Bab 42: Mari Kita Berpisah
Xia Yuandie berpikir, dia ternyata masih memiliki sedikit bakat sebagai seorang aktris.
Misalnya, berhasil membuat You Lie percaya, sembari menjatuhkan air mata, bahwa ia menangis panik karena terbangun dari mimpi buruk kecelakaan mobil dan tidak bisa menemukannya.
You Lie pun tidak selalu bisa melihat kebohongan-kebohongannya.
Setiap kali ia menangis, You Lie akan begitu panik hingga semua ketajaman dan kecerdasan alami yang dimilikinya seakan menguap entah ke mana.
Xia Yuandie mementaskan sebuah sandiwara penuh kepanikan, dan akhirnya berhasil membujuk You Lie keluar rumah. Pria itu harus mengemudi ke tempat yang letaknya lebih dari tiga puluh kilometer jauhnya, dan selalu pergi sangat pagi setiap harinya.
Begitu You Lie pergi, ia duduk di sofa bagaikan jiwa yang terlepas dari raga.
Pukul lima pagi.
Di Tiongkok, waktu menunjukkan sekitar pukul delapan malam.
Gadis yang duduk di atas sofa dan terus menatap kosong ke arah kegelapan menjelang fajar di luar jendela, tampak hampir menyerupai sehelai lukisan, akhirnya bergerak perlahan.
Dengan sangat tenang, ia mengambil ponsel di atas meja dan melakukan dua panggilan telepon.
Panggilan pertama ditujukan kepada Dai Ling.
Kak Ling telah mengajukan permohonan kepada para pemimpin kantor pengentasan kemiskinan di kota kecil tersebut, lalu menemani Nenek Xia kembali naik ke Kota Kuncheng, dan mereka tinggal di sebuah wisma. Ia mengatakan bahwa rumah mereka telah didatangi dan diblokade oleh keluarga korban sehingga tidak bisa ditemui, dan Nenek Xia menangis sepanjang hari ini, serta melarangnya menceritakan kejadian ini kepada Xia Yuandie.
Dalam dua hari terakhir, wanita itu bolak-balik dua kali ke rumah sakit. Putra dari keluarga korban baru duduk di kelas enam sekolah dasar, malam ini masih berada di ruang ICU, dan sang istri telah pingsan beberapa kali, terus-menerus diinfus di rumah sakit...
Saat Dai Ling berbicara, Nenek Xia terbangun. Rupanya menyadari bahwa orang di ujung telepon adalah cucunya, wanita tua itu merebut paksa gagang telepon.
Melintasi Samudra Pasifik yang membentang ribuan mil, Xia Yuandie mendengar suara sang nenek terdengar seperti gong tembaga yang rusak, serak dan hampir tak dikenali.
"Kecil... Nenek, Nenek baik-baik saja... Jangan pulang, Nak, belajar adalah yang terpenting, kamu harus mendengarkan Nenek dalam hal ini..."
Wajah gadis di atas sofa yang tadinya mengenakan topeng patung itu akhirnya menunjukkan sedikit reaksi.
Itu adalah kesedihan mendalam yang tak tertahankan, namun ia menutupinya dengan sebuah senyuman.
"Nenek, apa yang Nenek bicarakan, aku memang berniat untuk pulang."
"Tidak boleh... Tidak boleh!" Emosi yang selama ini berusaha ditahan oleh Nenek Xia tiba-tiba runtuh. Wanita tua di ujung telepon itu menangis pilu, "Kecil, Kecil, dengarkan kata Nenek, kamu tetaplah di luar negeri dan jangan pernah kembali lagi... Mulai sekarang, jika seseorang bertanya kepadamu, katakan saja keluargamu sudah meninggal, semuanya sudah meninggal, hanya tersisa dirimu seorang, tidak ada yang lain, kamu ingat itu..."
"..."
Topeng itu meretak.
Lalu hancur berkeping-keping.
Di dalam kegelapan terpekat menjelang fajar di Los Angeles, gadis di atas sofa itu membungkuk tanpa suara. Ia menangis hingga seluruh tenaganya terkuras, tetapi ia hanya menggigit erat gaun tidurnya, tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
Seolah keputusasaan memang tidak pernah bersuara.
Entah sudah berapa lama berlalu, Nenek di ujung telepon akhirnya berhasil di tenangkan oleh Kak Ling.
