mungkin sudah lupa, tetapi Liang Shuqiang tidak. Ia lebih dulu melirik raut wajah adiknya. Setelah memastikan tidak ada yang aneh, ia menurunkan Songzi dari gendongannya.
“Jelas-jelas kau sendiri yang tidak melihat jalan. Batu sebesar itu pun tidak kelihatan? Masih menyalahkan Bibi Kecilmu. Tidak malu?”
“Benar, benar.” Sambil mengiyakan, Liang Qingqing berjalan mendekat dan menjulurkan lidah kepada Songzi. Baru setelah berhasil membuat Songzi menundukkan kepala karena malu, ia menoleh kepada Liang Shuqiang dan menyapa dengan patuh, “Kakak Sulung.”
Meski Liang Shuqiang dan Liang Junqiang hanya terpaut beberapa tahun, perangai mereka benar-benar bertolak belakang. Yang satu pendiam, bahkan agak kolot, sementara yang lain periang sampai terkadang menjengkelkan. Karena itulah Ma Xiuzhi sesekali menggerutu bahwa ayah Liang dulu tidak pandai memilih nama untuk kedua putranya. Seandainya sifat mereka bisa sedikit diseimbangkan, alangkah baiknya.
“Berikan barangnya, biar Kakak yang membawakan.” Melihat Liang Qingqing menggendong sebuah tas, Liang Shuqiang segera mengulurkan tangan untuk mengambilnya.
Ada yang bersedia membawakan barangnya, tentu saja Liang Qingqing sangat senang. Setelah kedua tangannya kosong, ia sekalian menggandeng Songzi. Pada awalnya bocah itu masih malu-malu dan bersembunyi di belakang, tetapi setelah menyadari bahwa ia tidak bisa melepaskan diri, ia mencoba menggenggam balik tangan Liang Qingqing dengan telapak tangannya yang gemuk.
Songzi diam-diam mendongak menatap Liang Qingqing. Dalam hati ia tak kuasa menggumam, tangan Bibi Kecil begitu lembut, tubuhnya juga harum sekali, Bibi Kecil benar-benar cantik...
“Kenapa kalian ada di sini?” Mereka tampak seperti sengaja menunggunya.
“Sebentar lagi gelap. Ibu tidak tenang, jadi menyuruhku menjemputmu. Kebetulan Songzi mendengarnya, lalu menangis dan merengek ingin ikut.” Saat teringat bagaimana Songzi menangis dan mengamuk, sudut bibir Liang Shuqiang sedikit terangkat.
“Aku tidak menangis!” Karena aibnya dibongkar oleh ayah kandungnya sendiri, seluruh wajah bulat Songzi memerah.
Liang Qingqing tertawa terbahak-bahak. Pada saat yang sama, kehangatan mengalir dari lubuk hatinya. Perasaan ketika selalu ada orang yang memedulikan dan mengingat dirinya ternyata sungguh menyenangkan.
“Aku hanya berkeliling lebih lama di kota.”
“Berjalan-jalan lebih banyak bisa membuat pikiran lega. Kalau akhirnya bisa memahami beberapa hal, itu sudah bagus. Kakak Sulung merasa lega.”
Jelas sekali Ma Xiuzhi telah menceritakan kepada seluruh keluarga tentang urusan “patah hati” yang dialami Liang Qingqing. Kalau tidak, dengan perangai Liang Shuqiang, bagaimana mungkin ia bisa mengucapkan kata-kata yang begitu penuh perhatian?
Mendengar itu, Liang Qingqing hanya tertawa kering dua kali dan tidak tahu harus menjawab apa.
Untungnya, Liang Shuqiang memang bukan orang yang banyak bicara. Sepanjang perjalanan pulang, Liang Qingqing lebih sering bermain-main dengan Songzi. Baru saja mereka tiba di depan halaman, mereka melihat Ma Xiuzhi sedang memberi makan ayam. Tatapannya sesekali melayang ke arah luar. Begitu melihat mereka, raut wajahnya jelas mengendur.
“Sudah pulang? Begitu ayahmu kembali dari lahan jatah keluarga, kita langsung makan.”
