Bab 24: Masa Lalu Tak Perlu Dikenang
Halaman 1 dari 3
Mu Ziming teringat saat pertama kali tiba di Bianjing. Apa pun yang dilakukannya selalu berakhir dengan kepala benjol dan tubuh babak belur.
Tulisan yang selama ini dibanggakannya tak mampu menandingi kemewahan hidup foya-foya.
Hanya dalam beberapa bulan, ia menyadari bahwa dengan statusnya, untuk mendaki ke tempat tinggi, ia harus menghabiskan waktu puluhan tahun, bahkan seumur hidup. Sementara itu, sebagian orang telah memilikinya sejak lahir.
Kesenjangan semacam itu membuatnya menderita.
Ia ingin menghapus jarak di antara mereka. Karena itu, ketika Putri Chang Le mengulurkan tangan kepadanya, ia bimbang, sekaligus tergoda.
Putri Chang Le memiliki paras yang luar biasa, kedudukan yang mulia, serta pengetahuan yang luas. Ia juga menghormati Mu Ziming dan mengagumi bakatnya.
Sejak mengenal Putri Chang Le, beberapa orang mulai menundukkan kepala kepadanya.
Mereka memanggilnya Tuan Muda Mu, dan setiap panggilan itu dipenuhi rasa iri.
Kesombongan dalam dirinya pun terpuaskan pada saat itu.
Ia telah merencanakan masa depannya dengan baik. Dalam masa depan itu, Jiang Yunting tetap memiliki tempat.
Ia tak akan pernah melupakan gadis cantik di Kota Nanling yang menemaninya belajar keras siang dan malam.
Gadis itu bagaikan bunga pir yang sedang mekar di telapak tangannya, begitu murni hingga tak pernah benar-benar ia lupakan. Hanya saja, untuk sementara, bunga pir itu harus memberi jalan bagi peoni yang anggun dan kaya.
Peoni memiliki kecantikan yang tiada banding, sedangkan bunga pir liar di lereng gunung memang tak mungkin menandinginya.
Ia bahkan sudah memikirkan cara membujuk Jiang Yunting kelak. Namun, ketika gadis itu tiba-tiba muncul di hadapannya, ia tahu bahwa perempuan di depannya telah melihat seluruh kehinaannya.
“A-Li, akulah yang bersalah kepadamu. Tapi aku pasti akan menebusnya.”
Baru saja ia selesai berbicara, terdengar tawa kecil.
Tawa itu semakin keras. Gadis yang tadi dipanggilnya dengan penuh kasih kembali menjauh darinya.
Jiang Yunting tertawa sampai perutnya sakit. Ia tak lagi memedulikan sikap atau penampilannya, hanya memegangi perut sembari tertawa dengan getir.
“Menebusnya? Mu Ziming, bagaimana kau akan menebusnya? Menikahiku sebagai istrimu, atau menjadikanku selir?”
“Tapi kau tahu, Mu Ziming, sepanjang hidupku, aku tidak akan pernah menjadi selir. Dan kau lebih tahu lagi bahwa kau tidak akan menikahiku sebagai istri.”
“Jadi, Mu Ziming, untuk apa berpura-pura seperti ini?”
“Kau tidak akan bisa menyembunyikannya dariku.”
Benar. Mu Ziming sama sekali tak mampu membohonginya. Pada saat pandangan mereka bertemu, Jiang Yunting telah mengetahui akhir hubungan mereka.
Ia menyeka air mata di sudut matanya. Wajahnya yang menawan tampak letih, sepasang matanya yang jernih telah tertutup debu hingga kehilangan cahayanya.
Di tengah kebisuan Mu Ziming, ia mendengar suara hatinya sendiri retak.
Suara itu begitu lirih, tetapi terdengar jelas.
“Mu Ziming, mengapa? Katakan kepadaku, mengapa?”
Ia bersikeras ingin mendapatkan jawaban—jawaban yang mampu membuatnya meninggalkan kasih sayang mereka selama belasan tahun.
Halaman 2 dari 3
“A-Li, maafkan aku. Aku membutuhkan bantuan, sedangkan kau…”
“Sedangkan statusku terlalu rendah dan tidak mampu membantumu, begitu?” Jiang Yunting memotong ucapannya. Ia tertawa sinis, dan suaranya berubah tajam.
“Tapi, Mu Ziming, jika kau sudah mengambil keputusan, mengapa tidak mengatakannya terus terang? Kau seharusnya memahami diriku. Kau tahu aku tidak akan terus mengejarmu tanpa tahu malu.”
Seandainya selama ini Mu Ziming membocorkan sedikit saja dalam surat-suratnya, tentu ia akan menyadarinya. Ia tidak akan melakukan penghinaan terhadap dirinya sendiri seperti hari ini, bahkan mungkin tidak akan datang ke Bianjing.
Tanpa Mu Ziming, Nanling dan Bianjing sama saja baginya.
“Mu Ziming, dari Nanling ke Bianjing, gunung dan sungai membentang jauh, perjalanan ini penuh kesulitan. Namun, bukan hanya kau yang telah menempuhnya.”
Ia telah menempuh perjalanan ribuan li demi memenuhi janji, tetapi janji itu rupanya sudah dibuang begitu saja. Betapa lucunya.
Bibir merahnya sedikit terangkat. Ia ingin tersenyum, tetapi pipinya terasa kaku. Ia berpikir, wajahnya sekarang pasti sangat buruk.
“A-Li, aku…”
Ketika melihat keteguhan hati di mata Jiang Yunting, Mu Ziming diliputi kepanikan karena merasa akan kehilangan sesuatu yang penting.
