Bab Lima Puluh Empat Seseorang Makan Tanpa Membayar
Orang-orang yang sudah lama tidak menikmati makanan layak hanya fokus menyantap hidangan dengan lahap, membuat kedai itu teramat sunyi.
Setelah akhirnya merampungkan kesibukan gelombang ini, Wuyang keluar untuk mengambil udara segar, dan pandangannya langsung tertuju ke meja Han Yang.
Zhu Xihe mengikuti arah pandangannya, lalu mengamati meja tersebut dan mendapati ada banyak pria tampan di sana, masing-masing dengan gaya yang khas. Ia bergeser mendekati Wuyang secara diam-diam dan bertanya, "Ada yang kamu taksir?"
Sebelum Wuyang sempat bereaksi, Dongdong yang tubuhnya telanjur membesar sehingga tidak bisa lagi bertengger di bahu melainkan hanya bisa berbaring di atas balai-balai kecil—berfungsi sebagai batu pemantau Wuyang—langsung mendongakkan kepala mungilnya dengan sigap, telinga bundarnya menegak bagaikan antena.
Wuyang menepuk pelan bagian belakang kepala Zhu Xihe. "Apa yang kamu pikirkan! Aku hanya melihat para pria di meja itu adalah tentara, jadi aku merasa sedikit bernostalgia."
Zhu Xihe mengusap kepalanya yang sama sekali tidak terasa sakit itu, lalu melirik sekilas lagi ke arah meja Han Yang. "Ah, benar juga, kamu kan juga seorang prajurit. Seperti apa kehidupan di militer?"
Zhu Xihe terus mendesak Wuyang agar mau menceritakan kisah-kisah padanya. Mau tak mau, Wuyang dengan penuh kasih sayang berusaha merangkai kata-katanya agar terdengar sedikit lebih menarik.
Satu per satu pengunjung yang telah selesai makan mulai membayar tagihan mereka, hingga akhirnya giliran keluarga dari anak laki-laki yang tadi meributkan soal daging. Sang nenek menghentikan tangan putranya yang hendak mengeluarkan inti kristal, lalu merogoh saku dan mengeluarkan biji kuaci yang entah sudah berapa lama disimpan, lalu menumpuknya di atas meja kasur.
"Nona muda, lihatlah keluarga kami yang sudah tua, lemah, sakit-sakitan ini. Seluruh beban berat berada di pundak anak laki-laki saya, sungguh hancur hati saya sebagai seorang ibu."
Zhu Xihe mengangkat alisnya, lalu membalas dengan dingin, "Lalu?"
"Kami baru saja pindah ke sini, ada banyak kebutuhan yang memerlukan inti kristal, jadi kami benar-benar tidak punya sisa."
"Nona muda, catat saja dulu, kami pasti akan melunasi inti kristal ini."
"Mulai sekarang kita adalah tetangga, kami pasti akan sering mampir untuk mendukung usaha kalian."
Zhu Xihe mendengarkan omongan manis sang nenek dengan senyuman di wajahnya. Beberapa pengunjung yang tadinya hendak melangkah keluar kedai tanpa sadar menghentikan niat mereka, pura-pura sibuk seraya diam di tempat untuk menonton pertunjukan.
Di bawah tatapan orang banyak, sang nenek sama sekali tidak merasa malu dan terus berbicara panjang lebar. Melihat Zhu Xihe tetap tersenyum tanpa memberikan respons apa pun, nada bicaranya mulai sedikit mendesak. "Kamu adalah gadis yang begitu cantik dan berhati baik, bahkan kaca milik gadis kecil itu saja kamu terima, memberikan kelonggaran dua hari pada kami tentu bukan masalah besar."
"Itu adalah batu delima," potong Zhu Xihe, segera melenyapkan senyuman dari wajahnya dan menjawab dengan dingin.
"Anak muda, bagaimana bisa kamu bicara ngawur begitu? Jelas-jelas itu hanya kaca. Mana mungkin keluarga mereka punya barang bagus!"
Ketiga anggota keluarga itu sejak tadi berdiri di dekat sana dan tidak beranjak. Mendengar ucapan tersebut, kedua orang tuanya tersenyum pahit dengan mata yang dipenuhi rasa bersalah saat menatap Zhu Xihe, menyadari bahwa masalah ini timbul karena ulah mereka.
Zhu Xihe menggelengkan kepala ke arah mereka. Sekalipun insiden batu delima itu tidak terjadi, sekelompok orang yang matanya sudah melirik ke sana-kemari sejak pertama kali melangkah masuk ini tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk mencari keuntungan.
Setelah semua bujuk rayu habis terucap, nada bicara sang nenek berubah menjadi tidak sabar. "Cepat selesaikan, urusan pembayaran ini harus segera beres. Sebagai seorang pelayan, kamu pasti takut kalau bos kalian sampai tahu hal semacam ini, kan?"
Wuyang, yang sedang bersandar di dinding antara halaman belakang dan meja kasur seraya memejamkan mata untuk bermeditasi, langsung membuka matanya mendengar kata-kata itu. Alasan mengapa ia tidak turun tangan sedari awal adalah karena ia percaya pada kemampuan Zhu Xihe dan menghormati cara gadis itu menangani masalah. Namun, itu bukan berarti ia membiarkan siapapun mengancam para pegawainya!
