Bab Sembilan Puluh Tiga: Sudah Waktunya Makan Malam
“Kakak Dai, kemampuan jurus roh ketigamu benar-benar hebat, apalagi saat digabungkan dengan jurus lainnya. Aku nyaris celaka barusan!” Tang Qingwei menepuk dadanya yang mungil, masih merasa takut setelah kejadian itu.
Namun Dai Mubai tak ingin banyak bicara sekarang. Dengan wajah penuh kekecewaan, ia hanya melirik Tang Qingwei sekilas, lalu berbalik dan pergi.
Tang Qingwei merasa bingung dengan tatapan itu, lalu menoleh ke arah Tang San, “Kak, kenapa Kakak Dai seperti itu? Sepertinya dia sedang tidak senang.”
Tang San tersenyum, mengelus rambut Tang Qingwei dengan penuh kasih sayang. “Kakakmu itu sedang merasa terpukul. Tak apa, nanti juga baik lagi. Kita belum makan malam, kamu lapar tidak?”
Dalam hati, mereka yang lain hanya bisa membatin. Siapa yang tidak merasa terpukul? Sudah semangat menantang duel, eh, Tang Qingwei malah kabur hanya dengan satu jurus. Secepat apa pun larinya, tetap saja tidak bisa mengalahkan teknik teleportasi.
Mendengar ucapan Tang San, Tang Qingwei pun baru sadar kalau dirinya memang mulai lapar. “Kalau kakak tidak bilang, aku tak sadar juga. Memang sudah lapar. Hotelnya tidak apa-apa kan?”
Sambil bicara, matanya melirik ke arah hotel.
Untung saja pertarungan tadi tidak meluas, sehingga penginapan itu masih berdiri kokoh seperti sediakala.
Saat ini, di dalam penginapan itu penuh sesak oleh warga sekitar yang mencari perlindungan.
Begitu melihat Zhao Wujie dan yang lain datang, mereka segera memberi jalan menuju meja resepsionis. Mereka jelas melihat sendiri, tiga binatang roh berusia ribuan tahun tewas di tangan kelompok ini. Karena kehadiran mereka pula, para warga biasa itu bisa selamat.
Kini, di hati para warga itu, selain rasa takut, tumbuh pula rasa syukur dan hormat yang dalam.
Namun Zhao Wujie dan kawan-kawan tak terlalu peduli apa yang dipikirkan orang lain. Mereka hanya melakukan apa yang menurut mereka benar.
“Halo, apakah masih ada makanan?” tanya Tang San setelah menyuruh yang lain duduk, lalu ia sendiri pergi ke meja resepsionis untuk memesan makanan. Zhao Wujie tidak menunggu, langsung naik ke lantai atas. Lima orang lainnya menemukan meja di sudut dan duduk bersama.
Setelah selesai memesan, Tang San kembali dan tidak melihat Zhao Wujie. Ia bertanya pada yang lain, “Guru Zhao di mana? Apa dia tidak makan bersama kita? Biar aku panggil.”
Saat ia hendak berdiri, Oscar menggeleng, menahan Tang San, “Tak perlu. Walaupun guru ikut keluar bersama kita, ia tidak akan membayar apa pun untuk kita, dan juga tidak akan menerima sedikit pun balas jasa dari kita. Itu sudah jadi aturan yang ditetapkan Kepala Sekolah Flender.”
Tang Qingwei sudah mulai makan lebih dulu. Sambil memegang paha ayam, ia bertanya pada Oscar, “Guru Zhao, setelah pertarungan tadi, apa dia tidak lapar?”
Ma Hongjun menepuk pundak Dai Mubai, lalu berkata sambil tersenyum pada yang lain, “Bukankah ini justru bagus? Semuanya jelas, dan aku paling suka suasana di akademi yang apa adanya seperti ini.”
Kini, Dai Mubai sudah kembali ceria dan menatap Ma Hongjun dengan geli, “Ayo makan, nanti kalau tidak cepat, Qingwei akan menghabiskannya sendiri.”
Ma Hongjun pun menunduk dan melihat tangan Tang Qingwei bergerak begitu cepat di antara piring-piring, bahkan menimbulkan bayangan. Ia pun buru-buru duduk dengan baik dan ikut dalam ‘perang rebutan makanan’.
Yang lain saling berpandangan, lalu tanpa bicara, mempercepat gerakan tangan mereka. Maka, terjadilah ‘pertarungan’ antara sumpit di atas meja makan itu.
Namun, mereka semua cukup bisa mengendalikan kekuatan masing-masing. Kalau tidak, dengan tingkat kekuatan roh mereka saat ini, sisa energi dari pertarungan saja sudah cukup untuk merobohkan hotel itu hingga rata dengan tanah.
Tujuh orang duduk melingkar di satu meja, makan dengan lahap.
Tiba-tiba, dari luar masuk sekelompok orang dengan langkah tegas dan penuh tekanan. Jelas mereka bukan datang untuk makan.
Begitu mereka masuk, aura mereka begitu mengintimidasi hingga banyak warga yang semula berlindung di penginapan itu langsung berhamburan keluar.