Bab 52 Dia Hanya Menginginkannya
Shen Yu, yang kelemahannya baru saja disentuh, menyimpan senyum di sudut matanya. Senyum itu bagaikan percikan api, tampak redup, namun pada akhirnya akan membakar menjadi kobaran api yang besar.
1
Niat tersembunyi yang kuat meledak dari dalam diri Shen Yu. Ia bangkit dan merapikan jubahnya, memancarkan keyakinan penuh bahwa kemenangan ada di genggamannya.
2
"Ibu, apa yang diinginkan oleh putramu ini, kapan tidak pernah kudapatkan?"
3
Apa yang ia inginkan saat ini hanyalah gadis itu, dan ia bertekad untuk mendapatkannya dengan cara apa pun.
+
"Benar, aku percaya pada kemampuanmu. Namun, jika kamu hanya terpesona sesaat, lalu setelah berhasil mendapatkan orangnya, suatu hari nanti kamu merasa bosan dan mencampakkannya, bukankah itu berarti kamu menghancurkan hidupnya dan hanya akan mendatangkan penyesalan di kemudian hari?"
4
Akhir kisah di mana sepasang suami istri saling membenci bukanlah hal yang baik.
5
"Di mata Ibu, apakah putramu ini terlihat begitu kejam dan tak berhati?"
6
Shen Yu sama sekali tidak terusik oleh keseriusan ibunya. Tatapannya, justru dipenuhi kelembutan yang terpancar saat nama Jiang Yunting disebut.
7
Mungkin di awal, ia menaruh perasaan terlarang pada gadis itu karena mimpi-mimpi indah yang membuai.
8
Namun lambat laun, saat ia melihat gadis itu selangkah demi selangkah membersihkan debu di tubuhnya dan menjadi semakin cemerlang serta memukau, pemikirannya pun berubah.
9
Ia menginginkannya.
10
Ia ingin mutiara yang terpendam di dasar samudera ini, untuk direbutnya sebelum ada orang lain yang menyadari keberadaannya.
11
Lalu menempatkan gadis itu di bawah perlindungannya agar bisa bersuara sebebas-bebasnya.
12
Gadis itu ingin berbisnis, atau meracik dupa, semuanya diperbolehkan.
13
Ia sama sekali tidak pernah berniat untuk mematahkan sayap gadis itu.
14
Dibandingkan dengan para wanita di halaman dalam yang tampak kaku dan tak berjiwa, ia jauh lebih menyukai sosok gadis itu yang begitu hidup dan penuh warna.
15
Bagaimana mungkin ia tega menghalangi bunga pir yang sedang mekar dengan begitu cemerlang itu?
16
Ia tidak menyangkal hasratnya sendiri, tetapi ia juga yakin bahwa dirinya memiliki ketulusan. Bukankah cinta dan hasrat pada dasarnya terjalin menjadi satu, untuk apa harus dipisahkan mana yang lebih tinggi atau lebih rendah?
17
Makan dan hasrat adalah sifat dasar manusia, dan ia bukanlah seorang pertapa suci seperti Liuxia Hui.
18
"Seperti halnya Ibu, apakah Ibu menyesal? Menyesali pernikahan dengan Ayah, terkurung di tempat sekecil ini dan tidak bisa pergi ke mana pun."
19
Tanya Shen Yu sambil menatap tajam ke arah sang ibu.
20
Nyonya Besar tertegun sejenak, lalu sebuah senyum terukir di wajahnya. Senyum itu bagaikan angin yang berlalu tanpa meninggalkan jejak, namun nada suaranya terdengar jauh lebih lembut.
21
"Tidak menyesal."
22
Meskipun terpisah jarak, selama hati mereka tetap bersama, itu sudah cukup.
23
"Aku juga tidak menyesal." Shen Yu dipenuhi dengan antusiasme yang membara. Alis dan sorot matanya yang tegas mencerminkan semangat masa muda, yang sering kali tersembunyi di balik penampilan luarnya yang tenang dan tanpa nafsu.
24
Nyonya Besar menatap Shen Yu yang seperti itu cukup lama, sementara senyum pasrah terpatri di wajahnya.
25
"Sudahlah, terserah padamu saja."
26
Putranya sendiri akhirnya menyukai seorang gadis, sebagai seorang ibu, tentu tidak mungkin ia tega memisahkan sepasang merpati yang sedang kasmaran.
27
"Akan tetapi, kuberi tahu kau, jangan berharap aku akan membantumu mengucapkan hal-hal baik."
28
"Tidak perlu, aku akan melakukannya sendiri."