Zhu Xihe yang sudah hampir kehabisan kesabaran dan Wuyang yang bersiap memberikan dukungan penuh sama sekali tidak lebih cepat daripada Zhengzheng yang melesat keluar dari halaman belakang. "Guk guk guk!"
"Aduh—anjing dari mana ini?!" Sang nenek terperanjat kaget oleh Zhengzheng yang menggonggong garang ke arahnya, membuat cucu lelaki yang digendongnya nyaris terjatuh ke lantai.
Wuyang dan Zhu Xihe yang tadinya berwajah dingin langsung cerah seketika. Rasanya sungguh luar biasa memiliki Kak Zheng yang siap melindungi!
Anak kecil itu menangis histeris, sang nenek panik menghindar, dan ibu anak tersebut berusaha meraih putranya namun gagal; situasi di tempat itu mendadak kacau balau. Zhu Xihe menepuk-nepuk pundak sang kepala keluarga yang sejak tadi diam saja dan tampak kebingungan, memberi isyarat agar pria itu segera membayar.
Tepat pada saat itu, sang nenek yang tadinya terkejut tiba-tiba mendapatkan kembali sedikit akalnya. Dengan satu tangan mendekap sang cucu, telapak tangan tangan satunya seketika memunculkan gumpalan api.
Wajah para penonton yang sedang menyaksikan keributan itu langsung berubah drastis, dan mereka buru-buru mundur ke belakang. Di ruangan sempit dengan begitu banyak orang ini, perempuan itu nekat menggunakan kekuatan espernya!
Tanpa ragu sedikit pun, Han Yang melangkah maju beberapa langkah dan langsung mencengkeram gumpalan api yang hendak dilemparkan oleh sang nenek. Namun, sebelum kata-kata hardikan sempat keluar dari mulutnya, suara seorang wanita mendahuluinya—
"Jika kamu berani bergerak, aku akan memusnahkanmu."
Semua orang menoleh dan melihat seorang wanita berparas cantik dengan kulit putih sedang mencengkeram kuat leher sang ayah anak menggunakan tangan kanannya yang dibentuk seperti cakar elang. Wajah pria itu tampak membiru, menandakan cengkraman tersebut dilakukan dengan niat membunuh.
Sang nenek menarik napas dengan tergesa-gesa karena marah, api di telapak tangannya sempat padam lalu menyala kembali. Pada akhirnya, bola matanya berputar cepat sebelum ia menjatuhkan diri ke lantai dengan suara gedebuk dan mulai meraung histeris. "Ada orang menindas wanita tua!"
Memanfaatkan kesempatan itu, ibu si anak langsung merenggut putranya kembali. Han Yang, yang sempat terkejut oleh kelakuan tak tahu malu sang nenek, buru-buru melepaskan tangannya dan mundur beberapa langkah ke belakang.
Dengan tangan gemetar, pria itu mengeluarkan inti kristal yang sudah disiapkannya dari dalam saku. Wuyang langsung mengendurkan jemarinya, hidungnya mengerut jijik seraya bergeser menjauh. Bau dari tubuh orang itu begitu pekat dan tidak sedap hingga membuat siapa pun enggan bernapas.
Zhu Xihe dengan sengaja memeriksa inti kristal tersebut satu per satu. Ia paling muak dengan pria jenis seperti ini: tidak punya omongan yang berguna, dan hanya menunggu para wanita di keluarganya yang bekerja. Jika berhasil mengambil keuntungan, ia ikut menikmati tanpa ikut lelah; jika gagal, ia justru menyalahkan para wanita karena merasa dipermalukan, padahal ia sendiri yang sejak awal sudah bersiap mengeruk keuntungan. Sungguh, muka tebal dan keuntungan ingin ia raup sendiri, sementara urusan lainnya tidak ia pedulikan sama sekali.
Keluarga itu pergi dengan penuh rasa malu, mengakhiri drama konyol tersebut, dan orang-orang pun membubarkan diri untuk bersiap menyeberangi jembatan.
Ketiga anggota keluarga itu merasa sangat tidak enak hati, sehingga mereka memutuskan untuk tinggal sejenak demi menyampaikan permintaan maaf, sementara sang gadis kecil ingin bermain dengan Zhengzheng.
"Jangan khawatir, Zhengzheng itu..."
"Anjing militer," potong Zhu Xihe sebelum sempat menjelaskan lebih lanjut. Anggota keluarga tersebut sudah mengizinkan putrinya, dan gadis kecil itu langsung menerkam ke arah Zhengzheng, memeluk leher anjing itu erat-erat sambil mengguncang-guncang tubuhnya.
Wuyang mengamati sepasang suami istri itu sekilas; pakaian mereka sudah sangat usang namun tetap terjaga kebersihannya, memancarkan aura kaum terpelajar yang intelektual.
Ada beberapa hal yang tidak pantas dibicarakan di hadapan anak-anak, sehingga memanfaatkan kesempatan ini, pasangan suami istri itu menjelaskan alasan mengapa mereka bisa bermusuhan dengan keluarga preman tadi.
Pasangan itu menikah karena latar belakang keluarga yang sepadan, keduanya berasal dari keluarga terpelajar dan kaum intelektual, serta banyak anggota keluarga yang berkecimpung di bidang penelitian ilmiah atau dunia pendidikan. Suami istri itu tinggal bersama kakek dan neneknya. Nyonya Su dan sang kakek adalah profesor di universitas ternama, sementara sang nenek bekerja di dinas