Bab 141 Menyangkal Sendiri
Si Xingzhou bahkan tidak melirik Leng Xue. Ia tetap melanjutkan langkahnya menaiki tangga. "Aku tidak punya urusan untuk dibicarakan denganmu."
Leng Xue takut pria itu akan segera menemukan Leng Ning, jadi bagaimanapun caranya ia harus menghentikan pria tersebut.
"Bagaimana bisa begitu, Tuan Si? Bukankah kita punya banyak hal untuk dibicarakan?" Leng Xue memaksakan senyum sambil menyusul langkah Si Xingzhou.
Melihat hal itu, Zou Luo'nan memimpin untuk mulai menggoda rekan-rekan sekelasnya. "Kalian lihat sendiri, kan? Sudah kubilang Xueer sangat akrab dengan Tuan Si. Orang yang seharusnya dinikahkan ke sana jelas-jelas adalah Xueer."
Mendengar ucapannya, yang lain pun mulai menjodohkan mereka.
"Xueer sangat cocok dengan Tuan Si. Berdiri berdampingan pun keduanya terlihat sangat serasi!"
"Betul, dewi kampus sekaligus wanita berbakat yang dimiliki keluarga Leng. Aku bahkan tidak bisa membayangkan berapa banyak orang yang mengejar wanita seperti dia."
"Leng Ning sebagai kakak perempuan Xueer, bagaimana bisa dia berani merebut tunangan adiknya sendiri? Bukankah itu sangat murahan?"
Ucapan tersebut terdengar begitu mencolok di dalam ruang tamu yang sunyi, membuat Leng Xue yang bersiap menyusul Si Xingzhou hampir terpeleset dan jatuh ke lantai.
Ia menatap tidak percaya ke arah gerombolan orang yang baru saja berbicara itu. Beraninya mereka memperkeruh suasana pada saat seperti ini, apakah mereka sudah bosan hidup?
Si Xingzhou juga mendengar kata-kata itu. Dengan wajah dingin, ia menunjuk ke arah pemuda yang baru saja berbicara tadi dan bertanya kepada Leng Xue, "Apakah dia mengatakan hal seperti itu kepada kalian?"
Pemuda itu belum menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi, lalu dengan cepat mengangguk untuk membenarkan hal tersebut.
"Benar, masalah ini bukanlah rahasia lagi. Kami semua mengetahuinya."
Mendapatkan jawaban itu, Si Xingzhou mencibir. Tatapannya yang penuh tekanan tertuju pada Leng Xue sejenak, lalu ia menarik kembali pandangannya.
Kecaman yang tadinya dikira akan datang ternyata tidak terjadi. Leng Xue mengembuskan napas lega dan merasa bersyukur karena Si Xingzhou tidak membongkar kebohongannya di tempat. Namun, dari sudut matanya ia melihat Si Xingzhou masih berjalan ke lantai atas, sehingga ia kembali mengejar langkah pria tersebut.
Namun, sebelum ia sempat mendekat, Qi Mu sudah menghentikannya.
"Nona Leng, mohon jaga sikap Anda. Tuan muda kami memiliki ikatan pertunangan dengan kakak perempuan Anda, jadi tolong jaga jarak. Jika ada yang ingin dikatakan, sampaikan saja langsung." Qi Mu sama sekali tidak memberikan muka kepada Leng Xue, bahkan tatapan matanya menyiratkan penghinaan.
Mengingat sikap Si Xingzhou tadi, Leng Xue secara tidak sadar merasa kesal terhadap Qi Mu. "Tuan Si saja tidak mengatakan apa pun, untuk apa kamu menghalangiku?"
Si Xingzhou sudah berjalan menuju lantai dua dan terlepas dari keributan di lantai bawah. Qi Mu tidak mengerti mengapa Leng Xue bisa bersikap begitu angkuh dan mendominasi.
