Bab 15 Dia Menunggu Dia Kembali
Halaman 1/3
Rasanya sungguh tidak menyenangkan ketika baru setengah memasuki kesadaran seseorang lalu dipaksa keluar. Jiang Li terbatuk pelan, merasakan tangan itu sama sekali tidak mengendur.
“Lu Shenyan,” serunya dengan suara serak. “Lu Shenyan…”
Barulah Lu Shenyan melepaskan tangannya, tetapi wajahnya masih muram saat menatap Jiang Li.
“Memasuki kesadaran orang lain untuk mengintip ingatan mereka—kau tahu akibatnya? Jiang Li, apa kau ingin menjadi orang bodoh?”
Itulah bagian ingatan yang tersembunyi paling dalam di benak Lu Shenyan, kenangan yang paling enggan ia ingat kembali. Ia sama sekali tak menyangka Jiang Li, yang menerobos masuk ke dalam kesadarannya, justru menemukannya secara tak sengaja.
Lu Shenyan meliriknya sekilas, lalu tak berkata apa-apa lagi.
“Bukan begitu. Aku hanya melihat salah satu ingatanmu. Memangnya ada yang memalukan? Jangan-jangan itu luka batinmu?”
“Diam,” bentak Lu Shenyan.
Dahulu, Tuan Muda Keluarga Lu dipuji sebagai jenius langka yang tiada duanya. Semua orang mengaguminya, tetapi di atas gunung salju, ia justru dipermainkan sesuka hati oleh seekor siluman. Tentu saja itu bisa dianggap sebagai noda kelam dalam sejarah hidup Lu Shenyan.
Jiang Li memutuskan untuk menjaga sedikit harga diri malang sang Saudagar Besar Lu. Ia menggumam dan merengek sebentar, lalu tidak bertanya lebih jauh.
Hanya saja, Jiang Li tidak tahu kelanjutan dari ingatan itu.
Di dalam gua yang dipahat dari bongkahan es, selama tiga bulan penuh, siluman berbulu lebat yang selalu mengeluh kedinginan itu terus-menerus memeluk Lu Shenyan kecil untuk menghangatkannya. Sesekali, lidahnya yang memiliki duri-duri halus menjilat tengkuk Lu Shenyan kecil, lalu bertanya mengapa tubuhnya tidak ditumbuhi bulu.
“Tapi aku tidak akan membencimu hanya karena kau tidak berbulu.” Siluman itu menggoyangkan ekornya dengan bangga. “Aku bisa menggunakan sihir untuk memberimu ekor anjing.”
“…”
Lu Shenyan kecil menatap ekor anjing yang tumbuh di belakang tubuhnya, lalu menangis karena marah.
“Maukah kau menangkap ikan di danau untukku? Di sini dingin sekali. Sup ikan panas yang mengepul pasti paling enak.”
“Kenapa kau selalu memasang wajah muram kepadaku? Aku memerintahkanmu untuk tersenyum. Kalau tidak, aku akan memaksamu menandatangani kontrak tuan-pelayan denganku.”
“Kalau kau terus menangis, aku benar-benar akan menandatanganinya!”
…
Sudah dua puluh tiga tahun berlalu. Namun, di suatu bagian tubuh Lu Shenyan, sampai sekarang masih terdapat bekas luka yang ditinggalkan oleh kontrak paksa itu.
Ia berlatih jauh lebih tekun daripada siapa pun, semata-mata agar dapat kembali ke gunung salju dan menuntut perhitungan dari siluman itu.
Hingga tahun kesepuluh setelah Lu Shenyan meninggalkan gunung salju, pada suatu hari, belenggu tak kasatmata dari kontrak itu tiba-tiba lenyap.
Lu Shenyan mencari jawabannya dalam kitab-kitab kuno. Menurut catatan tersebut, hilangnya kontrak tuan-pelayan tanpa alasan hanya mungkin terjadi karena sang tuan merasa dirinya akan segera mati, lalu melepaskan kendali atas pelayannya sebelum ajal menjemput.
Menjelang ulang tahunnya yang kedelapan belas, Lu Shenyan meninggalkan upacara kedewasaan yang diselenggarakan keluarganya dan pergi seorang diri dari Ibu Kota Tengah menuju gunung salju di luar Kota Dian.
