Bab 5: Merasa Tak Tenang di Hati
Dengan susah payah menahan ketidaknyamanan yang menggelayut di hatinya, Shen Mixiang berusaha keras menjaga ketenangan di wajahnya. Para pekerja masih sibuk menurunkan barang dan memuatnya ke atas gerobak, sementara matahari di atas kepala semakin terik, panasnya perlahan memanggang semua orang yang ada di sana.
Yuanlu yang merasa iba pada majikannya, menuntun Shen Mixiang berdiri di bawah naungan pohon sambil terus menunggu. “Nona, melihat situasi sekarang sepertinya barang-barang ini tidak akan bermasalah lagi. Bagaimana kalau kita kembali ke Zhai Chenxiang dan menunggu di sana saja?”
Shen Mixiang menggeleng tegas. “Aku takkan merasa tenang sebelum melihat sendiri semua barang ini selesai diturunkan dan diangkut.”
Selesai berkata, ia melirik ke arah Duan Feibai dan melihat pria itu tengah berbicara dengan seorang lelaki muda berseragam pejabat dengan topi resmi di kepala.
“Itu adalah pejabat pemerintahan yang bertanggung jawab di dermaga Jinwu, Tuan Liu Zhengheng,” kata Pengurus Fan yang baru saja datang. Ia mengikuti arah pandang Shen Mixiang dan melanjutkan, “Tuan Muda Besar Duan dan Tuan Liu adalah sahabat lama, hubungannya sangat dekat. Inilah sebabnya mengapa dia bisa memerintahkan para prajurit untuk menahan barang-barang kita hari ini.”
“Memanfaatkan kekuasaan untuk membalas dendam pribadi, tak kusangka Duan Feibai ternyata pria rendah semacam itu,” ujar Shen Mixiang dengan jengkel.
Pengurus Fan hanya bisa tersenyum pahit. “Nona Ketiga, Anda selama ini sibuk di bengkel membuat dupa, jarang keluar, jadi wajar jika tidak tahu. Memang begitulah watak Tuan Muda Duan. Namun, Tuan Muda Kedua pernah bilang, Tuan Muda Duan sebenarnya seorang pria berbudi luhur yang langka.”
Shen Mixiang menanggapinya ringan. “Soal apakah Tuan Muda Duan itu berbudi luhur, aku tidak tahu. Tapi mulut Kakakku yang kedua itu, aku memang tidak bisa percaya.”
“Oh ya, Paman Fan, tadi Anda bilang Duan Feibai ada urusan dan meminta bantuan Kakak Kedua. Apakah Anda tahu urusan apa itu? Aku penasaran, orang seperti Duan Feibai juga bisa punya urusan yang perlu bantuan kakakku?”
Pengurus Fan menggeleng. “Tuan Muda Kedua tidak memberitahuku secara rinci, tapi kurasa urusan itu cukup sulit. Nona Ketiga, Anda tak perlu memikirkannya.”
Mendengar itu, Shen Mixiang tidak bertanya lebih lanjut.
Sementara itu, setelah selesai berbicara dengan Liu Zhengheng, Duan Feibai berjalan lurus menuju Shen Mixiang. Melihatnya datang, seluruh kewaspadaan Shen Mixiang sontak bangkit.
“Nona Ketiga Shen, apakah Anda berminat mencari tempat untuk duduk dan minum teh sebentar?” ucapnya lembut.
Namun, Shen Mixiang langsung menolak tanpa ragu, bahkan tanpa berkedip. “Terima kasih atas niat baik Tuan Muda Duan, tapi hari ini aku masih ada urusan penting di rumah, jadi tidak bisa minum teh.”
Ia menunduk memberi salam, lalu berkata, “Soal kejadian hari ini, aku anggap saja Tuan Muda Duan hanya bercanda. Namun, sebaiknya lain kali tidak perlu bercanda seperti ini lagi. Hari sudah siang, aku pamit terlebih dahulu.”
Belum sempat Duan Feibai membalas, Shen Mixiang sudah berbalik dan melompat ke atas kudanya. Ia membisikkan sesuatu pada Pengurus Fan, lalu berangkat bersama pelayan pribadinya. Selama itu, ia bahkan tak melirik sedikit pun ke arah Duan Feibai.
Sikap Nona Ketiga Keluarga Shen ini membuat para warga yang menyaksikan terheran-heran. Sebelumnya beredar kabar bahwa Nona Ketiga keluarga Shen ini mewarisi watak ibunya, jauh dari kelembutan dan kehalusan khas perempuan, bahkan gerak-geriknya lebih menyerupai ketegasan dan kebebasan seorang pria.
Dan hari ini, di hadapan Duan Feibai, ia tetap bisa bersikap tenang dan tidak gentar, tanpa sedikit pun berubah raut wajahnya. Sungguh, ia adalah wanita yang luar biasa.
Yang lebih mengejutkan lagi, Tuan Muda Besar Duan ternyata tidak menunjukkan sedikit pun kemarahan. Apakah ia memang tidak mau menurunkan derajatnya untuk berurusan dengan seorang gadis muda?
Melihat Shen Mixiang yang menunggang kuda menjauh, senyuman di sudut bibir Duan Feibai semakin dalam, matanya memancarkan ketertarikan yang kuat.
“Jiushang,” panggil Duan Feibai perlahan.
Seorang pria berbadan tegap berbaju biru maju sambil memegang pedang, menunduk dan berkata, “Saya di sini, Tuan, silakan perintah.”
“Kirim orang untuk menyelidiki siapa saja di kota ini yang berhubungan dalam bisnis rempah-rempah milik Nona Ketiga Shen, dan ke mana saja barang-barang itu dikirim. Selain itu, utus juga seseorang ke Minzhou. Setelah Shen Yilin selesai bernegosiasi, tangkap dia dan bawa kemari.”
Jiushang menjawab tanpa ekspresi, “Baik, Tuan, saya mengerti.”
Liu Zhengheng yang berdiri di samping dengan tangan di dalam lengan bajunya, mendengar perintah itu dan bertanya dengan heran, “Feibai, setahuku hubunganmu dengan Shen Yilin selalu baik. Kenapa kini seolah-olah sengaja memusuhi keluarga Shen?”
Duan Feibai mengangkat alis dan menatapnya. “Memusuhi? Apa aku seperti itu?”