Dai Ling mengambil alih kembali telepon tersebut, "Xiao Die, kamu masih di sana?"
Xia Yuandie tersadar dari rasa sesak yang mencekat di dadanya. Ia bersandar di sofa, bernapas, bernapas, lalu kembali mengangkat ponselnya.
"Kak Ling, aku akan kembali minggu ini," suara gadis itu terdengar serak. "Mengenai kompensasi untuk keluarga korban, aku akan mencari jalannya. Jika mereka mendatangi rumah, tolong sampaikan, aku pasti akan... bertanggung jawab."
Mendengar kalimat itu, Dai Ling akhirnya tidak mampu menahan diri lagi, suaranya tercekat, "Berapa usia mu, Xiao Die, apakah kamu harus membayar ini dengan seumur hidupmu? Apa hubungannya ini denganmu!"
Xia Yuandie memejamkan matanya, "Seseorang telah meninggal, ada seorang anak yang sedang tidak sadarkan diri, Nenek tidak akan sanggup menanggungnya, masalah ini pasti harus ada yang menanggung. Dan apa salah keluarga mereka?"
"Xiao Die..." Dai Ling terisak di ujung telepon.
"Kak Ling, tolong bantu aku merawat Nenek selama dua hari ini. Aku akan mengirim email ke Universitas Beicheng untuk mengajukan permohonan kembali, setelah mengurus pembatalan kuliah di UC, aku bisa mengakhiri pertukaran ini lebih awal dan pulang ke Tiongkok minggu ini."
"Xiao Die," Dai Ling akhirnya bersuara, "Apakah kamu bisa meminta pacarmu..."
Kalimat itu terhenti di tengah jalan.
Namun maknanya sudah sangat jelas.
Gadis yang bersandar di sofa itu sedikit bergetar, lalu perlahan membuka matanya. Beberapa detik kemudian, Xia Yuandie tersenyum.
"Kak Ling, kamu tahu bagaimana situasi keluarganya. Apakah aku harus membiarkannya kembali dan memohon kepada kakeknya, atau membiarkannya meminta maaf dan merendahkan diri di hadapan You Huaijin?" Senyuman gadis itu dibauri oleh air mata, suaranya semakin serak, "Kak Ling, aku tidak bisa memperlakukannya seperti itu... Sungguh, setidaknya aku tidak boleh memperlakukannya seperti itu..."
Karena selama ia mengatakannya, You Lie pasti akan melakukannya.
Namun You Lie adalah sosok yang begitu angkuh, pantang menyerah, dan selayaknya selalu bersinar di mana pun ia berada.
Ia telah ternoda demi dirinya hingga separah ini.
Ia sudah begitu lelah.
Apa lagi yang masih harus ia tuntut dari pria itu? Bagaimana hatinya bisa tega?
Xia Yuandie mencengkeram telapak tangannya hingga mati rasa dan terasa perih.
"Kak Ling, tolong kirimkan daftar kompensasi dan biaya medis yang diminta oleh keluarga korban kepadaku," suara gadis itu serak. "Aku akan mencari jalannya."
"..."
Komputer di dalam kamar yang suram itu memancarkan cahaya dingin yang redup.
Di bagian paling bawah daftar dalam email tersebut.
Tertera deretan angka yang bagaikan angka astronomis baginya.
Xia Yuandie tahu, angka itu akan terus bertambah. Biaya di ruang ICU saja membutuhkan ribuan hingga puluhan ribu setiap harinya, dan anak yang baru berusia dua belas atau tiga belas tahun itu belum tahu bagaimana kondisi dan masa depannya nanti.
Tetap saja, hanya ada satu cara itu.
Gadis itu menutup komputernya.
Ia duduk diam dalam kegelapan untuk waktu yang sangat lama, hingga akhirnya mengangkat ponselnya dan memanggil panggilan kedua.
Puluhan detik kemudian, panggilan terhubung.
Bayangan fajar jatuh menimpa tubuh gadis itu, memburamkan profil wajahnya dalam kepekatan kelam.
Ia membuka mulutnya, lalu dengan suara tercekat namun tenang berkata, "Paman You. Maaf..."
Xia Yuandie merasa seolah mendengar sesuatu yang pecah berkeping-keping di lantai, itu mungkin adalah satu-satunya hal yang dipeluk erat dan satu-satunya yang pernah dimiliki oleh anak kecil di lubuk hatinya.
