Bab 13 Orang Asing
“Nona, Nona Kedua juga sudah pulang,” ujar Yuanluo saat masuk ke dalam ruangan.
“Ya,” jawab Shen Mixiang dengan tenang. “Apakah Kakak Kedua sempat mengatakan tujuan kedatangannya ke Mingyue Fang hari ini?”
“Nona Kedua bilang ia merasa bosan berada di rumah, jadi ingin jalan-jalan ke Mingyue Fang. Tadi waktu Nona dan Tuan Muda Duan sedang bicara di dalam, Nona Ketiga sempat berkeliling di sekitar, tapi tak melakukan apa-apa.”
“Biar saja, asal tidak membuat masalah untukku. Ayo, kita pulang.” Sambil berkata demikian, Shen Mixiang bangkit berdiri dan melangkah keluar, Yuanluo segera mengikutinya.
...
Tentang urusan pembelian bahan wewangian oleh Duan Feibai, Shen Mixiang terlebih dahulu pulang dan membicarakannya secara rinci dengan Kakek Shen. Setelah kakek-cucu itu merasa tidak ada yang keliru, barulah Shen Mixiang memberitahu Shen Wang.
Setelah mendengarnya, Shen Wang pun tidak banyak bereaksi, hanya mengingatkannya agar segera mulai membuat wewangian.
Shen Mixiang sempat mengira Shen Wang akan turun tangan sendiri untuk bernegosiasi soal harga dengan Duan Feibai, namun Shen Wang justru menyerahkan sepenuhnya urusan tersebut kepadanya.
Jarang-jarang Shen Wang memberi kepercayaan penuh padanya dalam menangani bisnis besar, Shen Mixiang merasa terkejut, namun tidak mengungkitnya. Mungkin saja nasihat Kakek Shen sebelumnya berpengaruh, atau mungkin juga Shen Wang kurang berminat pada jumlah barang milik Duan Feibai.
Beberapa hari kemudian, Shen Mixiang akhirnya berhasil meracik bahan wewangian baru.
Karena bahan terpenting di dalam wewangian tersebut adalah sejenis rumput harum yang didatangkan dari Qiang Selatan, ia pun menamai wewangiannya itu dengan nama Rumput Qiang.
Yuanluo menatap bubuk harum dalam botol mungil yang tampak berkilauan itu dengan rasa penasaran, lalu mengangkatnya dan menghirupnya pelan-pelan. Segera saja, semerbak harum yang segar dan lembut menguar.
“Nona, wanginya sungguh enak,” ujar Yuanluo.
Shen Mixiang yang sedang membolak-balik sebuah kitab tua nan tebal, tersenyum mendengar ucapan itu. “Kali ini, aku menambahkan beberapa jenis aroma rerumputan. Aromanya segar dan menenangkan. Aku membuat tiga botol bubuk harum, nanti kau bawa satu botol bersama daftar resep di atas meja, lalu serahkan pada Nyonya Zhuang yang bertugas meracik wewangian di luar.”
Yuanluo menatap ketiga botol di tangannya—satu akan diserahkan ke Nyonya Zhuang agar bisa diproduksi massal, satu lagi disimpan sesuai aturan, lalu yang satu sisanya...
“Nona, satu botol yang tersisa ini untuk siapa?” tanyanya.
“Ya, nanti kita akan ke Gerai Harum Debu. Aku sudah meminta Shihu mengirim kabar pada Duan Feibai. Botol ini akan menjadi sampel untuknya.”
“Jadi, wewangian ini juga akan dicoba dijual di Gerai Harum Debu seperti biasa?” tanya Yuanluo santai.
“Tentu saja, seperti sebelumnya.”
Bicara soal meracik wewangian, sebenarnya Shen Wang juga mahir dalam hal itu, hanya saja dalam beberapa tahun belakangan ia sibuk dengan urusan bisnis sehingga jarang turun tangan sendiri. Beberapa jenis wewangian andalan Keluarga Shen kini telah memiliki proses produksi yang terstandarisasi, sehingga para perajin di bengkel keluarga sudah mampu memproduksi dalam jumlah besar.
Sejak belajar meracik wewangian, Shen Mixiang selalu menyempatkan diri untuk meneliti bahan baru setiap tiga bulan sekali. Setiap hasil racikan barunya, selalu terlebih dahulu dijual di Gerai Harum Debu, dan separuh dari produk yang dijual di sana adalah hasil racikannya sendiri selama bertahun-tahun.
Kali ini pun tidak terkecuali.
Jarak dari Mingyue Fang ke Gerai Harum Debu masih dua jalan lagi, dan di tengah rute itu, mereka akan melewati Furong Xuan, toko yang khusus menjual kue dan manisan.
Melihat nona mudanya berhenti di depan Furong Xuan, Yuanluo pun langsung tersenyum mengerti. “Nona, apakah Anda sedang ingin makan manisan lagi?”
Sebenarnya Shen Mixiang bukanlah penggemar manisan, hanya saja ia memang menyukai kue dari Furong Xuan.
“Benar, aku ingin membeli beberapa untuk dinikmati bersama Xunxiang di rumah.” Xunxiang yang dimaksud adalah putri Paman Kedua, Shen Yu, yaitu Shen Xunxiang, yang usianya sebaya dengan Shen Mixiang, hanya terpaut dua bulan lebih tua.
Sejak Shen Sixiang menikah, teman bicara Shen Mixiang di rumah hanya tinggal Xunxiang dari keluarga Paman Kedua, selain itu hanya ada Nona Besar Yuan Fangjing dari Keluarga Yuan.
“Baik, saya akan masuk dan membelikan dua kotak untuk Nona. Silakan tunggu di sini sebentar.”
Ketika Yuanluo masuk ke toko, Shen Mixiang yang sedang mengisi waktu menunggu, memandang sekeliling jalan. Matahari siang itu terasa menyilaukan, namun pejalan kaki tetap ramai, para pedagang kecil pun tetap menawarkan dagangannya di bawah terik matahari demi mencari nafkah.
Tiba-tiba, pandangannya terhenti pada sekelompok pedagang berjumlah lima orang yang menuntun kuda masuk ke rumah teh di seberang jalan. Dari penampilan dan busana mereka, jelas bukan orang Shunchao, apalagi penduduk asli Kota Sheng'an.
“Shihu, kau tahu siapa orang-orang yang baru saja masuk ke rumah teh itu?” tanyanya.
Shihu, dengan tatapan tajam bak harimau, melirik ke arah rumah teh dan menjawab, “Nona jarang keluar rumah, jadi tentu belum mengenal mereka. Mereka itu para pedagang asing dari empat penjuru—timur, selatan, barat, dan utara—yang masuk ke Shunchao, lalu ke Sheng'an. Biasanya mereka datang ke kota ini pada akhir musim dingin hingga awal musim semi, dan baru pulang ke negaranya masing-masing menjelang awal musim gugur.”
Pedagang asing?