Bab 69 Ibu Baptis Si Xing
Qi Mu sedikit terkejut. Biasanya, Tuan Si tidak pernah mencari tahu ke mana Leng Ning pergi. Ada apa hari ini? Apakah terjadi sesuatu di antara mereka? Berbagai pertanyaan berputar di benaknya, akhirnya hanya terucap satu kata, “Baik.”
Saat Leng Ning membuka matanya lagi, hari sudah terang. Di luar jendela tampak burung-burung hinggap, ia bahkan bisa mendengar kicauan mereka yang ramai. Ia tak ingat pasti kapan ia tertidur semalam. Satu-satunya yang ia ingat hanyalah Si Xingzhou membantunya membalut luka...
Sampai di sini ingatannya terputus, dan Leng Ning seketika menjadi lebih sadar.
Apa? Si Xingzhou membantunya membalut luka?
Dengan perasaan ngeri, Leng Ning menoleh ke arah bahunya. Benar saja, sudah dibalut perban. Belum sempat ia bereaksi, suara ketukan terdengar dari luar pintu.
“Ning’er, kamu sudah bangun?” Suara Zhao Yajing terdengar dari luar.
Leng Ning segera bangkit dari tempat tidur, membersihkan diri dengan sederhana, lalu membukakan pintu untuk Zhao Yajing.
“Pagi, Tante.”
“Pagi juga. Aku tadi heran kenapa kamu belum sarapan, Xingzhou bilang biar kamu tidur lebih lama. Tak disangka sudah jam sebelas kamu baru bangun. Kamu lapar? Biar nanti aku minta dapur siapkan makan lebih awal.”
Ucapan Zhao Yajing membuat Leng Ning tertegun. Jadi, semua kejadian semalam benar-benar terjadi.
Ternyata ia memang bertemu dengan Si Xingzhou.
Tapi bagaimana caranya dia masuk tanpa ketahuan? Bukankah ia sudah mengunci pintu?
Dengan keraguan itu, Leng Ning berjalan ke ruang tamu. Si Xingzhou duduk di kursi roda sambil membaca koran. Sinar matahari menyinari tubuhnya, memberikan aura yang berbeda.
Mendengar suara langkah, Si Xingzhou menoleh, pandangannya singgah sebentar di bahu Leng Ning lalu kembali ke koran.
“Ayo duduk dan makan. Nanti sore kamu ada kegiatan?” Zhao Yajing membawa Leng Ning ke kursi dan bertanya.
Leng Ning menggeleng, “Nanti sore aku hanya lihat laporan riset saja.”
“Kalau begitu, setelah selesai biar Tante ajak kamu jalan-jalan, ya? Tante benar-benar bosan di sini.”
Leng Ning berpikir sejenak, teringat perjanjian dengan Si Xingzhou, akhirnya ia mengangguk menyetujui.
Usai makan, seperti biasa Qi Mu menemani Si Xingzhou mengantar Zhao Yajing dan Leng Ning ke pusat perbelanjaan, lalu melambaikan tangan saat mereka masuk.
Pusat perbelanjaan ini sudah lama didengar namanya oleh Leng Ning. Setiap toko di sini merupakan butik mewah pesanan khusus. Banyak putra-putri orang kaya di ibu kota suka bermain di sini.
Zhao Yajing membawa Leng Ning naik lift sampai ke lantai tiga.
“Ini toko milik ibu angkat Xingzhou yang pernah Tante ceritakan. Hari ini kebetulan dia ada waktu, jadi Tante ajak kamu untuk bertemu. Nanti dia juga bisa mendesain beberapa pakaian eksklusif untukmu,” ujar Zhao Yajing sambil tersenyum.
Leng Ning tidak menanggapi, hanya mengikuti hingga mereka tiba di depan sebuah toko.
Pada papan nama hanya tertulis deretan kata dalam bahasa Jerman. Sekilas saja, Leng Ning sudah tahu siapa ibu angkat Si Xingzhou.
Begitu pintu terbuka, denting lonceng terdengar. Tak terlihat seorang pun di dalam. Saat Zhao Yajing hendak menelpon, baru muncul sosok perempuan menyusuri sudut ruangan.
“Eh, Yajing, kamu datang!” sapa perempuan itu.
Perempuan di hadapan mereka sama terawatnya dengan Zhao Yajing. Waktu seolah tak meninggalkan jejak padanya, meski sudah berusia lebih dari empat puluh tahun, wajahnya masih tampak muda, seperti baru dua puluhan.
Memperhatikan gadis muda di samping Zhao Yajing, tatapan perempuan itu berubah. “Ini calon istri Xingzhou, ya?”
Leng Ning menyadari pandangan mereka tertuju padanya, lalu mengangguk sopan pada Li Rou, “Halo, Tante.”
