Bab 55 Kandidat Terbaik
Lembaran demi lembaran ujian diserahkan dari tangan sang pemuda, lalu dengan sigap ia menarik lembaran lain yang berada di tumpukan terbawah.
Meskipun pemuda itu mengerjakan soal dengan kecepatan tinggi, lautan ujian yang teramat luas tidak bisa dihindari. Hari pun beranjak sore hingga akhirnya pemuda itu meletakkan pulpen di tangannya, lalu memijat pergelangan tangan dan lehernya yang terasa pegal. Bagian jari tengahnya sudah tampak memerah dan membengkak.
Sepanjang hari, ia tidak pernah melepaskan pulpen dari genggamannya sembari duduk di bangku kayu yang dingin. Selain waktu untuk kepergian ke kamar kecil, bahkan waktu makan siang pun dititipkan dan dibelikan oleh seorang siswa di luar pintu.
Ketujuh atau kedelapan guru tersebut, termasuk sang kepala bagian kesiswaan, sama sekali tidak ada yang beranjak meninggalkan ruangan ini.
Ketika kepala bagian kesiswaan hendak menyuruh mereka pergi makan siang, sekelompok guru itu justru menatap sang pemuda dengan penuh memelas, seraya kompak menyatakan bahwa diri mereka belum ingin pergi dan belum merasa lapar.
Dengan perasaan tak berdaya, sang kepala bagian kesiswaan memijat pelipisnya. Ia sendiri tidak tahu sejak kapan ruang kesiswaan ini menjadi begitu populer.
"Koko, kau bisa menggunakan sebagian nilai keyakinan untuk menghilangkan rasa sakit di tubuhmu," ucap Baozi dengan nada penuh rasa iba di dalam ruang dimensi.
Jing Luo tertegun sejenak. "Nilai keyakinan... memiliki fungsi semacam itu juga?"
"Ada, ada!"
Jing Luo mengangguk kecil. Orang-orang di sekitarnya mengira pemuda itu hanya sedang melemaskan lehernya. Siapa pun pasti tidak akan sanggup jika harus menunduk terus-menerus sepanjang hari seperti yang dilakukan orang biasa.
Jing Luo seketika merasakan seulas sensasi sejuk yang merayapi sekujur tubuhnya. Aliran darah yang sebelumnya tersumbat akibat terlalu lama duduk kini telah lenyap tanpa bekas. Area lehernya terasa begitu nyaman. Saat ia melirik ke arah jari tengahnya, kemerahan dan pembengkakan itu telah sirna. Ketika ia menekuk jemarinya, kelenturannya telah pulih seperti sedia kala.
Sudut bibir Jing Luo terangkat tipis. Kemampuan dari nilai keyakinan ini benar-benar luar biasa di luar dugaan.
Begitu melihat raut wajah sang pemuda yang kembali tenang dan santai, Baozi lantas menghentikan fungsi pemulihan tersebut. "Koko, sekarang kau sudah merasakan sendiri kan manfaat dari nilai keyakinan? Kalau begitu, ayo bekerja keraslah untuk mengumpulkan lebih banyak nilai keyakinan. Kau harus tahu, nilai keyakinan memang bukan segalanya, tetapi tanpa nilai keyakinan, kita tidak bisa berbuat apa-apa."
Pemuda itu tak kuasa menahan senyum di wajahnya. "Yang kau bicarakan itu sepertinya uang."
"Bukankah Koko merasa kalau nilai keyakinan jauh lebih berguna daripada uang?"
"Tidak juga."
"..."
Jing Luo seolah bisa merasakan kefrasean di balik kebisuan Baozi, lalu ia membujuknya dengan sabar. "Coba pikirkan, jika aku punya uang, aku juga bisa menghilangkan rasa sakit ini, bukan? Hanya saja, yang satu cepat dan yang satunya lambat. Tapi lihatlah, jika aku punya uang, aku bisa pergi bersenang-senang ke mana saja sesukaku. Apakah nilai keyakinan bisa melakukan hal-hal semacam itu?"
"..." Sepertinya tidak bisa.