"Kamu, sebagai asisten di sisi Tuan Si, masakan tidak tahu seberapa penting diriku bagi Tuan Si?" Leng Xue melangkah maju, mengerahkan aura sebagai Nyonya rumah.
Melihat ekspresi penuh kemenangan di wajah Leng Xue, Qi Mu seketika mengerti apa yang sedang terjadi. Wajahnya perlahan menjadi dingin.
"Heh, Nona Leng masih saja menipu dirinya sendiri?" Qi Mu mencibir sambil menarik kembali tangannya. "Tadi, demi Nona Leng Ning, Tuan Si tidak langsung membongkar kebohongan kalian. Beraninya kalian sekarang malah semakin menjadi-jadi?"
"Di dalam keluarga Leng, Tuan Si hanya memiliki Nona Leng Ning sebagai satu-satunya tunangan. Mengenai sandiwara tentang perebutan tunangan itu, bukankah karena awalnya kalian memandang rendah Tuan Si yang sedang keracunan, sehingga kalian menyuruh Nona Leng Ning datang untuk menggantikan posisi tersebut?
Sekarang setelah kalian tahu Tuan Si sudah sembuh, kalian ingin mendekat lagi. Wanita menjijikkan sepertimu sama sekali tidak pantas berdiri di sisi Tuan Si. Jika kami mendengar kalian menyebarkan gosip sembarangan di luar lagi, bersiaplah untuk masuk penjara!"
Setelah melontarkan peringatan keras kepada Leng Xue, Qi Mu berjalan menyusul ke lantai atas.
Orang-orang yang berada di tempat itu mendengar perkataan Qi Mu dengan mata terbelalak menatap ke arah Leng Xue. Seketika itu juga, kepura-puraan yang penuh kemunafikan tersebut hancur berkeping-keping.
"Leng Xue, kamu benar-benar menjijikkan. Beraninya kamu menipu kami?"
"Kami memperlakukanmu dengan setulus hati, tapi kamu malah mempermainkan kami seperti monyet? Pengurus pribadi Tuan Si saja sudah berkata seperti itu, apa lagi yang ingin kamu sangkal?"
"Kamu sendiri yang ingin mati, tapi masih mau menyeret kami juga. Apakah kamu sudah gila?"
Seluruh ruang tamu di lantai bawah mendadak kacau balau. Para teman sekelas yang tadinya sudah muak dengan sikap pamer Leng Xue langsung menghajarnya habis-habisan.
Leng Bingrong tidak lagi peduli pada teriakan minta tolong Leng Xue. Ia berlari cepat menuju lantai dua untuk mencegat Si Xingzhou.
Begitu ia tiba di lantai dua, Si Xingzhou sudah berdiri di depan pintu kamar. Pria itu menendang pintu tersebut dengan kuat.
Suara dentuman keras membuat Leng Ning di dalam kamar secara refleks menoleh ke arah pintu. Belum sempat ia melihat jelas siapa yang datang, ia sudah jatuh ke dalam deputan yang hangat.
Tak lama kemudian, indra penciumannya dipenuhi oleh aroma yang sangat akrab. Aroma itu membuat Leng Ning seketika merasa tenang.
Si Xingzhou menyadari suhu tubuh Leng Ning yang tidak normal, dan raut wajahnya menjadi tegas. Pakaian wanita itu tampak sedikit berantakan, tetapi terlihat jelas bahwa pakaian tersebut belum sempat dilepaskan.
Sementara itu, Chen Chen yang berada di lantai sedang berdarah di bagian kepalanya. Keadaannya tampak jauh lebih mengenaskan, sementara mulutnya masih mengumam, "Kamu pelacur kecil, tunggu saja sampai aku selesai denganmu, nanti akan kulihat..."
Ucapan Chen Chen yang belum selesai dipotong oleh sebuah tinju dari Si Xingzhou. Chen Chen langsung meringis kesakitan, hendak membuka mata untuk memarahi Leng Ning, "Sialan, beraninya kamu memukulku?"