Melihat Zhao Yajing mengangguk, Li Rou mulai memperhatikan Leng Ning. Gadis ini sejak awal tampak dingin, bahkan saat menyapa pun tetap terlihat acuh. Sifat yang terlalu dingin seperti itu justru terkesan tidak sopan.
“Halo, aku ibu angkat Xingzhou, namaku Li Rou.”
Setelah saling berkenalan, Li Rou mengajak mereka ke area duduk. Sepanjang jalan, pandangan Leng Ning tertuju pada deretan pakaian di kedua sisi.
Ada gaun pesta dan pakaian kasual. Di etalase dinding dipajang perhiasan—semua adalah desain awal, biasanya hanya untuk koleksi, jarang yang dijual.
Li Rou dikenal sebagai desainer internasional di ibu kota. Tanpa perusahaan, ia bisa berdiri sendiri di dunia mode. Seri Cinta Sejati buatannya selalu ludes terjual dan harganya menembus angka miliaran, bahkan sering kali tidak terjangkau meski ada uang.
Leng Ning berdiri di depan lemari kaca transparan, menatap dua set gaun yang dipajang di dalamnya dengan sorot mata yang berubah.
Mengapa gaun itu terasa begitu familiar baginya?
Saat Leng Ning sedang berpikir, Li Rou memperhatikan gerak-geriknya dan berjalan mendekat. “Kamu suka gaun ini?”
Leng Ning menggeleng.
“Atau ada yang salah?” tanya Li Rou heran.
“Gaun ini bukan desain Anda, kan?”
Mendengar itu, Zhao Yajing yang baru saja duduk pun menoleh ke arah mereka.
Li Rou benar-benar terkejut karena Leng Ning bisa langsung mengetahui di antara sekian banyak gaun, mana yang bukan karyanya. Pandangan Li Rou pada Leng Ning jadi semakin dalam.
Gadis ini jelas bukan orang biasa. Tampaknya Xingzhou benar-benar menemukan permata.
Menanggapi pertanyaan Leng Ning, Li Rou mengaku, “Benar, ini memang bukan desainku.”
“Setiap hari banyak orang datang ke sini, tapi tak ada satu pun yang menyadari, hanya kamu yang menemukan rahasia ini. Aku penasaran, bagaimana kamu bisa tahu?”
Menghadapi rasa ingin tahu Li Rou, Leng Ning hanya tersenyum. Bukankah ia tahu benar desainnya sendiri?
Namun ia tidak mengaku, hanya menunjuk pada gaun tersebut. “Garis desain Anda yang lain sangat berbeda dengan gaun ini, bahkan gayanya pun kontras. Meski ada bagian yang meniru gaya Anda, tetap saja tidak pas.”
Zhao Yajing tak menyangka Leng Ning begitu tajam dan langsung mengungkapkan kesalahan Li Rou.
Namun sebagai orang yang tidak mengerti dunia mode, kekhawatiran pertama Zhao Yajing adalah apakah Li Rou akan tersinggung.
Bagaimanapun, watak Li Rou terkenal keras, sangat berbeda dengan namanya yang lembut.
Namun saat Zhao Yajing mengkhawatirkan hal itu, Li Rou bukannya marah, malah tersenyum.
“Kamu benar-benar tajam, bisa langsung menemukan kekurangannya. Apa kamu juga desainer?”
Leng Ning menggeleng, “Cuma tahu sedikit saja.”
Li Rou tidak percaya begitu saja, tapi karena Leng Ning tampak enggan menjelaskan lebih lanjut, ia pun tidak bertanya lagi.
Zhao Yajing menarik Li Rou untuk segera membuatkan pakaian khusus bagi Leng Ning, sementara Li Rou hanya tersenyum.
Di belakang etalase ada rak, Li Rou mengambil dua kotak pakaian dari sana.
“Aku sudah siapkan ini untukmu. Meski tidak tahu pasti ukurannya pas atau tidak, untungnya bisa diatur. Coba dulu, ya?” Li Rou menyerahkan kotak itu pada Leng Ning.
Leng Ning berniat menolak, tapi melihat ekspresi penuh harap dari Zhao Yajing dan Li Rou, akhirnya ia membawa pakaian itu masuk ke ruang ganti.
Begitu pintu ruang ganti tertutup, Li Rou bertanya pelan pada Zhao Yajing, “Kalian sudah pernah selidiki anak ini? Banyak orang tak bisa membedakan gaun itu, tapi dia langsung tahu di hari pertama. Dia pasti bukan orang biasa.”
Zhao Yajing mengangguk membenarkan, “Benar, bahkan penyakit Xingzhou sepertinya bisa ia atasi. Tapi tidak ada informasi lain yang bisa ditemukan tentang dia.”