Ia memejamkan mata, dan mendengar dirinya sendiri dengan kejam melontarkan kalimat itu: "Aku perlu... meminjam sejumlah uang dari Anda."
Hingga bertahun-tahun kemudian, Xia Yuandie tetap akan mengingat pagi hari ini.
Meskipun itu adalah panggilan telepon yang melintasi samudra, You Huaijin seolah sedang duduk tepat di hadapannya.
Pria itu mengenakan jas rapi, bersikap lembut namun berjarak, berdiri di posisi tinggi, dengan sedikit rasa iba.
Sementara dirinya penuh dengan kelelahan, kehinaan, keputusasaan, dan rasa rendah diri.
Itu bukanlah kesalahan You Huaijin, Xia Yuandie sangat menyadarinya. Itu hanyalah jurang pemisah yang memang telah ada antara dirinya dan dunia tempat keluarga You berada, jarak antara awan dan lumpur.
Itulah tempat di mana You Lie seharusnya berada.
Sebelum kebanggaannya patah dan runtuh karena dirinya, sebelum ia benar-benar tenggelam dalam kubangan lumpur tempatnya berada, biarkan ia pergi, biarkan ia kembali menjadi Tuan Muda yang bersinar terang tanpa harus merasakan kepahitan dunia lagi.
Hingga menjelang akhir percakapan telepon itu, You Huaijin tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun yang memintanya untuk meninggalkan You Lie.
Dialah yang mengungkitnya.
Ia mengatakan bahwa ia akan meninggalkan You Lie.
Namun You Huaijin justru berkata bahwa ia tidak akan memaksa, mereka bisa tetap bersama, dan ini bukanlah syarat atas bantuan yang ia berikan.
Menjelang fajar yang hendak menyingsing, gadis itu tersenyum dengan suara yang terasa kosong.
"Aku tidak butuh harga diri, Paman. Tapi aku tidak boleh ikut menginjak-injak kebanggaannya."
"Apa yang kutanggung dari Anda, kelak meski uangnya sudah lunas, kebaikan Anda tidak akan pernah terbalas. Selama aku masih hidup, apa pun kata Anda, aku tidak akan membantah."
"Tetapi You Lie tidak berhutang apa pun pada Anda, Andalah yang berhutang padanya."
"Jadi Anda bisa tenang, aku akan memperjelas semuanya dengannya, mengatakan bahwa akulah yang berinisiatif meminta uang ini kepada Anda. Setelah menerima uang Anda, seumur hidup ini aku tidak akan memiliki kualifikasi lagi untuk muncul di hadapannya."
Setelah mengatakannya, Xia Yuandie mengucapkan terima kasih dan menunggu You Huaijin menutup telepon.
Kemudian gadis itu duduk seorang diri di atas sofa yang kosong, mengambil komputer, dan meletakkannya di atas pangkuannya. Sambil meneteskan air mata tanpa suara dan tenang, ia mulai menulis permohonan kembalinya ke kampus.
Matahari hendak terbit namun belum juga menampakkan wujudnya.
Kegelapan sebelum fajar selalu menjadi saat yang paling sunyi, paling panjang, dan paling mati, bagaikan seabad yang berlalu begitu saja.
Tiket pesawat untuk kembali ke Tiongkok dibeli pada Jumat sore.
Xia Yuandie memilih hari Rabu malam untuk membongkar semuanya. Ia sudah tidak sanggup menahannya lebih lama lagi. Ia takut jika melihat You Lie lebih lama lagi, atau mendengar suaranya sekali lagi, ia akan menjadi orang yang benar-benar egois, tidak tahu malu, dan nekat melakukan apa saja demi bisa tinggal.
Ia tidak berani menelepon You Lie, ia mengiriminya pesan singkat.
Xia Yuandie baru saja menerima bayaran terjemahan yang baru dicairkan, dan berjanji akan mengajaknya makan malam di sebuah restoran yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka malam itu.
Sebenarnya emosinya dikendalikan dengan cukup baik malam itu, pikir Xia Yuandie, semuanya berjalan sesuai rencana, seharusnya berkembang sesuai dengan ritme yang telah ia tentukan.
Namun selalu ada hal tak terduga, betapapun dini rencana dibuat, itu tetap tidak berguna.
