Bab 79: Ini Pasti Anugerah dari Tuhan!
Salju lebat menutupi pegunungan, dan gunung bersalju yang gundul jauh lebih berbahaya daripada dataran. Sedikit saja lengah, jika terpeleset, akibatnya bisa sangat fatal.
Seorang nenek tua bersandar pada tongkatnya, berdiri diam. Gelombang aura tak kasat mata memancar dari tubuhnya. Meskipun kemampuan indra yang ia miliki dalam badai salju hanya tersisa sepersepuluh, namun masih cukup untuk menjangkau setengah lereng gunung.
Dengan mata setengah terpejam, ia meresapi setiap getaran dengan saksama.
Setelah waktu yang cukup lama, suara pelan dan datar keluar dari bibirnya, “Bing’er, mari kita turun dulu. Sepertinya di gunung ini tidak ada sesuatu yang kita cari.”
Badai salju yang menggulung langit tak mampu menenggelamkan suara nenek tua yang bungkuk, berwajah keriput, dan penuh bekas terpaan angin itu. Suaranya datar, agak melengking, namun mampu terdengar sangat jauh.
Namun Shui Bing’er yang sudah berjalan di depannya tidak memperdulikannya. Ia seperti sedang kerasukan, terus melangkah, bersusah payah menjejakkan kaki satu demi satu.
Matanya terpaku pada puncak gunung, sama sekali tak menunjukkan tanda akan berhenti.
Nenek tua itu tertegun sesaat, matanya menyipit menjadi garis tipis, “Bing’er, kita harus kembali. Tidak ada yang kita cari di sini. Tak perlu membuang waktu.”
Shui Bing’er tetap menunduk, tidak berhenti sedetik pun. Dengan keras kepala ia melangkah maju, suara bergetar penuh semangat, “Tidak, Guru! Di sini ada! Ada yang aku cari di sini!”
“Di mana?” tanya sang nenek.
Shui Bing’er berhenti sejenak, menegakkan lehernya untuk memandang ke atas. Di depan mereka menjulang gunung yang tinggi, menakutkan dengan lereng berselimut salju. Mereka kini sudah di lereng gunung, dan puncak yang menjulang membuat hati siapa pun gentar.
Dengan mulut terbuka lebar ia berteriak, “Di puncak gunung! Aku bisa merasakannya!”
Angin dingin masuk ke mulutnya, membuat lidahnya nyaris beku. Dingin menusuk seakan akan membelah jantung dan paru-parunya. Namun ia tidak peduli. Dalam matanya hanya ada rasa semangat dan kegembiraan.
Angin membawa kabur suaranya, namun tetap sampai ke telinga nenek tua.
Ia kembali bertanya, “Apa itu?”
“Aku juga tidak tahu!” seru Shui Bing’er. “Tapi, itu pasti sangat penting!”
“Baiklah, aku percaya padamu,” ujar nenek tua itu. Ia pun kembali melangkah pelan, bersandar pada tongkatnya, naik ke atas gunung tanpa suara.
Langkah mereka tertatih-tatih, setiap meter pendakian adalah ujian tersendiri. Yang mereka hadapi bukan hanya dingin yang sulit dibayangkan, badai salju, dan udara tipis di ketinggian. Lebih dari itu, mereka juga harus waspada pada makhluk roh yang hidup di pegunungan salju.
Mereka terus berjalan dalam diam, di tengah badai yang membuat arah nyaris tak terlihat. Namun Shui Bing’er tetap melangkah dengan keyakinan penuh, seolah ada kekuatan yang membimbingnya. Semakin lama, rasa rindunya semakin kuat. Langkahnya semakin mantap.
Entah sejak kapan, jalan di depan mereka sudah habis.
Di hadapan mereka, berdiri dinding batu yang keras, nyaris tegak lurus sembilan puluh derajat. Angin dan salju menerpanya, membuat permukaan batu penuh lekukan dan tampak sangat berbahaya.
Ia menyingkirkan salju tipis, memperlihatkan batuan tua yang memancarkan aura zaman kuno. Permukaan batu yang bergerigi membuat siapa saja gentar.
Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan alam untuk menciptakan keajaiban seperti ini.
Namun di mata Shui Bing’er justru terpancar cahaya keemasan. Tarikan jiwa rohnya semakin kuat. Ia yakin, benda yang ia cari ada di puncak tebing batu ini.
Ia menengadahkan kepala, menatap puncak batu yang menjulang menembus awan. Ia menggertakkan gigi peraknya.
Lalu, terdengar suara nyaring seperti burung phoenix meraung.
Bayangan biru seekor phoenix es muncul di belakang Shui Bing’er, mengembangkan sayapnya yang anggun dan megah. Sepasang mata biru seperti permata safir memancarkan cahaya menakjubkan, seluruh tubuhnya dibalut bulu biru gelap yang memancarkan hawa dingin. Tiga helai bulu ekor yang panjang, tampak indah dan penuh wibawa.
Tiga cincin jiwa, dua kuning satu ungu, berputar perlahan di bawah kakinya.
Shui Bing’er menekuk lutut sedikit, lalu tiba-tiba mengepakkan sayap.
Jejak cahaya biru melesat menembus awan.
