Bab Delapan Puluh Empat: Memburu Binatang Jiwa Berusia Sepuluh Ribu Tahun
“Gadis kecil, kau benar-benar hebat!” Zhao Wujie sangat memperhatikan Tang Qingwei, meskipun kemampuan jiwanya lebih banyak bersifat pendukung, tetapi kekuatan fisiknya pernah ia rasakan sendiri. Perjalanan hari ini semakin menegaskan pikirannya, kekuatan fisik gadis ini sama sekali tidak kalah dari seorang Guru Jiwa tingkat atas.
“Baiklah, malam ini kita cari tempat di sekitar sini untuk beristirahat dan mengisi kembali persediaan. Besok pagi kita akan berangkat menuju Hutan Bintang Besar.” Zhao Wujie menoleh kepada Tang San dan yang lainnya.
Semua orang tidak ada yang keberatan.
Zhao Wujie menunjuk sebuah penginapan sederhana di depan mereka dan berkata, “Kita menginap di sini saja. Istirahat semalam, besok pagi kita berangkat. Biaya makan dan menginap kalian tanggung sendiri.”
Akademi Shileike memang tidak kaya, sebab setelah mencapai tingkat Guru Jiwa Agung, tidak ada lagi tunjangan. Zhao Wujie, Flander, dan yang lainnya sudah melewati tingkatan itu, jadi sudah lama tidak menerima tunjangan.
Tentu saja mereka tidak akan menanggung biaya makan dan menginap para murid, toh para murid masih menerima tunjangan dari Istana Jiwa, jadi kebutuhan sehari-hari mereka pasti tercukupi.
Penginapan itu adalah bangunan dua lantai, dengan aula makan sederhana di lantai bawah dan kamar tidur di lantai atas. Zhao Wujie memesan satu kamar untuk dirinya sendiri dan langsung naik ke atas.
Setelah berdiskusi singkat, Dai Mubai dan ketiga lelaki yang lain memesan satu kamar berempat, sedangkan satu kamar lagi dipesan untuk Tang Qingwei dan Xiaowu.
Walau Tang Qingwei kini lebih sering mengganti tidur dengan meditasi, ia tetap menerima niat baik teman-temannya dan tidak menolak. Ia pun menerima pengaturan itu tanpa banyak bicara.
Setelah makan, mereka semua kembali ke kamar untuk beristirahat. Hanya Tang Qingwei yang melompat ke atap, bersila untuk bermeditasi.
Tiba-tiba, ia merasakan gejolak aura langit dan bumi di udara yang tidak biasa. Ia merasa khawatir, karena wilayah ini tidak jauh dari Hutan Bintang Besar.
Ia segera melompat ke awan kencana dan melaju ke arah di mana aura itu bergejolak.
Belum juga mendekat, suara auman berat sudah terdengar. Dari kejauhan tampak manusia dan sekawanan binatang jiwa sedang bertarung hebat. Pakaian manusia itu tampak tak asing baginya.
“Itu orang-orang dari Istana Jiwa!” batin Tang Qingwei.
Dalam pertarungan antara manusia dan binatang jiwa itu, terlihat cincin jiwa hitam menyala di sekitar binatang jiwa. “Itu... binatang jiwa sepuluh ribu tahun?”
Tak jauh dari binatang jiwa itu, ada sekawanan binatang jiwa seribu dan seratus tahun yang tampak panik dan ketakutan. Di sisi lain, sekelompok orang berpakaian seragam Istana Jiwa berdiri dengan senjata di tangan.
“Mereka sedang memburu binatang jiwa sepuluh ribu tahun.”
Melihat pemandangan itu, Tang Qingwei langsung mengerti.
Sungguh keterlaluan! Kenapa mereka memburu binatang jiwa sampai mengusir kawanan binatang itu ke arah desa?! Apakah mereka tidak sadar bahwa tidak jauh dari sini ada sebuah kota kecil dengan banyak penduduk biasa?
Yang membuat Tang Qingwei marah bukan karena Istana Jiwa memburu binatang jiwa, melainkan karena mereka demi kepentingan sendiri, sama sekali tidak peduli apakah tindakan mereka akan mencelakai orang lain.
Kenapa tidak mengalihkan binatang jiwa ke tempat lain saja?
Begitu banyak anggota Istana Jiwa hanya menonton tanpa berusaha menghalau binatang jiwa seribu dan seratus tahun itu.
Tang Qingwei tak memikirkan apa-apa lagi. Ia segera melompat ke awan kencana dan kembali ke penginapan, lalu mengetuk pintu kamar Tang San.
“Qingwei, ada apa?” Tang San membuka pintu dan melihat adiknya dengan wajah tegang dan serius. Senyumnya yang semula hendak mekar langsung menghilang, firasat buruk pun muncul di hatinya.
Ma Hongjun dan Oscar yang mendengar ketukan pintu pun terbangun, berjalan ke pintu sambil menguap dan bercanda, “Kenapa? Takut tidur sendiri, jadi cari kakakmu untuk menemanimu?”