Lalu hari itu turun hujan, sangat deras. You Lie entah pergi ke mana dan datang terlambat beberapa waktu, rambutnya setengah basah oleh hujan, tampak sedikit kusut. Namun jika dilebur begitu saja di tengah kerumunan, ia tetaplah sosok yang paling menonjol dan tampan. Saat ia masuk dari pintu restoran, kaki jenjangnya berhenti sejenak di meja depan, dan Xia Yuandie—yang sedang melamun menatap hujan deras di luar jendela—mendengar para gadis asing di meja sebelah berbisik penuh senyum, "he's so hot".
Bagian (1/3) Halaman
Saat mereka membicarakan apakah harus meminta akun Skype atau Facebook pria itu, You Lie akhirnya menemukan Xia Yuandie di dalam restoran yang sibuk itu.
Bulu matanya yang hitam pekat langsung terangkat, senyuman berbinar masuk ke dalam matanya, bagaikan aliran sungai yang dipenuhi percikan bintang.
Ia menembus kerumunan dan berjalan ke arahnya.
Tanpa keraguan atau menoleh ke samping, You Lie menatapnya lekat-lekat tanpa berkedip, seolah di dunia yang begitu luas dan lautan manusia yang tak bertepi ini, hanya ada dirinya seorang.
Xia Yuandie seketika diliputi oleh kesedihan yang mendalam.
Ia menunduk, menghindari tatapan mata pria itu.
Ia berpikir, mereka setidaknya harus menyelesaikan makan malam ini. You Lie selalu bergegas mengemudi kembali dari kampus tanpa sempat mengurus makan malamnya. Malam ini ia datang terlambat, entah apa lagi yang baru saja ia kerjakan, ia tampak semakin letih namun juga sedikit lebih bersemangat.
Lalu Xia Yuandie mendapati kejutan kedua yang berada di luar rencananya.
You Lie meletakkan syal pemberiannya yang disembunyikan di balik mantel, hampir tidak terkena air hujan sedikit pun, sementara jaket di tubuhnya justru basah separuh.
Setelah duduk, ia mengeluarkan sesuatu dari saku dalam mantelnya.
"Aku menyiapkan hadiah ulang tahun balasan untukmu," ujung alis You Lie terangkat ringan, matanya berbinar, "Rubah, tebak apa ini."
Xia Yuandie menahan napas, hampir tercekik.
Dan di bawah pandangannya, You Lie mengeluarkan sebuah kotak yang disimpannya dengan sangat hati-hati.
Kotak berbalut velur hitam.
Kotak cincin.
——
Xia Yuandie mendengarkan suara ilusi di telinganya yang seakan tiba-tiba berdering tajam, menusuk, sekaligus berat bagai guntur yang tertahan, berbenturan dan bergema hingga kepalanya berdengung hebat.
Oleh karena itu, ia bahkan tidak menyelesaikan makan malam terakhirnya bersama pria itu.
"You Lie."
Gadis itu mengangkat tangan, sebelum You Lie sempat membuka kotak tersebut, ia tiba-tiba menekan tangan pria itu.
Ia hampir gemetar hebat.
"Maaf," ujarnya, "kita putus saja."
"..."
Sungguh aneh.
Kalimat yang kaukira akan meruntuhkan seluruh duniamu itu, ternyata terasa begitu mudah dan tenang saat diucapkan.
Dan setelah diucapkan, rasanya seolah tidak ada lagi hal yang perlu dipedulikan.
Bahkan tangannya sudah tidak bergetar lagi, Xia Yuandie perlahan bangkit berdiri. Dari jemari You Lie yang terasa dingin karena basah oleh air hujan, ia menarik kembali tangannya sedikit demi sedikit.
Ia meraba ponselnya, dengan sangat tenang membuka riwayat panggilan, lalu memperlihatkan informasi transfer uang kepada pria itu.
"Aku meminta sejumlah uang kepada Paman You, itu dianggap sebagai... biaya putus yang dibayarkan olehnya untukmu."
"Aku yang berinisiatif memintanya. Jika kamu tidak merasa malu, kamu bisa memeriksanya."
Gadis itu menunduk, memalingkan tubuhnya, sama sekali tidak melihat ke seberang meja di mana You Lie duduk—pria yang sejak ia mulai berbicara tidak bergerak sama sekali dan tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
Ia tidak berani menatap pria itu walau sekilas.
