Bab 51: Sepertinya Sudah Disuntik Hormon, Ya?
"Apakah penyatuan jiwa juga disertai dengan proses pertumbuhan tubuh?" Jing Luo mengangkat alisnya, tatapannya berbinar bagaikan seekor siluman yang memikat.
"..." Bukankah bertambah tinggi itu hal yang bagus?
Seolah merasakan isi hati Baozi, Jing Luo dengan santai mengancingkan tali jam di pergelangan tangannya, lalu melirik bayangan dirinya di cermin. "Pernahkah kau melihat seseorang yang dalam semalam langsung bertambah tinggi dua sentimeter, dan fitur wajahnya langsung menajam? Orang yang tahu akan mengira dia sedang masa pertumbuhan, tapi orang yang tidak tahu pasti mengira dia disuntik hormon?!"
"Sepertinya masuk akal juga," Baozi merenung sejenak, lalu mengangguk setuju. Namun di mata sang pemuda, apa pun yang dilakukan Baozi selalu tampak begitu menggemaskan. Pernahkah kau melihat sepotong adonan bakpao putih mengekspresikan emosi manusia? Baozi hanya memiliki dua antena tambahan di kepalanya, seandainya kedua antena itu tidak ada...
"Maomao."
Jing Luo dengan cepat memotong alur pikirannya sendiri, merasa tidak boleh biarkan Baozi tahu apa yang sedang dipikirkannya, kalau tidak makhluk itu pasti akan merengek dan berisik hingga membuatnya tidak tenang, lalu ia harus membujuk dan menuruti kemauannya.
"Hm?"
"Maafkan aku, semua ini salah Baozi karena tidak memikirkannya secara matang hingga membuat Maomao begitu kesulitan sekarang." Kedua antena Baozi sedikit terkulai, suaranya terdengar bingung dan penuh kehati-hatian.
Jing Luo mengusap dahinya pelan, lalu berkata dengan lembut, "Baozi, Maomao tidak menyalahkanmu, kau tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Bukankah bertambah tinggi itu juga hal yang bagus? Setidaknya, bukankah sebagian besar remaja laki-laki sekarang tingginya sudah di atas 180 sentimeter?"
"Tapi... Maomao kan perempuan..." ucap Baozi dengan lesu. "Maomao hanya merasa khawatir, Maomao pasti sangat menyebalkan bagi Baozi sekarang, sama sekali tidak berguna."
Kilatan rasa tak berdaya melintas di mata Jing Luo.
Ampun deh, anak kecil ini masuk ke pemikiran rumitnya lagi.
Jing Luo berkata dengan ekspresi tegas, "Sekalipun Baozi sama sekali tidak berguna, di dalam hati Maomao, Baozi tetaplah satu-satunya orang yang Maomao simpan di dalam lubuk hati dan genggam di telapak tangan."
Semburat kelembutan dan rasa penuh kasih melintas di mata sang pemuda, auranya pun melunak seketika. Ia berjalan ke arah balkon dan mendorong pintu kaca hingga terbuka, membuat seluruh tubuhnya bermandikan cahaya matahari, bagaikan sesosok malaikat yang mengepakkan sayapnya di bawah terik surya.
"Baozi, tahukah kau? Betapa bahagianya aku ketika diberi kesempatan untuk terlahir kembali. Betapa senangnya aku ketika aku tidak lagi sendirian." Suaranya yang tenang dibalut dengan kelembutan yang teramat sangat, bagaikan sebotol arak tua berharga yang telah disimpan selama ratusan tahun—baru setelah dibuka, kita bisa merasakan betapa manis, pekat, dan harumnya aroma cairan di dalamnya, begitu memikat hingga membuat seseorang tak kuasa melepaskannya.
Sang pemuda perlahan membuka kedua matanya, bulu mata gelapnya yang bermandi cahaya mentari tampak dipenuhi oleh bintik-bintik cahaya keemasan yang berkilauan. Sudut bibir sang pemuda melengkung membentuk sebuah senyuman, bagaikan anugerah terindah dan paling menakjubkan yang dianugerahkan Tuhan kepada seseorang, membuat siapa pun tak sanggup mengalihkan pandangan.
"Baozi, aku tidak pernah merasa menyesal atau kecewa karena orang yang akan menemaniku hidup Saling bergantung sepanjang hayat adalah kamu. Maomao tidak pernah mempercayai siapa pun, tapi Maomao percaya bahwa: Baozi adalah hadiah terbaik dan terindah yang diberikan oleh surga untuk kehidupan Maomao di dunia ini."
"Jadi, setelah membiarkanmu menungguku selama dua kehidupan, bagaimana mungkin Maomao tidak menghargainya? Lagipula, Baozi sangat hebat, jangan pernah meremehkan diri sendiri. Keberadaanmu di dunia manusia ini sangatlah langka."
"Sekarang... apakah kau mengerti?"
Tidak peduli seperti apa diriku, tidak peduli apakah kau berguna atau tidak, asalkan orang yang berjalan bersamaku di sepanjang sisa hidup ini adalah—kamu.
