Bab 146: Mohon Bimbingannya di Masa Mendatang
Waktu-waktu berikutnya, Si Xingzhou selalu menemani Leng Ning mencoba gaun pengantin. Model apa pun yang dikenakannya, tatapannya selalu memancarkan kelembutan dan kasih sayang yang tak pernah berubah.
Setiap gaun tampak sangat pas di tubuhnya, bahkan beberapa di antaranya membuat Si Xingzhou tak kuasa mengangkat ponselnya untuk memgambil beberapa potret dirinya.
Hanya dalam beberapa menit, foto-foto itu telah berubah menjadi latar belakang layar ponsel Si Xingzhou.
Setelah mencoba beberapa set pakaian, Leng Ning mulai merasa sedikit bosan, karena ia memang tidak pernah menyukai kerumitan.
Si Xingzhou adalah orang pertama yang menyadari perubahan emosinya. Ia berjalan ke sisi Leng Ning, menggenggam tangannya, dan berkata kepada dua orang tua yang masih tampak sangat antusias itu, "Kita sudahi sampai di sini saja untuk hari ini. Kalau dilanjutkan lagi, dia bisa kelelahan."
Mendengar itu, Zhao Yajing mengangguk, membiarkan Si Xingzhou membawa Leng Ning pergi.
Waktu yang mereka habiskan berdua tidak terasa begitu akrab, sebagian besar waktu diisi dengan keheningan.
Tepat ketika Leng Ning mengira mereka akan terus seperti itu dan berniat untuk tidur sebentar, samar-samar ia mendengar pertanyaan Si Xingzhou di telinganya.
"Apakah pernikahan ini bagimu hanyalah sebuah perjanjian?"
Si Xingzhou bertanya dengan suara yang sangat pelan, namun Leng Ning mendengarnya dengan jelas. Seketika itu juga, ia langsung terbangun sepenuhnya.
Namun, ia tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan Si Xingzhou. Saat Leng Ning ragu-ragu apakah ia harus pura-pura tidak mendengar dan melanjutkan tidurnya, Si Xingzhou tiba-tiba bersuara lagi tanpa diduga.
"Aku tahu kau sudah bangun."
Baiklah, Leng Ning langsung membuka kedua matanya lebar-lebar.
Si Xingzhou menepikan mobilnya di pinggir jalan dan mengulangi pertanyaannya. Kali ini, Leng Ning mendengarnya dengan jauh lebih jelas.
Ada keteguhan di dalam tatapan Si Xingzhou. Ia sangat ingin mengetahui isi hati Leng Ning yang sebenarnya, dan juga ingin tahu apakah perempuan itu benar-benar ingin menikah dengannya.
Leng Ning terdiam cukup lama sebelum akhirnya berhasil melontarkan sebuah kalimat, "Begitulah."
Mendengar jawaban itu, Si Xingzhou tanpa sadar meremas setir kemudi. Namun, saat melihat ekspresi canggung Leng Ning yang terpantul di kaca jendela, ia baru menyadari bahwa perempuan itu sedang berbicara dengan maksud yang berlawanan.
Melihat hal itu, ekspresi wajah Si Xingzhou pun melunak.
Setelah makan di luar bersama, keduanya akhirnya tiba di depan gerbang kediaman utama keluarga.
Tanpa diduga, Leng Ning melihat sosok Leng Wanying berdiri di depan pintu. Ia melangkah maju dan menggenggam tangan wanita tua itu, "Nenek, bagaimana Nenek bisa sampai ke sini?"
Leng Wanying menepuk punggung tangan Leng Ning, memberi isyarat agar ia melihat ke arah belakang. Ternyata sopir yang sama seperti hari itu yang mengantarnya, "Jangan khawatir, Nenek hanya ingin datang dan melihat keadaanmu."
Sambil berbicara, pandangan mata Leng Wanying justru beralih ke arah Si Xingzhou yang berdiri di belakang cucunya. "Masuklah dulu dan lihat barang-barang yang Nenek bawa untukmu, Nenek ingin bicara sebentar dengannya."