"Orang sepertimu tidak bisa memberikan apa yang kuinginkan," Xia Yuandie melangkah meninggalkan meja, nada bicaranya tenang namun kejam. "Aku sudah menunggumu, sungguh, tapi aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Bersamamu aku tidak bisa melihat harapan masa depan—kamu tahu, aku baru saja merangkak keluar dari kubangan lumpur, aku tidak ingin kembali ke sana lagi."
"..."
Setelah mengatakannya, Xia Yuandie melangkah keluar.
Beberapa detik yang panjang berlalu, ia mendengar suara serak pria itu yang akhirnya tersadar dari linglung, suara benturan, meja dan kursi yang terjatuh, mangkuk dan piring yang pecah, serta seruan dan jeritan yang kacau...
Gadis itu tidak menoleh ke belakang, langkahnya semakin cepat.
Ia berlari menerobos malam yang diguyur hujan.
Belum sampai jarak satu jalanan, You Lie telah menyusulnya. Di tengah hujan yang semakin deras, pria itu mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat dan menariknya kembali ke hadapannya.
"Jelaskan." Suara You Lie terdengar sangat serak, ia berlari keluar tanpa membawa apa pun. Di dalam udara dingin yang menusuk tulang di tengah hujan lebat Los Angeles itu, ia hanya mengenakan kemeja dan celana panjang yang basah kuyup.
Xia Yuandie belum pernah melihatnya begitu berantakan hingga separah ini.
Ia sangat bersyukur atas hujan tersebut.
Ia akhirnya bisa mendongak untuk menatapnya, asalkan ia memasang wajah tanpa ekspresi, pria itu tidak akan bisa melihat bahwa dirinya sedang menangis.
Dan di bawah tatapan kosong sang gadis yang mendekati dingin itu, pemuda tersebut perlahan menurunkan lehernya yang angkuh dan tegas. Ia menundukkan kepalanya, suaranya serak nyaris memohon: "Xia Yuandie, apa sebenarnya yang telah terjadi? Katakan padaku, aku pasti bisa menyelesaikannya, kumohon?"
"Kamu tidak bisa menyelesaikannya."
Gadis itu menarik tipis sudut bibirnya, ia berjinjit: "Dengan mengambil jutaan ini, aku bisa hidup dengan baik di Tiongkok, bebas dari kekhawatiran sandang pangan seumur hidupku. Mengapa aku harus meninggalkan keluarga dan temanku, lari ke negeri seberang lautan yang jauhnya belasan ribu mil, dan masih harus menanggung penderitaan serta kesulitan bersamamu di luar negeri?"
You Lie meremas pergelangan tangannya, untuk sedetik Xia Yuandie merasa tulangnya akan remuk di tengah hujan ini.
Namun pria itu hanya mengatupkan rahangnya hingga tulangnya bergetar: "Kamu berbohong."
"Kamu jelas-jelas tahu, aku selalu menjadi orang seperti ini, aku tidak pernah menyembunyikannya di hadapannmu. Kamu sendiri yang bilang bahwa aku sangat mirip dengan You Huaijin—kamu lupa?"
Xia Yuandie menatap mata hitam pekat yang murni itu, mengucapkan tiap kata dengan tegas, seolah ia sendiri yang menancapkan paku es yang dingin ke dalam:
"You Huaijin telah mencampakkanmu dan Bibi, dan cepat atau lambat aku juga akan mencampakkanmu."
——
Tepat detik saat kalimat itu terucap, bagaikan sebuah ilusi, Xia Yuandie melihat cahaya di dasar mata You Lie padam.
Pria itu menegang, lalu melepaskan cengkeraman di pergelangan tangannya.
Xia Yuandie berdiri terpaku di tengah hujan.
Itulah bagian paling lembut dan tanpa pertahanan di lubuk hatinya yang hanya ditunjukkan kepada dirinya seorang. Pria itu mendekapnya di sana, bagaikan sebutir batu giok rapuh di ujung hati.
Lalu ditusuknya dengan tikaman paling dalam dan paling kejam oleh tangannya sendiri.
Ia mungkin memang ditakdirkan untuk terlahir sebagai orang jahat.
Lihatlah, betapa tuntasnya.
Xia Yuandie berbalik, dengan tubuh kaku, melangkah maju ke depan.
Malam terasa begitu gelap pekat di balik tirai hujan.
Kemudian pergelangan tangannya kembali menegang. Diiringi rasa terkejut yang luar biasa, You Lie kembali menariknya.
"Xia Yuandie."