29
Urusan membuat Jiang Yunting jatuh hati padanya, bisa ia selesaikan sendiri.
30
"Dasar kamu." Nyonya Besar tertawa sambil bercanda ringan.
31
Segalanya telah diputuskan dengan cepat. Hari keberangkatan pun tiba, tepat seperti yang telah direncanakan keesokan harinya, Jiang Yunting naik ke dalam kereta kuda.
32
Melihat rombongan kereta kuda Nyonya Besar berjalan perlahan meninggalkan gerbang kota, ekspresi Lu Fu yang terus mengamati dari kejauhan tampak begitu suram dan menakutkan.
33
"Nona."
34
Pelayan di sisinya memanggil dengan hati-hati saat melihat tatapan dingin yang dilemparkan oleh Lu Fu, membuat pelayan itu tidak berani bersuara lagi.
35
"Kirimkan berita ini kepada Gu Wangsheng."
36
Ia tadinya berharap Gu Wangsheng bisa membuat Jiang Yunting menderita sedikit kesusahan, tetapi siapa sangka dalam sekejap mata gadis itu justru menjadi begitu dekat dengan Nyonya Besar.
37
Benar-benar makhluk yang tidak berguna.
38
Namun, Nyonya Tua saat ini tampak jelas tidak senang, jadi ia harus bersabar sedikit lebih lama.
39
Adapun Gu Wangsheng—heh, ia tidak percaya gadis itu benar-benar akan menyerah pada takdir dan pasrah menunggu hari pernikahannya tiba.
40
Setelah kereta kuda keluar dari gerbang kota, jalanan mulai terasa bergelombang. Jiang Yunting duduk di dalam kereta yang sama dengan Zhongxia, lalu menyalakan dupa di dalam ruangan kecil itu.
41
Dupa tersebut digunakan untuk mencegah mabuk perjalanan, dengan aroma mint yang menyegarkan pikiran.
42
"Nona, apakah Kuil Anshen itu sangat besar?"
43
Zhongxia menyibak tirai kereta dengan hati-hati untuk melihat ke luar. Saat itu mereka masih berada di jalan kekaisaran, di mana ada cukup banyak orang yang berlalu-lalang, pemandangan yang tampak begitu menarik di mata Zhongxia.
44
"Hmm, sangat besar."
45
Sebagai sebuah kuil kekaisaran, Kuil Anshen telah berdiri sangat lama dan bahkan telah melintasi dua dinasti.
46
Kuil Anshen adalah simbol penghubung antara dinasti sebelumnya dan dinasti yang sekarang, sekaligus lambat bagi sang penguasa untuk menunjukkan kepada rakyat bahwa ia memperlakukan rakyat dari kedua dinasti dengan setara.
47
Oleh karena itu, meskipun pihak istana tidak menganut agama Buddha, setiap tahun mereka tetap mengadakan upacara penghormatan Buddha untuk diberitahukan kepada seluruh negeri. Semua ini pernah didengar oleh Jiang Yunting.
48
Setelah perjalanan selama satu jam penuh, kereta kuda akhirnya tiba di lereng tengah gunung. Perjalanan selanjutnya tidak bisa dilalui oleh kereta kuda dan harus diteruskan dengan berjalan kaki.
49
Sebenarnya ada tandu bambu yang tersedia, namun Nyonya Besar yang telah lama menjalankan ajaran Buddha dan sangat saleh, selalu berjalan kaki untuk menempuh jalur tersebut setiap tahunnya.
50
Tahun ini ada tambahan Jiang Yunting. Ketika melihat Jiang Yunting berjalan mendekat dengan anggun dari belakang, Nyonya Besar teringat pada putranya dan tetap memberikan perhatian kecil.
51
"Yunting, naiklah ke tandu saja, tidak perlu menungguku."
52
Gadis muda yang lembut dan rapuh itu tampak tidak memiliki banyak tenaga. Jika ia kelelahan di jalan, putranya nanti pasti akan mencari gara-gara dengannya.
53
"Tidak apa-apa, aku akan berjalan bersama Anda ke atas."
54
Jiang Yunting tersenyum sambil menggelengkan kepala. Ia bukanlah seorang gadis bangsawan yang tumbuh dalam kurungan dan manja.
55
Melihat Jiang Yunting bersikeras, Nyonya Besar hanya mengangguk pelan.
56
Keduanya berjalan beriringan. Meskipun watak Nyonya Besar tergolong dingin, ia sebenarnya adalah orang yang hangat. Demi menemani Jiang Yunting, sesekali ia membuka percakapan di sepanjang perjalanan.
57
Menjelang tengah hari, keduanya akhirnya sampai di bagian atas.