Perjalanan pulang-pergi memakan waktu lebih dari sepuluh hari. Angin kencang dan salju menerpa sepanjang jalan pegunungan. Lu Shenyan mencari di seluruh penjuru gunung, tetapi tidak menemukan sedikit pun jejak siluman itu.
Ia menjelajahi seluruh gunung, dan pada akhirnya hanya menemukan gua itu di bawah timbunan salju.
Sepuluh tahun telah berlalu. Segalanya seolah berubah, tetapi juga seolah tetap sama. Di dinding gua, dengan cakar yang bengkok dan tak beraturan, telah terukir ratusan, bahkan ribuan nama.
Semuanya adalah namanya.
Halaman 1/3
Halaman 2/3
Lu Shenyan. Lu Shenyan. Lu Shenyan.
Tulisan-tulisan yang memenuhi dinding itu pada awalnya bahkan tak dapat dikenali bentuknya. Namun, semakin lama, ukirannya semakin terampil dan rapi, seolah-olah pemilik gua itu menggoreskannya siang dan malam.
Dalam waktu tiga bulan, Lu Shenyan telah mengajari siluman di gunung salju bagaimana rasanya memiliki seseorang sebagai teman. Pada akhirnya, ia pergi tanpa menoleh sedikit pun, meninggalkan siluman itu dalam kesendirian selama sepuluh tahun.
Pantas saja.
Lu Shenyan memakinya.
Namun, entah mengapa, hatinya terasa seperti tersumbat sebongkah batu, membuatnya sesak dan sulit bernapas.
Baru ketika hendak meninggalkan tempat itu, Lu Shenyan menemukan sepucuk surat yang terbentuk dari kekuatan sihir di sudut gua.
Dalam surat itu, sang siluman berkata bahwa akhirnya ia memiliki kekuatan untuk menghancurkan susunan sihir yang menyegel gunung salju. Ia akan turun gunung dan mencarinya di dunia luar.
“Seperti apa dunia anak manusia?” tanya siluman itu. “Setelah menemukanmu, aku akan tahu. Saat itu, aku ingin makan ikan rebus kecap, ikan kecil kering, dan sup ikan dengan tahu yang pernah kau ceritakan kepadaku. Kau harus mentraktirku, ya.”
Namun, siluman itu tidak pernah menemukannya.
Berdasarkan perhitungan waktu, sesuatu pasti terjadi pada siluman itu dalam perjalanan mencarinya.
Seharusnya Lu Shenyan membenci siluman itu setengah mati. Namun, di sisi lain, ia juga berharap siluman itu masih hidup—hidup dan berdiri di hadapannya. Ia bersumpah, jika suatu hari dapat menemukannya, ia pasti akan membuat siluman itu tetap berada di sisinya. Entah dengan menandatangani kontrak tuan-pelayan, entah dengan memaksanya bekerja untuknya. Bagaimanapun caranya, ia tidak akan membiarkan siluman itu pergi lagi.
Dan ingatan-ingatan itu sama sekali tidak boleh dilihat Jiang Li.
Sebab, jika Jiang Li melihatnya, ia mungkin akan mengetahui alasan Lu Shenyan menyuruhnya melakukan seribu tiga puluh lima hal, sekaligus menemukan identitas asli siluman itu.
“Lu Shenyan,” Jiang Li mulai memanggil dari bawah tubuhnya. “Lu Shenyan—”
“Diam.” Lu Shenyan tersadar dan memotong ucapannya.
“Aku tidak sengaja melihat ingatanmu. Jangan pelit begitu.” Jiang Li menggerutu tak puas. “Kalau begitu, kau boleh melihat ingatanku sebagai gantinya. Rahasiaku juga akan kuberitahukan kepadamu. Dengan begitu, kita impas, bukan?”
Jiang Li mengerucutkan bibir.
Ia belum pernah menceritakan kepada siapa pun tentang tulang punggungnya yang pernah digali oleh seorang pemburu siluman. Peristiwa memalukan seperti itu bahkan enggan ia bicarakan. Namun, jika Lu Shenyan benar-benar merasa dirugikan, tidak masalah jika ia menceritakannya.
Saat itu, Jiang Li nyaris mati. Namun, pada akhirnya ia tetap tidak mati. Ketika rasa sakit mencapai puncaknya, ia mulai melupakan banyak hal, bahkan melupakan rasa sakit saat tulang punggungnya digali. Ia hanya mengingat sebuah ruangan gelap yang suram dan lembap, tempat ia dikurung dan disiksa berulang kali.
