Bab 35: Menggenggam Tangan
Wang Debao dan Zeng Peiqi mengikuti arus orang yang masuk ke Toko Buku Xinhua. Melihat dekorasi dan tata letak yang sarat nuansa zaman, Wang Debao diliputi oleh perasaan yang sulit diungkapkan.
“Ada apa denganmu? Apa kamu tidak enak badan?” tanya Zeng Peiqi, menyadari keganjilan pada Wang Debao dan tampak sedikit khawatir.
“Tidak apa-apa, hanya saja melihat begitu banyak buku membuatku sangat bersemangat,” jawab Wang Debao sambil lalu. “Ngomong-ngomong, kamu ingin mencari buku apa?”
Pemuda berpakaian jas Zhongshan yang mengikuti mereka dari belakang mendengus pelan, merasa geram pada sikap Wang Debao yang menurutnya sok pintar. Namun, ia harus mengakui, ada pelajaran yang didapat darinya.
“Aku ingin melihat buku-buku tentang pendidikan,” jawab Zeng Peiqi. “Sekolah sekarang kekurangan guru untuk tingkat SMP dan SMA. Aku tidak ingin lagi mengajar SD, aku ingin mengajar di SMA.”
Wang Debao merenung sejenak lalu berkata, “Kalau kamu ingin mendengar saranku, aku tetap menyarankan kamu mengajar di SD. Itu adalah tahap terpenting dalam perjalanan belajar seseorang.”
Pemuda di belakang mereka kembali mendengus. Sial, gadis ini tidak minta nasihatmu, jangan sok tahu, dengar saja sudah membuatku ingin menghajarmu.
Namun, seketika ia tersadar, perempuan muda yang cantiknya tak masuk akal ini, ternyata guru SD?
Ia makin merasa tidak adil di dalam hati... Cantik saja sudah cukup, pekerjaannya juga bagus, sialan, anak ini benar-benar beruntung.
Namun Zeng Peiqi tidak mengikuti alur pikirannya, ia malah bertanya, “Kenapa begitu?”
Wang Debao mendekatkan mulutnya ke telinga Zeng Peiqi, berbisik, “Kalau perempuan terlalu sibuk, akan cepat menua.”
“Hah?”
Zeng Peiqi langsung berhenti melangkah, menatap Wang Debao dengan ekspresi terkejut.
Wang Debao mengangguk dengan serius. “Guru SMA itu paling sibuk. Coba pikir, di SMA semua siswa mengejar ujian masuk universitas. Setiap hari, sepanjang tahun, tidak ada libur. Apa guru tega beristirahat? Biasanya, materi tiga tahun SMA diselesaikan dalam dua tahun pertama, tahun ketiga hanya untuk mengulang. Jadi, tiga tahun SMA itu sangat melelahkan, perempuan akan cepat sekali menua.”
“Kamu jangan buru-buru meragukan ucapanku, juga jangan terburu-buru mengambil keputusan. Coba kamu amati dulu guru-guru perempuan di SMP dan SMA, lalu ajak mereka bicara, dengarkan pengalaman mereka.”
Wang Debao membujuk dengan sabar, “Negara kita sangat besar, banyak orang hebat. Setiap orang hanya perlu melakukan sedikit lebih dari biasanya, jika semua energi itu terkumpul, itu sudah kemajuan besar bagi negara. Di zaman damai dan kondisi normal, tidak perlu ada satu orang pun yang harus berkorban sampai habis-habisan. Kalau ada yang berpendapat seperti itu, pasti dia bodoh atau jahat.”
Zeng Peiqi perlahan mengangguk, lalu gerakan kepalanya semakin mantap. Semakin ia merenung, semakin merasa apa yang dikatakan Wang Debao masuk akal.
Ia memang ingin berbuat sesuatu demi negara, demi murid-murid yang ingin belajar... Ketulusannya murni, tanpa pamrih.
Namun setelah mendengar penjelasan Wang Debao, ia jadi agak takut... Ia memang baik hati, tapi belum sampai rela mengorbankan masa muda tanpa penyesalan, seperti kata Wang Debao, memang tidak perlu sejauh itu.
“Pandanganmu sangat dalam! Bahkan aku merasa pemikiranmu lebih tajam daripada beberapa rekan kerjaku,” ujar Zeng Peiqi tulus, lalu berbisik setengah mengeluh, “Di kantor, ada beberapa kakak senior yang setiap bulan selalu menghitung satu per satu tisu yang dibagikan kantor, kurang satu saja tidak terima, setiap hari hanya memperhatikan hal remeh-temeh, pikiran mereka selalu pada kepentingan sendiri, aku benar-benar kecewa, tidak ada topik yang bisa aku bicarakan dengan mereka...”
Sial, itu mah egois namanya! Dalam tapi egois!
Pemuda berjas Zhongshan itu kembali mendengus, untuk kesekian kalinya merasa ingin memukuli Wang Debao, juga secara bersamaan ingin berguru padanya... Sungguh perasaan yang bertolak belakang.