Itulah kejutan terakhir di malam itu.
Ia tahu pria itu mencintainya, hanya saja ia tidak pernah menyangka bahwa seorang You Lie yang begitu diagungkan bisa meruntuhkan seluruh kebanggaannya demi dirinya, begitu berantakan di saat-saat terakhir namun mengabaikan segalanya. Pria itu hanya menggenggam tangannya dengan keras kepala, sementara nada suaranya terdengar serak.
"Lima tahun, paling lama lima tahun, aku akan memberikan semua yang kamu inginkan."
"Tunggu aku sebentar lagi... kumohon?"
——
Suara guntur menggelegar, di tengah hujan selebat air terjun itu Xia Yuandie akhirnya menangis tersedu-sedu.
Untungnya hujan cukup deras, dan malam cukup gelap.
Ia tidak menoleh, satu per satu ia mematahkan jari-jari pria itu lalu melepaskannya. Xia Yuandie melangkah pergi, memberhentikan sebuah taksi di pinggir jalan, masuk ke dalam mobil, dan menutup pintu.
Xia Yuandie menyebutkan nama hotelnya, dan taksi itu merobek tirai hujan.
Dari kaca spion, sosok yang porak-poranda dan hancur itu perlahan-lahan menjauh.
Badan mobil berbelok.
Pria itu menghilang dari pandangannya.
Gadis itu duduk dengan tenang di kursi belakang.
Bagaikan tidak terjadi apa-apa, ia menunduk, perlahan merapikan rambut, pakaian, dan ranselnya.
Sopir taksi melirik cemas melalui kaca spion: "Orang itu pacarmu ya? Apa dia melakukan kesalahan buruk, sampai harus kau hukum begini? (Inggris)"
Jari-jari yang sedang merapikan rambut panjang itu terhenti.
Bagaikan istana pasir yang runtuh.
Di dalam kaca spion, gadis tanpa ekspresi itu tiba-tiba meringkuk, menangis sejadi-jadinya.
Malam terakhir sebelum pesawat lepas landas.
Xia Yuandie kembali ke apartemen untuk mengemas barang-barangnya. Konon alkohol dapat mematikan emosi dan persepsi seseorang, ia sengaja pergi ke sebuah toko serba ada untuk membeli sebotol, meminumnya setibanya di hotel, lalu menggosok gigi, berkumur, merapikan pakaian serta rambutnya, baru kemudian kembali ke apartemen.
Sebelum tiba di lantai atas, Xia Yuandie masih merasa cukup tenang.
Lalu ia mendapati pintu apartemen tidak terkunci.
Bagian (2/3) Halaman
Celah pintunya terbuka.
Di dalam pintu tampak gelap gulita, dengan samar-samar terdengar suara sesuatu.
Xia Yuandie mendorong pintu dan masuk.
Semua lampu dipadamkan, hanya proyektor di ruang tamu—yang dibeli You Lie namun jarang digunakan—yang layarnya diturunkan, memancarkan cahaya pendar yang meredupkan sebagian besar ruang tamu.
Xia Yuandie berjalan masuk, melihat tayangan simulasi asal-usul alam semesta yang sedang diputar.
Ia juga melihat You Lie.
Pria itu duduk di lantai di depan sofa, salah satu kaki jenjangnya terlipat santai, bersandar miring pada meja kopi. Pergelangan tangannya yang putih pucat dan tegas bertumpu di atas lutut, jari-jarinya yang panjang terkulai malas, dan di antara ruas jarinya terjepit sebatang rokok.
Titik merah menyala kadang-kadang didekatkan ke bibirnya, bibir tipisnya mengulum dan menghisap, ujung rokok itu menyala terang dan redup silih berganti.
Cahaya dari layar juga menyapu profil wajah sisi samping yang acuh tak acuh dan dingin itu.
Kabut kebiruan mengepul memenuhi ruang tamu, aroma nikotinnya menyesakkan hingga membuat dada sesak. Di samping kakinya, asbak sudah penuh meluap, puntung rokok berserakan di lantai, dan ada dua atau tiga kotak rokok tergeletak di dekatnya.
Namun pria itu tidak bergerak sedikit pun, seolah tidak mendengar seseorang masuk.
Xia Yuandie tercekik oleh aroma rokok, dan ia tidak mampu menahannya, lantas terbatuk-batuk.
Air mata juga ikut mendesak keluar, tertahan di pelupuk mata.
