Bab Sembilan: Sang Negosiator
Jing Yu menatap wajah Yu Youqing dengan saksama; bentuk wajahnya lonjong, alisnya melengkung seperti daun willow, hidungnya mancung, bibirnya tipis, namun yang paling menarik adalah matanya. Saat menyadari siapa dia, ekspresi terkejut dan panik yang refleks itu, kesan polos dan aura gadis tetangga begitu kental. Ya, inilah yang ia cari...
"Pemeran utama? Berakting?"
Tatapan mata Yu Youqing penuh kewaspadaan mengarah pada Jing Yu.
Dia hanya menemani sahabatnya pergi kencan buta, saling bertukar kartu nama sekadar formalitas, dan lelaki itu bahkan kabur tanpa membayar, membuat sahabatnya yang harus melunasi tagihan makan.
Baru beberapa hari berlalu?
Sekarang pria itu datang menemuinya, mengajaknya main film, bahkan langsung menawarkan peran utama.
Hal semacam ini hanya akan dipercaya oleh tokoh utama wanita yang polos dan naif dalam drama. Penipu? Atau punya maksud lain padaku?
Segala macam tokoh dunia hiburan yang pernah ia temui sejak lulus berkelebatan di benaknya. Meski sorot mata Jing Yu tak sama menjijikkan seperti kebanyakan orang itu, tetap saja ia tak boleh lengah.
Kesempatan jadi pemeran utama datang sendiri? Ia memang tak berprasangka buruk pada dunia, tapi juga tak percaya pada keberuntungan jatuh dari langit.
"Maaf, saya tidak tertarik. Omong-omong, Tuan, Anda ingin membeli bunga?"
Yu Youqing mundur setengah langkah sambil tersenyum.
Jing Yu menghela napas dalam-dalam. Reaksinya memang sudah ia duga. Jika ia di posisinya, tiba-tiba ada orang menawarkan jadi penulis skenario untuk proyek film bernilai miliaran tanpa syarat apa pun—asal naskahnya jadi, dana pasti turun—ia pun pasti langsung menolak. Terlalu aneh.
"Nona Yu Youqing, tolong jangan terburu-buru menolak!"
Jing Yu sudah menyiapkan diri, segera mengeluarkan kartu identitas pegawai dan berbagai bukti lain dari saku jasnya.
"Saya memang benar-benar penulis skenario di Stasiun TV Jinhui. Alasan saya datang mencari Anda adalah karena penampilan Anda sangat cocok dengan karakter utama wanita di drama baru yang akan segera saya garap. Meski terkesan mendadak dan agak nekat, saya harap Anda tidak mengira saya penipu."
Yu Youqing memeriksa kartu pegawai yang dikeluarkan Jing Yu. Ia sudah lama berkecimpung di dunia hiburan kota Lan, jadi bisa membedakan mana yang palsu dan asli. Kecurigaannya bahwa Jing Yu hanya pura-pura saat kencan buta demi menipunya kini perlahan menghilang.
Di belakangnya, ibu Yu Youqing justru sangat paham situasi, dengan cermat bersembunyi di balik bunga sambil memasang telinga.
Kalau Yu Youqing sudah biasa menghadapi dunia hiburan yang penuh tipu muslihat sehingga kewaspadaannya tinggi, sang ibu justru langsung berbinar-binar melihat penampilan Jing Yu.
Kenalan di dunia hiburan? Datang mengajaknya main film? Jadi pemeran utama pula?
"Maaf, saya memang tidak begitu kenal dengan Anda," ujar Yu Youqing dengan nada sedikit lebih ramah.
"Semua orang butuh waktu untuk saling mengenal, itu hal yang wajar," Jing Yu berusaha tampil seanggun dan seramah mungkin. "Yang terpenting, setelah bertemu beberapa hari lalu, saya sangat terkesan dengan aura Anda yang sangat cocok untuk karakter utama wanita dalam drama saya yang akan segera diproduksi... Dan karena Anda juga seorang aktris, saya akhirnya beranikan diri datang langsung."
Benarkah begitu?
Sebagai lulusan yang sudah dua tahun bergelut di dunia hiburan, Yu Youqing sering mendengar kisah-kisah ajaib yang jadi bahan motivasi: seseorang yang awalnya tak dikenal, kemudian dipilih oleh seorang penulis skenario, sutradara, atau produser ternama, lalu menjadi bintang utama dalam drama yang melesatkan namanya ke puncak.
Sekilas, ia pun jadi ragu.
"Astaga, Xiao Qing, sedang apa kamu? Ada tamu penting datang, masa kamu halangi di pintu? Tuan, Anda kenal dengan Xiao Qing, kan? Silakan masuk, silakan masuk..."