“Sebab idealisme itu jauh, tidak ada standar pasti, tak tampak wujudnya, bahkan kadang perlu pengorbanan tanpa dipahami orang lain.
Sedangkan realita, itu harga bahan makanan yang naik, anak yang ingin makan daging, orang tua sakit butuh ditemani, kapan tiap anggota keluarga bisa punya kamar sendiri... Kerinduan rakyat pada hidup yang lebih baik adalah arus besar yang tak bisa dan tak boleh dihalangi.”
Wang Debao tersenyum, lalu berkata pelan pada Zeng Peiqi yang menatapnya dengan penuh kekaguman, “Kita memang mengagumi orang-orang idealis yang tetap teguh di dunia yang pragmatis ini, tapi kita tidak menganjurkan menambah kesulitan sendiri dalam mengejar cita-cita.”
“Asal-muasal kalimat ini aku lupa, tapi tidak penting... Anggap saja hadiah untukmu, mari saling menyemangati.”
Selesai berkata, Wang Debao merasa hari ini dirinya benar-benar berhasil tampil mengesankan.
Pipi Zeng Peiqi memerah, napasnya memburu, tanpa sadar ia menggenggam tangan Wang Debao. Beberapa kali hendak berkata-kata, tapi tak tahu harus berkata apa... Di dadanya, seolah ada gelombang emosi yang hendak meluap, tak mampu ia tahan dan memang tak ingin ia tahan. Ia hanya menggenggam tangan Wang Debao dengan semangat, menatapnya dengan penuh kekaguman dan suka cita. Sebuah perasaan yang sulit diungkapkan, diam-diam tumbuh liar di hati sang guru Zeng.
Wang Debao juga menggenggam tangan Zeng Peiqi yang lembut, pura-pura tidak sadar bahwa ia sedang menggenggam tangan seorang perempuan. Sambil berjalan ia berkata, seolah tak terjadi apa-apa, “Kamu mau cari buku tentang pendidikan? Aku memang kurang banyak baca, wawasanku terbatas, tapi aku punya beberapa gagasan soal pendidikan, bisa kuajak kamu ngobrol.”
“Aku merasa, pendidikan yang menekankan pujian lebih efektif memberi motivasi positif pada murid dibanding pendidikan yang menekan atau mengkritik.”
“Kalau ada rekanmu yang suka mengkritik murid, kamu bisa coba diam-diam bikin semacam eksperimen kelompok pembanding. Kamu berikan pujian dan dorongan pada murid, kurangi kritik, kalau pun harus mengkritik jangan sampai memarahi apalagi mempermalukan...”
Pemuda berjas Zhongshan itu kini benar-benar terkejut dan bingung. Ia memang masih mengikuti langkah mereka secara mekanis, tapi pikirannya telah benar-benar kacau.
Kini, ia tidak lagi mengumpat Wang Debao sebagai tukang pamer, apalagi ingin memukulinya... Kini, ia hanya ingin berguru pada Wang Debao.
Bukan cuma belajar cara berkomunikasi dengan perempuan tanpa membuat suasana canggung, tapi juga ingin belajar pemikiran mendalam seperti itu.
Gagasan-gagasan yang terdengar sederhana, tapi terasa mendalam, sesuatu yang belum pernah ia pikirkan... Tapi di mulut Wang Debao, semua mengalir begitu saja, benar-benar mengguncang hati.
Orang hebat!
Wang Debao sendiri sudah lupa, di masa depan semua orang bisa mengakses internet, sehingga secara teori semua orang dapat memperoleh informasi dalam jumlah besar dengan biaya rendah. Segala macam gagasan dan aliran silih berganti dengan jejak yang jelas, apalagi kata-kata motivasi atau anekdot.
Namun, pada tahun 1984, semua ini adalah bom pemikiran yang belum pernah diterima siapa pun.
Zeng Peiqi mengikuti Wang Debao sambil mengobrol, menghindari kerumunan, berjalan sepanjang lorong Toko Buku Xinhua, hingga belasan meter jauhnya, barulah ia tersadar... Ia ternyata menggenggam tangan Wang Debao lebih dulu!
Tapi Wang Debao tidak melepasnya, malah menggenggam erat, menuntunnya ke depan, bahkan membantu melindungi dari orang-orang yang berdesakan.
Mendadak Zeng Peiqi merasa malu dan tersentuh, dalam hati ia berpikir, pasti Wang Debao takut ia jadi canggung, makanya tidak langsung melepaskan tangan, malah menuntunnya sambil terus mengobrol...
Citra diri yang tadi dibangun Wang Debao, kini memainkan peran penting!
Zeng Peiqi yakin, Wang Debao sama sekali tidak punya maksud apa-apa padanya, sebab ia memikul utang sebesar gaji dua puluh tahun pekerja biasa, ia tidak ingin dan tidak mau menyusahkan siapa pun.
Jadi... apakah dia benar-benar tidak menyukaiku sama sekali?
Berjalan sambil berpikir, tiba-tiba muncul di benak Zeng Peiqi satu gagasan yang bagi dirinya sendiri luar biasa mengejutkan.