Bab 92 Mudah Menyerah
Ketika Ning Xiang melihat bahwa Mi Xiang mendekat, ia segera menghapus air mata di sudut matanya dan seketika berubah menjadi seperti landak yang mengangkat duri-duri pertahanannya. Ia memandang Mi Xiang dengan waspada sambil berkata, “Kenapa kau datang ke sini? Apa, hanya karena memenangkan pertandingan yang tak berarti kau ingin mengejekku, begitu?”
Meski Ning Xiang berbicara dengan nada menusuk, Mi Xiang tahu kakaknya sedang buruk suasana hati, jadi ia tak mempermasalahkan. Ia mendekat lalu berjongkok di samping Ning Xiang, bertanya pelan, “Apa yang kau lakukan di sini?”
Ning Xiang menatap Mi Xiang tajam, seolah bertanya dengan nada menyindir, “Seperti yang kau inginkan, aku kalah dalam pertandingan dan sedang mengobati luka di sini. Puaskah kau? Kalau sudah puas, cepatlah pergi, aku tak mau melihatmu.”
Mi Xiang mengabaikan kata-kata Ning Xiang, merapikan rambut kakaknya dan membersihkan daun kering di kepalanya. “Dulu kau bukan orang yang mudah menyerah seperti ini. Hanya sedikit kegagalan saja sudah tak sanggup kau terima? Kau kakakku, Ning Xiang.”
Ning Xiang tahu Mi Xiang sengaja memancing emosinya, namun tetap saja ia terjebak dalam permainan Mi Xiang. Ia berdiri, merapikan pakaian, dan menepuk-nepuk tubuhnya, menghilangkan daun-daun yang menempel. Setelah berdiri dan merapikan diri, wajahnya tak lagi sekacau tadi, hanya saja riasannya sedikit berantakan.
Ketika Ning Xiang berdiri dan Mi Xiang masih berjongkok, Ning Xiang memandang Mi Xiang dari atas, nada bicara dan sikapnya berubah menjadi angkuh dan penuh perintah. Ia berkata, “Meskipun sekarang Duan Fei Bai menyukaimu, lalu apa? Apa dia mau menikahimu? Dia hanya merasa tertarik sementara saja. Jadi jangan pasang wajah pemenang dan berlagak di sini. Kau tidak pantas mengasihani aku.”
“Aku tak mengasihanimu. Aku hanya ingin mengingatkan kakakku, pertandingan belum berakhir. Riasanmu sudah berantakan, nanti mungkin tak tampak bagus, ingatlah untuk merapikannya.” Setelah berkata demikian, Mi Xiang pun berdiri, menatap mata Ning Xiang.
Mi Xiang tahu bahwa segala nasihat takkan berguna bagi Ning Xiang, namun beberapa kata yang memancing justru lebih efektif. Tak sampai beberapa kalimat, Ning Xiang kembali menunjukkan semangatnya yang kuat.
Ning Xiang merasa wajar saja kalau Mi Xiang datang untuk menonton kegagalannya. Meski ia merasa sedih dan enggan, ia selalu memilih untuk merenungkan sendiri saat kembali ke kamar, tidak pernah menunjukkan kelemahannya di depan Mi Xiang.
Melihat Ning Xiang sudah membaik, Mi Xiang berniat pergi. Namun terdengar suara dari luar, dan sebelum mereka sempat mencari tahu, Dong Han Yu masuk melewati Yuan Pei Feng.
Dong Han Yu sejak pagi melihat Ning Xiang menuju ke arah ini. Lagipula, perjodohan sudah diputuskan. Suka atau tidak, hanya berarti akan ada satu orang lagi di rumah, satu pasang alat makan tambahan di meja. Tak terlalu dipikirkan, bahkan pertemuan pertama pun tak ia perhatikan dengan sungguh-sungguh.
Hanya pernikahan yang setara. Hanya seorang perempuan. Jika nanti menyukai orang lain, mudah saja mengambil selir baru. Begitulah pemikiran Dong Han Yu, dalam benaknya Ning Xiang hanya akan menikah dengannya, dan ia pun menganggap Ning Xiang sebagai gadis cantik yang tak lebih dari itu. Namun, saat di arena pertandingan tadi, keteguhan dan kegigihan Ning Xiang membuat Dong Han Yu terkesan.
Ia memang berbeda dari wanita-wanita yang selama ini mudah datang dan pergi di hidupnya. Ada sesuatu yang berbeda, membuat Dong Han Yu tertarik.
Semula ia berniat mendatangi Ning Xiang saat sedang bersedih untuk menghiburnya, namun terhalang urusan lain. Setelah selesai, ia hendak ke sana, ternyata Mi Xiang sudah datang, lalu Yuan Pei Feng juga menyusul.
