Bab 31: Menangkap Mata-mata
Benar sekali, orang yang terlintas di benak Wang Debao adalah Qiu Xingzhi.
Baik dari segi jaringan, saluran, maupun tingkat kepercayaan, Qiu Xingzhi adalah pilihan terbaik, bahkan satu-satunya. Satu-satunya kelemahan Qiu saat ini hanyalah modal yang belum cukup banyak, sebab dia juga belum berhenti dari pekerjaannya untuk benar-benar terjun ke dunia bisnis. Tapi, kalau bicara soal kekurangan modal, itu pun tergantung dibandingkan dengan siapa. Setidaknya, modalnya jauh lebih besar daripada Wang Debao.
Wang Debao hanya punya sisa uang 800 yuan. Dengan harga pasaran saat ini, uang itu paling-paling hanya cukup membeli dua pot bunga klivia, itupun bukan jenis yang langka, jadi keuntungannya pasti tidak besar.
Namun, di masa depan terlalu banyak peluang. Tahun 1988 berdiri Taman Teknologi Zhongguancun, tahun 1990 Bursa Saham Shanghai dan Perang Teluk, 1991 bubarnya Uni Soviet, 1992 gelembung properti di Pulau Hainan, 1995 gelembung internet, 1997 krisis finansial Asia... Selama mampu menangkap salah satu saja dari peluang-peluang tersebut, sudah cukup untuk mencatatkan namanya dalam sejarah ekonomi. Wang Debao sama sekali tidak terburu-buru.
Apalagi, meskipun harus menunggu sampai krisis finansial Asia tahun 1997, usia Wang Debao baru tiga puluh tahun. Ia punya banyak waktu dan kesabaran untuk membangun pondasi dengan tenang dan rendah hati.
Sambil berpikir, Wang Debao sudah menaiki sepeda milik Zhou Hongliu, untuk kedua kalinya menuju ke Gang Nanluoguxiang.
Kali ini, baru saja Wang Debao masuk ke dalam gang, seorang kakek langsung mengenalinya lalu menarik lengannya.
"Heh, kau ini kerabat keluarga Qiu, namamu Wang siapa tadi?" tanya kakek itu penuh rasa ingin tahu.
"Kakek, namaku Wang Debao," jawab Wang Debao dengan sopan, namun dengan tegas melepaskan tangan kakek itu dari lengannya.
Kakek itu tertegun, tampaknya tak menyangka Wang Debao berani bersikap begitu tegas, langsung melepaskan tangannya. Seketika ia marah.
"Dasar bocah kurang ajar, tidak sopan pada orang tua! Jujur saja, kau ke sini mau apa? Sepedamu bawa-bawa barang besi segede itu, jangan-jangan kau mata-mata?" serunya lantang hingga seluruh gang bisa mendengar suaranya.
Wang Debao langsung merasa geli dan kesal, 'Apa aku dekat denganmu? Kau langsung menarik lenganku, lalu menuduhku mata-mata? Kau pikir ini masih zaman dua puluh tahun lalu?'
Pak, zaman sudah berubah!
Hanya dari sikap kakek itu, Wang Debao sudah tahu, orang ini pasti sangat menyebalkan sehingga dibenci semua orang.
Sekarang Wang Debao sudah sangat percaya diri, tidak seperti saat pertama kali datang ke sini yang gelisah seperti anjing kehilangan rumah.
Jadi, Wang Debao pun tidak mau mengalah pada kakek itu. Ia menegakkan sepeda, lalu malah menarik lengan kakek itu, kemudian berseru lebih keras, "Kakek, siapa namamu? Tinggal di mana? Kerja di mana? Waktu aku ke sini kemarin tidak ketemu kau, kenapa sekarang tiba-tiba muncul dan menginterogasiku? Jangan-jangan justru kau mata-matanya? Ayo, ikut aku ke kantor polisi!"
Sambil berkata begitu, Wang Debao berteriak ke dalam gang, "Paman Qiu... Paman Qiu, ada di rumah? Kalau ada, tolong jaga sepedaku dan mesin tik di boncengan, aku mau bawa kakek yang mencurigakan ini ke kantor polisi!"
Wah hebat!
Begitu Wang Debao berteriak, kakek itu langsung terdiam, seluruh gang Nanluoguxiang pun langsung heboh. Seketika ada belasan kepala mengintip keluar, dengan ekspresi beragam, ada yang bersemangat, yang penasaran, dan semua mata tertuju pada Wang Debao.
Wajah kakek itu mendadak merah padam seperti hati babi, sambil memaki-maki ia mengangkat tangan hendak menampar wajah Wang Debao.
Mana mungkin Wang Debao membiarkan diri diperlakukan seperti itu? Dengan sigap ia menangkap pergelangan tangan kakek itu, lalu membalikkan tangan kakek itu dan menampar pipinya keras-keras.
"Plak!"
Bunyi tamparan yang jelas terdengar, seluruh gang mendadak hening, lalu tiba-tiba ramai luar biasa, kepala yang mengintip keluar langsung bertambah banyak.
Melihat reaksi para tetangga, Wang Debao pun makin paham... Dugaannya benar, kakek ini memang sangat menyebalkan, sampai di usia tua pun, dipukul di depan rumah sendiri tidak ada yang membelanya.