Pada akhirnya, wajahnya telah berubah sama sekali. Tulang punggung yang baru pun tak lagi dapat tumbuh. Tubuhnya, yang tak lebih dari segumpal lumpur, dibuang begitu saja ke pinggir jalan.
Tiba-tiba, Lu Shenyan menatapnya dengan tatapan terpaku.
“Ada apa?” Jiang Li menggerakkan telinganya.
Halaman 2/3
Halaman 3/3
Namun, Lu Shenyan hanya bangkit dari atas tubuhnya, lalu menarik Jiang Li berdiri dengan kasar.
Pakaian Jiang Li telah compang-camping. Ketika ditarik bangun, kepalanya nyaris terbentur bahu Lu Shenyan, sementara serpihan kain beterbangan ke segala arah. Ia mengusap hidungnya, lalu mengangkat tangan dan menggunakan cincin tembaga merah untuk mengganti pakaiannya dengan yang baru.
Tiba-tiba, ia teringat ilusi absurd yang baru saja dimasukinya, lalu tanpa sadar melirik Lu Shenyan.
Sungguh canggung. Bagaimana mungkin ia bisa menatap orang ini dengan wajar mulai sekarang?
“Kau benar-benar tidak mau melihat ingatanku?” tanyanya.
“Tidak perlu,” jawab Lu Shenyan datar.
Lu Shenyan tidak akan bertindak gegabah seperti Jiang Li dan sembarangan memasuki kesadaran orang lain. Perbuatan semacam itu, dalam kasus ringan, dapat membuat seseorang menjadi bodoh; dalam kasus berat, bahkan bisa merenggut nyawa. Hanya karena kekuatan mental Lu Shenyan cukup besar, ia tidak terpengaruh oleh Jiang Li.
“Kalau begitu, karena kau menarikku berdiri, akan kuanggap kau tidak mempermasalahkannya.” Jiang Li berdeham, lalu berpura-pura batuk. “Mulai sekarang, kau tidak boleh mengungkit masalah lama lagi.”
Lu Shenyan tidak menggubrisnya.
Setelah mengenakan pakaian baru, Jiang Li berjalan melewati Lu Shenyan dan terus maju.
Yang terpenting sekarang adalah menemukan cara baru untuk mengambil alih artefak ruang ini. Ketika memasuki kesadaran Lu Shenyan, ia secara tidak sengaja membuat Lu Shenyan terbangun lebih awal dan memutus kontrak yang sedang berlangsung. Itu berarti pecahan ruang ini masih mungkin ia jadikan miliknya.
“Apakah kau masih punya cara agar aku dapat menyelesaikan kontrak dengan pecahan ini?” tanya Jiang Li.
“Kau telah melihat ingatanku,” ujar Lu Shenyan dari belakangnya. “Apa yang kau rasakan?”
“Hm?” Jiang Li mengatupkan bibir, berusaha mencari ucapan yang tidak melukai perasaan orang. “Hidup memang berisi jatuh bangun—atau lebih tepatnya, jatuh terus-menerus. Sesekali mengalami masa sulit juga wajar bagi Saudagar Besar Lu.”
“Jadi, kau benar-benar tidak mengingat apa pun tentang masa lalu?” Lu Shenyan tiba-tiba bersuara lagi dengan nada serak. Dari belakang, ia menatap Jiang Li tanpa berkedip.
Jiang Li tertegun, tidak memahami maksudnya.
“Bukankah dulu sudah pernah kukatakan?” Ia melambaikan tangan. “Aku sudah melupakan semuanya.”
Jika sesuatu telah dilupakan, berarti hal itu memang tidak layak untuk diingat kembali. Prinsip Jiang Li dalam menjalani hidup adalah bertindak sesuka hati dan mengejar kebebasan.
Ia terus berjalan membelakangi Lu Shenyan sejauh puluhan meter sebelum teringat untuk berhenti dan menoleh.
Namun, Lu Shenyan masih berdiri di tempat semula. Entah mengapa, dalam sorot matanya tampak kemuraman yang seolah tak dapat diuraikan.
Seolah-olah Lu Shenyan telah menunggu seseorang dalam waktu yang sangat lama, tetapi tahu bahwa orang itu tidak akan pernah bersedia kembali.