Dong Han Yu memang tak begitu mengenal Mi Xiang dan Yuan Pei Feng, tapi Mi Xiang baru saja menjadi sorotan di arena, dan sebelumnya pun ia sempat sekilas bertemu. Jadi ia punya sedikit kesan tentangnya.
Saat Dong Han Yu hendak mendekat, ia tak menyangka Yuan Pei Feng justru menghadangnya. Dua pria bertemu, tentu tak mau saling mengalah.
Akhirnya, Dong Han Yu mendorong Yuan Pei Feng, berjalan beberapa langkah dan melihat Ning Xiang yang masih bercucuran air mata sedang berdebat dengan Mi Xiang. Awalnya Dong Han Yu merasa aneh melihat Yuan Pei Feng berdiri di luar, namun begitu melihat Ning Xiang dan Mi Xiang bertengkar, ia merasa itu bukan hal aneh.
Dong Han Yu maju, menarik Ning Xiang ke belakangnya, lalu berkata kepada Mi Xiang, “Kau tak perlu mempersiapkan pertandingan berikutnya, ya? Masih sempat berada di sini...”
Meski Dong Han Yu tidak melanjutkan kalimatnya, semua orang yang hadir tahu maksudnya. Yuan Pei Feng sempat ingin maju menjelaskan, tetapi Mi Xiang menahan dan berbisik, “Sudahlah, yang bersih tetap bersih, yang keruh tetap keruh. Mari kita pergi.”
Setelah Mi Xiang pergi, Dong Han Yu berbalik memperhatikan keadaan Ning Xiang, bertanya lembut, “Kau baik-baik saja?”
Tak dapat dipungkiri, Ning Xiang merasa sangat tersentuh. Selama ini, tiap kali ada masalah, selalu Duan Fei Bai yang berdiri di depan Mi Xiang untuk melindunginya, menahan segala badai dan kesulitan. Untuk pertama kalinya, ada seorang pria yang berdiri di sisinya tanpa syarat, percaya dan membantunya tanpa banyak bertanya.
Ning Xiang baru saja menangis, dan Mi Xiang pun sempat mengingatkan bahwa riasannya sudah berantakan. Ning Xiang merasa pasti wajahnya sangat buruk saat itu, ia tak ingin Dong Han Yu melihatnya dalam keadaan seperti itu, jadi ia terus menundukkan kepalanya.
Dong Han Yu tak menyadari isi hati Ning Xiang. Melihat Ning Xiang diam dan menunduk, ia mengira Ning Xiang masih sedih dan kecewa. Ia pun tidak memaksa, hanya menepuk punggung Ning Xiang dengan lembut. “Sudah tidak apa-apa, mereka semua sudah pergi. Selama aku di sini, kau tak perlu khawatir.”
Kalimat “Selama aku di sini, kau tak perlu khawatir,” memang membuat Ning Xiang merasa lebih tenang. Ia berkata pelan, “Terima kasih, kau sudah membantuku tadi.”
“Tak perlu berterima kasih, memang semestinya begitu.” Dong Han Yu berkata sambil tetap menepuk punggung Ning Xiang dengan lembut.
Ucapan Dong Han Yu benar-benar membuat Ning Xiang terdiam. Meski ia sangat tersentuh atas bantuan Dong Han Yu, namun “memang semestinya”? Bagaimana bisa begitu? Ning Xiang penasaran, lalu spontan menengadah dan menatap Dong Han Yu, tepat masuk ke dalam matanya.
Keduanya berdiri sangat dekat, hingga Dong Han Yu hampir dapat mencium aroma khas Ning Xiang, aroma segar yang hanya dimiliki gadis muda. Di mata Dong Han Yu, Ning Xiang melihat dirinya sendiri. Mata Dong Han Yu memang besar, meski tidak setampan Duan Fei Bai yang membuat orang terpukau, juga tidak seanggun Shen Yi Lin.
Namun Dong Han Yu memiliki wajah yang tegas dan benar, dan di matanya tidak ada bintang atau lautan, tetapi saat itu hanya ada Ning Xiang. Tidak ada yang lain, hanya Ning Xiang seorang.
Seolah waktu berhenti di saat itu, Ning Xiang dan Dong Han Yu saling menatap, di mata mereka hanya ada satu sama lain. Pada saat itulah, benih cinta diam-diam mulai tumbuh.
Ketika keduanya tersadar, Ning Xiang reflek mendorong Dong Han Yu, Dong Han Yu mundur selangkah, merapikan pakaiannya lalu berkata, “Kau sudah tidak apa-apa? Kalau mau, biar aku temani kau ke sana.”