Bab 27: Mencari Agen
Begitu sampai di rumah, Jing Luo langsung terduduk lemas di sofa. Televisi masih menyiarkan laporan mengenai sang remaja. Hanya dalam hitungan menit, situs-situs besar telah memberitakannya tanpa ada satu bagian pun yang disunting.
Sementara itu, di kediaman besar keluarga Jing...
Jing Zhenghua menyaksikan berita tersebut dan melemparkan alat pengendali jarak jauh ke arah televisi dengan penuh amarah.
"Zhenghua, aku..." Su Hongxiu menatap Jing Zhenghua sambil menggigit bibir bawahnya, sudut matanya berkaca-kaca, menampilkan kesan yang memelas dan menyedihkan.
"Tenanglah, kau sudah terlalu banyak menderita selama ini. Aku pasti akan memberikan keadilan untukmu," ucap Jing Zhenghua segera setelah melihat kesedihan wanita yang dicintainya itu.
"Baiklah, aku percaya padamu. Tapi, bagaimana dengan Luoluo?" Su Hongxiu bersandar di pelukan Jing Zhenghua, sorot matanya menunjukkan rasa puas, namun kata-katanya diucapkan dengan nada ragu dan sedih.
Jing Zhenghua, yang mengira wanita di pelukannya masih begitu baik hati hingga masih memikirkan putra lainnya, menepuk bahunya, "Mulai hari ini, aku, Jing Zhenghua, hanya memiliki satu putra, yaitu dia yang lahir dari rahimmu."
"Zhenghua, tidak perlu sampai begitu. Asalkan kau memiliki aku dan Xiao Yu di hatimu, itu sudah cukup."
Wanita cerdas selalu tahu kapan harus berbicara untuk memenangkan hati seorang pria. Di sisi lain, Jing Yu hanya menatap pemandangan itu dengan ekspresi yang sulit diartikan.
...
"Tuan muda, orang-orang itu sungguh tidak tahu malu. Karya-karya itu jelas merupakan hasil jerih payah Nona, bagaimana bisa mereka bahkan tidak melewatkan hal itu," keluh Bibi Li dengan penuh amarah.
"Tidak masalah. Suatu hari nanti, semua yang pernah dialami Ibu akan kubalas tuntas."
Setelah menyantap makan siang dengan terburu-buru, Jing Luo meninggalkan rumah.
"Tuan, ke mana kita akan pergi?"
"Pergi mencari seseorang dulu."
Ia menyetop sebuah taksi dan menyebutkan tujuannya. Sambil mengerutkan kening sedikit, ia bergumam, "Baozi, haruskah aku membeli mobil?" Bagaimanapun, untuk perjalanan yang agak jauh, ia memerlukan kendaraan pribadi.
"Tuan, biar aku mencarikan referensi di internet."
"Wah! Mobil ini keren sekali! Ah, yang itu juga bagus. Tuan, aku menginginkan semuanya..."
Jing Luo merasa tidak habis pikir dengan Baozi. Sebuah kecerdasan buatan dari masa depan jutaan tahun mendatang ternyata menyukai mobil-mobil seperti ini. "Buka panel tersembunyi, biarkan aku melihatnya."
Harus diakui, selera Baozi sangat bagus. Mobil-mobil yang dipilihnya adalah *supercar* kelas atas. Karena ingin membeli mobil, lebih baik membeli yang terbaik.
"Pilih yang ini," tunjuk Jing Luo sebagai keputusan akhir.
"Tapi yang lain juga sangat bagus," Baozi tampak enggan, "Tuan, bagaimana kalau kita beli semuanya saja?"
"Baozi, uangnya tidak cukup." Membeli semuanya? Apa kau sedang bermimpi?
"Tuan, cukup, kok!" Sebagai dompet kecil Jing Luo, mana mungkin Baozi tidak tahu berapa banyak uang yang dimiliki remaja itu. Jumlah nol di belakang angka saldo banknya saja sudah sangat banyak.
"Hanya boleh beli tiga."
"Baiklah, itu sudah cukup." Bagi tuannya yang sangat menghargai uang, tiga adalah jumlah maksimal. Lagipula, Baozi memang hanya tertarik pada tiga mobil itu.
Merasakan kegembiraan Baozi, Jing Luo tersenyum pasrah. *Dasar bodoh, jika itu yang kau sukai, bagaimana mungkin aku tidak memberikannya? Bagaimanapun, yang terpenting bagiku adalah kau.*
Tiga mobil yang dipilih adalah: *Hatchet*, *Bugatti Veyron*, dan *Lamborghini Veneno*. Harga ketiganya tidak murah, terutama Lamborghini yang harganya sangat fantastis. Sepertinya ia harus bekerja lebih keras lagi untuk mencari uang.
Mobil berhenti di depan sebuah toko kecil. Sang remaja turun, membayar sopir, lalu berjalan masuk. Toko itu sangat kecil, namun bersih dan barang-barangnya tertata rapi, mencerminkan sifat pemiliknya yang teliti.
Saat Jing Luo masuk, seorang pria berpenampilan berantakan sedang duduk di depan laptop dan mengetik dengan cepat.
