Bab 160 — Kemunculan Ibu Chu Meng
Chen Yang dan A Dong berdiri di pintu masuk sambil merokok dan menunggu para tamu, sementara yang lain tersebar di sekeliling, mengawasi dengan waspada.
Tak lama kemudian, rombongan tamu pertama tiba. Lima mobil Audi melaju dan berhenti di kaki gunung. Setelah itu, sekelompok pria berpakaian hitam dan berkacamata hitam turun bersamaan dari mobil, menciptakan pemandangan yang cukup megah.
A Dong berkata waspada, “Sebanyak ini orang… jangan-jangan mereka dari keluarga Su?”
Pemandangan seperti ini mungkin hanya bisa dibuat oleh salah satu dari tiga keluarga besar. Dan yang paling mungkin adalah keluarga Su. Siapa tahu mereka berniat memanfaatkan kesempatan ini untuk membuat kekacauan?
“Jangan khawatir, mereka dari keluarga Bai.”
Chen Yang membuang puntung rokoknya.
“Keluarga Bai?” A Dong terkejut. “Kenapa keluarga Bai datang? Sepertinya Kakak tidak punya hubungan dekat dengan mereka semasa hidupnya.”
“Aku yang meminta mereka datang. Dengan adanya orang-orang keluarga Bai di sini, tak akan ada seorang pun di Kota Shen yang berani membuat masalah, bukan?”
Rombongan itu berjalan naik dari kaki gunung. Setelah mendekat, barulah terlihat bahwa orang yang berjalan paling depan tak lain adalah Bai Shaolong yang termasyhur.
Bahkan putra sulung keluarga Bai datang sendiri. Dengan begitu, memang tak akan ada yang berani membuat keributan, bukan? A Dong sangat terkejut. Ia menoleh dan menatap Chen Yang yang tetap tenang.
‘Sejak kapan pengaruh Chen Yang menjadi sebesar ini? Bahkan putra sulung keluarga Bai rela datang untuk menjaganya?’
Tak lama kemudian, Bai Shaolong tiba bersama banyak pengawal. Karena ini adalah pemakaman, ia berjalan maju dengan wajah berat dan menyampaikan belasungkawa.
A Dong merasa tersanjung. Baru saja Bai Shaolong berinisiatif menjabat tangannya.
Setelah berbasa-basi seperlunya, Bai Shaolong menoleh kepada para pengawal di belakangnya dan berkata, “Jaga tempat ini baik-baik. Kalau hari ini ada yang berani membuat onar di sini, habisi saja!”
“Siap!”
Para pengawal itu menjawab serempak, lalu menyebar ke sekeliling. Aura mereka begitu mengintimidasi hingga A Dong seketika merasa jauh lebih percaya diri. Ia tak lagi gelisah memikirkan kemungkinan Lao Liang Kelima atau keluarga Su mengirim orang untuk membuat masalah.
Jelas sekali Bai Shaolong sengaja menunjukkan sikap itu kepada Chen Yang. Ia sangat memahami tujuan sebenarnya Chen Yang mengundangnya kemari.
“A Dong, bawa tamu untuk menyalakan dupa,” kata Chen Yang puas.
A Dong tersadar dan dengan sopan membawa Bai Shaolong untuk menyalakan dupa serta memberikan penghormatan terakhir kepada Xia Zongning.
Setelah selesai bersembahyang, ia kembali ke sisi Chen Yang dan menghela napas.
“Dunia memang tak bisa ditebak. Sungguh tak pernah terpikir olehku bahwa beberapa hari lalu Kak Xia masih datang menghadiri pesta ulang tahun kakekku, tetapi sekarang justru berakhir seperti ini.”
Chen Yang mengangguk dengan murung. “Benar. Orang yang sering berdiri di tepi sungai pada akhirnya pasti akan basah juga. Mungkin inilah takdirnya.”
Chen Yang merasa sangat menyesal. Perlahan-lahan ia mulai memahami mengapa dahulu orang tuanya meninggalkannya dengan cara yang begitu kejam. Seandainya ia tidak meninggalkan keluarga Chen dan tumbuh menjadi putra sulung keluarga Chen yang dikagumi semua orang…
Mungkin ia akan menjadi tuan muda yang angkuh, congkak, dan sewenang-wenang seperti Su Yunfei dan Xu Kun.
Namun, apa gunanya semua itu? Jika kekuatan diri sendiri tidak cukup tangguh, di lingkaran yang penuh tipu daya dan pengkhianatan ini, sebanyak apa pun orang yang melindungi di sekelilingnya, tetap tak menjamin tak ada yang menusuknya dari belakang.