Ia berusaha memperbaiki keadaan.
“A-Li, maafkan aku. Tetaplah di sisiku. Aku akan menjagamu seumur hidup, seperti yang telah kujanjikan kepada Bibi Yang.”
“Cukup, Mu Ziming! Beraninya kau menyebut-nyebut ibuku.”
Jiang Yunting tiba-tiba membentak. Suaranya melengking, dipenuhi amarah yang membara.
“Mu Ziming, dulu, di hadapan ibuku yang terbaring sakit, kaulah yang berkata akan menikahiku dan menjagaku seumur hidup.”
“Jika kau ingin meminta maaf, berlututlah di depan makam ibuku.”
“Tapi, beranikah kau melakukannya, Mu Ziming?”
Ia mencibir. Melihat kemuraman dan amarah yang berusaha ditahan di wajah Mu Ziming, untuk pertama kalinya ia merasa seolah-olah tidak pernah mengenal laki-laki di hadapannya.
Apakah selama ini ia telah salah menilai?
Tidak. Ia tidak salah.
Kak Ziming dari Nanling adalah orang yang selama ini dicintainya sepenuh hati.
Namun, Mu Ziming di Kota Bianjing bukan lagi orang yang sama.
Jiang Yunting memejamkan mata dan memaksa dirinya untuk tenang. Ia tidak boleh bertingkah seperti perempuan kasar. Ia tidak boleh membiarkan laki-laki itu terus menginjak-injak harga dirinya.
Gejolak yang dahulu pernah memenuhi hatinya perlahan tenggelam, lalu akhirnya terbenam ke dalam samudra tanpa cahaya, diselimuti kegelapan tak berujung hingga lenyap tanpa jejak.
Kak Ziming telah menghilang.
Ia mendengar seseorang menangis dalam kegelapan, tangis yang memilukan hingga merobek dada.
Namun, bukan dirinya.
Ia telah berjanji kepada ibunya untuk tetap hidup dengan baik dan menjadi lebih kuat daripada siapa pun.
Bunga pir liar di lereng gunung sejak awal memiliki daya hidup yang kuat. Bagaimana mungkin ia tumbang hanya karena sedikit angin dan hujan?
Halaman 3 dari 3
Ia membuka mata. Seluruh keraguannya telah lenyap, seolah awan tersibak dan cahaya bulan memenuhi langit.
“Tuan Muda Mu, kumohon jangan panggil aku A-Li lagi.”
“Pertunangan kedua keluarga berakhir sampai di sini. Masa lalu tak perlu dikenang. Jalan di depan masih panjang, dan kita akan berjalan ke arah masing-masing.”
“Mulai sekarang, kita adalah orang asing. Jangan pernah menoleh lagi.”
Pada saat itu, rasa sakit yang nyaris membuat dadanya mati rasa menjalar dari rongga dadanya. Jiang Yunting menekan seluruh emosinya dalam-dalam.
Ia berbalik dengan tegas, tak lagi melirik Mu Ziming, lalu pergi dengan langkah lebar.
Jiang Yunting bukanlah orang yang akan mengemis belas kasihan sambil mengibaskan ekor. Hari kemarin memang tak bisa dipertahankan. Jika sudah ditinggalkan, biarlah semuanya berakhir.
Telapak tangannya terasa perih membara. Saat melangkah keluar dari pintu, Jiang Yunting mengusap air mata di wajahnya. Ia menegakkan punggung dan tidak menghiraukan panggilan dari belakang.
Suara di belakangnya perlahan menghilang. Orang-orang di sekelilingnya bergerak seperti bayang-bayang pepohonan yang bergoyang, semuanya tampak kabur dan tak jelas.
Ia naik ke kereta, lalu seluruh tenaga dalam tubuhnya lenyap seketika.
Menghadapi wajah Zhong Xia yang penuh kekhawatiran, ia mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum getir.
“Zhong Xia, nona kalian ini mulai sekarang sendirian.”
“Nona, bagaimana mungkin…”
Zhong Xia terpaku, kemudian dipenuhi amarah. Ia ingin menerobos keluar untuk menanyakan kepada Mu Ziming bagaimana mungkin laki-laki itu tega memperlakukan nona mereka seperti itu.
Namun, tangannya ditarik. Ia melihat Jiang Yunting menggelengkan kepala.
“Tidak apa-apa, Zhong Xia.”
Ia baik-baik saja. Seberapa pun sakitnya, mungkinkah rasa itu lebih menyakitkan daripada menyaksikan ibunya meninggal tepat di depan mata?
Ia bersandar pada dinding kereta dan membiarkan dirinya tenggelam dalam kesedihan.
Hati yang dahulu penuh kini menjadi tandus.
Di padang belantara yang sunyi itu, berkobar api besar. Ketika api tersebut padam, semuanya telah berubah menjadi asap dan lenyap, tak ada lagi masa lalu.
“Ayo pergi. Kita pulang.”
Ia mendengar suara yang melayang-layang, seolah berasal dari atas awan, lalu tiba-tiba jatuh ke jurang yang sangat dalam hingga pecah dan kehilangan bentuk.
“Nona, kita pulang. Kita pulang.”
Zhong Xia menangis hingga tak mampu bersuara. Ia menyuruh kusir kembali. Kereta pun berbalik, dan dalam perjalanan berpapasan dengan sebuah kereta lain.
Jiang Yunting tidak menyadari bahwa tirai kereta itu terangkat sedikit, memperlihatkan wajah menawan Putri Chang Le.
Putri Chang Le memandangi kereta yang menjauh. Bola matanya tampak gelap pekat, dengan kilatan yang agak menyeramkan.