"Nah, jadi begitu kan. Tanpa uang kita tidak bisa berbuat apa-apa. Lagipula, bukankah kau merasa kalau aku yang sekarang... jauh lebih perlu bekerja keras mencari uang demi membelikan mobil kesayanganmu itu?"
Mobil!
"Betul, betul, betul! Apa pun yang Koko katakan selalu benar. Kalau begitu, ayo Koko cepat cari uang!" timpal Baozi dengan nada menjilat. Mobil, mobil, mobil kesayangannya sedang melambai-lambai ke arahnya.
Pancaran mata Jing Luo dipenuhi dengan senyuman, membuat orang-orang di sekitarnya tanpa sadar terpesona hingga kehilangan fokus.
Sang pemuda ini begitu lembut...
Begitu Jing Luo menolehkan kepalanya, ia mendapati tujuh atau delapan pasang mata sedang menatapnya lekat-lekat tanpa berkedip, membuatnya sedikit mengerutkan kening.
Setelah berpikir sejenak, ia akhirnya mengalihkan pandangannya kepada sang kepala bagian kesiswaan—siapa lagi jika bukan pria paruh baya itulah yang memegang kuasa tertinggi di tempat ini. "Kepala Bagian, bagaimana hasil ujianku?"
"Ah!" Sang kepala bagian kesiswaan buru-buru menarik kesadarannya kembali. Wajah pemuda ini sungguh... Ia lantas menoleh ke arah ketujuh atau kedelapan orang di belakangnya, atau lebih tepatnya menatap lembar ujian yang masing-masing masih dipegang erat di pelukan mereka.
"Bawa lembar ujian itu ke sini."
Ketujuh atau kedelapan guru itu saling berpandangan sejenak. Ketidakselaan dan keengganan untuk berpisah tampak jelas di mata masing-masing dari mereka.
Melihat pemandangan tersebut, urat-urat dahi sang kepala bagian kesiswaan seolah berdenyut kencang. Ini kan hanya selembar kertas ujian, apakah perlu dijaga dan digenggam erat bagaikan harta karun yang paling berharga?
Hingga detik ini, sang kepala bagian kesiswaan pun belum tahu persis seperti apa hasil ujian yang dikerjakan oleh sang pemuda. Namun, berbekal pengalamannya hidup selama bertahun-tahun, ia tetap bisa menebak dari ekspresi wajah rekan-rekan sesama guru itu bahwa sang pemuda pastinya meraih hasil yang luar biasa cemerlang.
Ia pun terpaksa mengeraskan suaranya dan mengulangi perintahnya. "Bawa ke sini." Tatapan utamanya tertuju langsung kepada Yang Siyu.
Yang Siyu tahu betul bahwa dirinya harus maju mengambil tanggung jawab sebagai pemimpin, tetapi lembar ujian bahasa Inggris ini sungguh sangat enggan untuk ia lepaskan. Terutama bagian karangan dalam ujian bahasa Inggris itu yang benar-benar luar biasa mematikan.
Dengan ekspresi penuh keengganan namun tak berdaya, Yang Siyu melangkah mendekati sang kepala bagian kesiswaan, lalu menyerahkan lembar ujian bahasa Inggris yang tadi mendekap erat di dadanya dengan gerakan lamban. Begitu ada satu orang yang memelopori, guru-guru lain yang meskipun masih merasa enggan akhirnya terpaksa menyerahkan lembar ujian masing-masing dengan patuh.
Sang kepala bagian kesiswaan merapikan tumpukan lembar ujian di tangannya. Sebuah angka dengan ukuran besar terpampang jelas tepat di tengah halaman paling atas. Seolah-olah demi tidak merusak keindahan lembar ujian sang pemuda, para guru sepakat untuk tidak memberikan tanda centang merah di atasnya.
Sambil membalik lembaran demi lembaran ujian tersebut dan menahan diri dari tatapan tajam tujuh atau delapan pasang mata yang mengawasinya, sang kepala bagian kesiswaan benar-benar dibuat kagum oleh ketangguhan mental sang pemuda. Usai meneliti seluruh lembar ujian itu, secercah kilatan aneh melintas di balik alisnya.