Kecepatan luar biasa itu seolah mampu membelah badai salju.
Nenek tua yang mengikuti di belakangnya, hanya menjejakkan ujung kaki di permukaan, lalu tubuhnya pun melayang naik ke udara.
Mereka menembus awan, menuju puncak.
Angin yang tajam seperti bilah pisau menggores pipi yang sudah pucat. Ia merasakan angin masuk dari kerah baju dan keluar dari bawah, membuat tubuhnya kaku dan membeku. Setiap kali berusaha bernapas, hanya udara tipis yang masuk ke hidungnya.
Kepalanya mulai terasa ringan dan pusing.
Namun darah yang dingin justru terasa mendidih.
Kerinduan itu begitu kuat, sampai-sampai jantungnya seperti ingin meloncat keluar. Sejak lahir, ia belum pernah merasakan gairah seperti ini. Begitu gembira hingga hampir ingin menjerit.
Tanpa sadar, mulutnya terbuka, suara phoenix yang nyaring dan riang kembali terdengar.
Tiba-tiba, seekor bayangan hitam melesat dari bawahnya, dan setelah sesaat kehilangan fokus, ia hanya sempat melihat titik hitam kecil.
Kekuatan jiwanya pun berputar semakin deras. Sayap yang lebar mengepak semakin kencang. Kecepatannya pun meningkat sampai batas tertinggi.
Kali ini bahkan ia sulit bernapas.
Saat angin di telinganya berhenti, ia sudah melayang diam di atas puncak salju.
Dari ketinggian, ia memandang ke bawah.
Dalam kabut yang berputar-putar, muncul sebuah dataran kecil, tidak terlalu besar, dinginnya udara sampai berubah menjadi uap. Suhu di sini sangat rendah, membuat siapa pun bergidik.
Di atas dataran itu, seorang nenek tua dengan mantel hitam tebal sudah berdiri, bertumpu pada tongkatnya, tersenyum menatapnya.
Namun perhatian Shui Bing’er tidak tertuju ke situ. Dalam sekejap, ia menemukan apa yang ia cari.
Di ujung dataran, di tengah hembusan angin beku.
Terdapat sosok biru es yang melayang, bergoyang pelan.
Itu dia! Itulah yang ia cari!
Tubuhnya melesat seperti kilat biru, menyambar turun dengan kecepatan tinggi. Begitu sampai di puncak, tangannya yang gemetar sudah menggenggam benda yang sangat ia rindukan.
Mata birunya terpaku, sejenak hatinya terasa berhenti berdetak.
Betapa indahnya benda itu?
Ia tak bisa menemukan satu kata pun di dunia ini untuk menggambarkannya, seolah-olah ia memang tidak seharusnya muncul di dunia ini.
Itu adalah sekuntum bunga teratai es.
Keindahannya membuat orang terkesima.
Shui Bing’er hanya bisa memandanginya dalam diam, bunga teratai es di tangannya tetap bergoyang dilanda angin.
Entah sejak kapan, nenek tua sudah berdiri di sampingnya, “Jadi ini yang kau cari?”
Shui Bing’er bergumam pelan, “Ya, benar, inilah dia. Lihat betapa indah dan anggunnya dia, mungkin ia memang tidak seharusnya ada di dunia ini.”
Nenek tua itu menatap lama, lalu berkata, “Oh, baiklah. Sebenarnya, aku tidak melihat ada perbedaan antara bunga teratai es ini dengan yang lain.”
Shui Bing’er melirik gurunya, “Bunga ini sangat indah, kau tidak mengerti perasaannya! Saat aku memegangnya, tubuhku seolah mengalami pencerahan! Aku merasa nyaman luar biasa! Aku punya firasat, dengan bunga ini, darah dalam tubuhku akan berevolusi, jiwa rohkuku akan mencapai tingkat yang lebih tinggi.”
Sorot terkejut melintas di mata nenek tua. Ia tahu di Benua Douluo, jiwa roh menentukan segalanya, dan belum pernah ada kabar jiwa roh bisa berevolusi untuk kedua kalinya. Jiwa roh yang lemah, sejak lahir tetap akan lemah. Tak pernah terjadi tiba-tiba menjadi lebih kuat.
Namun kini ia mendengar sesuatu yang luar biasa? Jiwa roh bisa naik ke tingkat yang lebih tinggi! Ini benar-benar keberuntungan langka. Ini pasti anugerah para dewa!
Ia ragu-ragu berkata, “Jadi karena darahmu, ya? Tampaknya kau menemukan harta karun. Lalu, apa yang akan kau lakukan dengannya?”
Shui Bing’er berpikir sejenak, lalu menggeleng, “Aku, aku belum memutuskan.”
Nenek tua itu berpikir keras, lalu memberi saran, “Jelas aku belum pernah mengalami hal seperti ini. Tapi menurut pengalamanku, untuk benda langka dari langit dan bumi seperti ini, cara paling sederhana adalah langsung memakannya. Mungkin itu bisa memicu evolusi darahmu.”
Shui Bing’er menggeleng, “Tidak! Itu cara yang terlalu sembrono. Mungkin masih ada cara yang lebih baik, hanya saja sekarang kita belum menemukannya.”