Leng Ning menoleh ke belakang sekilas menatap Si Xingzhou, namun pada akhirnya ia tidak mengatakan apa-apa dan melangkah naik ke lantai dua.
Di ruang tamu lantai dua, terdapat sebuah kotak kecil. Leng Ning duduk di atas sofa dan memangku kotak tersebut. Saat tutupnya dibuka, ia langsung melihat surat-surat yang sudah sangat akrab baginya, serta sehelai gelang dan kalung di sampingnya.
Di lantai bawah, Leng Wanying duduk di sofa dengan mata menyipit menatap Si Xingzhou. "Nenek tahu kau adalah anak yang baik. Jika bisa mempercayakan perawatan Ning-er kepadamu, Nenek bisa merasa jauh lebih tenang. Di hari-hari kedepan, Nenek berharap kau bisa lebih banyak bersabar dan memandunya."
"Ia selalu menjadi orang yang baik hati, sama sepertimu. Terkadang ia suka berbicara dengan makna yang berlawanan, sifat seperti itu masih memerlukan pengertian darimu kelak."
Si Xingzhou mendengarkan perkataan Leng Wanying dengan tenang. Obrolan itu berlangsung hingga setengah jam lamanya.
Dari bibir Leng Wanying, Si Xingzhou mendengar banyak sekali kisah tentang masa kecil Leng Ning. Rasanya mustahil jika ia tidak terkejut, namun ia sangat bersyukur karena memiliki kesempatan semacam ini untuk mengenal Leng Ning lebih dekat.
Tepat saat obrolan mereka selesai, Leng Ning di lantai atas juga telah memahami kisah di balik kotak besi tersebut—semua itu adalah peninggalan orang tuanya semasa hidup.
Leng Ning mengumpulkan semua barang itu menjadi satu dan menyimpannya baik-baik. Tak lama kemudian, Leng Wanying dan Si Xingzhou pun naik ke lantai dua.
"Nenek," panggil Leng Ning sambil berjalan ke sisi wanita tua itu.
"Setelah menikah, kau sudah menjadi bagian dari keluarga Si. Jangan lagi memaksakan segalanya sendirian seperti dulu. Sekarang situasinya sudah berbeda, cobalah untuk mulai belajar mengandalkan dirinya, mengerti?" nasihat Leng Wanying kepada Leng Ning, sementara sudut matanya mulai basah oleh air mata.
Mendengar itu, Leng Ning mengangguk pelan.
Beberapa hari ini, seluruh Kota Jingcheng dihebohkan oleh berita tentang pernikahan Si Xingzhou yang sudah di ambang mata, dan perempuan yang akan segera dinikahinya tidak lain adalah Leng Ning.
Orang-orang yang menerima undangan silih berganti memuji keindahan hubungan di antara keduanya.
"Awalnya kukira ini hanya sekadar formalitas belaka, tapi melihat situasi sekarang, keluarga Si benar-benar telah menerima Leng Ning sepenuhnya."
"Leng Ning dan keluarga Leng telah benar-benar terputus hubungan. Bahkan tanpa keluarga Leng, Leng Ning tetap bisa menikah dengan Si Xingzhou."
"Sekilas pandang, keduanya tampak begitu serasi! Ada kesan kekuatan yang seimbang di antara mereka."
Mengapa orang-orang berkata demikian? Tentu saja karena sebelumnya ada yang meragukan kemampuan Leng Ning, tetapi ternyata ia berhasil meraih nilai yang luar biasa tinggi di laboratorium Universitas Rongda, langsung mengamankan kuota menuju pusat penelitian. Bahkan pihak penyelenggara Piala Penelitian Ilmiah telah merilis foto-foto untuk mengonfirmasi identitasnya.
Dalam sekejap, nama Leng Ning langsung meroket ke puncak daftar pencarian tren dan bertahan di sana selama beberapa hari.