"Kalian yakin nilai ujian ini tidak ada yang salah koreksi?!"
"Tidak, tidak! Benar-benar tidak ada yang salah!"
"Menurut kalian, kalau satu lembar ujian dikoreksi oleh tujuh atau delapan orang guru sekaligus, apa masih mungkin ada kesalahan?"
Guru-guru yang lain turut menimpali serentak.
Menatap tumpukan lembar ujian di tangannya, sang kepala bagian kesiswaan akhirnya mau tidak mau mengalihkan pandangannya kepada sang pemuda. Bibirnya bergerak sejenak, seolah ada sesuatu yang ingin ia ucapkan.
Jing Luo menatap sang kepala bagian kesiswaan sambil tersenyum. "Nilai sempurna?"
Kepala bagian kesiswaan menganggukkan kepalanya dengan perasaan serba salah, namun terselip rasa bangga yang mendalam. "Secara akurat, semuanya mendapatkan nilai sempurna di setiap mata pelajaran."
"Kalau begitu, urusannya sudah selesai." Jing Luo menjawab dengan senyuman, seolah-olah menganggap pencapaian nilai sempurna di semua mata pelajaran hanyalah perkara sepele belaka. Ia menyisipkan pulpennya kembali ke saku celana. "Kepala Bagian, jika sudah tidak ada urusan lain, kalau begitu saya permisi dulu."
Usai berkata demikian, ia sama sekali tidak menunggu reaksi dari orang-orang di belakangnya, melainkan langsung menarik gagang pintu dan melangkah keluar mendahului mereka.
Sepeninggal sang pemuda, Yang Siyu akhirnya tidak mampu lagi menahan diri. "Kepala Bagian, apakah lembar ujian ini..."
Yang lain pun turut mengarahkan pandangan mereka kepada sang kepala bagian kesiswaan. Mereka telah mengajar selama bertahun-tahun lamanya; betapapun buruk kondisi penglihatan mereka, setidaknya mata mereka tidak buta. Bagaimana mungkin mereka tidak menyadari kejanggalan dari lembar ujian ini?
"Ya," jawab sang kepala bagian kesiswaan. Ia kembali duduk di kursinya dan memandangi tumpukan lembar ujian itu sekali lagi. "Aku sengaja melakukannya."
Dengan nada cemas, Yang Siyu bertanya, "Kenapa?"
Sang kepala bagian kesiswaan tidak langsung menjawab pertanyaan Yang Siyu. Tatapannya meredup dalam. Pada akhirnya, seolah teringat akan sesuatu, ia menghela napas panjang. "Batas waktu sepuluh tahun itu sebentar lagi akan tiba..."
Mendengar jawaban sang kepala bagian kesiswaan, seisi ruangan seketika tertegun.
Atmosfer kesedihan dan keputusasaan dengan cepat menjalar ke seluruh penjuru ruangan. Sudah begitu lamanya mereka bersama, bagaimana mungkin benih-benih ikatan emosional itu tidak tumbuh?
Mendengar tanggapan tersebut, Yang Siyu tak kuasa mengepalkan kedua tangannya erat-erat. "Apakah perjanjian itu... benar-benar nyata adanya."
Kepala bagian kesiswaan menganggukkan kepalanya. Sebagai sosok yang paling senior di akademi ini, ia telah mengabdikan diri mengajar selama lebih dari lima puluh tahun. Menghabiskan seumur hidupnya di sekolah ini, bagaimana mungkin ia sanggup merelakannya...
"Bukankah Jing Luo masih terlalu muda untuk memikul tanggung jawab sebesar ini di pundaknya?" Sudut mata Yang Siyu memerah digenangi air mata. Tatapannya menyiratkan kekhawatiran mendalam—demi masa depannya sendiri, demi masa depan rekan-rekan sesama guru, demi masa depan akademi tercinta ini, dan terlebih lagi... demi masa depan sang pemuda.
Kilatan cahaya yang tajam terpancar dari mata sang kepala bagian kesiswaan. "Tidak. Dialah satu-satunya kandidat yang paling sempurna."