Jika memiliki kekuatan yang benar-benar hebat, setidaknya seseorang tak akan berakhir seperti Xia Zongning.
Domba dan kambing selalu bergerombol, sedangkan binatang buas berjalan seorang diri.
Kalimat itu berasal dari autobiografi Hu Hansan, salah satu tokoh besar yang pernah menggemparkan Tiongkok. Kini Chen Yang perlahan memahami maknanya. Mungkin dahulu Chen Mingjun juga mempertimbangkan hal yang sama.
Tak lama kemudian, sebuah mobil lain datang. Dari dalamnya muncul seorang wanita berpakaian santai serba hitam. Parasnya sungguh luar biasa, memancarkan kecantikan yang menggoda dan memesona.
“Yun Chu, dia juga datang,” ujar Bai Shaolong terkejut.
Chen Yang pun sedikit terkejut. Ia tak menyangka wanita itu akan datang.
Su Yunchu berjalan mendekat. Melihat ekspresi terkejut mereka, ia berkata dengan nada datar, “Meskipun hubunganku dengan Kak Xia tidak terlalu dekat, malam itu aku tetap minum bersamanya di pesta ulang tahun Tuan Bai. Demi menghormatinya, sudah sepatutnya aku datang mengantarnya ke perjalanan terakhir.”
Chen Yang mengangguk. “Terima kasih atas perhatianmu. Silakan.”
Setelah memberikan penghormatan kepada Xia Zongning, Su Yunchu juga menghibur Xia Youran sejenak, lalu menghampiri Chen Yang dan Bai Shaolong untuk mendengarkan percakapan mereka.
“A Dong, apa sudah tidak ada tamu yang datang?” tanya Chen Yang dengan heran.
Mereka kembali berdiri menunggu cukup lama, tetapi tak terlihat lagi tamu yang datang.
A Dong tersenyum getir. “Aku memang sudah menyebarkan kabarnya. Kakak punya banyak kenalan di dunia bawah, tetapi dalam situasi seperti sekarang, tak ada yang datang. Kurasa mereka takut terkena dampaknya.”
“Bagaimanapun, dengan keadaan seperti ini, siapa yang berani menyinggung Lao Liang Kelima?”
Chen Yang sedikit mengangguk. “Kalau begitu, jangan berdiri terus. Duduklah.”
Chen Yang berpikir sepertinya tak akan ada tamu lain yang datang. Ia pun menarik kursi dan mempersilakan Bai Shaolong serta Su Yunchu duduk. A Dong segera mengambilkan air mineral untuk mereka.
Setelah meneguk air, Bai Shaolong melirik Xia Youran yang sedang berkabung, lalu tak kuasa bertanya, “Chen Yang, apa rencanamu selanjutnya?”
“Lao Liang Kelima tak akan bertahan lebih dari dua hari. Keluarga Su sendiri yang mencari masalah, jadi kita layani saja permainan mereka. Sedangkan keluarga Xu… kalau mereka tak bisa menahan diri, aku tak keberatan membereskan mereka sekalian. Bagaimana? Kau tertarik bergabung?”
Chen Yang menoleh dan menatapnya dengan penuh minat. Mendengar ucapan itu, hati Su Yunchu pun tergerak. Ia menatap Chen Yang tanpa berkedip.
Menghadapi tatapannya, Chen Yang tersenyum. Ia tahu apa yang dipikirkannya. Bukankah ini justru yang selama ini diharapkannya?
“Tentu saja. Jarang-jarang Kota Shen seramai ini. Kalau kulewatkan, entah kapan kesempatan berikutnya akan datang,” jawab Bai Shaolong sambil mengangguk.
Pada saat itu, A Dong yang berada tak jauh dari sana berteriak, “Chen Yang, ada tamu lain datang!”
Chen Yang sempat tertegun, lalu berdiri dan berjalan dengan heran ke arah kaki gunung. Benar saja, dua mobil sedang melaju kemari. Tak lama kemudian, tampak seorang wanita berambut pirang dan bermata biru berjalan naik dengan mengenakan kacamata hitam. Di belakangnya ada enam pengawal bertubuh besar.
Setelah mereka mendekat, meskipun wanita itu memakai kacamata hitam, tetap terlihat samar-samar bahwa ia adalah orang asing.
“Siapa mereka?” Chen Yang mengerutkan kening dengan waspada.
Ia samar-samar merasakan aura membunuh yang berat dari orang-orang itu. Aura tersebut jauh lebih kuat daripada yang terpancar dari para pengawal Bai Shaolong.
