Bab Seratus Dua Puluh Tujuh: Berunding dengan Harimau
Saat Tang Qingwei melakukan perpindahan instan, tubuhnya melayang di udara, itulah sebabnya dia bisa mencengkeram tengkuk Tang San. Namun, begitu Tang San memintanya berhenti, Tang Qingwei menghentikan keterampilan roh ketiganya, dan pemandangan pun berubah drastis.
Tang Qingwei yang tadinya menjinjing Tang San seperti anak ayam, kini karena tubuhnya yang mungil, ia justru tergantung pada punggung kakaknya sambil mencengkeram kerah baju belakang Tang San.
Xiao Wu yang tadinya terkejut, kini beralih menutup mulut sambil menahan tawa.
Meski adiknya melakukan itu demi menyelamatkannya, Tang San tetap tidak bisa menahan tawa. Ia menurunkan adiknya yang masih tergantung di punggung, lalu mengusap puncak kepala Tang Qingwei sambil menjelaskan dengan senyum, "Kakak tadi sedang bertaruh dengan senior itu. Jika menang, kita bisa memetik tanaman obat apa pun di sini."
"Tadi aku sudah melihat, ada tanaman abadi yang bisa menyembuhkan cacat jiwa bela diri Ma Hongjun, serta ada 'Teratai Tujuh Warna' yang sangat cocok untukmu. Jadi, taruhan ini harus aku menangkan."
Bagaimana mungkin Tang Qingwei tidak tahu betapa berharganya tanaman obat tersebut? Namun, sepenting apa pun itu, apakah bisa melebihi nyawa mereka?
Ia masih ingat samar-samar bahwa Dugu Bo bukanlah orang baik. Terlebih lagi, pria itu adalah seorang Douluo Bergelar. Mencabut nyawa mereka hanyalah perkara sekejap mata.
"Kak, kau sedang berurusan dengan harimau!" ujar Tang Qingwei dengan wajah cemberut yang serius.
Di antara ketiganya, hanya Xiao Wu yang tidak tahu duduk perkaranya. Saat mendengar ucapan Tang Qingwei, ia pun mengepalkan tangan dan menatap Tang San dengan cemas.
Tang San terkekeh geli seraya mencubit pipi Tang Qingwei, "Ah, adik kecilku ini bicaranya sudah seperti sastrawan saja."
"Tenang saja, meski senior itu awalnya memang sulit didekati, setelah saling mengenal, dia sebenarnya orang yang cukup baik."
Apa yang dikatakan Tang San bukanlah kebohongan sepenuhnya. Dugu Bo memang sempat berniat membunuhnya, namun seiring dengan pengetahuan Tang San tentang racun yang terus ia tunjukkan, Dugu Bo yang semula waspada menjadi lebih ramah, bahkan perlahan menjalin hubungan layaknya sahabat meski terpaut usia.
Bagaimanapun, sangat sedikit orang yang bisa diajak berbincang oleh Dugu Bo, dan kepribadian Tang San kebetulan cocok dengannya. Meski belum bisa disebut sahabat karib, hubungan mereka kini jauh lebih baik dibanding saat awal pertemuan yang penuh ketegangan.
"Benarkah?"
Meski Tang San memang akan berteman dengan Dugu Bo di masa depan, apakah sekarang sudah bisa sedekat dan seramah itu? Tang Qingwei merasa sulit mempercayainya.
"Benar. Cepatlah kembali, aku tinggal satu ujian lagi untuk berhasil." Tang San mengangguk mantap, mencoba meyakinkan adiknya.
Tang Qingwei menatap ekspresi Tang San dengan teliti untuk beberapa saat. Setelah yakin kakaknya tidak berbohong, ia berkata, "Tunggu sebentar, aku akan mengantar Kak Xiao Wu kembali, memberi tahu Dekan dan yang lainnya, baru setelah itu aku akan mengantarmu kembali ke sana. Kau tunggulah di sini."
Meski Xiao Wu tidak tahu situasi pastinya, ia bisa menangkap garis besar pembicaraan mereka. Ia pun tidak keberatan dengan rencana Tang Qingwei.
Lagi pula, jika sesuatu yang buruk benar-benar terjadi, kehadirannya di sana mungkin hanya akan menjadi beban.
Tak lama kemudian, Tang Qingwei muncul di hadapan mereka bersama Xiao Wu. "Ini adalah tempat Douluo Bergelar, Dugu Bo. Dia ada di sana, dan Tang San sedang bertaruh dengannya. Jika menang, dia akan mendapatkan tanaman obat untuk menyembuhkan cacat jiwa bela diri Ma Hongjun."
Ma Hongjun yang awalnya mengira serangan musuh saat Tang Qingwei muncul tiba-tiba, sempat bersiap melayangkan tinju, namun untungnya ia segera sadar dan berhenti tepat waktu.
Setelah mendengar namanya disebut dan tahu bahwa Tang San berurusan dengan Douluo Bergelar demi dirinya, ia pun tersentuh. "Xiao Wei! Aku juga..."
Saat ia mendongak hendak mengatakan ingin ikut, ternyata Tang Qingwei sudah menghilang. Ia menoleh ke arah yang lain, mendapati wajah semua orang tampak serius, ia pun hanya bisa terdiam.