Bab Sembilan Puluh Enam: Para Saudara Membuka Cincin Jiwa
"Cincin jiwa seribu tahun? Kalian dari akademi mana?" Pria paruh baya itu menunjukkan ekspresi serius. Anak-anak semuda ini, ternyata sudah menjadi Penguasa Jiwa, mungkinkah mereka berasal dari akademi bangsawan? Atau mungkin keturunan keluarga besar?
Dalam hati, pria paruh baya itu penuh keraguan dan kecurigaan. Walaupun kekuatannya tidak lemah, bersikap hati-hati tidak pernah salah.
Tatapan tajam dan dingin terpancar dari mata Dai Mubai. "Kau belum pantas tahu sekolah kami."
Guru dari Akademi Canghui yang mendengar kata-kata itu, tak mampu lagi mempertahankan sikap santunnya. Ia menunjuk ke arah Dai Mubai dan yang lainnya, membentak dengan suara keras, "Kalian benar-benar keterlaluan! Setelah membunuh binatang jiwa kami, sekarang bertutur kata seenaknya, tidak menghormati yang lebih tua. Hari ini, aku akan menggantikan guru kalian untuk memberi pelajaran!"
Begitu berkata, tubuhnya memancarkan cahaya terang, dan di bawah kakinya, lima cincin jiwa perlahan muncul: tiga kuning dan dua ungu.
Beberapa murid di belakangnya pun langsung memanggil keluar roh bela diri mereka.
Sekejap, cahaya beraneka warna menyala di sekitar mereka. Empat pemuda di antaranya memiliki warna cincin jiwa yang sama: satu putih satu kuning, menandakan satu cincin jiwa sepuluh tahun dan satu cincin jiwa seratus tahun.
Hanya satu orang yang berbeda, yakni Wen Shu yang baru saja bicara. Ia memiliki dua cincin jiwa kuning, menandakan bakat terbaik di antara mereka, tak heran ucapannya terkesan tinggi hati.
Kelima orang itu semuanya adalah Petarung Jiwa, terdiri dari dua Petarung Jiwa Roh Alat dan tiga Petarung Jiwa Roh Binatang. Dua Roh Alat itu berupa pedang panjang dan tongkat, sedangkan tiga Roh Binatang adalah burung, anjing, dan monyet. Dilihat dari roh bela diri mereka, tak ada yang benar-benar kuat.
Melihat lawan memanggil roh bela diri, sorot mata Dai Mubai yang penuh sinisme semakin tajam. "Inikah yang disebut murid Akademi Master Jiwa tingkat tinggi? Masih ada yang memakai cincin jiwa sepuluh tahun? Saudara-saudaraku, tunjukkan pada mereka cincin jiwa kalian."
Tang Qingwei diam-diam mencibir, sambil memegang dadanya yang kecil. Siapa yang jadi saudaramu, dasar!
Namun ia tak ingin merusak suasana, lalu memanggil roh bela dirinya dengan patuh.
"Burung Phoenix, menyatu!"
Cahaya ungu kemerahan meletup dari tubuh si gendut. Rambut pendek di kepalanya mendadak memanjang dan berkumpul di tengah, membentuk gaya rambut mohawk. Dua cincin jiwa kuning berputar naik dari kakinya. Di lengan yang kekar, bulu panjang bermunculan, dan kedua tangannya berubah menjadi cakar.
Aliran udara panas berputar di sekitar tubuhnya. Meski tubuh gendut itu lebih pendek dari para murid Akademi Canghui, namun begitu api ungu itu menyala dari dalam tubuh, auranya langsung berubah drastis. Bersanding dengan roh harimau putih Dai Mubai, tekanan yang mereka pancarkan membuat lawan sulit bernapas.
Hanya roh bela diri Tang San yang tampak tenang. Dua cincin jiwa kuning, sama seperti milik Ma Hongjun, perlahan berputar naik dari bawah kakinya. Rumput Biru Perak yang rapat menyelimuti sekeliling tubuhnya, merambat perlahan.
Xiao Wu dan Tang Qingwei adalah yang terakhir memanggil roh bela diri mereka. Ketika dua kuning satu ungu bersinar di bawah kaki Tang Qingwei yang paling pendek, perhatian seluruh master jiwa di seberang langsung terpusat padanya.
"Penguasa Jiwa...?"
"Tidak mungkin! Dia masih sangat muda!"
"......"
Guru Akademi Canghui terpaku memandangi mereka, bergumam, "Konfigurasi cincin jiwa terbaik, hanya saja roh bela dirinya belum pernah kulihat. Sepertinya bukan roh bela diri yang hebat."
Namun bocah dengan roh harimau putih itu tampaknya cukup berbakat.
Pria paruh baya itu kembali menoleh ke murid-muridnya. Selain Wen Shu yang masih tampak bersemangat bertarung, yang lain sudah gemetar ketakutan karena tekanan dari roh bela diri lawan.
Sebagai orang dewasa, sang guru segera memahami situasi setelah melihat kekuatan asli Dai Mubai dan kawan-kawan. Anak-anak ini masih sangat muda. Mungkinkah mereka keturunan sekte besar? Beberapa masalah memang sebaiknya tidak dicari gara-garanya.