Orang yang belum membunuh sedikitnya sepuluh nyawa mustahil memiliki aura seperti itu.
“Aku… aku tidak tahu. Belum pernah melihat mereka,” jawab A Dong. Ia juga menyadari bahwa wanita itu memiliki wajah khas orang Barat.
Bai Shaolong dan Su Yunchu pun berjalan mendekat, menatap rombongan tersebut dengan penuh tanda tanya.
“Chen Yang, perlu kita hentikan?” tanya Bai Shaolong.
Chen Yang menggeleng. “Tidak perlu. Tamu yang datang harus disambut. Kita lihat dulu apa tujuan mereka.”
“Permisi, boleh tahu siapa kalian?”
Tak lama kemudian mereka tiba di hadapan rombongan itu, dan A Dong bertanya dengan sopan.
Wanita itu berhenti, lalu melepas kacamata hitamnya, memperlihatkan sepasang mata biru jernih. Mereka semua tak kuasa menatap dengan terpukau.
Dari sorot matanya yang tampak menyimpan banyak kisah, jelas bahwa usianya tidak mungkin di bawah empat puluh tahun. Namun, penampilannya masih seperti gadis berusia dua puluhan. Kulit dan bentuk tubuhnya terawat dengan sangat baik. Kecantikannya begitu memikat hati. Ia adalah wanita Barat yang sangat cantik, dan ketika masih muda, pastilah ia seorang perempuan yang luar biasa memesona.
“Aku datang untuk memberikan penghormatan kepada Kak Xia. Aku juga ibu Meng’er. Namaku Lisa,” jawab wanita itu dengan senyum menawan.
“Meng’er? Siapa Meng’er?” A Dong belum memahami maksudnya.
“Bodoh, tentu saja Chu Meng.”
Chen Yang menepuk kepalanya. Ia menatap wanita itu dengan heran. Tadi malam Chu Meng pernah mengatakan bahwa dirinya adalah seorang keturunan campuran. Chen Yang sempat mengira itu hanya lelucon, tetapi setelah melihat wanita Barat di hadapannya, ia mau tak mau harus mempercayainya.
“Salam, Bibi Lisa. Silakan masuk.”
Chen Yang menenangkan pikirannya dan mempersilakannya dengan sopan.
Lisa langsung menatapnya dengan dingin. “Kau memanggilku apa?”
“Bibi Lisa…”
Hati Chen Yang menegang. Jangan-jangan ia salah bicara? Chu Meng memanggilnya kakak, jadi seharusnya tak ada masalah jika ia memanggil Lisa bibi.
“Siapa yang mengizinkanmu memanggilku bibi?” Lisa menunjukkan kemarahan.
Su Yunchu buru-buru menyenggol Chen Yang. Dasar pria kaku, benar-benar tak peka.
Chen Yang akhirnya mengerti dan segera berkata, “Maaf, aku salah bicara. Kak Lisa.”
Wajah Lisa sedikit melunak. Ia mendengus pelan. “Nah, begitu lebih baik.”
Setelah itu, ia meminta para pengawalnya tetap tinggal di tempat, lalu berjalan masuk seorang diri.
“Ma… Mama!”
Chu Meng, yang sedang duduk di samping Xia Youran, menoleh dan melihat Lisa. Dengan tak percaya ia memanggilnya, lalu berlari dengan penuh semangat ke hadapannya.
“Sayang, Mama sangat merindukanmu.”
Lisa membuka kedua tangannya dan memeluknya, lalu mencium pipinya berkali-kali.
“Mama, kenapa datang?” Chu Meng memeluknya erat-erat dengan penuh kegembiraan. Ia tampak polos seperti anak kecil, sama sekali tidak terlihat seperti mahasiswi yang sudah dewasa.
Lisa mencubit pipinya yang montok dengan penuh kasih sayang. “Bagaimana mungkin Mama tidak datang setelah terjadi hal sebesar ini? Dan sekarang lepaskan Mama. Ini pemakaman, kau tidak boleh tersenyum.”
“Baiklah, tapi Mama tadi yang tersenyum lebih dulu…”
Chu Meng buru-buru menghapus senyum dari wajahnya, meskipun tampak sangat tidak puas. Ekspresinya sungguh menggemaskan.
Chen Yang dan yang lainnya hanya bisa ternganga melihat pemandangan itu. Pantas saja Chu Meng begitu menggemaskan—ternyata sifat itu diwarisinya dari sang ibu.