Begitu Chen Chen membuka mata dan melihat sosok di depannya, ia langsung jauh lebih sadar. Si Xingzhou menatapnya dengan wajah gelap, "Memangnya kenapa kalau aku memukulmu?"
Si Xingzhou masih mendekap Leng Ning di dalam pelukannya. Tangan wanita itu mencengkeram kerah baju di dada Si Xingzhou sambil merintih pelan, "Si Xingzhou, aku tidak nyaman."
Seketika itu juga, ekspresi Si Xingzhou melembut. Ia menarik tangannya dan menepuk-nepuk punggung Leng Ning dengan lembut, "Aku akan membawamu pergi sekarang."
Begitu Leng Bingrong tiba, pemandangan yang ia lihat adalah Si Xingzhou yang bersiap untuk pergi. Pria itu melirik sekilas ke arah Leng Bingrong dan berkata dengan suara dingin, "Masalah hari ini akan kita selesaikan satu per satu. Tidak ada seorang pun yang bisa lari!"
Leng Bingrong tahu dirinya sudah hancur. Ia langsung berlutut di lantai dengan bunyi 'gedebuk' dan mulai menangis memohon belas kasihan.
"Bukan begitu, Tuan Si. Semua kejadian hari ini hanyalah sebuah kecelakaan, mohon dengarkan penjelasanku!"
Si Xingzhou menendangnya hingga tersingkir, lalu menggendong Leng Ning turun ke lantai bawah.
Orang-orang di lantai bawah melihat Si Xingzhou membawa pergi Leng Ning dengan penuh kehati-hatian, membuat rasa jijik mereka terhadap Leng Xue semakin menjadi-jadi.
Keluar dari vila, Leng Ning meraba-raba tubuh Si Xingzhou secara sembarangan. Wajahnya yang terus membara menempel di wajah Si Xingzhou, memberikan sedikit kesejukan yang membuatnya merasa jauh lebih nyaman.
"Ehm." Tanpa sadar Leng Ning mengeluarkan suara desahan.
Tubuh Si Xingzhou menegang. Suara rintihan Leng Ning saat ini terdengar seperti anak kucing, dan wanita itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan tenang meskipun duduk di pangkuannya.
Qi Mu dengan sigap melajukan mobil menuju hotel terdekat, dan bahkan menaikkan papan pembatas kaca di antara kursi depan dan belakang saat mengemudi.
Leng Ning semakin nekat merobek-robek pakaian Si Xingzhou. Tepat saat jari-jarinya tanpa sadar menyentuh otot perut Si Xingzhou, pria itu dengan suara serak menggenggam tangan kecil wanita yang sedang berulah itu. "Jangan membuat kekacauan."
"Aku tidak, aku... aku panas, tidak nyaman." Leng Ning memejamkan mata sambil bersandar pada tubuh Si Xingzhou. Perasaan tersiksa itu membuat napasnya bahkan menjadi tidak beraturan.
Dalam kabut kesadarannya, Leng Ning membuka mata, lalu mencium bibir Si Xingzhou.
Sentuhan hangat yang tiba-tiba mendarat di bibirnya membuat mata Si Xingzhou terbuka lebar. Ia sama sekali tidak menyangka Leng Ning akan berbuat sedemikian rupa.
Ciuman wanita itu terlalu terburu-buru. Sebelum Leng Ning semakin tenggelam, Si Xingzhou dengan paksa memisahkan mereka berdua.
Dahi pria itu menempel di dahi Leng Ning. Leng Ning membuka matanya dengan tatapan tidak puas, lalu mendengar Si Xingzhou bertanya, "Ning'er, siapa aku?"
Tatapan Leng Ning terpaku tanpa berkedip pada bibir Si Xingzhou yang bergerak-gerak. Belum sempat ia memberikan jawaban, wanita itu sudah kembali menempelkan bibirnya ke bibir pria tersebut.