Setelah itu, ia menoleh dan bertanya, “Qingqing, tadi di kota pergi bermain ke mana?”
“Aku hanya berkeliling tanpa tujuan, tidak bermain ke mana-mana.” Liang Qingqing meminta Liang Shuqiang membawakan tasnya masuk ke rumah, lalu berdiri di samping Ma Xiuzhi sambil memperhatikannya memberi makan ayam.
Bubur encer yang dibuat dari daun sayur busuk dan beberapa ubi jalar busuk dituangkan ke atas selembar anyaman bambu besar. Dua ekor ayam betina besar itu pun segera berebut mematuk makanan.
Kedua ayam betina besar itu adalah harta keluarga. Siapa pun boleh kelaparan, tetapi mereka tidak boleh sampai kekurangan makanan.
Pada masa itu, segala sesuatu mengutamakan kepemilikan bersama. Setiap keluarga paling banyak hanya boleh memelihara dua ekor ayam. Lebih dari itu tidak diizinkan. Ayam-ayam tersebut juga bukan dipelihara untuk disembelih dan dimakan dagingnya, melainkan untuk menghasilkan telur.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Telur adalah barang berharga. Jika sudah terkumpul dalam jumlah tertentu, telur-telur itu bisa dibawa ke toko koperasi pemasok di kabupaten untuk ditukar dengan uang. Bagi keluarga pedesaan, itulah salah satu dari sedikit sumber pendapatan penting.
Setelah beberapa saat, Liang Xueyong juga pulang dari lahan jatah keluarga.
Seluruh keluarga duduk mengelilingi meja di dapur. Ma Xiuzhi, sebagai pengurus rumah tangga, bertugas membagi makanan. Menu hari itu masih nasi kering yang dimasak bersama kentang dan biji-bijian campuran. Rasanya tidak bisa dibilang enak, tetapi cukup mengenyangkan.
Lauknya adalah labu kundur tumis cabai, terung, serta sup oyong dan telur.
Disebut sup oyong dan telur, tetapi sebenarnya hanya ada sebutir telur di dalamnya. Telur itu dikocok hingga hancur dan disamarkan di dalam sepanci besar kuah. Kalau tidak memperhatikan baik-baik, nyaris tidak akan terlihat.
“Sudah, cepat makan.”
Keluarga Liang tidak memiliki aturan bahwa perempuan tidak boleh makan di meja. Para suami duduk berdampingan dengan istri masing-masing, sedangkan Liang Qingqing yang belum menikah duduk di samping Songzi, si anak kecil. Meja besar itu pun penuh sesak oleh mereka.
Setelah makan dimulai, untuk sesaat seluruh dapur hanya dipenuhi suara sumpit beradu dengan mangkuk.
Sepanjang hari semua orang bekerja keras di ladang, demi dapat berkumpul menikmati makanan hangat bersama keluarga!
Nafsu makan Liang Qingqing kecil. Bahkan setelah kelaparan seharian, ia tetap menjadi orang pertama yang meletakkan sumpit. Namun, setelah selesai makan, ia tidak langsung pergi. Ia menunggu sampai semua orang hampir selesai, lalu berlari kembali ke kamar dan mengambil sebungkus kue bolu telur.
“Jangan pergi dulu. Aku punya sesuatu untuk kalian. Masing-masing satu.”
Ia sudah menghitungnya sejak awal. Ada sepuluh kue bolu telur. Dua telah dimakannya sebagai makan siang di kota, dan sisanya pas untuk dibagikan satu per satu kepada seluruh anggota keluarga.
Kue-kue bolu telur berwarna kuning keemasan itu diletakkan ke tangan setiap orang. Suasana dapur yang semula ramai perlahan menjadi hening. Raut wajah mereka pun beraneka ragam. Hanya Songzi dan Liang Junqiang yang tampak sangat gembira, tertawa riang sambil berterima kasih kepada Liang Qingqing.