"Hm, Baozi sangat senang mendengar perkataan Maomao." Suara Baozi tidak lagi bernada lesu seperti sebelumnya, melainkan dipenuhi dengan kegembiraan dan antusiasme, bagaikan seorang anak kecil yang berhasil mendapatkan kue kesukaannya. "Baozi tidak akan meragukan diri sendiri lagi, Baozi akan menepati janji antara kita berdua."
Mendengar perkataan Baozi, Jing Luo tidak kuasa menggelengkan kepalanya pelan. "Ayo pergi, masih banyak hal yang harus kita lakukan hari ini. Maomao masih harus mencari nafkah untuk menghidupi Baozi!"
Selesai berkata, ia berbalik. Di belakangnya, matahari sedang perlahan naik, bergerak ke atas dengan lembut namun penuh keteguhan mengikuti jalurnya sendiri.
Di masa depan, sebuah bintang kejora sedang bersembunyi di balik awan, menunggu saat yang tepat. Setelah badai awan berlalu, bintang itu akan memancarkan cahaya menyilaukan, menjadi bintang paling terang dan memesona di atas langit malam yang gelap gulita.
...
Akademi Fengqi saat ini tampak begitu sunyi.
Dari kejauhan, sesosok bayangan meluncur mendekat menggunakan papan luncur. Sang pemuda menginjak papan dengan kaki kirinya sementara kaki kanannya berpijak di atas tanah, menghentikan laju majunya.
Jing Luo mengangkat alisnya. Sesi berbincang dari hati ke hati dengan Baozi berjalan sangat sukses. Konsekuensi dari kesuksesan itu adalah... terlambat sekolah.
Sekarang sudah pukul delapan tepat, padahal ia sudah berjanji dengan wali kelas untuk mengikuti ujian hari ini. Untungnya, masih ada waktu setengah jam sebelum ujian dimulai.
Pintu gerbang utama tidak bisa dilewati, kalau begitu ia hanya punya satu cara... melompati tembok.
Jing Luo berjalan ke sisi sebuah pohon besar, menjepit papan luncur di bawah lengannya dengan erat. Ia memperkirakan jarak, lalu mundur beberapa langkah. Dengan sedikit berlari kecil, ia menggunakan kaki kirinya untuk menjejak batang pohon dengan kuat, sementara tangan kanannya menggapai bagian atas tembok akademi, lalu membalikkan tubuhnya dengan gerakan menyamping. Seluruh gerakannya memancarkan aura ketampanan dan kebebasan yang sulit dijelaskan.
"Argh!" Sebuah jeritan terdengar.
Jing Luo merasakan telapak kaki kiri dan kanannya berpijak di atas permukaan yang ketinggian dan teksturnya terasa agak berbeda. Di sekelilingnya ada lima atau enam orang yang mengepungnya, menatap sang pemuda dengan pandangan ngeri, lalu membelalakkan mata menatap ke arah tanah.
Jing Luo merasa agak heran, ia pun mengikuti arah pandangan mereka ke bawah kakinya. Seseorang tengah terbaring di tanah, rupanya orang itu kebetulan membelakanginya saat ia melompati tembok tadi, sehingga tidak sengaja tertendang dan terjatuh ke tanah.
Melihat pemandangan ini, Jing Luo tidak kuasa mengedutkan sudut bibirnya.
"Siapa anak malang ini? Hahaha, membuatku tertawa setengah mati." Baozi sudah tertawa terbahak-bahak di dalam ruang jiwanya.
Beberapa kali saja seumur hidup melompati tembok sekolah, ia malah langsung tertangkap basah. Sepertinya keberuntungannya hari ini sedang tidak begitu baik, dan orang yang terbaring di tanah itu juga bernasib sama sialnya. Pikir sang pemuda dalam hati.
"Sialan di atas sana, cepat singkirkan kakimu dariku!" Orang di bawah berteriak dengan suara yang menyisakan rasa sakit luar biasa.
Eh, mengapa suara ini terdengar begitu familiar?
"Maomao, bukankah suara ini..."
Jing Luo menatap profil wajah orang di bawahnya, ia tidak kuasa mengangkat alisnya. Dunia ini ternyata begitu sempit. Si bodoh yang bernasib malang di tanah itu ternyata adalah—Zhao Quanlong.
Jing Luo yang tadinya hendak menarik kakinya, justru malah sengaja menekan punggung Zhao Quanlong lebih kuat lagi. "Sudah lama tidak jumpa ya."
Zhao Quanlong tadinya sedang kesakitan luar biasa, namun begitu mendengar suara yang begitu akrab di telinganya, ia melirik ke atas dengan ekor matanya. "Jing Luo!!!"
"Hei, kalian semua, cepat bantu aku!" Zhao Quanlong buru-buru meminta bantuan kepada orang-orang di sekitarnya dengan sorot mata penuh kebencian.
Orang-orang di sekeliling saling berpandangan, lalu tanpa sadar melangkah mundur sembari memperlihatkan ketakutan di dalam mata masing-masing.
Kebetulan sekali, kelima atau enam orang di sekitarnya itu adalah para pengikut setia Zhao Quanlong, dan mereka juga adalah orang-orang yang sempat dihajar oleh sang pemuda di kantin tempo hari. Saat melihat sang pemuda sekarang, luka-luka di tubuh mereka bahkan seolah kembali berdenyut ngilu.