Bab 21: Dada dan Punggung Bersatu
“Dapur sedang sibuk menyiapkan makan malam, jadi aku minta pengurus dapur mengambilkan makanan seadanya dulu. Nona makanlah sedikit untuk mengganjal perut, nanti biar Qiutang mengambilkan kue manis untukmu.”
Shen Mixiang pun tidak rewel. Ia sudah seharian menahan lapar. Di tengah hari hanya sempat makan beberapa potong kue, sekarang perutnya sudah keroncongan.
“Kalian juga cepatlah turun makan, bawa saja beberapa piring daging ini ke bawah untuk dibagi.”
Meski sangat lapar, Shen Mixiang tetap makan dengan anggun dan perlahan. Dua pelayannya pun sejak pagi hampir belum makan apapun.
“Terima kasih, Nona. Yuanluo, aku turun dulu untuk makan, ya.”
Qiutang tampak sangat gembira, ia memang sangat suka makan daging. Makanan para pelayan di Kediaman Shen sebenarnya sudah lumayan, tapi tidak setiap hari bisa makan daging.
“Aduh Qiutang, kau memang susah diatur,” gumam Yuanluo dengan sedikit kesal. Entah sudah berapa kali ia menasihati Qiutang.
“Biarkan saja, selama tidak melakukan kesalahan besar, tidak apa-apa. Jangan terlalu keras mengatur mereka, usia segini memang waktunya senang bermain.”
Yuanluo tidak membantah, ia hanya membantu Shen Mixiang menata hidangan.
Setelah perutnya kenyang dan tubuh terasa segar, Shen Mixiang menyuruh Yuanluo turun makan. Ia sendiri membawa secangkir teh bunga, duduk santai sambil melamun.
“Ibu, ada apa ini?” tanya Shen Nianxiang yang baru masuk, hampir saja kena lemparan cangkir teh.
Nyonya Cui baru saja kembali dari ruang baca dan melampiaskan kemarahan di kamarnya. Entah kenapa hari-hari belakangan ini segalanya terasa tidak berjalan lancar.
Mendengar suara putrinya, barulah Nyonya Cui meletakkan vas di tangannya.
“Putri kesayangan ibu datang, sini cepat biar ibu lihat.”
Shen Nianxiang berjalan melewati pecahan porselen di lantai dan akhirnya sampai di samping ibunya.
“Ibu, siapa yang membuat ibu marah sampai begini?”
Nyonya Cui memang sangat disayang oleh Shen Wang. Para pelayan di rumah ini juga sangat pintar membaca situasi, tidak ada yang berani menyinggung perasaannya. Hidup Nyonya Cui sebenarnya berjalan mulus.
“Kau memang anak ibu yang paling penurut. Entah kakakmu pergi ke mana lagi sekarang. Kau baik-baik saja, kan? Akhir-akhir ini ayahmu sedang tidak enak hati.”
Shen Nianxiang memandang ibunya, tidak begitu paham dengan maksud ucapannya.
“Ibu, maksud ibu apa? Apa yang terjadi dengan ayah? Apakah ayah berkata sesuatu yang membuat ibu sedih? Biar aku saja yang bicara dengan ayah, tak boleh ada yang berani membuat ibu sedih.”
Jelas sekali Shen Nianxiang sudah sangat dimanja. Dalam situasi seperti ini pun ia masih tergerak untuk mencari ayahnya. Nyonya Cui buru-buru menariknya, takut jika putrinya benar-benar pergi, akibatnya tak bisa dibayangkan.
“Hari ini aku dengar ada masalah di Rumah Wangi Debu. Entah masalah besar apa yang diperbuat adik ketigamu. Ayahmu sedang marah-marah, kau jangan cari masalah.”
“Ibu, Rumah Wangi Debu bermasalah? Benar adik ketiga yang membuat ulah? Aku sudah duga, cepat atau lambat pasti akan terjadi sesuatu. Waktu itu, aku ke sana, dia bahkan tidak mengizinkan Tuan Duan masuk.”
Mendengar nama Tuan Duan disebut, pikiran Nyonya Cui langsung bergerak cepat. Anak perempuannya yang tertua sudah menikah, kini giliran putri keduanya. Ia menatap wajah putrinya yang cantik, berharap bisa menjodohkannya dengan keluarga baik. Namun sebagai selir, Nyonya Cui sulit menjalin relasi, apalagi nyonya besar di rumah ini juga tidak bersahabat. Masa depan putrinya pun terasa samar.
“Anakku, usiamu sudah cukup untuk menikah. Sampai sekarang ayahmu belum juga memikirkan soal lamaran. Putriku secantik ini, harus kudesak ayahmu agar mencarikan jodoh yang baik. Tak boleh seperti nasib kakakmu.”