"Selamat siang, ada yang bisa dibantu?" tanya pria itu tanpa menoleh. Dari suaranya, pria itu terdengar masih sangat muda.
"Qin Song." Jing Luo melepas kacamata hitamnya dan menatap pria itu.
Mendengar namanya dipanggil, Qin Song refleks mendongak. Saat melihat sang remaja, ia terpaku.
"Sudah puas melihatnya?" sapa sang remaja, membuyarkan lamunan Qin Song.
"Aku tidak tahu apa yang bisa dilakukan kuil kecil milikku ini untuk Tuan Muda Jing," tanya Qin Song.
Melihat pria itu tahu identitasnya, sang remaja tidak terkejut sedikit pun. Kasus plagiarisme itu masih menempati posisi nomor satu di daftar pencarian populer; kecuali buta, mustahil ada orang yang tidak mengenali wajah ini.
Jing Luo menatap pria yang terlihat tidak cocok dengan ruangan itu dan mengerutkan kening.
"Tidak bisakah kau merapikan penampilanmu?"
"Maaf, aku lupa. Bisakah kau menungguku sebentar?"
Setelah mendapat izin, Qin Song masuk ke ruangan dalam. Tak lama kemudian, ia keluar dengan penampilan yang benar-benar berbeda. Janggutnya telah dicukur, menyisakan sedikit bekas yang justru memberikan kesan matang dan maskulin. Kemeja putih sederhana yang dikenakannya membuatnya tampak sangat rapi dan berwibawa.
"Maaf, boleh saya tahu ada urusan apa Anda mencari saya?" Qin Song kembali meminta maaf. Entah mengapa, ia merasa sangat segan terhadap remaja di depannya. Ia menuangkan secangkir teh dan menyodorkannya kepada Jing Luo.
"Qin Song, 23 tahun, laki-laki, yatim piatu dari Panti Asuhan Sunshine. Belajar secara otodidak hingga diterima di Universitas Jinghua, kini berprofesi sebagai pengacara. Apa ada yang terlewat?" Jing Luo menatap cangkir teh itu tanpa mengambilnya.
"Tidak ada. Saya tidak menyangka orang biasa seperti saya bisa membuat Tuan Muda Jing menyelidiki saya sedetail ini," ucapnya sambil menggelengkan kepala, tampak pasrah. Ia tidak keberatan informasinya diketahui, karena ia bukan pembunuh atau pelanggar hukum.
"Apakah ada urusan yang perlu kau selesaikan atau barang yang ingin kau bawa?" tanya sang remaja.
"Hah?" Qin Song tampak bingung, namun tetap menjawab refleks, "Tidak ada."
"Baik, kalau begitu ayo pergi." Jing Luo bangkit berdiri lebih dulu.
"Tunggu... tunggu, saya tidak mengerti maksud Anda," kejar Qin Song.
"Ikutlah denganku, jadilah manajer pribadiku," ucap sang remaja.
"Hehe, sepertinya Tuan Muda salah orang. Saya hanyalah seorang pengacara yang menjalankan usaha kecil-kecilan," ujar Qin Song dengan nada pasrah.
"Aku tidak salah orang. Kau mau ikut atau tidak?"
"Terima kasih atas kepercayaan Tuan Muda," kata Qin Song sambil menyesap tehnya perlahan, "tapi saya tidak mau."
Jing Luo mengernyit, "Kenapa?"
"Di sini saya adalah pemilik toko. Jika menjadi manajer Anda, bukankah saya hanya menjadi pegawai?"
"Gaji 500 ribu sebulan, akan ditambah jika kinerjamu bagus."
Qin Song menyemburkan teh yang baru saja diminumnya. Setelah mengelap mulutnya, ia menatap dengan tidak percaya, "Berapa sebulan?"
"500 ribu." Jing Luo menatap sisa air liur di meja dengan jijik. Jika pria itu berani mengotori pakaiannya, kesepakatan ini batal.
"Deal!" ucap Qin Song mantap dan terburu-buru, takut sang remaja berubah pikiran.
Jing Luo menggelengkan kepala, tidak menyangka pria ini juga mata duitan. Namun, "Setelah menerima uangku, kau harus mematuhi aturan. Jika ada kesulitan, kau bisa bicara padaku, tapi hanya ada satu hal yang wajib kau pegang: jangan pernah mengkhianatiku."
Sang remaja menatap tajam ke arah Qin Song dengan keseriusan yang belum pernah terlihat sebelumnya. Qin Song pun menegakkan tubuhnya.
"Saya tahu tanggung jawab saya. Senang bekerja sama dengan Anda!" Qin Song tersenyum dan mengulurkan tangan kanannya dengan tatapan yang sama seriusnya.
"Senang bekerja sama denganmu," sahut Jing Luo sembari menyambut uluran tangan itu.
Dua tangan tertaut, menjadi mitra seumur hidup. Di masa depan, saat sang remaja berdiri di puncak kesuksesan, Qin Song selalu menepati janjinya, selangkah demi selangkah bertransformasi dari pengacara kecil menjadi manajer papan atas yang dijuluki sebagai "Tangan Tuhan".