Sebuah pedang panjang, sepotong masa lalu yang terlupakan. Sebidang tanah tandus, pencarian terhadap dewa yang tak pernah ada. Namun... ketika kehidupan yang dijalani ternyata hanyalah sandiwara yang
"Profesor Cheng, urutan hampir selesai. Tiga hari lagi waktu pemisahan."
"Baiklah. Letakkan saja di sini." Profesor Cheng mengusap pelipisnya yang lelah, duduk di depan komputer.
Asistennya meletakkan tumpukan laporan tebal, keluar ruangan hanya meninggalkan suara sepatu kulit yang mengetuk lantai. Suara itu bergema di lorong yang kosong, baru benar-benar lenyap setelah beberapa saat. Barulah Profesor Cheng menarik napas panjang.
Ia kembali membuka jendela yang tadi sempat ditutup. Di layar muncul sebuah lambang sederhana, tertulis satu baris kecil.
Rencana Kelanjutan Era Kemanusiaan ke-28.
Arsip Rahasia Tingkat Tertinggi.
Ia bangkit dari kursi, berjalan ke pintu kantor, memastikan tak ada siapa pun, lalu mengunci pintu dan mengatur kaca menjadi buram sebelum duduk kembali.
Di layar komputer muncul sebuah bilah kemajuan—hal yang sangat jarang di zaman ini. Kecepatan pemrosesan algoritma oleh induk kecerdasan buatan telah mencapai batas fisik tertinggi, meski pada akhirnya ia tetap tak mampu memprediksi batu-batu yang jatuh ke Samudra Pasifik.
Di sampingnya, interkom berbunyi bip-bip. Profesor Cheng refleks sedikit gemetar, menggenggam interkom dan menghembuskan napas pelan.
"Halo, di sini Profesor Cheng Zihang, 1722."
"Profesor Cheng, ini Qin Zimin."
"Ah, Lao Qin, rupanya kau. Hampir saja aku jantungan." Tubuh Profesor Cheng langsung rileks, bersandar di kursi.
"Rencana dihentikan untuk sekarang. Aku menggunakan saluran terenkripsi, jadi tak akan