Bab 49 Penderitaan yang Luar Biasa
Jing Luo mengangguk tanda mengerti.
Bibi Li berjalan kembali ke kamarnya, sambil menggunakan gerakan bibir mengucapkan kata "semangat".
Jing Luo merasa agak aneh, lalu melihat Bibi Li menunjuk ke arah Jun Jue, barulah Jing Luo tersadar.
Ternyata Bibi Li salah paham dengan hubungan antara Jun Jue dan sang remaja. Ini adalah pertama kalinya sang remaja membawa seseorang ke rumah, seorang anak laki-laki pula dengan penampilan yang lumayan, sehingga Bibi Li ingin sang remaja memanfaatkan kesempatan ini dengan baik.
Jing Luo menggelengkan kepala antara tertawa dan menangis.
Karena Jun Jue membelakangi Bibi Li dan tidak melihat gerakan wanita paruh baya itu, ia hanya merasa ekspresi sang remaja tampak aneh, lalu bertanya, "Ada apa?"
"Tidak apa-apa, minya hampir lembek, cepat makan." Usai berkata demikian, ia lebih dulu duduk di meja makan.
Secara sekilas kilatan cahaya melintas di mata Jun Jue, lalu ia mengikuti langkah sang remaja.
Bibi Li membuat dua mangkuk mi daging sapi tomat, di atasnya masing-masing ditaruh dua telur mata sapi keemasan yang langsung membangkitkan selera makan siapa saja yang melihatnya.
Jing Luo mengambil sumpit, dengan cepat mengambil sesumpit mi dan memasukkannya ke dalam mulut. Seketika matanya melebar memancarkan batin yang puas. Sangat panas tapi rasanya benar-benar luar biasa. Jing Luo langsung menelan mi tersebut ke dalam perutnya, lalu tidak tahan untuk mengibaskan tangan di dekat mulutnya bolak-balik, berusaha mendinginkan mi yang ada di dalam mulutnya.
Jun Jue melihat tingkah sang remaja, matanya dipenuhi dengan senyuman. Masih seperti anak kecil ya, apa dia tidak tahu kalau makan mi harus ditiup dulu agar dingin?
Ia berjalan ke sisi meja makan lalu menuangkan segelas air untuk sang remaja, dan menggeser gelas itu ke hadapan sang remaja, "Cepat minum, jangan sampai mulutmu melepuh."
Jing Luo melihat gelas air itu lalu menggelengkan kepala. Jika minum air saat makan mi, cita rasa mi akan menjadi hambar. Sambil terus mengibas-ngibaskan tangan, ia mengeluarkan embusan napas dari mulutnya.
Jun Jue seolah memahami maksud sang remaja, lalu berkata sambil tersenyum, "Di mangkukmu masih ada banyak mi. Lagi pula, kalau mulutmu melepuh, kamu tidak akan bisa makan mi lagi."
Jing Luo berpikir sejenak, merasa perkataan pria itu ada benarnya juga, lantas ia mengambil gelas air dan meminum seteguk.
Airnya hangat, ketika masuk ke dalam mulut sangat pas untuk menyeimbangkan suhu mi.
Setelah minum air, sang remaja mengambil sumpitnya,