Melihat itu, Liang Xueyong memang ikut senang, tetapi tetap tidak kuasa mengernyitkan dahi. Ia menoleh kepada Ma Xiuzhi dengan tatapan seolah bertanya, “Bukankah katanya kali ini Qingqing tidak diberi uang untuk pergi ke kota? Diam-diam kau memberinya uang, ya?”
Ma Xiuzhi tidak menjawab. Ia sendiri sedang merasa heran. Menatap kue bolu telur yang dibagikan kepadanya, hatinya dipenuhi rasa senang sekaligus rumit. Sebagai ibu, bukankah ia tahu persis berapa banyak uang dan kupon yang dimiliki putrinya?
Liang Qingqing bukan orang yang suka menabung. Berapa pun yang dimiliki selalu dihabiskannya. Bagaimana mungkin ia masih punya simpanan untuk membeli kue bolu telur sebanyak ini?
Ia hendak bertanya dari mana Liang Qingqing mendapatkan uang, tetapi ketika melihat raut wajah orang-orang di sekelilingnya dari sudut mata, ia menahan pertanyaan yang sudah sampai di ujung lidah.
Di sebelah kanannya, pasangan Liang Shuqiang tersenyum lembut. Ada sedikit keterkejutan di mata mereka. Tentu saja, yang membuat mereka terkejut bukanlah dari mana Liang Qingqing mendapatkan begitu banyak uang dan kupon, melainkan karena kali ini, untuk pertama kalinya, ia mau berbagi dengan semua orang.
Setiap kali Liang Qingqing pergi ke kota, ia memang selalu membawa pulang sesuatu. Namun, ia sangat pelit terhadap makanan. Selain dirinya sendiri, jangan harap siapa pun bisa mendapatkan sedikit pun dari tangannya. Sepertinya Ibu benar, adik perempuan mereka perlahan-lahan mulai menjadi lebih dewasa.
Keduanya saling berpandangan, lalu tersenyum lega.
Sementara itu, pasangan Liang Junqiang yang duduk di sisi lain tampak sangat berbeda. Yang satu tersenyum seperti orang bodoh, sedangkan yang satunya lagi tersenyum lebih buruk daripada menangis.
Setelah menahan diri cukup lama, Huang Shumin akhirnya tidak tahan lagi. Ia menjulurkan tangan ke bawah meja dan mencubit paha Liang Junqiang.
Dasar bodoh! Apa yang lucu? Ayah dan Ibu sudah begitu terang-terangan pilih kasih, tetapi dia masih bisa tertawa! Selama ini pembagian makanan memang tidak pernah adil, tetapi kejadian hari ini sudah keterlaluan!
Mereka semua sama-sama keluarga Liang. Namun, jika uang milik dirinya dan suaminya digabung, di saku mereka belum tentu terkumpul beberapa sen. Sementara itu, sekali Liang Qingqing mengeluarkan uang, ia bisa membeli tujuh atau delapan kue bolu telur!
Benar-benar menyebalkan. Membandingkan diri dengan orang lain hanya membuat hati terbakar. Hidup seperti ini benar-benar tidak bisa dijalani lagi!
“Kenapa? Cepat makan.” Liang Junqiang sama sekali tidak menyadari keanehan istrinya. Ia bahkan mendesaknya agar segera makan, dengan sepasang mata besar yang melengkung seperti bulan sabit.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Mendengar itu, Huang Shumin hampir kehabisan napas karena marah. Setelah melotot tajam kepada Liang Junqiang, ia semakin merasa kesal. Ia pun tiba-tiba berdiri dan menyelipkan kue bolu telur miliknya ke tangan Liang Junqiang.
Semula ia ingin langsung meledak dan menumpahkan semua keluhan yang telah dipendamnya selama berhari-hari. Namun, saat melihat sepasang mata yang memandang ke arahnya, ia mendadak tidak sanggup membuka mulut. Setelah tergagap cukup lama, ia akhirnya menahan diri.
“Badanku agak tidak enak. Aku ingin berbaring sebentar di kamar.”
“Padahal tadi baik-baik saja. Bagian mana yang tidak enak? Perlu pergi ke mantri desa untuk diperiksa?” Liang Junqiang segera ikut berdiri. Separuh kue bolu telur yang belum habis masih tergigit di mulutnya, sehingga bicaranya terdengar agak tidak jelas.