58
Di cuaca bulan Maret ini, napas Jiang Yunting terdengar sedikit berat, pipinya merona kemerahan, sementara sepasang mata indahnya memancarkan kelembutan yang memesona, membuat Nyonya Besar mau tidak mau mengagumi paras rupawan gadis itu.
59
Tujuan utama Nyonya Besar datang adalah untuk beribadah kepada Buddha, dan kebetulan bertepatan dengan musim pameran kuil. Tempat tinggal mereka diatur di area kuil yang lebih tenang dan terpencil.
60
Seorang biksu cilik memimpin jalan, dan ketika melihat Jiang Yunting, ia sempat mencuri pandang beberapa kali.
61
"Biksu kecil, apa yang kau lihat!"
62
Zhongxia memelototi sang biksu dengan geram. Biksu cilik itu langsung merona kemerahan dan menggelengkan kepala. "Hanya saja... saya melihat paras Sang Dermawan menunjukkan tanda-tanda kemakmuran dan keberuntungan yang besar, jadi saya tidak bisa menahan diri untuk melihat beberapa kali."
63
Sorot mata biksu cilik itu tampak jernih, sehingga Jiang Yunting tidak merasa tersinggung.
64
"Kamu bahkan bisa membaca garis wajah seseorang?"
65
"Tidak bisa, tetapi Guru saya bisa."
66
Biksu cilik itu menggelengkan kepala. Melihat Zhongxia hendak mengatakan sesuatu lagi, ia buru-buru pamit undur diri.
67
"Memangnya aku ini mau memakan orang saja!"
68
Zhongxia mengepalkan tangan kecilnya dengan nada bercanda, membuat Jiang Yunting ikut tersenyum lebar.
69
Meskipun Kediaman Adipati Dingguo sangat megah, hidup di sana menuntut mereka untuk selalu menjaga gerak-gerik. Begitu keluar melakukan perjalanan seperti ini, keduanya menjadi jauh lebih ceria dan aktif.
70
Halaman tempat tinggal mereka tampak tenang, bersih, dan rapi, serta dipenuhi oleh aroma dupa yang menenangkan.
71
Aroma dupa pada umumnya terasa pekat dan bertahan lama, sementara dupa di tempat ini tidak terlalu mewah, namun keharumannya melekat dengan sangat baik.
72
Mereka diperkirakan akan tinggal di sini selama kurang lebih tujuh hari. Jiang Yunting lantas meminta Zhongxia untuk merapikan barang-barang bawaan mereka.
73
Jiang Yunting awalnya mengira dirinya harus menemani Nyonya Besar beribadah setiap saat, namun wanita paruh baya itu justru mengirim seseorang untuk menyampaikan pesan agar ia menggunakan waktunya sesuka hati.
74
Bagaimanapun juga ini adalah sebuah kuil Buddha. Pada hari pertama, Jiang Yunting mengajak Zhongxia berkeliling area kuil untuk mengenali lingkungan sekitar, setelah itu ia tidak lagi berkeliaran sembarangan.
75
Tiga hari kemudian adalah hari festival kuil. Seluruh isi kuil tampak sibuk selama beberapa hari terakhir karena kedatangan banyak relawan yang membantu, membuat suasana menjadi sangat hidup.
76
Jiang Yunting memilih untuk menenangkan pikiran dan menghabiskan waktunya di dalam kamar dengan menyalin kitab suci Buddha.
77
Tulisan tangan Jiang Yunting adalah aksara standar kecil yang biasa digunakan oleh para wanita. Goresan tangannya tampak rapi dan anggun terbentang di atas kertas, dikerjakan dengan sangat cermat pada setiap guratan kuasnya.
78
Jiang Yunting memiliki kesabaran yang luar biasa. Selama beberapa hari tinggal di halaman tersebut, ia bahkan menjadi akrab dengan biksu cilik yang bertugas membersihkan halaman setiap harinya.
79
Di halaman depan, biksu cilik itu sedang bermain catur dengan Zhongxia.
80
Zhongxia memiliki kepribadian yang lincah dan sulit untuk menenangkan diri. Setiap kali bermain catur, ia selalu melangkah tanpa memikirkan akibatnya, sehingga posisinya jelas-jelas tertekan oleh sang lawan.
81
Menghadapi lawan yang bermain tanpa konsentrasi, biksu cilik itu justru bermain dengan sangat serius. Gaya permainannya mantap dan tidak meremehkan lawan, yang pada akhirnya membuat jalannya pertandingan menjadi sepihak, di mana Zhongxia dikalahkan telak tanpa sisa.