Tangan You Lie yang memegang rokok terhenti sejenak, ia tetap tidak menoleh, matanya tanpa suara menatap film dokumenter yang berputar lambat di layar, bintang-bintang bertebaran di galaksi.
Setelah selesai batuk, Xia Yuandie menurunkan tasnya: "Aku datang untuk mengemas barang."
"..."
You Lie terdiam, seolah tidak mendengarnya.
Sebagian besar buku dan pakaiannya sudah dikirim kembali ke hotel, sebenarnya sudah tidak ada lagi barang miliknya yang tersisa di apartemen, You Lie seharusnya sudah tahu saat kembali tadi malam.
Barang-barang milik mereka berdua tidak disentuh oleh Xia Yuandie, sisa barang-barang kecil yang tidak seberapa itu ia kemas rapi.
Keluar dari kamar tidur, sosok yang bersandar di sofa di ruang tamu itu posisinya sama sekali tidak berubah, hanya saja batang rokok yang terjepit di jarinya kini sudah jauh lebih panjang dari sebelumnya.
Ia telah menyalakan rokok baru yang lainnya.
Atau bahkan lebih dari satu.
Xia Yuandie kembali terbatuk pelan, ia tersedak hebat, bahkan alkohol pun tidak mampu menahan rasa sesak yang nyeri di dadanya. Ia meletakkan tasnya, melangkah maju, berlutut, dan mengulurkan tangan untuk mengambil rokok dari You Lie.
Kabut tipis mengepul.
Pria itu perlahan mengangkat alisnya yang dingin dan tegas, meliriknya tanpa sedikit pun emosi, lalu membuang muka: "... Enyah."
You Lie menurunkan tangannya, hendak mengambil kotak rokok di lantai.
Sehelai rokok baru dengan santai ia kibas keluar, ia menunduk untuk menggigitnya, mendongakkan lehernya yang jenjang, lalu mengangkat tangan untuk mengambil korek api di atas meja kopi di dekatnya.
Xia Yuandie kembali mengulurkan tangan, menahan rokok yang tersemat di bibirnya.
Namun rokok itu tidak berhasil diambil.
Tulang pipi pemuda yang tegas dan sedikit cekung itu bergetar kencang. Ia menggigit rokok tersebut, akhirnya perlahan-lahan mengalihkan pandangan kembali, menatap tajam dengan sepasang mata yang hitam pekat bagaikan kematian dan sedingin es yang mengintimidasi.
Xia Yuandie tidak gentar maupun bergerak, ia berbisik: "Lepaskan gigimu."
You Lie menggigit rokoknya, mendengus dingin, lalu hendak menepis pergelangan tangannya.
Gadis itu membungkuk pada detik itu juga.
Ia tiba-tiba mencium sudut bibirnya, dibarengi aroma samar buah yang manis dan pekat.
You Lie yang bersandar di sofa tiba-tiba menegang.
Lalu rokok yang belum sempat dinyalakan itu ditarik lepas oleh tangannya, dipatahkan, dan dilemparkan ke samping. Xia Yuandie perlahan menegakkan tubuh bagian atasnya, memiringkan kepalanya, dan tersenyum padanya.
"Gantilah cara pelampiasan yang lebih sehat, kalau-kalau kamu mati, Paman You tidak akan melepaskanku."
You Lie seolah tidak mendengar, bulu matanya yang dingin menyapu turun, tampaknya ia bahkan malas mengucapkan sepatah kata pun lagi padanya.
Ia meraih kotak rokoknya.
"Brak."
Xia Yuandie menekan tangannya menembus kotak rokok tersebut, mendorong tubuh pria itu bersandar pada dasar sofa.
Di bawah tatapan You Lie yang dingin dan sunyi, Xia Yuandie bernapas perlahan, senyumannya melunak, ia mengulurkan tangan, ujung jarinya dengan lembut membelai jakun pria itu.
Lalu ia ditepis dengan dingin oleh You Lie.
"Plak."
Pergelangan tangan Xia Yuandie terbentur pada bantalan empuk sofa.
Tidak sakit. Namun membuat orang merasa sakit hingga ingin runtuh.
Xia Yuandie berbisik, senyumannya terdengar seperti tangisan yang tertahan. Ia semakin nekat merangkul pundak dan leher pria itu, menunduk mendekati sisi lehernya, hembusan napasnya beraroma manis buah:
"A-Lie."
