Bab 50: Seperti Gadis Kecil
"Maomao, semangat! Sebentar lagi selesai... sebentar lagi..." Baozi mulai berbicara tidak jelas, suaranya terdengar tercekat. "Bertahanlah sebentar lagi!"
"Ah!" Jingluo tidak kuasa menahan diri untuk mendongakkan lehernya dan menjerit. Bibirnya sudah lama tergigit hingga berdarah, warna merah terang itu kontras dengan wajah sang pemuda yang pucat. Keningnya dipenuhi butir-butir keringat halus yang mengalir mengikuti kontur wajahnya hingga masuk ke dalam selimut.
Keesokan harinya, matahari pagi perlahan-lahan naik, menyebarkan kilau keemasan yang berkeping-keping ke atas sebuah ranjang putih yang besar.
"Ehm," pemuda di atas ranjang mengeluarkan gumaman samar sambil menggerakkan tubuhnya.
Sepasang mata phoenix yang gelap pekat terbuka, bagaikan sekuntum teratai tinta yang perlahan mekar, begitu anggun namun penuh misteri. Ujung alisnya terangkat lembut, sudut matanya seolah memiliki kuas kecil yang memikat, memancarkan pesona yang mampu merenggut jiwa.
Kulit di wajahnya sungguh putih bagaikan giok, tanpa terlihat sedikit pun pori-pori. Luka gigitan di bibirnya dari semalam telah lenyap, menyisakan rona merah muda yang sehat.
"Baozi..." panggil Jingluo mencoba di dalam hatinya sambil meregangkan tubuh.
"Maomao... hiks... kamu akhirnya baik-baik saja... hiks... Baozi sangat mengkhawatirkanmu. Maafkan aku, ini semua salah Baozi! Baozi tidak mengingatkan Tuan lebih awal... hiks... sampai-sampai Tuan tidak punya persiapan sama sekali."
Mendengar perkataan Baozi, Jingluo dengan pasrah memijat keningnya. "Maomao tidak menyalahkan Baozi, jangan menangis... Bukankah Maomao sekarang berdiri dengan baik di sini? Lihat." Jingluo menggerakkan tangannya untuk menunjukkan bahwa dirinya benar-benar baik-baik saja. "Ngomong-ngomong, apakah jiwa dan ragaku sudah menyatu sepenuhnya?"
Jingluo mengalihkan pembicaraan tanpa jejak, karena dirinya memang tidak pandai menghibur orang.
Mendengar ucapan sang pemuda, Baozi langsung mengikuti alur yang diharapkan. "Hm, penyatuan jiwa dan raga sangat sukses mencapai sembilan puluh persen, sepuluh persen sisanya hanya perlu ditutupi dengan nilai keyakinan."
"Hm." Pemuda itu mengangguk, seolah-olah ia dapat melihat sesosok bulatan kecil sedang berbicara dengannya di depan mata sambil menyeka air mata.
Tunggu!
Bulatan kecil!
Berbicara sambil menyeka air mata!
Kilatan aneh melintas di mata Jingluo. "Baozi, kenapa aku merasa... aku bisa melihatmu."
"Ah!?"
Jingluo merasa sepertinya ia melihat ekspresi terkejut pada bulatan kecil itu, yang bahkan memutar-mutar tubuhnya yang bulat gempal. Tidak punya tangan, melainkan dua antena yang sesekali saling menempel.
"Bagaimana bisa? Ini tidak ilmiah! Sejak kita memilih inang, manusia termasuk Tuan tidak bisa melihat kita lagi, kita hanya bisa berkomunikasi menggunakan gelombang suara di dalam hati!" Baozi merasa sangat bingung, antena di kepalanya kembali menempel menjadi satu.
"Hal-hal yang kita lakukan ini memang tidak bisa dijelaskan dengan sains, kan? Mana ada orang yang bisa berreinkarnasi dengan membawa ingatan, bahkan bonus menculik otak cahaya dari sejuta tahun kemudian, hehe." Setelah berkata demikian, Jingluo tidak bisa menahan tawa, matanya berbinar-binar bagaikan bertabur bintang di langit.
"Baiklah, prinsip di baliknya Baozi juga tidak begitu paham, tapi Baozi akan menepati janji pada Maomao," ucap Baozi dengan mantap.
"Hm." Sang pemuda mengangguk.
Tiga detik kemudian...
"Hahahahaha," Jingluo tertawa terbahak-bahak. "Baozi, kurasa aku benar-benar memiliki pandangan jauh ke depan. Waktu itu tidak memanggilmu dengan sebutan cakwe atau semacamnya, lihatlah sekarang betapa cocoknya dirimu dengan namamu. Hahaha!"