Melihat tingkah Liang Junqiang, Huang Shumin hampir dibuat menangis karena kesal. Nada suaranya meninggi.
“Tidak perlu!”
Setelah berkata begitu, ia berlari keluar dengan marah. Di tengah jalan, ia tidak sengaja tersandung kursi yang diletakkan di depan pintu dapur. Diiringi bunyi dentuman keras, tubuh Huang Shumin terhenti sesaat. Kemudian, sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, ia mempercepat langkah dan menghilang dari pandangan semua orang.
Suasana di dalam ruangan seketika menjadi sangat canggung. Bahkan Songzi pun menyadari ada yang tidak beres dan bersembunyi di pelukan Wang Xiaomei.
“Apakah Kakak Ipar Kedua tidak apa-apa? Kakak Kedua, perlu pergi melihatnya?”
Liang Qingqing menggaruk belakang kepalanya. Belakangan ia baru menyadari bahwa mungkin niat baiknya justru menimbulkan masalah. Ia semula berpikir membagikan kue-kue itu di depan semua orang akan lebih baik daripada memberikannya diam-diam satu per satu, sehingga ia memilih waktu setelah makan. Namun, ia tidak menyangka hal itu akan membuat Kakak Ipar Kedua tidak senang.
Alasan ketidaksenangan itu juga mudah ditebak. Jika dikaitkan dengan percakapan yang tanpa sengaja didengarnya pada malam sebelumnya, Huang Shumin pasti merasa kesal karena ayah dan ibu mereka pilih kasih dan diam-diam hanya memberikan uang kepada Liang Qingqing.
Namun, kue-kue bolu telur ini benar-benar bukan dibeli dengan uang dari keluarganya!
Memikirkan hal itu, ia pun berpura-pura tidak sengaja menjelaskan secara singkat dari mana kue-kue tersebut berasal.
“Begitulah kejadiannya.”
Mendengar penjelasan itu, Liang Junqiang mengerutkan dahi dengan marah.
“Untung saja tidak terjadi apa-apa. Kalau tidak, besok aku akan mendatanginya. Orang macam apa dia itu? Hanya karena kita orang desa, mereka berani memandang rendah kita?”
“Bagaimanapun, mereka sudah meminta maaf. Tidak perlu terus memikirkannya.” Liang Qingqing mengangkat bahu. Masalah yang sudah berlalu biarlah berlalu. Untuk apa menambah beban pikiran sendiri?
Liang Junqiang mengangguk dan berdecak kagum beberapa kali. Sebenarnya, ia sama sekali tidak peduli dari mana kue bolu telur itu berasal. Adiknya sudah membagikan makanan kepadanya, dan itu saja sudah membuatnya sangat bahagia. Yang lebih penting sekarang adalah mencari tahu apa yang terjadi pada istrinya.
Karena itu, Liang Junqiang menghabiskan kue bolu telurnya dalam dua-tiga suapan. Sambil berjalan keluar dan bergumam pelan, ia berkata, “Tadi Kakak Iparmu baik-baik saja. Entah kenapa sekarang jadi begini. Aku pergi melihatnya.”
“Tunggu sebentar.” Ma Xiuzhi memanggilnya.
Liang Junqiang menghentikan langkah dan menoleh dengan bingung.
“Ibu, ada apa?”
“Ibu ingin mengatakan sesuatu. Dengarkan baik-baik.” Tatapan Ma Xiuzhi menyapu wajah semua orang yang hadir, lalu akhirnya berhenti pada Liang Qingqing. Dengan suara berat yang meninggi, ia berkata, “Belakangan ini uang dan kupon keluarga sudah hampir habis untuk berbagai macam keperluan. Kalian semua tentu bisa melihatnya sendiri.”
Mendengar itu, semua orang serentak mengangkat kepala. Mereka tidak mengerti mengapa Ma Xiuzhi tiba-tiba membicarakan hal tersebut.
Halaman (3/3)