Jemari yang hendak menariknya pergi mendadak terhenti di pergelangan tangannya, mencengkeram erat. You Lie menatap Xia Yuandie yang berada di hadapannya dengan kilatan amarah yang gelap dan suram di dasar matanya.
Gadis itu memiringkan kepalanya sedikit, mengecup jakun pria itu, lalu mendongak menatap wajahnya.
Ia tersenyum lagi.
Sisi murni dan hasrat berpadu menjadi satu di dalam mata berwarna ambar miliknya, di ujung matanya yang dihiasi warna kemerahan tipis.
Ia berbisik di telinganya, tersenyum, membuatnya mendengar dengan sangat jelas kata demi kata: "A-Lie. Bunuh saja aku."
"Kalau kamu membunuhku, aku tidak akan pergi lagi, bagaimana?"
"——!"
Hasrat yang tertahan di dalam mata pria itu hancur berkeping-keping.
Lampu ruang tamu tetap padam, di layar proyektor, berawal dari ledakan besar 137 miliar tahun lalu, film dokumenter simulasi asal-usul alam semesta berputar perlahan.
Malam itu Xia Yuandie melihat bintang-bintang di dalam jendela terguncang hancur menjadi bayangan, diiringi latar suara film dokumenter yang kosong dan megah, ia gemetar tak bersuara, menatap ledakan yang berkumpul pada titik singularitas di layar, ia pun merasa seolah menjadi salah satu butiran debu bintang, merasakan kejam dan lancang yang terasa seperti dicabik-cabik.
Ia benar-benar mengira dirinya akan mati di dalam sungai bintang di dasar mata pria itu.
Begitu panjang dan tak sadarkan diri, materi dan energi setelah ledakan berhamburan ke segala arah, ruang angkasa mengembang tanpa batas, suhu seluruh alam semesta menurun.
Galaksi-galaksi mulai terbentuk, bintang dan planet tersebar di dalamnya.
Untuk terakhir kalinya, You Lie menekan lehernya yang ramping dan rapuh. Di layar, meteor yang jatuh menghantam dengan kejam alam semesta yang baru lahir, meledakkan dunianya menjadi hamparan putih yang menyilaukan.
Di tengah deru film dokumenter simulasi yang menggetarkan jiwa, ia mendengarnya menempel di dadanya yang masih bergetar, mengucapkan kalimat lengkap pertama untuknya malam itu.
"Baik. Kalau begitu kita mati bersama."
——
Air mata gadis itu yang telah ditahan sepanjang malam seketika tumpah. Air mata itu meluncur di pipinya, menetes di sisi ruas jari You Lie yang menekan lehernya.
Air mata itu terasa dingin, sekaligus panas.
You Lie pun menegang.
Ia perlahan melonggarkan kelima jarinya.
Simulasi film dokumenter di layar hampir mencapai akhir, musik akhirnya tidak lagi megah, dan diiringi latar suara yang melunak, benda-benda langit paling cemerlang dan misterius di alam semesta memulai kehidupan baru.
Akhirnya pria itu menarik diri menjauh, bangkit berdiri, menyambar sehelai pakaian, dan melemparkannya ke atas hamparan putih yang dihiasi noda merah merekah bak kelopak bunga.
Sebelum pergi, You Lie berdiri di tepi ruang tamu, menunduk menatap tajam dengan mata pekat yang dingin, lalu ia perlahan menggigit batang rokok terakhirnya, tersenyum serak:
"Lupakan. Apa kamu juga pantas."
Ia berbalik, pergi sebelum benar-benar membunuh kupu-kupu itu.
Pintu kamar ditutup rapat olehnya.
Xia Yuandie baru meninggalkan apartemen itu pada siang hari keesokan harinya, dan bergegas menuju bandara Los Angeles.
Sebelum masuk ke pemeriksaan keamanan, ia tidak bisa menahan diri untuk menoleh ke belakang, menatap lautan manusia di hadapannya.
Persepsi akrab yang bagaikan ilusi itu tenggelam di antara wajah-wajah asing yang berlalu-lalang.
Ia tidak dapat menemukannya lagi.
Ia tidak akan pernah bisa menemukannya lagi.
Sayap pesawat merobek cakrawala——
Seutas benang yang terikat di kedua ujungnya itu akhirnya putus di ufuk fajar yang paling jauh.
Bagian (3/3) Halaman