Tubuh putih si bulatan kecil itu tampak bersemu merah di dua titik, antena di kepalanya terkulai ke bawah seolah mencoba menutupi dirinya. "Hm... Maomao jahat, Baozi... Baozi tidak ingin seperti ini, ini semua salah mereka yang menciptakan Baozi."
Jingluo menahan tawa sambil menimpali, "Iya, iya, salahkan saja mereka."
"Tidak boleh tertawa, Maomao tidak boleh tertawa." Baozi melayang di dalam kesadaran Jingluo, berputar-putar ke sana kemari, mencoba mencari sesuatu untuk menutupi tubuhnya.
"Hm, imut sekali," ucap Jingluo sambil tersenyum, matanya dipenuhi kelembutan, suara baritonnya mengalir di dalam lubuk hati, seolah sedang berbisik kepada orang terkasih.
"..." Baozi tidak bersuara, hanya saja antena di kepalanya sedikit terangkat.
"Bagaimana pun wujudmu, kamu adalah keberadaan paling penting di dalam hati Maomao." Kali ini Jingluo tidak berkomunikasi melalui batin dengan Baozi, melainkan membuka bibirnya perlahan untuk melafalkan kalimat tersebut, membuat siapa pun dapat merasakan ketegasan dan kesungguhan dari kata-kata sang pemuda.
"..." Antena di kepala Baozi sudah saling melilit seperti tali tambang, rona merah di wajahnya telah menyebar luas, mirip seperti seorang gadis pemalu.
"Hm, Baozi juga..." ucap Baozi terbata. "Maomao, kamu sebaiknya mandi dulu, sebentar lagi kita harus pergi ke lokasi syuting."
"Baozi malu..." Jingluo menggoda, memamerkan senyum penuh kenakalan dengan sedikit aura urakan.
Namun ia tidak membantah ucapan Baozi. Rasa sakit semalam membuatnya berkeringat deras, tetapi ia tidak memiliki sisa tenaga untuk membersihkan diri. Pada saat ini, keringat itu sudah mengering dan menempel di tubuhnya, memberikan sensasi yang sangat tidak nyaman.
Jingluo menyalakan shower, membiarkan air mengguyur tubuhnya. Air mengalir dari puncak kepalanya melewati leher yang jenjang dan putih, menuju ke pusar yang kecil dan bersih, lalu meluncur turun melalui kedua kaki jenjangnya hingga ke lantai. Uap panas mengepul membasahi kaca setengah transparan, menciptakan kesan yang misterius.
Jingluo melangkah keluar, butiran air menetes dari tubuhnya, meninggalkan jejak basah di setiap langkah yang dilaluinya. Pemuda itu meraih handuk yang diletakkan di samping untuk mengeringkan seluruh tubuhnya.
Ia memasuki ruang ganti tempat berbagai pakaian tertata rapi. Tepat di dekat pintu masuk berdiri sebuah cermin badan yang besar.
Jingluo memilih satu set pakaian olahraga putih bersih, namun ia merasa sedikit heran karena celananya tampak menggantung lebih pendek.
Pemuda itu sekarang diperkirakan memiliki tinggi 180 sentimeter.
Setelah melepaskan pakaian olahraganya, ia terpaksa mengambil sehelai kaus longgar berwarna putih dan celana santai.
"Maomao, ini pasti karena penyatuan jiwa tadi malam yang menyebabkan peningkatan tinggi badanmu, dan juga... fitur wajahmu."
Jingluo mengangkat alisnya. Bahkan di kehidupan sebelumnya, tinggi badannya hanya mencapai 178 sentimeter, kali ini...
Sang pemuda mengenakan pakaiannya dan berjalan menuju cermin besar. Kaus yang tadinya longgar kini pas di tubuhnya, sementara celananya adalah ukuran yang salah dibeli beberapa hari lalu, yang justru kini menyelamatkannya. Tampaknya dalam beberapa hari ke depan, ia harus memanfaatkan waktu luang untuk mengunjungi pusat perbelanjaan lagi.
Sosok pemuda di dalam cermin tampak tegap dan tinggi. Paduan busana yang sederhana mampu menonjolkan bentuk tubuhnya. Helaian rambut di dahinya yang masih basah menempel di kening, sementara fitur wajahnya tampak semakin matang dan terbuka, terutama bagian matanya.
Mengapa pemuda itu begitu sukses memerankan tokoh idola pria? Salah satunya adalah pembawaannya, dan yang lainnya adalah mata sang pemuda. Mata Jingluo adalah mata phoenix yang jarang dimiliki oleh pria, begitu sipit dan dalam, sangat mencerminkan topografi maskulin.
Fitur wajah sang pemuda sebenarnya tidak banyak berubah, hanya saja menjadi jauh lebih terpahat dan halus, dipadukan dalam satu kesatuan yang membuat siapapun sulit mengalihkan pandangan.