Di bawah topik pagar kata [Leng Ning Adalah Ling Luan], banyak orang berbondong-bondong menyampaikan permintaan maaf kepada Leng Ning atas ucapan mereka di masa lalu.
Tiga hari kemudian adalah hari pernikahan mereka. Kediaman keluarga Si sudah dipenuhi suasana meriah sejak pagi buta.
Pasangan Si Yihang merasa bahwa sebuah pernikahan akan lebih meriah jika dihadiri banyak orang, dan mereka juga berharap semua orang dapat menyaksikan kebahagiaan kedua mempelai. Oleh karena itu, mereka tidak membatasi tamu yang hadir dan hampir membuka pintu seluas-luasnya bagi seluruh warga Kota Jingcheng.
Banyak orang yang sengaja terbang kembali dari luar negeri demi menghadiri pernikahan mereka. Para sahabat yang telah dikenal Leng Ning sepanjang perjalanannya juga turut hadir, sementara mereka yang berhalangan hadir pun tidak tinggal diam dan saling mengirimkan pesan melalui ponsel.
[Semoga Tuan Si dan Kak Leng berbahagia selamanya!]
[Akhirnya hari pernikahan ini tiba juga. Adakah yang bisa menyiarkan langsung acaranya? Aku benar-benar iri karena tidak bisa datang.]
Leng Ning duduk di dalam kamar sambil membaca pesan-pesan di ponselnya dengan senyum tipis di bibirnya. Ia meletakkan ponselnya dan tertegun menatap pantulan dirinya di dalam cermin.
Awalnya ia mengira hari ini akan datang sangat terlambat, tak disangka semuanya berlalu begitu cepat. Namun, hal yang paling disyukurinya adalah ia sama sekali tidak merasa risih ataupun menolak.
"Nona, saatnya keluar," suara pelayan terdengar dari luar pintu. Leng Ning menarik kembali pikirannya, bangkit berdiri, lalu membuka pintu dan melangkah keluar.
Di balik pintu, Leng Ning menggandeng lengan Leng Wanying. Pembawa acara di atas panggung sedang membacakan kalimat pembuka, "Sekarang, mari kita sambut kemunculan pengantin wanita dengan tepuk tangan meriah!"
Pintu perlahan dibuka. Leng Ning mengenakan gaun pengantin putih bersih sambil memegang seikat mawar merah di tangannya, muncul di hadapan semua orang. Para tamu terpesona dan serentak mengeluarkan ponsel mereka untuk mengabadikan momen tersebut.
Leng Wanying berjalan dengan sangat pelan, namun tidak ada seorang pun yang merasa tidak sabar atau mendesak. Semua orang menatap pemandangan itu dengan penuh kehangatan dan kasih sayang.
Pandangan mata Si Xingzhou tidak pernah lepas dari sosok Leng Ning. Hingga detik ketika Leng Wanying menyerahkan Leng Ning kepada Si Xingzhou, Leng Ning menyadari tangan pria itu sedikit bergetar.
Si Xingzhou menggenggam tangannya, dan keduanya mulai mengucapkan janji pernikahan.
Ketika kalimat "Saya bersedia" meluncur dari bibir Leng Ning, Si Xingzhou merasa seluruh suara bising di sekitarnya seketika lenyap. Pada detik itu, satu-satunya sosok yang bisa ia lihat hanyalah Leng Ning.
Saat bertukar cincin, Leng Ning tidak mengenakan cincin yang telah disiapkan oleh Si Xingzhou, melainkan menyematkan cincin rancangannya sendiri ke jari manis pria itu.
Melihat lambang yang begitu akrab di cincin tersebut, Si Xingzhou tersenyum tanpa suara.
"Mulai sekarang, mohon bimbingannya," bisik Leng Ning pelan kepada Si Xingzhou.
Kamera mengabadikan momen ciuman di antara keduanya, dan kebahagiaan itu pun terukir abadi dalam detik tersebut.
—Tamat—