Shen Nianxiang tersipu. Ibunya memang sering membicarakan hal ini, dan beberapa hari lalu ia sempat bertemu Duan Feibai. Walau tahu lelaki itu suka berfoya-foya, tetap saja ada pesona yang membuatnya ingin dekat.
“Itu urusan ayah dan nyonya besar, aku tidak bisa banyak bicara.”
Padahal ia hanya sekadar mengeluh, namun Nyonya Cui justru merasa pilu mendengarnya.
“Kau selalu menurut pada ibu sejak kecil. Mana mungkin ibu membiarkanmu menikah sembarangan. Ibu pasti akan memohon pada ayahmu, nanti pasti dapat keluarga baik.”
Mendengar itu, Shen Nianxiang pun tersenyum. Ia tahu, ibunya memang sangat menyayanginya.
Melihat barang-barang berserakan di lantai, Shen Nianxiang segera memanggil pelayan untuk membereskan. Ia menggandeng Nyonya Cui menuju ruang bunga kecil, entah pembicaraan apa yang mereka lanjutkan.
“Andai kakakmu bisa sepenurut dirimu, hidup kita pasti akan jauh lebih mudah,” keluh Nyonya Cui. Padahal hidup mereka sebenarnya sudah cukup baik. Jika bukan karena Nyonya Wu yang jarang mengatur rumah, mungkin mereka tak akan bisa hidup senyaman sekarang.
“Ibu, pelan-pelanlah. Adik pasti akan baik-baik saja, apalagi ibu sedang hamil.”
Shen Sixiang baru menerima kabar itu menjelang sore. Ia baru menikah dua bulan, suaminya sedang tidak di rumah, jadi ia tak berani mengambil keputusan sendiri. Setelah suaminya pulang, barulah ia memberitahu bahwa adik kesayangannya bermasalah.
Shen Sixiang menikah dengan Fu Yan dua bulan lalu. Keluarga Fu adalah pedagang beras terbesar di Kota Sheng’an, kedua keluarga itu memang sepadan.
Baru dua bulan menikah, Shen Sixiang sudah mengandung. Hidupnya damai, suaminya pengertian, keluarga mertuanya juga baik.
“Suamiku, aku sangat cemas. Takut sekali kalau ayah benar-benar memukul Mixiang. Sudah lama berlalu, tak tahu apa yang terjadi.”
Fu Yan pun tak bisa berbuat banyak, ia hanya berusaha menenangkan istrinya. Ibunya sebenarnya kurang setuju saat mereka hendak pergi, namun ia tak tega melihat istrinya menangis. Akhirnya ia pun luluh dan setuju. Ia sendiri tidak menyangka istrinya bisa secepat ini menjadi gelisah. Sejak menikah, istrinya selalu lembut, bicara pun sopan kepada siapa saja.
“Putri sulung kok pulang saat hari hampir malam begini?” Penjaga gerbang kaget melihat Shen Sixiang kembali, belum pernah ada pengantin baru yang pulang ke rumah orang tua menjelang malam.
“Paman Li, adik ketiga ada di rumah?”
Paman Li mengangguk, belum sempat bicara Shen Sixiang sudah melangkah masuk.
“Sepertinya putri sulung datang mencari putri ketiga. Perlukah kita beritahu Tuan Besar?”
Melihat Shen Sixiang masuk, dua penjaga itu saling kebingungan.
“Sebaiknya laporkan saja, kalau tidak, bisa-bisa kita yang kena masalah.”
“Sudah malam, kenapa putri sulung datang?”
Bagian dalam rumah adalah tempat tinggal para perempuan, jadi Fu Yan tidak ikut masuk. Ia memilih berjalan-jalan mencari kakak iparnya, sedangkan mertuanya sebaiknya tidak ditemui.
“Adik ketigaku baik-baik saja kan? Apa ayahku memperlakukannya kasar?”
Yuanluo buru-buru menggeleng. Ia sendiri juga tidak tahu pasti apakah Nona mendapat perlakuan kasar dari Tuan Besar.
“Kalau memang tidak apa-apa, aku sangat lega. Aku ingin masuk sebentar, kami kakak beradik ingin bicara.”
Shen Nianxiang pun merasa tenang, lalu masuk ke dalam ruangan dengan bantuan pelayan.
Shen Mixiang sebenarnya sudah mendengar suara kakaknya sejak tadi. Awalnya ia masih melamun, namun setelah itu segera beranjak ke pintu menyambut sang kakak. Sudah lama mereka tidak bertemu.