Ibu Yu Youqing akhirnya keluar dari persembunyiannya, mengajak Jing Yu masuk ke ruangan belakang toko.
Toko bunga itu cukup luas, hampir dua ratus meter persegi. Bagian dalamnya merupakan area pribadi. Begitu masuk, Jing Yu langsung melihat potret seorang pria paruh baya tergantung di dinding, di depannya ada dupa dan abu yang telah habis terbakar...
Mungkin ayahnya sudah tiada, sang ibu kini mengelola toko bunga, sementara Yu Youqing jika ada kesempatan berakting akan ambil peran, selebihnya membantu di rumah.
Sekilas pandang, Jing Yu langsung bisa menebak situasi keluarga Yu Youqing.
Sementara itu, Yu Youqing dengan enggan didorong ibunya masuk.
"Ibu, sebenarnya apa sih yang sedang Ibu lakukan? Apa aku pernah bilang aku tertarik dengan proyeknya?"
Yu Youqing memandang ibunya dengan nada sedikit menyalahkan.
Sekarang Jing Yu sudah masuk ke rumah. Mau tidak mau, ia harus menjamu tamu dengan secangkir teh sebelum pria itu boleh pergi.
"Kamu tahu apa? Kesempatan itu datang dan pergi begitu saja. Kamu sudah tidak tertarik dengan bisnis toko bunga, Ibu pun tidak memaksa. Sekarang ada orang datang menawarkan peran utama, kamu masih ragu-ragu?"
Sang ibu meliriknya tajam.
"Coba lihat teman satu kosmu itu, siapa namanya... Ya, Tang Yidong. Dulu kamu bilang dia orangnya terlalu realistis dan ambisius. Lulus bareng, tapi beberapa minggu ini setiap Minggu malam di stasiun TV Jinhui, Ibu lihat dia sudah jadi pemeran utama. Drama yang sedang hits itu, ‘Kekasih Putih’."
"Dia?" Sorot mata Yu Youqing langsung berubah.
"Aku tidak dilahirkan untuk bersaing dengan siapa pun. Dia jadi pemeran utama, aku jadi pengangguran, toh sama-sama makan tiga kali sehari, tak ada yang lebih unggul."
"Tapi kamu lulus sebagai mahasiswa terbaik, dia malah urutan ketiga dari bawah. Kenapa dia bisa? Dulu waktu Ibu antar obat ke kosmu, teman-temanmu yang lain ramah menyapa, hanya dia yang menatap Ibu dengan jengkel, sampai Ibu sendiri tak tahan."
Yu Youqing ingin membalas, tapi urung. Ia tak mungkin mengatakan pada ibunya bahwa Tang Yidong bisa naik daun karena selama dua tahun ini sudah berganti-ganti pacar dari kalangan pria berpengaruh.
Namun memang benar, penilaian ibunya soal Tang Yidong tak meleset. Gadis itu memang bermasalah dengan semua penghuni satu kamar. Sifatnya terlalu sombong dan egois, tak peduli perasaan orang lain, tengah malam menelepon pacar sambil menangis dan tertawa, make up dan baju cantik teman sekamar pun dipakai tanpa izin, semua orang muak. Sejak bertengkar di tahun kedua kuliah, mereka nyaris tak pernah bicara sampai lulus.
Namun setelah lulus... Karier akting mereka berbanding terbalik. Tang Yidong membintangi beberapa drama, dari peran pendukung ketiga, naik ke kedua, hingga sekarang pemeran utama dalam ‘Kekasih Putih’.
Sedangkan dirinya, karena menolak berbagai godaan dari tim produksi, sejak lulus hanya pernah main sebagai pemeran kelima, lalu jadi figuran, pemeran lewat, dan akhirnya tak ada yang memakai jasanya.
"Pokoknya anak muda itu hanya datang untuk bicara soal kerja, bukan untuk mencelakai kamu... Cepat masuk, jangan biarkan dia menunggu lama."
Ibu Yu menyodorkan nampan berisi teh dan kue, menyuruh putrinya membawanya masuk.
Begitu Yu Youqing masuk dengan membawa teh, Jing Yu pun memperbaiki posisi duduknya.
Melihat pria yang kabur tanpa membayar saat kencan buta ini, Yu Youqing benar-benar sulit mengaitkan sosoknya dengan para penulis skenario yang berkuasa di lokasi syuting.
"Jadi, Tuan Jing Yu... Mengenai tawaran Anda... Bisakah Anda jelaskan lebih rinci?"