Sudah tua, hidup sampai sebegitu dibenci orang, sungguh menyedihkan... Asal sedikit saja punya hati nurani, pasti tidak akan begini.
Lihat saja, betapa bencinya tetangga-tetangga pada kakek ini.
Kakek itu pun benar-benar terkejut. Ia terbiasa merasa punya kuasa karena usia dan jabatan anaknya yang cukup tinggi, makanya ia seenaknya di lingkungan sekitar... Tapi kali ini ia bertemu Wang Debao yang tidak mau menuruti satu pun keinginannya, bahkan berani menampar wajahnya.
Dasar bocah kurang ajar, berani sekali kau!
Mata kakek itu merah padam, hendak mengamuk...
"Plak!"
Satu tamparan keras lagi dari Wang Debao, belum sempat kakek itu mengamuk, ia sudah kembali ditampar.
Wajah kakek itu terasa panas terbakar, amarahnya memuncak, ia hendak berteriak lagi...
"Plak!"
Wang Debao kembali menampar, silih berganti, sama sekali tidak memberinya kesempatan membalas.
"Tolong! Tangkap mata-mata! Kakek ini menyerang orang!"
Wang Debao sambil menampar terus menerus, juga berteriak-teriak, membuat para tetangga yang menonton benar-benar terbelalak... Wah, ternyata bisa juga begini ya?
Wajah kakek itu sampai bengkak, pikirannya pun kacau, hampir merasa seperti sedang melihat kembang api di langit.
Wang Debao pun membelokkan tangan kiri kakek itu ke belakang, benar-benar seperti hendak menyeretnya ke kantor polisi.
Qiu Xingzhi yang sudah tidak tahan akhirnya buru-buru keluar, menarik Wang Debao, "Salah paham... Xiao Bao, lepaskan, ini Kakek Wang dari gang kita, kalian masih satu marga, bukan mata-mata."
Wang Debao pun menurut segera melepaskan, Qiu Xingzhi segera menarik kakek itu sambil menahan tawa, menenangkan, "Kakek Wang, anda baik-baik saja... Ini angka berapa?"
Sambil berkata begitu, ia mengacungkan satu jari di depan wajah Kakek Wang.
Hampir saja Wang Debao tidak tahan tertawa, buru-buru memalingkan wajah... Qiu memang orang yang licik tapi cerdas.
Kakek Wang sudah ditampar belasan kali oleh Wang Debao, wajahnya membengkak, pikirannya masih linglung, bahkan menatap Qiu Xingzhi pun kosong.
Qiu Xingzhi pun tidak berani bercanda lebih lama... Ia takut kakek itu kenapa-kenapa, justru tambah repot.
Setelah berpikir sejenak, Qiu Xingzhi memerintahkan Wang Debao, "Kau taruh barang-barang di rumahku, lalu antar kakek ini ke kantor polisi dengan sepeda. Hari ini harus ke sana, tidak bisa tidak."
Hah?
Setelah aku memukul orang, malah aku yang mengantarnya ke kantor polisi? Qiu, kita memang sehati sekali, ya?
Qiu Xingzhi lalu melambaikan tangan ke arah para tetangga, "Saudara-saudara sekalian, semua tadi melihat kejadian ini, kalian semua saksi mata. Mohon bantuannya, ikut ke kantor polisi untuk membantu menjelaskan perkara ini, anggap saja aku berhutang budi pada kalian."
Orang-orang yang tadinya hanya menonton, langsung keluar beramai-ramai, ada pria, wanita, remaja, hingga orang tua.
Hati Wang Debao langsung terasa hangat.
Kali ini, Wang Debao pun mulai tenang, ia merasakan pengalaman dan kelihaian Qiu Xingzhi.
Di masa ini memang jarang ada orang yang sengaja mencari masalah, tapi bukan tidak ada. Dalam situasi seperti ini, kalau tidak segera ke kantor polisi untuk menetapkan duduk perkara dan hasil penanganannya, setelah ia pergi dan para tetangga masuk ke rumah masing-masing, lalu kakek itu pergi ke kantor polisi dan mengarang cerita, sudah pasti Wang Debao akan dipanggil ke sana... Ini bukan wilayah Wang Jianguo, tak ada yang bisa menolongnya.
Tapi kalau langsung ke kantor polisi sekarang, selagi para saksi masih bersemangat, segera selesaikan, maka ruang gerak kakek itu untuk mengarang cerita jadi sempit, dan posisi Wang Debao jadi lebih aman.
Yang terpenting, pengaruh Qiu Xingzhi memang besar, hanya dengan satu panggilan sudah ada belasan tetangga yang bersedia jadi saksi, termasuk empat orang tua.
Melihat Wang Debao sudah paham dan tenang, Qiu Xingzhi baru menendang pelan Wang Debao dan berbisik, "Nanti jangan banyak bicara... Sebenarnya kau ini siapa, sih? Lain kali jangan datang lagi!"
Wang Debao langsung mengabaikan kata-kata terakhir, mengangguk hormat, sungguh-sungguh berterima kasih... Qiu memang orang baik! Bisa diandalkan!